
Lusi yang tak punya uang itu seolah bingung untuk menjalani hari-harinya. Lusi juga tahu betul saat ini keadaan dalam keadaan sangat sulit.
Lusi berusaha untuk tetap bertahan di masa sulitnya. Meski harus mengelus dada dan kadang menangis dalam diam.
Apalagi hal terberat dalam hidup bukan cuma dia yang menjadi janda saat ini. Tapi ibunda pun bernasib sama dengan dirinya yaitu janda ditinggal mati.
Lusi merasa tak enak hati pada ibunya, selain harus membiayai hidup Lusi. Ibu pun kerap kali membiayai anak-anak nya dan membantu Lusi dalam mengurus anak Lusi yang masih kecil-kecil.
Dalam keheningan malam, terlihat Lusi dan ibu dirumah, mereka sedang mengbrol berdua di kamar yang Lusi tiduri bersama kedua anaknya.
Ibu terlihat memebelai lembut badan Fabio yang baru saja tertidur dan memberikan lotion anak agar tidak digigit nyamuk tidak lupa juga memberi minyak telon kepada perut Fabio. Sementara Jasmin sedang menyusu asi. Jasmin pun baru mau tidur saat itu.
Lusi terkadang harus merasakan lelah pada kedua anak yang masih kecil-kecil itu.
Malamnya terkadang suka begadang menjaga Yasmin yang tidak mau tidur.
Siangnya menjaga Fabio yang sedang asyiknya larian-larian kesana kemari, dan harus extra hati-hati dalam menjaga kalau tidak Fabio akan nakal pada sang adik.
Lusi pun menatap sang ibu lekat dengan tatapan haru, melihat sang ibu yang tengah duduk dihadapannya.
"Bu" ucap Lusi.
"Ada apa?"
"Maaf ya Bu karena Lusi. Ibu harus membiayai hidup Lusi di tambah lagi harus mengurus kedua anak Lusi yang masih kecil-kecil" kata Lusi.
"Tidak masalah kamu tenang saja" jawab Ibu.
"Seharusnya dimasa seperti ini, diusia senja ibu" ucap Lusi.
__ADS_1
"Emang ibu udah tua ya"timpal ibu yang seolah dirinya tak mau dibilang tua.
Lusi pun langsung tersenyum mendengar ucapan sang ibu.
"Ya memang ibu belum tua masih oke masih cantik, tapi seharusnya ibu tidak harus repot mengurus cucu seperti ini. Waktu dulu ibu sibuk mengurus Lusi saat kecil, sekarang harusnya ibu sudah senang menikmati hidup. Tidak seperti ini..." Kata Lusi yang seolah sedih.
"Lusi, kamu jangan berfikir terlalu jauh dalam hal ini. Ibu menerima semua proses yang ada. Hanya keluarga tempat kamu pulang. Hanya disini tempat kamu kembali. Kamu bisa hidup mungkin tanpa adanya ibu disisi kamu. Tapi kamu akan lebih merasa hidup bila kita bersama. Kita sama-sama menjalani hidup kesendirian. Ibu akan kesepian kalau tanpa kamu"
"Tapi karena Lusi, ibu jadi banyak beban dan tanggungan hidup" kata Lusi.
"Ssstt.. sudah jangan kamu pikirkan semuanya ya, kita harus menjalani ini sama-sama kita harus kuat" ucap ibu memberikan belaian lembut pada pundak sang anak untuk tetap tabah dalam menghadapi ujian hidup.
Lusi pun tampak menaruh senyum tipis dan tanpa terasa air mata haru nya membasahi pipi.
Lusi merasa bersyukur di moment terberat dalam hidup ada ibu yang senantiasa setia menemani. Lusi pun memeluk sang ibu dan mencium pipi ibunya. Lusi merasa tak punya siapapun orang yang bisa memahami dirinya selama ini.
"Sudah ya jangan nangis" kata ibu yang mengahapus air mata putrinya.
"Iya boleh"
Lalu mereka pun tidur bersama..
Lusi tidur disamping sang ibu dan memeluknya. Untuk ukuran kasur yang Lusi miliki lumayan besar untuk kingsize jadi bisa ditiduri bersama.
Pagi harinya Lusi pun terbangun dari tidurnya setelah beberapa kali sebelumnya terbangun karena Jasmin meminta asi.
Pagi hari setelah Ibu membuatkan sarapan, Lusi tampak menggendong satu persatu anaknya. Dimulai dari Jasmin lalu Fabio, terus bergantian hingga keduanya tenang.
Kalau Yasmin merasa tidak tenang karena ia memang ingin asi.
__ADS_1
Sedangkan Fabio terlihat begitu cemburu bila Lusi menggendong adiknya dan seolah tak peduli padanya. Sifat Fabio ini sangat persis almarhum papanya cemburuan dan tempramen, yaitu Rian.
Lusi pun duduk bersama ibu dimeja makan. Terlihat ada nasi goreng yang hanya sepiring saja.
"Ini buat ibu aja" kata Lusi yang melihat hanya sepiring nasi goreng.
"Jangan itu untuk mu"
"Gak, ini milik ibu. Ibu harus makan" kata Lusi.
"Kamu sedang menyusui kamu yang harusnya makan. Untuk susu Fabio ibu masih ada simpanan, cincin ini bisa ibu jual dulu" kata ibu.
"Pinjaman sama tetangga yang kemarin gak ada ya Bu"
"Itu dia, sepertinya dia tidak mau pinjemin karena kemarin aja belum lunas"
Lusi pun termenung mendengar ucap sang ibu.
"Bu?"
"Ya...." Jawab ibu.
"Lusa Lusi akan cari kerja, Lusi harus kerja Bu. Lusi tidak mau ibu seperti ini"
"Jangan kasihan anak kamu, lagi pula kamu kan masih sakit habis sesar kemarin" kata ibu.
"Bu, aku udah kuat sudah siap. Lusi memang kasihan meninggalkan Jasmin dan Fabio tapi menurut Lusi gak jadi masalah selama Lusi kerja untuk mereka juga. Yang penting saat ini ibu cukup doakan Lusi agar Lusi cepat kerja. Pekerjaan apapun itu Lusi gak masalah Bu, asal halal dan cukup untuk kita" kata Lusi sembari tersenyum.
"Ibu akan dukung jika itu memang yang terbaik. Semoga kamu dapat pekerjaan yang baik dan berkah ya"
__ADS_1
"Terimakasih bu" ucap Lusi sembari tersenyum.