Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Masalah Keuangan


__ADS_3

Sementara itu...


Kita kembali pada cerita Lusi.


Terlihat Lusi yang tampak berfikir dengan pernikahan Gery yang belum ia rencanakan apapun mulai dari konsep, gedung dan catering. Meskipun Gery belum bilang masalah waktu. Tapi bisa saja Gery merubah waktu itu lebih cepat dari dugaan Lusi. Apalagi mengingat kehamilan Liana yang tampak semakin hari semakin membesar.


Dan Lusi pun teringat uang senilai 200 juta itu. Uang pernah Gery pinjamkan kepada Ayahnya. Dan yang akan Gery gunakan nanti untuk biaya pernikahan. Lusi belum sempat menggantinya.


"Aduh. Kemarin aku gaya banget ya mau segala bayarin nikahnya Juna dan Marisa. Uang Gery yang dua ratus juta aja belum dipulangin. Bisa ngamuk ini orang sama aku. Beruntung pak David udah pulangin itu cek 500 juta aku pakai uang itu saja" ungkap Lusi bicara pada dirinya sendiri.


Lusi pun tampak memintanya pada Rian.


"Rian cek yang senilai 500 juta itu mana. Cek yang tidak jadi dipakai pak David buat nikahan Juna"


"Emang kenapa kamu tanya gitu" tanya Rian tampak mengerinyitkan dahinya.


"Aku mau.."ucap Lusi yang tidak jadi menjelaskan langsung dipotong ucapannya oleh Rian.


"Uangnya sudah aku pakai"


"Buat?"


"Kamu harus tahu, perusahaan ku sedang mengalami kerugian dua bulan terakhir ini. Aku saja bingung untuk membiayai semuanya. Bahkan mobil yang aku punya mungkin aku jual untuk biaya operasional dan menutupi yang lainnya. Dan mungkin saja bukan cuma mobil. Tapi rumah juga"


"Tapi aku masih punya ada hutang"

__ADS_1


"Hutangnya siapa?"


"Ayah, ayah pinjem uang Gery"


"Yaudah kamu coba pinta sama ayah kamu. Untuk sementara aku gak bisa bantu dulu. Nanti kalau udah kembali normal pasti aku ganti" ucap Rian. "Oia satu lagi"


"Apa?" Tanya Lusi tampak heran.


"Kartu kredit, debit, dan konci mobil kamu mana?" Tanya Rian menatap Lusi tajam.


"Buat apa dan kenapa?"


"Aku gak mau kamu terlalu boros jadi punya kamu aku tahan. Sampai kondisi perusahaan kita normal" ucap Rian dengan sorot mata yang tajam.


"Selama ini juga aku gak boros kok. Kenapa diambil" ungkap Lusi.


"Bukan gitu, aku kan gak kerja aku buat pegangan. Kalau gak punya pegangan sama sekali aku bingung harus bagaimana?" Ucap Lusi menjelaskan.


"Aku akan memberikan uang. Tapi semua fasilitas yang biasa aku berikan ke kamu tidak seperti dulu. Dan kamu kalau mau kemana-mana naik angkutan umum" ucap Rian yang tampak marah karena masalah yang ia hadapi.


Seketika Lusi pun tampak menarik napas panjangnya. Lusi pun tidak mau berdebat dengan suaminya yang mungkin saat ini sedang ada masalah


"Oke gak apa-apa. Aku akan berusaha terbiasa" ucap Lusi.


"Ya kamu harus terbiasa. Nanti setelah ini semua fasilitas kamu. Kamu berikan kepadaku"

__ADS_1


"Iya" jawab Lusi.


Lalu Rian pun tampak pergi. Pergi berangkat kerja.


Rian pergi tanpa salam dan cium kening. Mungkin kepalanya pusing dan berat memikirkan perusahaan. Sehingga dia lupa akan hal itu.


Tak lama mama pun datang. Dengan wajah yang tampak pusing. Sambil memijat keningnya.


"Rian itu ya, gak becus ngurusin perusahaan" ungkap mama kesal.


"Kenapa ma?" Tanya Lusi.


" Dia ditipu sama rekan bisnisnya. Uangnya dibawa kabur. Dan dia gak tahu. Dan sekarang ditambah perusahaan merugi. Kalau seperti ini kita pailit"


"Yang sabar ma" ucap Lusi berusaha menguatkan dan menenangkan.


"Lusi. Mama gak siap kita jadi miskin" ucap Renata tampak sedih. "Huhuhuhu"


Lusi pun tampak mengelus bahu sang mama mertua untuk menguatkan.


"Yang sabar ma. Kita berdoa semoga perusahaan mama baik-baik saja dan normal. Ya kita berdoa" ucap Lusi seraya menenangkan.


"Kamu kok terlihat biasa aja gak stres kaya mama. Kamu sedih juga dong seperti mama" ungkap mama terlihat sedih menatap Lusi.


"Ya, emang harus nya seperti apa ma"

__ADS_1


"Ya kamu terlihat tenang gak keliatan takut. Paling gak kamu stres juga atau apa gitu"


"Ya, takut pasti sih ma. Stres juga iya. Tapi kita tetap harus semangat. Kita berdoa. Semoga ujian hidup kita ini segera berlalu. Perusahaan kita bangkit lagi" ungkap Lusi.


__ADS_2