Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Ketegaran hati yang tak membuat bahagia.


__ADS_3

Terlihat Tanisa yang berusaha tegar dengan apa yang setiap alami Tanisa tampak mencoba membuat hatinya tegar. Namun tegar dalam apa? Seperti apa ketegaran hati itu. Harus kuat. Kalau memang kuat sekuat apa. Seperti apa.. Tanisa tampak tak tahu.


Dari Tanisa kecil hingga besar Tanisa selalu berusaha tegar menghadapi semuanya. Namun nampak ketegaran itu hanya untuk bertahan hidup. Namun ketegaran tak membuat Tanisa merasa bahagia. Ketegaran itu nampaknya hanya membuat Tanisa hidup lebih lama. Ya lebih lama merasakan penderitaan yang tampak begitu terasa semakin hari.


Dalam hidup Tanisa hanya ingin cinta dicintai sebagai mana mestinya. Dan bahagia itu saja. Namun semua terasa sulit. Sekalipun meminta untuk keluar dari masalah. Tetap saja harus mempertaruhkan kehidupan yang berujung tak bahagia.


Terlihat Tanisa yang menangis dikamar mandi sambil tertunduk sendiri. Hatinya merasakan sakit dan kehampaan dalam hidup. Tanisa gagal memiliki harapan besar. Cita-citanya dulu musnah dengan penderitaan.


Hiks... Hikss.. hikss suara tangisan Tanisa begitu terdengar dibarengi air shower yang tampak terdengar yang masih menyala itu. Tanisa pun tampak menghapus air matanya namun ia tampak juga menghapusnya berkali-kali.


Memang tangisan membuat dirinya lemah. Namun hanya tangisan yang bisa ia lakukan, Tanisa luapkan mana kala ia merasa semuanya begitu teramat menyedihkan dan semakin sulit untuk dirinya.


Seketika Tanisa pun keluar dari kamar mandi dan memandang bintang dikamar itu.


Tanisa tampak memandang bintang.


Ia pun memejamkan mata seketika.


Dan...


Ingatannya kembali pada masa bersama Gavino.


Ya, ia sangat merindukan Gavino.


Ya begitu berat.. berat rasanya hidup didalam penderitaan.


Tiba-tiba Deon kembali dan menarik badan Tanisa. Tanpa basa basi, ia kembali mengecup bibir Tanisa. Dan mengajak Tanisa untuk bermain cinta.


Tanisa pun tampak menolak.


"Mas aku tidak mau" kata Tanisa.


"Kamu berani menolak" ucap Gavino.


"Iya"


"Kamu harus melayani ku"


"Tapi aku tidak mau!!"


Karena Tanisa menolak.


Lalu Deon pun memukul wajah Tanisa hingga wajah Tanisa pun ikut terlempar ke samping.

__ADS_1


Plaaaakkkkk.......


"Itu akibatnya diri mu menolak. Sekarang kamu harus layani aku"


Lalu Tanisa pun tampak tak mau kalah Tanisa pun tampak mendorong Deon ia tidak mau melayani Deon.


Bruug..


Deon justru semakin marah dan kembali menodorong badan Tanisa juga. Dan kembali menampar Tanisa.


Plaakkkk...


Tanisa pun tampak menangis..


Deon pun tampak memukul Tanisa untuk ketiga kalinya.


Tapi seketika Tanisa tampak semakin berani dan menatap Deon tajam.


"Tampar aku. Tampar aku sekarang?!!!!" Tanisa tampak menantang Deon. "Apa ini yang kamu sebut cinta. Hah!! Apa ini yang kamu sebut mencintaiku dan membahagiakan ku!! Apa ini.. kenapa kamu begitu tega pada ku. Menamparku!!" Tanisa tamapak emosi dan bicara sambil menangis.


"Aku sengaja melakukan itu!!! Agar kamu mau dan tidak menolak"


Lalu dengan cepat Gavino ingin memakai tubuh Tanisa. Dan menjatuhkan tubuh Tanisa. Dengan kasar dan penuh pemaksaan Deon tampak melakukannya dengan memaksa Tanisa.


Tidak peduli Tanisa terima atau tidak. Tanisa harus tetap melayani nya.


Tolong aku Gavino....


Sementara itu terlihat Gavino yang sama memandang bintang dan bulan dari kamarnya. Merasakan keharuan dan entah mengapa ia merasakan perasaan sedih yang mendalam.


Dalam hidup Gavino ia tidak pernah merasakan sesedih ini kehilangan wanita yang bahkan jauh dari kata baik itu. Jauh dari kehidupan sempurna. Wanita yang terkesan murahan itu. Tak terpandang. Bahkan wanita yang tak ia lihat sama sekali itu begitu tersimpan dalam hatinya. Entah mengapa orang yang Gavino buang tiba-tiba datang dalam hatinya yang begitu dingin dan membeku itu.


