
Lusi pun menemani suaminya yang sudah sadar itu. Namun kondisi nya masih belum pulih banyak yang belum normal. Leher Rian pun juga tampak masih belum boleh bergerak kesana kemari. Ya Rian masih tidak bisa banyak melakukan gerakan. Rian mampu mengingat dirinya dan keluarga nya saja itu merupakan suatu keajaiban. Lusi pun menemani Rian hingga tanpa terasa dirinya tertidur disamping suaminya itu.
Tak sengaja ayah yang niat ingin melihat Rian, melihat Lusi yang duduk namun memejamkan matanya. Lusi tampak tertidur dalam duduk.
Seketika Lusi pun tampak menjatuhkan air matanya dalam tidur. Ayah pun menyapu air matanya.
Dalam tidur Lusi pun menangis. Ia benci akan kehidupannya, ia sedih dengan kehidupannya sendiri. Lusi tak pernah meminta dirinya mengalami semuanya.
Tiba-tiba ayah mendekati putrinya dan mencium pipi putrinya. Entah mengapa ada perasan ingin mencium Lusi saat itu. Tiba-tiba Lusi pun tersadar melihat ayah didepannya.
"Ayah"
"Lusi, bagaimana suami mu"
"Ya begini sudah sadar tapi belum seratus persen "
"Lusi ayah minta maaf atas ucapan ayah yang barusan"
"Barusan yang mana?"
"Yang bilang ayah gak mau kalau kamu sakit jiwa lagi"
"Gak apa, yang ayah katakan benar, Lusi lah yang tak sempurna sebagai anaknya Ayah"
"Bukan, bukan kamu yang tidak sempurna tapi mulut ayah lah yang terlalu jahat untuk mengatakan itu pada kamu nak"
"Semua yang ayah katakan benar, Ayah.. jika memang suatu saat nanti entah itu kapan Lusi tidak tahu, suatu saat nanti jika Lusi kembali ke masa lalu Lusi, jiwa Lusi terganggu. Ayah boleh membuang Lusi. Ayah boleh tidak anggap Lusi lagi" kata Lusi
"Tidak nak mau apapun kondisi kamu, kamu tetaplah anak ayah" ucap ayah memeluk Lusi. "Ayah hanya kelepasan bicara saja, ayah minta maaf. Maafkan ayah nak"
"Lusi juga minta maaf ayah"
"Berjanjilah kalau kamu akan selalu bahagia, ayah sebetulnya sedih melihat mu seperti ini"
"Iya ayah, Lusi sayang ayah" ucap Lusi memeluk ayahnya.
"Ayah juga nak"
.
.
.
__ADS_1
Keesokan harinya Gery pun kembali bekerja, ia pun menyisir semua karyawan yang bernama Arga, dirinya ingin tahu dan benar-benar menghabisi pria tersebut.
Arga yang memang sudah kembali bekerja itu pun lantas dipanggil oleh Gery untuk menemui dirinya, Arga kaget karena tak pernah tahu jika dirinya akan dipanggil oleh bosnya itu.
Dengan langkah kaki yang penuh dengan perasaan takut Arga menemui Gery diruang kerjanya.
Gery pun saat bertemu Arga sambil mengingat wajah Arga pada saat itu. Pria yang sudah kurang ajar pada Lusi, wanita yang ia cintai.
"Kamu sadar dipanggil kesini karena apa?" Ungkap Gery terlihat kesal.
"Kamu ingat dengan saya" kata Gery sekali lagi.
Lalu Gery pun langsung dengan cepat menarik kerah baju Arga dan langsung memukul wajah Arga dengan keras.
"Beraninya kamu berani kurang ajar dengan Lusi!!! Saya ucapkan pada mu jangan pernah kamu menyentuh Lusi sedikit pun jika kamu tidak mau mati" ungkap Gery kesal sambil menarik kerah baju pria itu.
"Sa-saya minta maaf"
"Maaf saja tidak cukup untuk menghapus yang saat ini Lusi rasakan. Dan satu lagi, saya akan melaporkan kamu ke polisi atas kasus ini"
"Maaf, maafkan saya"
"Tidak ada kata maaf, saya pun juga akan mengeluarkan mu dari perusahaan ini" ucap Gery.
Lalu setelah itu...
Gery pun tampak berjalan ke rumah sakit untuk menemui Lusi dirumah sakit itu. Dan tanpa Gery tahu, tampak Rian yang ternyata sudah sadar.
