
Lalu Rian pun pulang. Dan melihat istrinya terbaring dengan tubuh bergetar. Lusi tampak menangis tanpa besuara. Rian pun tampak heran melihat baju Lusi yang banyak berserakan dibawah dan tak tertata sama sekali.
Lalu Rian pun mendekati istrinya.
"Kamu kenapa sayang" tanya Rian. Melihat Lusi dengan air mata yang tumpah itu.
Lusi pun tampak terdiam tak menjawab.
"Ayo katakan" pinta Rian dengan suara lembut sambil mencium kening istrinya. Dan tampak mendekati Lusi dan berbaring disampingnya.
"Apakah aku terlalu buruk untuk menjadi manusia"
"Siapa yang sudah berani menangis kamu. Akan aku beri pelajaran" jelas Rian.
"Mama kamu yang bilang aku begitu" ucap Lusi.
"Apa?" Rian kaget. "Kalau itu mama yang bilang aku tak mungkin berani untuk memberi pelajaran"
"Iya jangan, aku hanya cerita" ucap Lusi pada sang suami.
"Kamu yang sabar ya sayang" ucap Rian.
"Iya aku sabar"
Lalu Rian pun tampak memeluk sang istri. Dan menumpahkan air mata itu di pundak suamj.
Lalu tak lama Renata pun tak sengaja lewat kamar Lusi dan Rian. Dan tak sengaja juga mendengar suara tangisan Lusi dari kamar. Renata pun sedikit mendekatkan kupingnya ke kamar itu. Dan bener tangisan Lusi yang terdengar.
"Ya Allah apakah aku tadi itu terlalu kasar" ucap Renata didalam hatinya.
.
.
.
.
Pagi yang cerah suasana tampak begitu hangat. Itulah suasana pagi itu, dikediaman rumah milik keluarga Rian. semua sudah menunggu Lusi untuk turun dari kamar.
Lusi pun masih saja tetap dikamar tidak lantas turun menikmati sarapan pagi kala itu.
"Lusi mana Rian" tanya mama pada Rian.
"Gak tahu ma, mungkin masih diatas" jawab Rian.
"Apa dia marah sama mama karena perkataan mama kemarin. Mama akan temui dia dan bicara" ucap Renata.
Lalu Renata pun ke atas untuk melihat menantunya yang masih menyelimuti dirinya dengan selimut tebal.
"Kamu gak turun" ujar Renata.
Lusi pun masih tampak terdiam.
"Maafkan ucapan mama semalam. Mama hanya kelepasan bicara" ucap Renata.
__ADS_1
Lusi pun menatap wanita paruh baya itu.
"Iya ma, gak apa-apa" ucap Lusi menatap sang mama.
"Mari turun kita makan bersama. Tidak ada yang salah pada diri kamu. Ayo turun"
"Iya ma" ucap Lusi dengan nada yang lirih. "Tapi Lusi tidak pantas menjadi menantu mama"
Lalu Renata pun tetap menggandeng tangan menantunya untuk turun.
"Sudah ayo, tak usah dibahas lagi. Kita makan dulu" ajak Renata.
Lalu Lusi pun turun bersama Renata dan makan bersama. Lusi pun memakan makanan yang sudah disediakan oleh asisten rumah tangga dirumah itu.
"Mama tidak bermaksud untuk membuat kamu sedih" ucap Renata.
"Iya ma"
"Bagaimana pernikahan Gery?" Tanya Renata yang tiba-tiba menanyakan perihal pernikahan Gery.
"Masih belum tahu hingga saat ini dia masih merahasiakan tanggalnya kapan" ucap Lusi.
"Kalau ditunda terus nanti perut Liana semakin membesar bagaimana?" Ucap Renata.
"Alangkah lebih baik mama tanya langsung sama Gery atau Liana ma. Karena aku takut jika terlalu mencampuri urusan mereka berdua" jawab Lusi.
"Ya nanti coba mama tanyakan" ujar Renata.
