
Jihan yang pergi meninggalkan Tanisa itu pun berjalan dengan langkah kaki yang kasar dan cepat penuh rasa kebencian pada wanita yang ia anggap sebagai perusak rumah tangga nya itu.
Sementara itu Tanisa masih tertunduk menangis, merasa bersalah, merasa tak berguna, merasa semuanya terasa sakit begitu memilukan dihati Tanisa saat dirinya dianggap sebagai perebut suami orang.
Jika kebanyakan yang menangis saat suami akan menikah lagi, adalah istri pertama, ini berbanding terbalik dengan Tanisa yang akan dinikahi untuk menjadi istri kedua namun ia yang merasakan sakit yang begitu mendalam di batinnya.
Tanisa masih menangis tersedu diruang tamu, batinnya tersiksa akan rasa bersalah yang begitu mendalam. Andai ia bisa mengulang semua cerita dalam hidupnya, Tanisa lebih memilih tidak mau merasakan semua hal pahit dalam hidupnya.
"Hikss, hiikks, hiiks,"
Suara tangisan Tanisa begitu jelas ditelinga Deon.
Deon pun mengelus punggung wanita nya itu, lalu memegang tangan Tanisa. Deon tak ingin melihat Tanisa bersedih didepan dirinya.
"Tanisa lebih baik dikamar agar kamu bisa istirahat"kata Deon kepada Tanisa yang masih menangis itu.
Tanisa pun tampak dibawa Deon untuk ke kamar yang dibilang Jihan itu yaitu kamar pembantu.
Tanisa pun dibawa kedalam kamar yang ukurannya kecil hanya dengan kasur lantai yang tampak kecil yang ukurannya hanya muat untuk satu orang dan lemari Excel yang kecil juga. Tidak ada AC, juga tidak ada kipas angin. Kamar itu memang sudah lama tak terisi semenjak pembantu rumah tangga yang satunya lagi resign. Ya, tempat itulah yang akan menjadi kamar Tanisa kini.
Deon pun tampak memandang kasihan, melihat kamar yang ditempati Tanisa saat ini. Ruangannya begitu kecil dan jauh dari kemewahan, bahkan terasa panas.
"Kamar ini sempit dan panas apakah kamu bisa tidur disini" kata Deon pada Tanisa.
"Gak apa-apa mas, aku tidur disini aku sudah terbiasa ditempat yang panas dan kecil. Ini cukup baik untukku" kata Tanisa pada Deon.
Lalu Deon memeluk Tanisa dengan erat, dan menghapus air mata Tanisa yang masih jatuh berlinang itu.
"Kamu istirahat, aku tinggal dulu ya" ucap Deon.
Tanisa pun mengangguk, sambil membawa kopernya Tanisa masuk kedalam kamar itu dan merapihkan pakaiannya kedalam lemari yang sudah disediakan.
Tanisa pun tampak beristirhat dan tidur diatas kasur itu, sambil memegang perutnya saat ini yang ia tahu bahwa memang ada janin didalam perutnya kini. Perlahan air mata Tanisa kembali terjatuh.
Tanisa menangis bukan karena tempat tidurnya saat ini, tapi Tanisa menangisi kehidupannya saat ini. Tanisa sedih akan nasib nya saat ini menikah dengan orang yang tak ia cintai dan terus menghadapi nasib pahit yang memilukan hati.
Didalam kamar yang ukurannya kecil itu, Tanisa tampak mengelus lembut perutnya yang tak pernah ia sangka ada bayi didalam nya kini. Tanisa mengelusnya sambil menangis, dalam tangisannya Tanisa mengajak bicara bayi yang masih belum berbentuk itu.
"Nak, Mama gak tahu bagaimana cara Mama menjalani hidup ini, mama gak kuat harus bagaimana dan cerita kepada siapa lagi, semua seolah menyulitkan hiks,hiks,hiks. Jika mama bisa memilih, mama ingin mati saja tidak mau merasakan semua hal berat ini. Tidak mau menerima hinaan buruk semua orang tentang mama yang sangat terhina ini. Mama hanyalah manusia yang tak berguna dan tak pernah dianggap baik. Maafkan mama, bahwa kamu terlahir dari wanita yang penuh hina dan tak berharga ini. Maaf kan mama yang kamu pun juga harus ikut merasakan penderitaan mama saat ini. Maafkan, tapi hanya kamulah saat ini kekuatan mama untuk tetap hidup hiks" Tanisa tampak menangis serta mencurahkan isi hati pada perutnya yang berisi janin yang masih sangat kecil itu.
