
Lalu dengan perasaan kesal yang berkecamuk Rian pulang, Rian tidak menyangka hanya karena dia mencintai wanita dia harus mempertaruhkan persahabatan.
Ya Rian tidak peduli pada sahabat nya yang sangat kurang ajar pada istrinya. Jika membunuh tidak dipenjara sudah dari kemarin mungkin Rian sudah membunuh Gery, tidak peduli sekalipun dia adalah sahabat sejak SMA.
Jika Gery menyukai wanita siapapun itu Rian rela dan ikhlas. Tapi hal yang paling berat kenapa ia harus mencintai Lusi yang jelas itu adalah istri Rian.
Ya Rian kali ini pulang ke rumah dengan naik taksi karena ia tak punya uang sebanyak dulu.
Jadi Rian kali ini harus terbiasa dengan kehidupan yang jauh dari mewah itu.
Rian pun sampai....
Tampak Lusi yang masih mengepack barang untuk pindahan dan melihat suaminya yang baru datang dengan memasang wajah kesal, Lusi pun tampak penasaran dengan apa yang membuat suaminya seperti itu.
"Kamu sudah pulang sayang" tanya Lusi tampak memandang suaminya sambil sibuk memasukan semua barang kedalam dus.
"Seperti sedang kesal"tanya Lusi lagi keheranan.
"Bagaimana aku tidak kesal, aku tuh benci sama Gery tahu gak? Emang dia pikir cinta kamu bisa dibeli dan ditukar dengan uang. Dasar orang gila!!!!" Ucap Rian kesal.
"Kamu habis dari rumah Gery ya. Aku sudah menduga dia akan meminta suatu hal yang tak wajar dari mu atau dariku" ucap Lusi lalu mengelus pundak suaminya.
"Sudah gak usah kamu pikirin aku yakin kita akan bisa menjalani hidup ini bersama. Aku bisa menjalani semuanya. Yang penting kita harus kuat, tabah dan ikhlas jangan marah dan mengeluh. Tetap semangat" ucap Rian.
"Tapi seandainya Gery tiba-tiba datang menyogok mu dengan uang jutaan rupiah, kamu gak tertarik kan Lusi. Kamu gak akan memilih dia kan" ucap Rian memandang Lusi tajam.
__ADS_1
"Mau jutaan rupiah berapapun itu, aku tidak akan mau. Sekalipun nyawa dia yang, dia berikan kepadaku tetap aku tidak mau. Karena kamu adalah suami ku yang ku cintai dalam hati ku" jelas Lusi.
Rian pun tampak tersenyum.
"Nah gitu dong senyum kan kamu jadi manis seperti cerme" ucap Lusi yang gombal ala kadarnya.
"Cerme apa itu?"
"Buah yang asem tapi suka ada manis-manisnya juga, seperti kamu asem sih tapi manis juga"
"Kamu juga manis, apalagi itu paling manis"
Lalu Rian pun menarik pinggang Lusi dan membenamkan bibirnya pada bibir Lusi.
"Bibir kamu terasa manis, seperti permen" ucap Rian yang kembali mencium bibir Lusi tak peduli padahal saat itu sedang di ruang tamu.
"Benar-benar kalian ini, gak ada angin gak ada hujan sosor terus gak lihat dimana?" Gerutu Renata kesal.
Mereka pun menarik bibir mereka masing-masing saat mendengar keluhan dari mama mertunya. Merasa malu dan tidak enak hati dengan apa yang mereka lakukan barusan.
"Maaf ma"
"Orang mah dimana mana sedih abis bangkrut gak mikirin ciuman ini malah asik-asikan ciuman!!!!! malah seperti habis dapat duit banyak. Kita habis dapat musibah loh, tolong jangan seperti itu. Bersikaplah seperti orang yang dapat musibah menangis atau meronta ronta biar sepreti disinetron. Kita miskin loh jangan main-main dengan kata itu" ucap mama kesal.
"Ya ma maaf" ucap Rian.
__ADS_1
"Lagi juga mama jangan terlalu menjiwai kenapa sih ma jadi orang miskin nya baru miskin 12 jam sudah seperti miskin 20 tahun. Mama gak pernah sih rasain hidup dari bawah sekali-kali hidup jangan jadi antagonis mulu ma" ucap Rian.
"Mama bukannya antagonis cuma kurang ramah, kurang sopan, gampang marah dan tidak sukaan sama apa-apa yang tidak sesuai rencana. Kalau diibaratkan mama ini perefectionis dan tak boleh kekurangan sesuatu apapun" ucap mama seperti kereta.
"Hemm.. mama?? Sabar ma doakan Rian semoga Rian dapat rejeki. Lagi pula, Rian ini sudah lama tidak bermesraan sama istri ma, Rian kangen..dulu mama sama papa sering kan mersra berdua sama papa. Bahkan dulu mama selalu bersikap romantis"
"Iya sih tapi kan kalau mama sedang meminta sesuatu baru romantis"
"Pantes romantis terus, soalnya mama banyak maunya" celetuk Rian. "Tapi ma, temen mama apa gak ada yang bisa mama mintai tolong buat minjem uang" kata Rian lagi
"Jaman sekarang mana ada sih, baik kalau mama tajir melintir aja, kalau mama kaya raya pada ikutin mama kemana pun pergi sampai cuma beli seblak juga mereka ikut. Sekarang yang ada apa, pura-pura gak kenal gak level dan tidak sepadan. Keras persahabatan mama sama ibu ibu sosialita itu. Lagi pula mama gengsi lah minjem duit sama mereka, gak dikasih di omongin iya" ucap mama.
"Ya bukannya memang begitu dari dulu. Gak ada yang asik teman mama"
"Hah,, tapi kan mama dulu ketua genknya jadi mereka asik-asik aja"
Lalu Rian pun hanya tampak memberi sabar untuk mamanya.
"Tapi mama jangan kaget ya rumah yang akan kita tempati nanti, itu ...."
"Awas aja kamu kerjain mama. Mama tinggal ditempat yang aneh-aneh"
"Ma. Aneh apa lihat aja belum. Ma, Lusi aja bisa terima hidup apaadanya masa mama gak bisa sih seperti Lusi. Kalau mama tidak bisa terima, berati mama gak bisa terima Rian apadanya dong sebagai anak mama"
"Yaudah terserah kamu lah" ketus mama.
__ADS_1
Rian pun tampak tersenyum tipis.