
Setelah Gery terlihat menyimpan sesuatu didalam hatinya yaitu perasaan cinta Gery kepada Lusi.
Dada Gery berdebar apalagi kalau bukan karena Lusi yang penguasa hati nya.
Lalu ....
Gery keluar sebentar dari kamar inap Lusi, untuk menghubungi assitennya mengurus Rian segera dibawa ke Jakarta dengan naik jet ambulance. Jet ambulance ada jasa untuk membawa pasien sakit dengan naik pesawat.
Gery sengaja diam-diam mengurus kepulangan Rian agar Lusi bisa pulang bersama dirinya. Gery sengaja melakukan itu agar Gery dapat merasakan kebersamaan dirinya dengan Lusi lebih lama di kota Bandar Lampung.
Karena bagi Gery Lusi adalah segalanya moment bersama Lusi adalah moment langka dan ia dambakan. Jika uang bisa di cari dan ia dapatkan.
Namun..
Tidak untuk cintanya. Cinta yang sangat sulit ia dapatkan karena Lusi nyatanya bukan wanita yang haus akan harta, sehingga mau berapapun uang dan harta yang Gery tawarkan takkan bisa menggantikan kesetiaan Lusi pada suaminya itu.
Lusi pun bukan tipe yang mudah dicintai, sekalipun seribu cinta yang mampu Gery berikan pada Lusi. Nyatanya Lusi bukan tipe orang yang mudah juga termakan rayuan dan cinta dari pria lain. Karena, bagi Lusi cinta itu satu, tidak terbagi dan tak bisa di duakan. Bagi Lusi suaminya adalah segalanya, untuk apa punya banyak cinta jika nyatanya cinta itu hanya membuat Lusi lupa diri dan melupakan pernikahan.
Dan dirasa semua sudah menjadi takdir, semua pun tak bisa mengubah karena Lusi sudah diperistri oleh suaminya. Dan mencintai Rian apadanya.
Lalu Gery pun kembali ke kamar tidur yang Lusi tempati itu, ini merupakan momen berharga bagi Gery, yaitu dalam keadaan berdua saja.
Gery pun memandang wanita yang ia cintai itu dengan hatinya.
Mau seperti apapun Lusi keadaannya, mau wajahnya dalam keadaan cantik atau jelek sekalipun, baik karena luka atau jelek sejak lahir, bagi Gery itu tak masalah.
Karena wanita seperti Lusi, untuk Gery mungkin seribu satu didunia kalau pun ada lebih dari satu Gery tetap akan memilih Lusi, dan Gery tak pernah menyalahkan dirinya karena mencintai wanita yang berstatus masih menjadi istri orang. Karena Gery tahu cinta itu datang sendiri dan tidak bisa dipaksa kepada siapa akan mencinta sekali pun itu pada Lusi.
Kali ini Lusi terlihat lebih baik setelah tadi ia menangis meluapkan semua emosi jiwa dan raganya.
Andai saja Lusi sedang tidak terluka saat ini, sudah pasti Gery akan mengajak Lusi jalan-jalan keliling kota Lampung yang indah karena banyak pantai, terlebih lagi jika Lusi mau pakai bikini di pantai, itu lebih indah dari apapun. Lagi-lagi ah lagi-lagi otak Gery berselancar memikirkan Lusi yang tidak-tidak.
Kini bergantian menuju perasaan Lusi yang bertolak belakang, Lusi geram karena harus ada Gery.
Lusi pun menghela napas kasarnya saat melihat Gery masuk kedalam lagi yaitu kamarnya, Lusi bukan tidak tahu terimakasih. Hanya saja kenapa harus Gery yang menolong dirinya kenapa bukan orang lain atau siapa pun itu
yang sekiranya lebih baik.
Dengan wajah juteknya Lusi tampak membuang wajah dari arah Gery.
Gery pun merasa... kalau Lusi jutek pada dirinya.
"Ini caramu berterimakasih pada ku!!!" kata Gery melihat kearah Lusi yang tampak membuang wajah.
Lalu Lusi pun berbalik arah memandang Gery saat itu.
"Lalu aku harus bagaimana, harus memandang mu setiap saat" kata Lusi.
"Lakukan saja jika itu membuat mu bahagia"
"Mengarang!!" Sahut Lusi.
Lalu Gery pun melihat Lusi yang merasa tak nyaman dengan posisi duduknya.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Gery ketus.
"Perut ku sakit, seperti nya" kata Lusi sambil memegang perutnya.
"Ingin buang air besar!!!" sahut Gery asal ceplos.
"Mmm bukan tapi sepertinya iya. Tapi? Ada tongkat gak, kaki aku masih sakit buat jalan ke toilet"
"Gak usah ke toilet segala, buang air besar aja di kasur tar aku yang bersihin, kalau perlu aku yang sekalian cebokin kamu" kata Gery menertawakan Lusi.
