Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Menapaki Kota sebrang


__ADS_3

Pagi hari ..


Lusi tampak bergegas bersiap diri merapihkan segala keperluan untuk pergi ke kota Bandar Lampung. Pulau yang tekenal dengan keindahan pantainya karena Letaknya yang berbatasan langsung dengan Selat Sunda membuat provinsi ini dikaruniai pantai-pantai yang indah.


Meskipun begitu tapi Lusi datang ke kota sana, bukan untuk berlibur melainkan untuk menyusul sang suami yang terbaring lemah dalam hidup dan mati. Andai waktu bisa diubah rasanya, Lusi ingin sekali mengatakan pada suaminya untuk jangan pergi. Jangan pergi, meniggalkan dirinya. Karena perpisahan itu nyatanya lebih sulit jika dibanding dengan pertemuan.


Namun kembali lagi dengan takdir mana ada yang tahu, tidak ada yang bisa membaca takdir hidup manusia. Sebagai manusia yang mengalami setiap apa yang menjadi ujian, hanya bisa berdoa dan berusaha untuk setiap apa yang diberikan oleh sang maha kuasa.


Sebelum Lusi benar-benar pergi untuk menuju ke kota yang berada sebrang pulau itu. Lusi tampak memeperhatikan apa yang Fabio perlukan mulai dari susu nya dan lainnya, karena Lusi tidak ingin Fabio kekurangan sesuatu apapun. Lusi pun mengecek semuanya. Setelah semua beres barulah Lusi bisa pergi.


Dan sebelum berangkat Lusi pun tampak mencium Fabio yang sedang dalam gendongan Oma nya. Lusi berharap bisa bertemu kembali dengan Fabio. Lusi pun masih mencium putranya karena ia pasti akan rindu sekali. Meskipun kemungkinan hanya kurang seminggu disana, namun bagi Lusi ini seperti lebih satu minggu..


"Fabio doakan mama selalu dalam kebaikan, kamu jaga oma, kamu baik-baik disini mama mau menyusul papa. Semoga papa baik-baik disana sayang. Doakan papa juga semoga cepet sembuh ya sayang" ucap Lusi kepada putranya.


"Aoooo oooo"jawab Fabio dengan bahasa bayi.


"Ca..ca.. ca. Mama mburrrhhhhh"


"Heheh iya sayang, mama juga akan rindu Fabio pasti kangen" Lusi pun mencium putranya dengan lembut sekali lagi.


"Mama pergi dulu sayang" pamit Lusi.


Lusi pun tampak bersiap pergi. Dengan berjalan tanpa keraguan Lusi pergi meninggalkan Fabio dan mama mertuanya.


Lusi pun berangkat....


Setelah menempuh perjalan kurang lebih 50 menit dengan pesawaran terbang Lusi pun sampai dikota itu, yaitu kota Lampung. Kota yang baru pertama kali Lusi datangi, kota yang menjadi tempat tranmigrasi itu, dan Lusi kini telah Lusi sampai disana.


Ini baru pertama kali Lusi memijaki pulau Sumatra.


Dari bandara Lusi pun sambung dengan naik taksi, setelah beberapa menit Lusi pun sampai disana.


Di rumah sakit.


Lusi pun akhirnya sampai dirumah sakit dimana Rian dirawat. Dengan perasaan yang menggebu dan rasa tak sabar namun juga tak kuasa Lusi sampai dirumah sakit itum

__ADS_1


Sesampainya disana Lusi pun bertanya pada reseptionis, dan resepsionis pun memberitahukan tempat Rian dirawat di nomer berapa dan lantai berapa.


Hingga akhirnya Lusi datang...


Dan melihat dengan air mata yang tak kuasa terbendung Lusi melihat suaminya yang terbaring lemah diatas tempat tidur rumah sakit dengan impusan, selang oksigen dan kepala yang terbalut perban Rian tampak tak sadarkan diri terbaring koma.


Kaki Lusi terasa lemas melihat suaminya dalam keadaan seperti itu, Lusi pun tampak menangis dan terduduk tak kuasa melihatnya.


air mata Lusi menetes.