Setelah itu...
Tanisa tampak tertidur, ia tidak sengaja tertidur sambil menangis. Di kehidupan masa muda nya yang kebanyakan orang-orang seusianya sedang menikmati hari-hari penuh dengan suka menikmati canda serta tawa. Tanisa tampak lain yang hanya bisa merasakan sakit hati yang berkepanjangan yang seolah tak pernah habis. Hidup dalam keserba salahan, seolah didunia ini tidak ada pilihan yang lebih baik untuk dirinya.
Sampai waktu malam tiba, keluarga besar Deon pun tampak makan malam bersama. Tanisa pun diajak Deon untuk makan malam bersama mereka di meja makan. Namun Tanisa tampak menolak, terlihat Deon yang menghampiri Tanisa dikamarnya.
"Makan yuk" ajak Deon.
"Gak makan duluan saja nanti aku sisanya saja, bisa menyusul. Aku bisa ambil makan sendiri di dapur" jawab Tanisa.
"Ayolah" ajak Deon lagi.
"Tidak usah, aku gak enak bila berada ditengah antara mereka. Aku tidak bisa mas" tolak Tanisa.
"Baiklah nanti akan aku menyuruh bibi untuk membawakan makan untukmu"
"Terimakasih mas"
Tanisa pun masuk lagi ke dalam kamar.
__ADS_1
Tanisa tampak canggung dan tak mau duduk diantara keluarga Deon yang menurut nya membuat hati Tanisa semakin terasa sakit.
Tanisa yang belum makan itu pun lantas dibawakan sepiring nasi oleh seorang pembantu bernama Ana. Belum sampai Ana membawakannya tiba-tiba dihadang oleh Jihan.
"Bawa apa kamu?" Tanya Jihan tampak judes.
"Makanan nyonya" jawab bi Ana.
"Untuk siapa?"
"Untuk nona Tanisa"
"Sini.." ucap Jihan, mengambil nasi itu dan menaruh kembali lauknya. Jadi yang disisakan hanya nasi dan diberikan sebotol kecap.
"Gak usah kasih ayam, ikan dan segala macam. Kasih saja dia nasi putih sama kecap" ucap Jihan ketus.
"Tapi nyonya nanti pak Deon marah" ucap bi Ana.
"Kamu mau membantah saya, bilang saja semua sudah dikasih" ucap Jihan lagi.
Lalu Bi Ana pun menemui Tanisa dikamarnya, Bi Ana memberikan hanya nasi dan kecap manis saja. Saat membawa makan terlihat Tanisa yang sedang melamun sambil bersandar di tembok.
"Permisi non" ucap Bi Ana membawa makanan.
"Iya bi" sahut Tanisa.
"Makan dulu" ucap Bi Ana.
"Terimakasih" jawab Tanisa tersenyum.
"Tapi maaf? Hanya saja"
"Kenapa bi?"
"Gak apa-apa bi, aku sudah banyak terimakasih dengan apa yang bibi bawakan untuk ku. Aku makan ya" ucap Tanisa meneriman nasi itu, dan memakannya dengan lahap.
Meskipun Bi Ana tahu jika Tanisa hadir menjadi orang ke tiga dirumah tangga majikannya itu. Tapi entah mengapa bi Ana merasa kasihan melihat Tanisa.
Lalu Tanisa pun makan dan menghabiskannya walau hanya dengan kecap manis saja sebagai lauk.
Waktu pun menunjukan pukul 09.00 malam. Hari sudah tampak mulai malam, Tanisa pun tampak berusaha memejamkan matanya untuk tidur.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar..
Tok.. tok.. tok...
Tanisa pun tampak mengecek siapa yang mengetuk pintu itu dan membukanya.
Ceklek..
Ia pun tampak kaget karena itu adalah Deon, calon suaminya.
"Mas, ada apa?" Tanya Tanisa.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah mas"
"Oh begitu"
__ADS_1
"Tanisa" panggil Deon lagi.