.
.
.
"Lusi sore ini kamu free kan" tanya Renata.
"Iya ma" jawab Lusi.
"Mama mau ajak kamu jalan-jalan. Kita ke mall kita belanja ya" ajak renata.
"Makasih ma, tapi gak usah repot segala" tolak Lusi halus.
"Gak apa-apa sekali kali kita ke mall bareng"
"Iya ma" jawab Lusi.
Lalu Lusi pun bersiap untuk memenuhi ajakan Renata.
Lusi pun tampak memakai pakaian yang tertutup.
Lusi memang ada rencana ingin berhijab namun dirinya belum begitu mantap. Mungkin nanti.
Lusi pun tampak mengenakan pakaian longgar dan tertutup. Lusi pun tampak menggunakan hodie dengan kupluknya. Menggunakan masker juga dan celana lebar.
"Kamu seperti rapper pakaian seperti itu" ucap mama heran.
__ADS_1
"Gak apa-apa ma, takut terkesan seksi" jawab Lusi.
"Kamu sih udah gak seksi. Tapi malah terkesan beda dan sedikit aneh" ungkap Renata.
"Apa aku harus ganti lagi"
"Yaudalah gak apa-apa. Kelamaan yuk" ucap Renata.
Lalu Renata pun mengajak Lusi kesebuah mall.
Dan hal yang paling Lusi tak ingin terjadi. Ternyata Renata mengajak Liana dan Gery juga ke mall. Dan sebenarnya yang jadi masalah bukan Liana tapi Gery. Lusi pun tampak enggan. Kalau tahu disitu akan ada Gery, Lusi lebih memilih untuk tidak ikut.
"Ma, kenapa gak bilang kalau ajak mereka" ucap Lusi.
"Kebetulan mereka memang mau mama ajak belanja" ucap Renata menerangkan.
Aduh kenapa gak bilang sih. Tahu gitu mending gak ikut, batin Lusi.
"Yaudah kamu belanja. Baju atau apa yang kamu suka" ujar Renata.
"Ya ma"
Lusi pun tampak melihat-lihat baju yang ada di gantungan mall itu dan melihat-lihat. Lusi pun senang ternyata ada pakaian yang ia suka terpajang disitu. Lalu Lusi pun mengambilnya dan membelinya.
Namun ada hal yang Lusi sebal, yaitu sepanjang perjalanan Lusi memilih pakaian. Gery tampak mengikuti Lusi kemana pun ia melangkah. Dan saat disela-sela Gery tampak berbicara pada Lusi. Saat Renata dan Liana sedang asik memilih.
"Baju kamu seperti orang-orangan sawah serba kegedean" ucap Gery yang tampak melihat Lusi secara seksama.
Lusi pun tampak tak menghiraukan.
"Tapi masih tetap cantik kok walaupun pakai baju kegedean" ucap Gery tampak menatap Lusi.
Lusi pun hanya menarik napas dan menghindari Gery.
Namun Gery masih saja mengikuti. Hingga disaat itu juga Lusi ijin pergi ke toilet. Gery pun masih tampak mengikuti.
Lusi pun keluar mall dan melihat ada taksi. Lalu Lusi naik taksi dan pulang.
Saat ditaksi Lusi baru mengabari ibu mertuanya. Bahwa ia pulang lebih dulu.
"Ma aku pulang duluan ya" ucap Lusi menyampaikan pada Renata melalui telepon genggamnya.
"Kenapa?"
"Tiba-tiba kepala Lusi pusing" ungkap Lusi beralasan.
"Apa kamu baik-baik saja" tanya Renata cemas.
"Iya ma aku baik, aku sepertinya masuk angin saja aku pulang ya ma. Aku sekarang udah di taksi mama gak usah cemas"
"Iya sayang, kamu hati-hati" ujar Renata.
"Iya ma"
Lalu Lusi pun pulang. Karena merasa tak nyaman dengan kehadiran Gery.
__ADS_1