"Sayang, kenapa bisa kamu seperti ini" ucap Lusi nada lirih.


Lalu Lusi pun diperbolehkan masuk, Lusi langsung memeluk sang suami dengan air mata yang tumpah tak terbendung lagi.


"Sayang, bangun lah.. aku mohon bangun" ucap Lusi menangis sambil memeluk suaminya.


Tiba-tiba ada suster yang datang dan menyampaikan perihal yang terjadi pada suaminya.


Suster itu mengatakan bahwa Rian terserempet mobil truk saat sedang bekerja, karena kejadian itu Rian tak sadarkan diri dan sampai saat ini masih koma.


Ya Allah mengapa ini bisa terjadi berikanlah kesembuhan pada suami ku ya Allah aku tak kuasa melihat nya seperti ini, batin Lusi tak sanggup melihat suaminya sedang terbaring lemah.


Lusi pun memeluk suaminya sambil menangis.


Sementara itu..


Dengan berjalan tegap seorang pria berumur 35 tahun berjalan menyusuri lorong rumah sakit untuk melihat keadaan Rian. Dengan tersenyum menyeringai seolah Rian dalam keadaan terbaring koma adalah kesenangan dan kebahagiaan untuknya.


Dia adalah rekan kerja Rian bernama Arga.


Dia datang kesana bukan karena peduli juga bukan karena simpati. Melainkan karena ingin melihat Rian dalam terbaring koma. Dan yang ia inginkan adalah Rian dalam keadaan mati. Dan semua hal buruk pada Rian itulah yang menjadi keinginannya.


Dengan langkah kaki penuh semangat ia datang untuk melihat Rian yang nyaris mati mati itu, dengan senyuman yang menyeringai.


Tiba-tiba....

__ADS_1


Ia kaget...


Dengan sorot mata yang tajam pria itu melihat wanita yang sedang menangisi pria yang sedang tak baik-baik saja itu.


"Siapa dia mengapa menangisi pria ini, seperti nya dia istrinya. Rupanya dia punya istri yang cantik juga" ucap Arga dalam hati sembari menyaksikan wanita yang sedang memeluk pria yang terbaring lemah itu sambil menangis.


Arga pun terdiam sejenak menyaksikan semua didepan mata sebelum ia masuk


Arga hanya berdiri di ambang pintu sambil menyaksikannya.


Seketika Lusi pun tersadar bahwa ada yang perhatikan dirinya daritadi


Dan dia melihat ada seorang pria yang entahlah siapa. Pria itu pun menghampiri Lusi yang sedang memeluk suami yang terbaring koma.


Pria itu pun langsung melihat Lusi dari atas sampai bawah, dengan sorot mata yang tajam.


Cantik


Kata-kata itulah yang terbesit dalam hatinya mana kala melihat Lusi yang kini berada dihadapannya.


"Kenalkan saya Arga temannya Rian, dia dengan ku satu kantor. Dan karena yang ku dengar dia kecelakaan sebab itu aku disuruh datang untuk menggantikan tugasnya. Saya turut sedih dengan berita buruk ini. Kamu siapanya?" Tanya Arga.


"Saya istrinya" jawab Lusi singkat.


"Aku tahu mungkin kamu saat ini sedang sedih melihat suami mu salam keadaan seperti ini. Tapi percayalah kalau ini ujian untuk mu, dan sabar ya. Semoga suami mu cepat pulih"


Lusi pun tampak mengangguk. "Terimakasih atas doanya"


"Kamu dari mana?" Tanya Arga.


"Jakarta"


"Wow jauh juga ya, jauh-jauh dari Jakarta hanya untuk menemani suami mu rupanya. Benar-benar hebat!!! Istri yang baik, Rian beruntung memiliki mu"


Lusi pun hanya terdiam dengan pujian yang disampaikan oleh Arga. Bahwasanya Lusi sedang sedih dengan keadaan nya suaminya saat ini.. dan tidak peduli dengan pujian siapapun.

__ADS_1


__ADS_2