
Cinta itu suatu hal yang mudah namun terasa sulit digenggam. Cinta itu mudah namun sulit disaat Tuhan belum menakdirkan persatukan manusia yang kita cintai.
Dan cinta itu mudah..
Mudah untuk datang dan juga pergi.. walau kita memintanya untuk jangan pernah pergi..
Ya itulah yang dirasa kan Tanisa didalam hatinya. Mana kala cinta tak semudah itu pergi.
Dan itu terasa perih..
Pada hati yang sudah tersakiti oleh kehidupan yang fana, namun juga harus tersakiti juga karena cinta yang tak pernah dimilikinya.
....
Tanisa masih tampak tertidur dipesawat itu. Hanya dengan tidur dirinya dapat melupakan sejenak pahitnya kehidupan.
Hanya dengan tidur Tanisa merasa dunia nya baik-baik saja .
Dan hanya dengan tidur Tanisa berharap jika di alam mimpi ia dapat bertemu dengan yang namanya bahagia. Walau hanya dalam mimpi namun rasa itu ada dan ia rasakan dari separuh kehidupannya. Walau itu tak nyata namun didalam mimpi Tanisa berharap ia akan tersenyum walau setelah terbangun ia kembali sadar akan kembali pada pahitnya kehidupan.
Setelah perjalanan menempuh waktu perjalanan kurang lebih 2 jam mereka pun tiba di pukul 12 malam. Perjalan itu menjadi mudah mana kala kita menempuh dengan naik pesawat.
Tanisa pun membuka mata dan melihat di sampingnya sudah ada Deon yang masih dalam tidurnya. Sementara itu terlihat Leon yang tak tidur dan memandang wajah Tanisa. Namun Leon membuang wajahnya seketika saat Tanisa terbangun dan melihat diri Deon yang melihat dirinya.
Tanisa pun masih tampak menunduk dan tak mau juga memandang Leon.
__ADS_1
Karena hari sudah larut malam Deon pun memutuskan untuk jangan kembali ke rumah dulu. Mengingat tak baik membawa Tanisa malam-malam ke rumah. Ditambah lagi akan ada spesikulasi buruk dari seorang Tanisa, meski image buruk memang sudah tampak melekat hebat di diri Tanisa.
Mereka pun menginap sejenak di apartemen milik Leon. Ya itu milik Leon meski Leon masih muda namun Leon memiliki penghasilan sendiri dan ia mampu membeli apartemen serta mobil dengan hasil keringatnya sendiri sebagai programer di sebuah perusahaan. Bahkan papanya pun bangga memiliki putra seperti Leon.
Leon pun membawa papanya dan Tanisa ke sebuah apartemen yang bernama apartemen Inara. Seketika Tanisa teringat akan apartemen itu adalah tempat dimana dirinya dan Gavino yang pernah tinggal dalam satu atap, satu kamar dan satu tempat tidur. Langkah nya seolah tertahan saat ia mengingat semua tentang Gavino yang masih singgah dihatinya.
Leon pun tampak mempersilahkan masuk mereka kedalam apartemen yang ia punya. Namun Leon masih melihat wajah Tanisa dengan air mata yang seolah tertahan. Sebagai seorang wanita yang sudah merebut suami orang sepertinya tak lazim melihat air mata yang seolah tertahan itu.
Leon pun tampak mempersilahkan mereka untuk tidur dulu.
Namun yang paling dia rasakan seolah menjadi perang batin untuk dirinya adalah kasurnya hanya ada satu. Ya ada satu..
Tampak harus salah satu yang dikorbankan untuk salah satunya untuk tidur di sofa.
"Aku bingung siapa yang harus tidur disofa",ucap Leon menghela napas beratnya.
"Jangan disofa dikasur saja, ini empuk. Disofa tidak akan nyaman"lalu dengan cepat Leon pun tampak tertidur diatas sofa. Agar Tanisa tidak tidur disofa.
Lalu Deon pun menarik tangan Tanisa lembut untuk segara tidur di kasur itu. Tanisa tampak menggeleng dan menolak.
Namun Deon tetap memaksa.
"Gak apa-apa. Kamu tidur lah disini. Aku akan menemani mu" kata Deon. Lalu Deon menyuruh Tanisa untuk tidur. Karena Deon tahu jika Tanisa selain lelah ia pun sudah sangat mengantuk.
Lalu Deon pun tampak tidur disamping Tanisa.
__ADS_1
Namun dalam tidurnya Tanisa tampak tak bisa tidur. Ia tampak gelisah dan tak bisa memejamkan matanya. Deon pun menyadari itu, jika Tanisa belum tidur.
"Kenapa kamu tak tidur" tanya Deon.
"Aku tidak bisa tidur"jawab Tanisa.
"Kenapa?"
"Aku takut. Ya aku takut menghadapi dunia. Dunia ku, dunia ku yang tak pernah ku tahu kejutan menyakitkan apalagi yang akan aku terima esok hari" kata Tanisa.
"Pejam kan mata mu. Aku tidak mau kamu kekurangan istrahat" ucap Deon memeluk Tanisa.
Namun Tanisa tampak menghempaskan tangan Deon. Tak ingin dipeluk olehnya.
"Lepaskan tangan mu. Pelukan mu semakin membuat aku tak bisa tidur. Ada putra mu saat ini. Putra mu adalah belahan jiwamu. Suruhlah putra mu untuk bangun dan tidur disini dan aku yang tidur disofa"
Lalu Deon pun melihat leon yang sudah tidur disofa.
"Dia sudah tidur" kata Deon.
"Baiklah" kata Tanisa yang akhirnya pindah tidur dibawah dengan selimut yang ia jadikan kasur.
"Kenapa kamu dibawah" tanya Deon.
"Tidur disini membuat ku lebih tenang. Ketimbang tidur diatas sana" ucap Tanisa yang lalu memejamkan mata dan tertidur.
__ADS_1
Kini posisi Leon tidur disofa, Tanisa tidur dibawah, sementara Deon tidur dikasur.