
Sementara itu....
Suasana tampak malam hari, terlihat Tanisa yang terbaring dikasur tipis dikamar sempit nya itu. Dengan mata terpejam penuh kesakitan dan luka lebam diwajahnya. Kondisi Tanisa terlihat memprihatinkan dan malang.
Jika Tanisa bisa melawan Tanisa pun mungkin akan melawan Deon, tapi apalah daya tenaga Tanisa tampak tak mampu. Dan kalah melawan pria bernama Deon. Sekalipun Tanisa melawan Deon justru melakukan hal yang lebih parah.
Tanisa pun hanya bisa menangis dengan apa yang ia rasakan perih dan sakit nya kini.
Seketika....
Leon pun menghampiri Tanisa yang tampak sudah tertidur igu, Leon merasa murka dan kesal begitu mendalam pada papanya. Rasanya ia ingin sekali mengubur hidup-hidup pria yang bernama Deon itu, kalau bukan Deon papanya sudah pasti ia akan lakukan. Dan Leon juga teringat akan kata Tanisa yang tak boleh durhaka terhadap papanya.
Lalu tampak...
Leon menghampiri Tanisa yang masih tertidur, dan Leon tampak memandang wajah cantik Tanisa yang kini di penuhi dengan memar biru. Mata nya terlihat bengkak begitu juga dengan bibirnya yang bengkak dan juga berdarah. Leon pun merasa kasihan dan tak tega melihat wanita yang lemah itu diperlakukan seperti itu. Leon pun menyesali perbuatannya juga dulu pada saat pertama kali bertemu dengan Tanisa pernah memukulnya, Leon tersadar semua yang ia lakukan itu adalah kesalahan terbesar nya. Dan kini ia berjanji tidak akan mengulanginya dan akan melindungi wanita itu.
Wanita yang bukan haknya, wanita yang akan menjadi calon ibu tirinya, wanita yang sangat lemah itu.
Tapi ...
Ternyata Leon menyimpan rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Yaitu rasa berdebar didada setiap kali melihat Tanisa.
Lalu terdengar sayu-sayu Leon mendengar Tanisa yang menanggil mama dalam mata yang tertutup itu.
"Mama aku merindukan mu, jangan tinggalkan aku. Aku merindukan mu," ucapan Tanisa dalam tidurnya, dalam batin Tanisa yang kini merasakan sakit yang teramat dalam.
Tanisa pun terdengar tampak menangis, walau tampak memejamkan mata dalam tidur nya
Maafkan aku Tanisa aku gagal melindungi mu. Kamu jadi seperti ini gara-gara aku Batin Leon yang karena dirinya Tanisa jadi seperti ini andai saja Leon tak mengajak Tanisa ke rumah sakit pasti Tanisa tidak akan begini.
Lagi lagi debaran itu ada didalam hati Tanisa.
Lalu Leon pun tampak membelai pipi Tanisa lembut sambil memandang wajah yang tampak terluka. Tak berani membangunkan Tanisa dan hanya memandang wajahnya dengan sendu.
Ada perasaan Leon ingin mencium Tanisa, entah mengapa perasaan itu tiba-tiba muncul.
Ya Tuhan apakah aku mencintainya mengapa begitu terasa berdebar di dada. Mengapa seperti ini batin Leon.
Dan dengan segenap rasa yang berkecamuk didada Leon pun memberanikan diri mencium pipi Tanisa. Ya hanya pipi saja, walau sebenarnya ia ingin mencium bibir Tanisa.
Cup...
Lalu sesudah ia mencium pipi Tanisa Leon tersadar.
Astaga apa yang baru saja aku lakukan kepadanya, apa aku baru saja aku mencium pipinya, astaga ini wanita papa ku. Kenapa aku menciumnya benak Leon.
Maafkan aku Tanisa maafkan...
Lalu Leon pun terdiam sejenak dan memandang Tanisa lagi tanpa tersadar Tanisa membuka matanya dan melihat Leon yang sudah ada didepan matanya.
"Kamu?" Ucap Tanisa lirih dengan wajah penuh kesedihan.
Tanisa pun tampak bangun dan memandang pria dihadapannya dengan penuh air mata.
Sontak terbangunnya Tanisa dari tidurnya membuat Leon kaget.
Apakah Tanisa merasakan aku baru saja menciumnya batin Leon.
Namun apa yang dipikirkan Leon jauh dilur dugaan, justru Tanisa malah memandang Leon dengan sebutan nama pria lain.
"Gavino.. Gavino"
Dengan cepat Tanisa pun langsung memeluknya dengan begitu erat sambil menangis.
Leon pun kaget dengan apa yang dilakukan Tanisa yang memeluknya, begitu terasa hangat.
"Gavino, Gavino aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku mohon huhuhuhu" ucap Tanisa sambil menangis.
Dalam posisi yang masih setengah tersadar Tanisa tampak melihat Leon seperti Gavino.
"Aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan aku. Bawa aku pergi Gavino aku tidak sanggup aku lagi. Aku tidak sanggup Gavino" ucap Tanisa seraya sambil menangis.