"Ya mas"
"Bisakah kamu melayani ku malam ini"
Teg..
Tanisa pun tampak tak mau dan menggelengkan kepalanya.
"Sebaiknya jangan, mas harus bisa menahan itu semua sampai kita benar-benar menjadi suami istri" jawab Tanisa.
"Kenapa, bukannya kita sudah sering melakukan hal ini" ujar Deon.
"Bukan begitu, disini ada anak mas Deon, istri mas juga ada apa kata mereka kalau kita melakukan hal ini. Walau aku tahu aku ini calon istri mas Deon dan sedang hamil anak mas Deon. Tapi kita sama saja seperti berjinah mas, sebagai orang tua mas harus bisa memberi contoh yang baik" tutur Tanisa.
"Kamu menasehati saya" bentak kesal Deon.
"Mas, aku hanya minta mas bisa pahami keadaan dulu. Dulu dan sekarang lain mas, kalau kemarin hanya kita berdua dan ini beda lagi lain cerita. Mohon bersabar sampai kita menikah secara sah"
"Kamu ya?" Deon kesal.
Namun Tanisa tampak tak peduli, Tanisa pun tampak menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Tanisa entah mengapa ingin mengatakan semua itu pada Deon.
Namun berbeda,tidak untuk Deon yang tak memahami semua, Deon hanya mengedepankan nafsunya saja tidak peduli dengan alasan Tanisa yang menolak hasratnya itu.
Namun.....
Saat jam 23.00 malam, tiba-tiba Tanisa ingin buang air kecil lalu Tanisa pun pergi ke kemar mandi untuk buang air kecil.
Tiba-tiba saja saat ia baru keluar kamar mandi terlihat Deon yang sudah menunggunya.
"Mas" Tanisa pun kaget melihat Deon yang sudah didepannya.
Deon tampak tersenyum memandang Tanisa dengan tatapan penuh gairah. Tanpa basa-basi Deon pun langsung mendorong Tanisa masuk kedalam kamar mandi.
"Mas, mau apa" ucap Tanisa panik.
"Ssstt.. jangan berisik, kamu harus memenuhi hasrat ku"
"Tapi mas?"
"Aku tidak mau ada penolakan sama sekali"
Lalu dengan cepat Deon pun menarik Tanisa dan menutup mulut Tanisa dengan kain, agar Tanisa tidak berteriak.
Lalu dengan cepat Deon menyuruh paksa Tanisa untuk melayani Deon.
Semua tampak dilakukan Deon, Tanisa tampak tak bisa berkutik saat tangan kekar Deon memegangi tubuh Tanisa agar Tanisa bisa melakukan itu semua.
Lalu Deon pun membuka bagian bawahnya, dan membenamkannya ke bagian dalam milik Tanisa. Tanisa tampak menolak dan tak mau. Namun Deon tak mempedulikan sama sekali. Tanisa tampak harus melayani hasrat Deon yang tampak menggebu itu.
Tanisa pun tampak melayani hasrat liar dari seorang Deon, yang permainannya seperti difilm-film biru yang bermain cinta dikamar mandi. Deon pun tampak menguasai tubuh Tanisa penuh dengan nafsu, memainkan dan memakai tubuh Tanisa dengan sangat liar. Ya sangat liar. Baginya Tanisa adalah pemuas hasrat terpendam Deon yang tak pernah ia dapatkan dari seorang wanita mana pun. Tanisa bak benda yang bisa ia putar, banting, dan mainkan sesuka hati.
Wanita muda yang seksi, cantik bak wanita Korea itu tampak tak bisa berkutik, Deon begitu keras mencengkram tubuh Tanisa bak seperti singa yang sedang mencengkram mangsa.
Batin Tanisa sakit, sakit yang begitu sangat mendalam.
Namun berbeda dengan Deon yang sangat bahagia saat ia mampu menumpahkan hasratnya itu.
__ADS_1
Setelah Deon menumpahkan semuanya, Deon pun tampak meninggalkan Tanisa.
Tanisa pun masih tampak menangis di dalam kamar mandi, perasan sangat pilu meksipun ia sudah dibeli Deon namun tidak untuk hatinya yang tetap merasakan sakit, saat Deon memakai Tanisa dengan paksa dan kasar.