Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Saat itu


__ADS_3

Setelah itu,


Sepulang dari kantor Deon terlihat Tanisa yang masih duduk terpaku didalam kamarnya dengan tatapan yang seperti kosong. Tanisa masih merenungi nasib dan cintanya. Walau Tanisa hidup bersama Deon, namun batinya tak rela dan cinta. Hanya Gavino yang selalu ada didalam hatinya.


Lalu tak lama saat malam itu, kebetulan dirumah tampak sepi dan tak ada siapa-siapa kecuali dirinya dan Tanisa.


Deon pun pulang tak bertanya sama sekali dengan hari Tanisa pada hari ini baik atau buruk. Ia hanya tampak menatap Tanisa dengan senyuman tipis yang menyeringai. Meski Tanisa akan ia jadikan istri, namun tetap Deon menjadikan Tanisa seperti tawanan yang tidak bisa pergi kemana mana darinnya. Yang hanya hidup untuk melayani nafsu Deon.


Lalu Deon menghampiri Tanisa dan melihat Tanisa yang sedang duduk termenung terpaku sendiri.


Tiba-tiba Deon datang.


"Mas" ucap Tanisa yang kaget melihat Deon tiba-tiba.


"Tau gak?" Ucap Tanisa lagi.


"Apa?"


"Tadi ada orang baik kasih aku susu hamil dan vitamin"


"Terus"


"Cuma aku kesal" kata Tanisa.


"Kenapa"


"Dea membuang semuanya ke tempat sampah"


"Terus?"


"Aku gak tahu mas, kenapa dia jahat banget sama aku. Salah aku apa ya"


"Tanisa"


"Ya mas?"


"Kamu jangan pernah menjelekan putri kesayangan ku didedepan ku"


"Bukan begitu tapi ini benar mas"


"Tanisa? Mana mungkin ada orang baik yang kamu bilang kamu hanya berhalusinasi"


Seketika Tanisa pun bukannya mendapat simpati dari Deon malah mendapat ucapan diluar dugaannya itu.


Bukan dapat rasa iba justru Deon malah tampak membela putrinya. Ya Tanisa tahu bahwa Deon sangat lah mencintai kedua anaknya penuh rasa kasih dan sayang. Mau seburuk apapun mereka Deon pasti membela mereka dengan segenap jiwa dan raganya. Sekalipun jika harus melawan Tanisa.


Seusai itu, masih dalam keadaan sepi dirumah itu.


Saat malam itu seperti apa yang sudah Deon lakukan sudah-sudah. Bahwa Deon ingin mememkai tubuh Tanisa.


Diam-diam Deon masuk kedalam kamar Tanisa tampak tertidur itu didalam. Ya meskipun Tanisa tampak mengunci kamar nya dari dalam tapi Deon memiliki kunci duplikatnya. Jadi mudah saja bagi Deon masuk kedalam kamar Tanisa yang sempit dan panas itu.


Deon menatap tubuh Tanisa yang mulus itu. Membelainya dari bawah hingga ke pangkal paha. Sungguh Deon sudah tak tahan lagi meniduri wanita itu. Deon pun tampak mencoba mengelus tubuh Tanisa lagi yang tampak mulus itu. Sementara Tanisa masih tampak tertidur, tanpa basa-basi Deon tampak mendekati Tanisa dan mendekatkan wajah Deon itu didepan wajah Tanisa.

__ADS_1


"Mas?" Ucap Tanisa kaget ada Deon yang tahu-tahu didepannya. "Kamu kenapa kesini" Tanisa tampak gugup.


"Apalagi kalau bukan bercinta"


"A-aku tidak mau mas" ucap Tanisa menolak.


"Berani kamu menolak" bentak Deon dengan sorot mata yang tajam.


"Tapi mas"


Lalu dengan cepat Deon pun menarik paksa tubuh Tanisa, baju Tanisa tampak ditarik dan dirobek dengan kasar.


"Mas aku tidak mau"tolak Tanisa.


"Kamu adalah milik ku selamanya. Tutup mulut mu" ucap Deon mencengkram wajah Tanisa kasar.


Lalu Deon pun menarik tubuh Tanisa dengan sangat kuat dan mencengkram nya. Ya, memang dulu hampir tiap hari Tanisa harus melayani nafsu pria itu, Tanisa tampak menolak karena ia malu pada seluruh anggota keluarga Deon.


Namun Deon tampak tetap memaksa Tanisa, Tanisa yang mencoba berusah melepaskan diri itu pun lalu dipukul wajahnya hingga beberapa kali oleh Deon,


Lalu tampak Tanisa yang tampak takut pada Deon itu.