Seketika perasaannya begitu sakit dan perih saat Lusi sedang mencium kening suaminya yang sedang terbaring itu. Gery mungkin tampak jahat karena senang Rian koma selama nya. itu semua karena Gery tidak mau jika Lusi bersama suaminya. Terlebih lagi suaminya terlihat manja dan ingin disayang oleh wanita yang ia sangat cintai itu, yaitu Lusi.
Gery pun akhirnya tidak jadi memberikan makanan yang ia bawa untuk Lusi. Ia memutuskan untuk pulang.
Gery pun tampak kesal sekali, melihat Lusi yang menyuapi Rian secara sengaja.
Namun berkali-kali Gery menyadarkan dirinya bahwa dia tak pantas untuk marah. Tak pantas untuk membenci. Namun hatinya tak bisa ikhlas melihat Lusi bahagia dengan pria lain meskipun itu adalah suaminya. Secara tidak langsung Gery yang berdiri di ambang pintu itu pun melihat Lusi. Lantas Lusi yang biasanya marah melihat Gery tampak tersenyum atas kedatangan Gery pada saat itu.
Gery yang sudah mau menolong Lusi saat kejadian itu, Lusi anggap bahwa Gery memang sudah berubah tak seperti dulu lagi.
Dan Lusi yang selalu menganggap Gery itu musuh, saat ini Lusi menganggap Gery lain. Lusi berharap jika Gery memang benar berubah lebih baik lagi.
Gery yang berniat ingin pergi tak jadi saat melihat Lusi tersenyum padanya.
"Gery" panggil Lusi melihat Gery.
__ADS_1
"Kenapa didepan pintu saja, sini masuk" ucap Lusi meminta Gery untuk masuk.
Dengan langkah kaki yang perlahan namun pasti akhirnya Gery masuk mengikuti permintaan Lusi.
"Aku sudah ceritakan apa yang sudah aku alami, saat kamu menolong ku pada Rian" ucap Lusi sembari tersenyum.
"Ge-gery, a-aku ucapkan terima kasih" ucap Rian yang berbicara terbata, karena kondisinya memang belum pulih.
Gery pun hanya tampak tersenyum.
"Syukurlah kalau kamu selamat, saya permisi sebentar" ucap Gery keluar dari kamar inap itu.
Saat Gery berpamitan pulang Gery tampak tak benar-benar pulang. Gery hanya tampak berusaha untuk menghindar karena sebenernya Gery hanya ingin bertemu Lusi.
Seketika saat Gery belum benar benar pergi, Gery pun menemui Lusi. Suasana taman ditaman rumah sakit saat itu.
"Lusi" kata Gery.
"Ya?" Jawab Lusi.
"Aku memberikan ini untuk mu sebenarnya" ucap Gery memberikan makanan untuk Lusi.
"Gery, terimakasih banyak untuk semuanya. Aku rasa kamu tidak perlu lagi memberikan apapun untuk ku. Aku tidak mau banyak berhutang budi padamu. Jadi untuk kali ini aku terima untuk terkahir kalinya"
"Lusi ini bukan hutang budi, tapi bentuk sayang dan cinta ku padamu"
"Gery jika memang kamu mencintai ku, kita hiduplah seperti pada umumnya. Kalau memang kamu sayang padaku, kamu harus buktikan kalau kamu laki-laki sejati"
"Caranya?"
"Jadilah suami yang baik untuk Liana. Kamu harus menjadi kebanggan, kamu suami Liana, kamu harus mencintainya melebihi diriku"
"Lusi aku hanya mencintai mu"
"Tidak bisa Gery tidak bisa"
"Kenapa?"
"Aku punya anak, kamu pun akan punya anak. Aku punya kehidupan, kamu pun punya kehidupan. Kita tak bisa bersama kita punya kehidupan masing-masing yang tak bisa kita satukan"
"Jadi apa kah kamu mencintai ku?"
"Jelas tidak, tapi aku bahagia jika kamu menjadi pria baik. Cobalah untuk mencintai Liana" ucap Lusi.
__ADS_1
Gery pun terdiam sejenak.
"Lusi jika memang dirimu tak bahagia dalam kehidupan mu, ku harap kamu dapat menelpon ku. Kamu datangi aku, aku yang akan membahagiakan mu. Aku mungkin akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk anaknya Liana, tapi tidak untuk cinta ku yang hanya buat kamu Lusi. Aku akan menjaga Liana namun itu hanya sebatas untuk anak ku saja dan tidak lebih. Karena satu hal aku hanyalah mencintaimu dan cinta ku tak bisa dipaksakan. Aku akan tetap ada untuk mu, jangan pernah mengusir aku yang datang didalam hatimu" ucap Gery menatap tajam Lusi.