"Tanisa mengapa hati ku sakit bila mengingat mu. Apakah kamu bahagia disana, apakah kamu sedang baik-baik saja. Apakah kamu sehat Tanisa? Apakah kamu saat ini sedang merindukan ku juga" Gavino pun tampak bingung kenapa dia bisa berbicara sendiri seperti itu.


Selama tiga bulan Tanisa hidup bersama Gavino. Tak pernah sekalipun Gavino bicara dan menanyakan kabar diri Tanisa. Mau baik atau buruk keadaan Tanisa. Gavino tak peduli sama sekali. Yang ia pedulikan hanya satu. Nafssu belaka dan hasrtanya. Ia tidak pernah peduli pada Tanisa.


Dan kini ia tampak peduli. Walau semua seolah telat, karena Tanisa tak ada disisinya.


Lalu Gavino tampak bicara sendiri. Sambil terlihat sangat sedih.


"Tanisa... Ku harap kamu baik-baik saja. Selalu tersenyum, selalu sehat dan kamu selalu bahagia Tanisa. Maaf mungkin aku selama ini tak pernah melihat cinta mu. Tapi aku sekarang merasakan bahwa aku pun juga mencintai mu"


Gavino pun memegang surat yang Tanisa tulis ia pun memandang surat itu.

__ADS_1


Lalu setelah itu Gavino pun keluar.


Gavino pun mengambil ponselnya dan berusaha untuk menelpon Deon mencari tahu tentang Tanisa. Hasilnya tampak nihil. Nomer Deon tak bisa dihubungi. Gavino tak bisa menghubungi nya. Gavino pun tampak kesal.


Lalu Gavino tampak berkeliling.


Lalu Gavino pun tampak berhenti disebuah toko kado.


Gavino masuk kedalam toko itu. Gavino tampak melihat sebuah boneka. Boneka kucing kecil yang lucu. Gavino pun membelinya dua. Satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Tanisa. Gavino pun tampak tersenyum melihat boneka itu.


"Tanisa kamu ulang tahun kan, waktu itu.. Bahkan aku belum sempat mengucapkan kata ulang tahun pada mu. Bahkan aku belum sempat memberikan apapun padamu. Bahkan aku belum memberikan bunga dan kue ulang tahun yang pernah kamu pinta. Tapi kamu sudah pergi tanpa pedulikan ku. Aku belikan boneka kucing ini. Ya boneka kucing ini seperti dirimu cantik dan lucu. Aku sengaja memberikan boneka ini supaya kamu bisa memeluk boneka ini disaat kamu merindukan ku. Tapi kalau kamu mau minta bunga dan kue aku pasti kasih saat kita bertemu lagi. Tinggal kamu bilang saja. Ya tinggal kamu bilang saja. Tapi sayang aku tidak tau kamu kemana kini?" Tulis Gavino pada selembar kertas yang ia masukan kedalam sebuah paper bag. Didalam paper bag itu sudah ada boneka dan surat yang ia tulis.


Gavino berharap dapat bertemu Tanisa dan memberikan hadiah itu pada Tanisa. Namun kapan Gavino tak tahu, karena sampai saat ini Gavino belum tahu Tanisa kemana?


Lalu setelah itu Gavino pun pulang. Selama perjalanan ia tampak memeluk boneka itu sambil mencium boneka itu penuh cinta.


Ternyata ini rasanya cinta. Cinta ternyata sesakit ini. Aku baru pertama kali mencintai.


Apa kabar kamu Tanisa yang dulu mencintai ku, namun berulang kali juga aku menyakiti mu. Dan berulang kali juga kamu berusaha untuk tetap cinta.


Tanisa maafkan aku...


Maafkan aku....


Sementara itu ..


Anak dari Deon tak ingin jika papanya meninggalkan dirinya dan keluarganya.


Deon pun menelpon papanya.


"Papa dimana?" Tanya Leon


"Bisnis, papa sedang bisinis keluar kota"


"Bohong"


"Serius papa bisnis"


Lalu Deon pun menutup teleponnya begitu saja saat anaknya menelpon. Dan ia pun tampak mematikan telpon genggamnya. Deon tak ingin diganggu oleh siapapun saat ini.


Leon percaya jika papanya memang selingkuh. Karena Leon merasakan papanya sudah jarang pulang. Dan banyak sibuk diluar rumah.


Namun Leon bingung dengan keberadaan papanya sendiri. Yang kini kemana?

__ADS_1


__ADS_2