Leon pun menyambut pelukan yang diberikan Tanisa walau pun Leon tahu tanpa sadar dirinya malah dianggap Gavino oleh Tanisa, mungkin Tanisa masih tampak melindur sehingga menganggap nya seperti itu pikir Gavino.
Leon pun menyambut pelukan itu dengan memeluk juga dengan erat dan hangat. Lalu membelai rambut Tanisa dengan lembut.
"Gavino hiks Gavino.." tangis Tanisa sambil menyebut nama pria yang Tanisa cintai.
Kini aku tahu dan benar yakin Tanisa kalau kamu memang tak mencintai papa ku, lalu kenapa kamu bisa hamil anak papa ku. Kenapa? Batin Leon.
Seketika Tanisa pun melepaskan pelukannya itu dan kembali menatap wajah pria yang baru saja ia peluk, Tanisa tampak memandang wajah pria itu dengan samar-samar dan seketika Tanisa tersadar bahwa itu bukan Gavino dan dia baru saja memeluknya. Dan tersadar bahwa itu adalah LEON.
__ADS_1
"Leon" ucap Tanisa kaget melihat Leon dihadpannya. "Leon ka-kamu kenapa?"
Tanisa pun tampak kaget dan merasa tak menyangka pria yang baru saja ia peluk itu adalah Leon. Tanisa pun langsung mundur.
Kenapa bisa ada Leon disini apa yang baru saja aku lakukan pada nya batin Tanisa.
Tanisa pun dengan terbata menyatakan permintaan maafnya karena memeluk nya tanpa ijin.
"Maafkan aku, maaf. Aku tidak sengaja memelukmu" ucap Tanisa sambil menunduk.
"Tidak apa-apa, tidak apa"
"Sekali lagi aku minta maaf pada mu" kata Tanisa tertunduk.
"Maaf juga aku masuk sembarangan ke kamar mu, aku membawa kan ini untuk mu. Vitamin dan obat mual mu, aku mencari mu dirumah sakit dan ternyata kamu sudah pulang" ucap Leon.
"Terimakasih kamu sudah menebus nya untukku" ucap Tanisa.
Lalu dengan cepat Leon pun keluar kamar dan kembali lagi ke kamar Tanisa dengan membawa handuk dan air dingin untuk mengompres wajah Tanisa yang memar.
"Aku bawa ini untuk sedikit mengurangi rasa sakit pada wajah mu yang lebam itu" kata Leon memberikan handuk basah ke wajah Tanisa.
"Aw.. sakit" kata Tanisa menerima sentuhan handuk itu di wajahnya.
"Tahan sedikit ya, aku akan melakukannya pelan-pelan" ucap Leon.
Tanisa pun mengangguk.
"Leon terimakasih kamu sudah sangat baik padaku" ucap Tanisa.
"Iya sama-sama" kata Leon.
Seketika hati Leon semakin berdebar saat wajah Tanisa memandang dirinya dalam jarak yang dekat.
"Kamu kenapa?" Tanya Tanisa yang melihat Leon gugup.
"Nggak" jawab Leon.
"Baiklah"
"Tanisa?"
"Ya.."
Tanisa pun hanya diam.
"Kamu mencintai nya dan sangat mencintainya. Tapi kalau memang kamu mencintai Gavino kenapa kamu bisa hamil anak dari papa ku"
Tanisa pun terdiam dan terasa pilu didada atas pertanyaan pria itu. Tanisa tak mungkin menjawab pertanyaan Leon dengan menjawab dirinya hanyalah wanita bayaran.
"Baiklah jika kamu tidak menjawab tidak apa-apa" Kata Leon.
"Kamu mau makan, aku akan membawakan mu"
"Tidak usah tidak apa-apa" kata Tanisa.
"Tidak apa-apa kamu mau makan apa? Roti, ayam goreng atau apa?"
"Tidak"
"Apa kamu mau makan bubur"
Seketika Tanisa menganggukkan kepalanya.
"Bubur ayam?" Tanya Leon.
"Bukan"
"Lalu, bubur apa? Kacang hijau?"
Tanisa pun terdiam.
"Jawab apa bubur kacang hijau?" Tanya Leon meyakinkan.
Tanisa pun mengangguk dengan sungkan.
"Baik aku tinggal sebentar, aku akan membelikannya untuk mu. Kamu tunggu sebentar"
"Kamu mau membelinya untukku"
"Iya"
__ADS_1
"Jangan nanti merepotkan kamu"
"Gak apa-apa tunggu ya"
Lalu Leon pun tampak meninggalkan Tanisa dan membeli apa yang Tanisa inginkan.
Seketika Tanisa terdiam dan heran, mengapa Leon begitu baik padanya.
Kenapa bisa wanita yang sudah menjadi perusak rumah tangga orang lain begitu baik padaku, kenapa bisa Leon begitu baik, benak Tanisa.
Seketika tak lama bukan Leon yang datang Tanisa melihat pria yang kini terasa menakutkan dan menyeramkan bagi Tanisa yaitu Deon.
Dengan senyum yang menyeringai dan menakutkan Deon menatap Tanisa tajam didepan pintu.