"Jangan pernah menolak jika kamu tidak ingin seperti ini. Atau kamu akan tahu akibatnya dan lebih parah dari ini"


Tanisa pun tampak menangis dan ketakutan


Ya, kata-kata itulah yang selalu diutarakan oleh Deon bila Tanisa menolak keinginan hasrta dari pria yang bermana Deon.


Setelah permainan selesai, Deon pun meninggalkan Tanisa di kamar begitu saja. Pikirnya Deon sudah tak butuh lagi dengan wanita yang sudah menuntaskan nafsunya it.


Seketika Leon yang pulang dari berkumpul dengan teman temannya pulang kerumah. Lalu entah mengapa ada perasaan ingin bertemu dengan Tanisa dikamarnya. Leon pun tampak melihat dari pintu yang tak sengaja sedikit terbuka terlihat Tanisa yang tampak sedang menangis dengan baju yang tampak sobek dan tak beraturan. Wajah Tanisa pun tampak biru Leon tahu jika ada luka baru diwajah Tanisa. Seketika Leon pun masuk dan menghampiri Tanisa, takut jika ada sesuatu yang terjadi pada diri Tanisa.


"Kamu kenapa, siapa yang sudah membuat mu sampai seperti ini" ucap Leon pada Tanisa.


Lalu leon pun masuk dan memberi jaket pada badan Tanisa.


"Siapa yang sudah membuat mu seperti ini" tanya Leon sekali lagi .


"Aku tidak apa-apa" ucap Tanisa berusaha baik-baik saja.


"Katakan yang sejujurnya" ucap Leon.


"Untuk apa kamu tahu?" Ucap Tanisa dengan mata yang sembab.


"Katakan saja siapa orangnya?"


"Ayahmu, ayahmu yang melakukannya" jawab Tanisa.


Seketika Leon terdiam dan termenung, Tanisa yang datang atas kata dan dasar cinta itu sebagai orang ketiga. Kenapa bisa dalam keadaan seperti itu, ini pasti ada yang salah pada diri Tanisa. Membuat Leon yakin bahwa Tanisa memang tidak mencintai ayahnya.


"Sekarang aku yakin kalau kamu tidak mencintai Ayahku, pergilah kamu dari hidup ayah ku jika kamu tidak mencintainya. Jangan siksa dirimu dengan cara seperti ini. Kamu tak berhak hidup seperti ini" kata Leon.


"Tak bisa aku tak bisa pergi "

__ADS_1


"Kenapa kamu berhak bahagia Tanisa!!!"


"Aku adalah orang yang sudah dibeli oleh Ayahmu untuk hidup dan matiku" kata Tanisa menjatuhkan air matanya.


"Aku tidak mengerti apa maksud mu"


"Kamu tak perlu mengerti"


Seketika Leon pun tampak terdiam sejenak dan memandang Tanisa sekali lagi.


"Aku ingin tanya apakah ada pria lain yang kamu cintai" tanya Leon.


Tanisa terdiam..


"Kalau iya siapa Tanisa?"


Tanisa masih terdiam


"Katakan!!?" Bentak Leon.


Tanisa yang masih terdiam itu lalu seketika menjawab.


"Ada? Dan yang pasti dia bukanlah ayahmu. Dia ada namun dia tampak jauh, dia ada namun semua terasa sulit untuk ku miliki" ucap Tanisa dengan sorot mata yang penuh kesedihan.


"Lalu dia siapa?" Tanya Leon.


"Dia adalah Gavino" ucap Tanisa tampak jujur.


Seketika Leon pun tampak tercengang mendengar nama Gavino.


"Hanya saja?"lanjut Tanisa.


"Kenapa?"


"Aku tidak tahu apakah dia mencintai ku juga atau tidak. Karena Gavino meninggalkan ku karena sesuatu yang paling sulit dalam hidupku yang tak bisa aku gapai semudah itu"


"Apa itu?"


"Dia hanya menginginkan wanita yang masih gadis, wanita terpandang, dan dari kalangan sejajar dengan dirinya. Tidak seperti aku. Yang tak memiliki apa-apa dan tak punya harga diri ini. Itu sebab nya aku tak pernah lagi mengejar cinta lagi, meski dalam hati aku masih sangat mencintainya"


Leon pun sejenak terdiam, dan memandang Tanisa dengan lekat. Leon pun memberikan sebuah handuk basah, yang ia rendam dengan air dingin dan mengompres pada luka yang berada diwajah Tanisa.


"Lalu kenapa kamu dipukul seperti ini" kata Leon


"Karena aku menolak, menolak untuk melayani mas Deon"


"Dia tega melakukan itu semua"


"Iya"


Seketika Deon pun tampak terdiam dan memandang Tanisa


Leon yakin bahwa Tanisa memang wanita baik-baik sebenernya, hanya keadaan lah yang salah yang membawa diri Tanisa ke dalam kehidupan yang tak seharusnya.

__ADS_1


__ADS_2