"Oh ya??? sejak kapan kamu jadi baby sitter bayi besar seperti aku. Cepet cariin tongkat untuk aku!!!"perintah Lusi.
"Aku gendong aja kenapa sih, repot!!! Kalau aku cariin tongkat yang ada kamu keburu gak tahan"
"Nih papah tangan kamu dibadan aku" ucap Gery menyodorkan kedua bahunya di badan Lusi.
Lusi bukannya bilang iya malah diam seribu bahasa.
"Cepetan!!!" Ucap Gery kesal.
"Eh kamu haram buat aku pegang, haram ah!! gak mau" kata Lusi.
"Haram, haram, emang kamu kira aku apa? Babi??? Udah buruan jangan pakai lama, ntar keburu lahiran disini" ucap Gery ketus padahal hatinya tertawa bahagia.
Lalu Lusi pun mengiyakan bantuan Gery pada diri Lusi. Lusi yang enggan meminta bantuan itu pun, mau tidak mau menerima bantuan darinya, karena tidak ada pilihan lain.
Lusi akhirnya memegang bahu milik pria yang dihadpannya itu sambil berjalan perlahan menuju ke kamar mandi.
"Maksudnya?" Tanya Gery.
"Jangan ngintip!!!"
"Eh nenek lampir, mana mungkin aku intipin orang yang buang air besar, kurang kerjaan!!"
"Siapa tahu cari kesempatan dalam kesempatan"
"Nah kalau yang ini benar"
Lusi pun langsung melotot dengan kedua mata yang terlihat kesal itu.
"Canda, canda.." kata Gery.
Gery tampak memapah Lusi menuju kamar mandi, dan benar saja Gery melihat kedua buah dibagian dada milik Lusi yang ada didahapannya kini, dan tanpa terasa punya nya sudah tampak berdiri menunjukan kejantanan sebagai pemilik pusaka. Padahal dua buah itu terbungkus rapi dengan baju. Kenapa bisa secepat itu otak Gery mentransfer ke bagian bawah.
Argh.... Otak mesum ku berkeliaran kalau liat wanita sombong ini. Oke tahan demi princes sombong ini buang air dengan tenang.. Batin Gery.
Lalu Lusi pun masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya, dan menyelasaikan apa yang memang harus diselesaikan.
"Hati-hati ya licin" kata Gery.
"Hemmmmm" jawab Lusi singkat.
"Nanti kalau sudah, bilang ya, aku akan bantu kamu untuk keluar" kata Gery.
__ADS_1
Lalu setelah selesai, Lusi pun keluar dari kamar mandi dan langsung berdiri di ambang pintu sambil berpegangan pada tembok.
Bukannya memapah, Gery malah langsung menggendong Lusi dengan cepat dan membawanya kekasur.
Lusi pun memukul Gery.
"Turunin aku gak" pinta Lusi sambil memukul. Pukulan Lusi pun sama sekali tak ada artinya bagi Gery.
"Hah? Kelamaan jadi aku menggendong mu saja" kata Gery.
"Keterlaluan" Lusi kesal.
"Lusi?"
"Ya??"
"Kita akan pulang hari ini ke Jakarta"
"Tapi aku tidak mau, aku harus menemui Rian" kata Lusi.
"Rian sudah kembali lebih dulu, sore ini dia sampai ke Jakarta"
"Apa??" Lusi kaget.
"Aku diam-diam menyuruh seseorang untuk membawa dia pulang ke Jakarta"
"Berani nya kamu tanpa memberitahu ku"
"Iya kenapa!!!? Rian pulang dengan uangku, bukan dengan uang mu dan Rian karyawan ku, dan aku berhak melakukan yang terbaik untuknya"
"Bukan soal itu?" Kata Lusi tak terima.
"Lalu?"
"Ada hal yang kamu tidak mengerti"
"Aku mengerti, kamu keberatan kan pulang dengan ku"
"Lalu kalau iya kenapa?"
"Lalu kalau iya, dan ternyata tidak ada pilihan lain bagaimana?" ucap Gery menantang Lusi.
"Kamu mau bertemu dengan ku atau dengan Rian katakan!!!" Ucap Lusi dengan mata memicing.
"Dua-duanya!!!, Aku ingin bertemu dengan mu dan juga menolong Rian suami mu!!! Asal kamu tahu, aku tidak mau kamu di sentuh oleh siapapun apalagi kalau kamu sampa kenapa-kenapa" kata Gery menegaskan.
Lusi pun terdiam menatap Gery kesal.
"Sekarang kamu lihat kan kalau tidak ada aku, kamu sudah jadi apa??? mungkin sudah habis ditangannya! Dan pulang hanya tinggal nama" jelas Gery pada Lusi.
Lusi pun hanya bisa terdiam dirinya merasa sesak didada.
Di saat hidupnya selalu di hadapkan dalam pilihan sulit. Disaat dirinya menjadi lemah dan tak berdaya. Disaat itulah Lusi merasakan sedih dalam hatinya.
__ADS_1