"Kamu sudah bangun rupanya, bagaimana tidurnya, Hem" ucap Deon, lalu dengan cepat Deon masuk dan menutup pintu dan menguncinya.
Deon langsung duduk disamping Tanisa.
"Kamu mau apa?" Tanya Tanisa dengan wajah ketakutan.
"Apalagi kalau bukan untuk bercinta dengan mu"
"Setelah kamu memukuli seperti ini kamu ingin bercinta dengan mu sungguh tidak tahu malu, aku tidak mau!!!" Ucap Tanisa dengan air matanya.
Lalu Deon pun mencengkram wajah Tanisa kuat.
"Kamu berani menolak ku. Mau kamu lebih parah dari ini. Tugas mu memang melayaniku Tanisa"
"Kamu begitu jahat kepadaku, aku menyesal telah ikut dengan mu"
Plaaakkk.... Tamparan keras mendarat di pipi Tanisa.
Tanisa pun memegang pipinya, yang ditampar oleh pria itu.
"Kamu menyesal, kamu bilang menyesalinya. Sungguh kata yang indah untuk didengar namun sayang kamu sudah terlambat" kata Deon langsung menarik tubuh Tanisa kuat dan mendorongnya dengan keras kekasur lantai itu. Dengan cepat pula Deon melepaskan seluruh pakaian Tanisa dengan kasar dan memanggahi tubuh Tanisa.
Tanisa merasa sakit dengan apa yang Deon lakukan terhadap diri Tanisa.
Tanisa tampak menolak dan melawan namun semua terasa percuma.
Deon tampak mencium bibir Tanisa dan memainkan peran dengan kedua tangan nya. Ia pun tampak memegang kedua tangan Tanisa dengan sangat kuat dan saat badan Tanisa terkunci tak bisa lepas.
Deon pun memasukan benda pusaka nya kedalam kepemilikan Tanisa, yaitu sebuah kenikmatan tiada tara bagi Deon.
Deon memompa kuat diatas tubuh Tanisa dengan sangat bergairah tanpa peduli Tanisa terima atau tidak.
Ia terus melakukannya dengan sangat kuat sambil mencium bibir Tanisa dengan paksa. Ia pun juga memainkan bibir Tanisa. Dan memasukan lidahnya dan mengisap habis bibir Tanisa tanpa memberikan celah untuk Tanisa memberikan ruang bernapas.
Saat Deon sudah sampai puncak barulah Deon melepaskan bibir dan lidahnya dari mulut Tanisa dan melepaskan benda pusaknya.
Deon tampak menikmati permainan singkat yang menggairahkan itu, sementara Tanisa tampak menjatuhkan air matanya tampak terlihat berantakan pada dirinya.
Tanisa pun tampak menangis dengan selimut yang membalut ditubuhnya. Sementara Deon pergi setelah hasrtanya tuntas.
Wanita berusia 19 tahun itu sudah tak mampu lagi bicara, hanya tangisan yang bisa ia rasakan saat kecewa itu terasa sangat mendalam pada dirinya.
Tak lama..
Leon pun pulang membawa bubur kacang hijau yang Tanisa mau. memang Leon terlambat datang karena warung bubur kacang hijau yang dekat komplek rumah tutup. Sehingga Leon pergi membeli ditempat yang lebih jauh. Meski jauh Leon tak peduli asalkan Tanisa bisa makan bubur kacang hijau yang Tanisa mau. Namun Leon kaget melihat Tanisa yang menangis dengan selimut yang menutup ditubuhnya dan rambut yang terlihat sangat berantakan.
"Tanisa kamu kenapa?" Tanya Leon sambil membulatkan matanya melihat Tanisa yang hancur dan berantakan.
"Tinggalkan aku!!!!" Seru Tanisa sambil menangis.
"Kamu kenapa?"tanya Leon.
"Aku mohon tinggalkan aku, pergilah huhuhuhu" ucap Tanisa dengan suara agak keras namun sambil menangis.
"Aku sudah membelikan kamu bubur kacang hijau yang kamu inginkan" kata Leon.
"Aku mohon tinggalkan aku sendiri" ucap Tanisa menangis.
"Baiklah, aku taru bubur ini disampingmu. Jika kamu ingin kamu bisa memakannya"
Tanisa pun hanya terdiam sambil menangis. Tanisa bukannya tidak tahu terimakasih pada Leon yang sudah membawakan bubur untuknya hanya saja perasan Tanisa saat ini hancur.
Leon pun sadar dan tahu apa yang Tanisa alami, kesakitan dan kepahitan batin lah yang kini tengah rasakan.
sakit dan perih....
itulah yang kini sangat terasa diri Tanisa, jika dibanding dengan perut Tanisa yang mungkin sangat lapar. Tanisa pun sangat tak peduli akan hal itu.
__ADS_1
Leon pun tak menyangka jika papanya melakukan hal bejat itu lagi pada wanitanya, wanita yang ia cintai karena nafsu nya. Tanisa terlihat hancur berkeping-keping setiap apa yang dilakukan oleh Deon terhadap diri Tanisa.