
Pada malam hari yang terasa sunyi, Lusi dibawa masuk ke dalam mobil yang cukup mewah saat itu. Lusi tidak tahu entah dibawa kemana dia akan pergi. Ada benak dan rasa takut apalagi melihat pria dengan tubuh yang besar dan tegap duduk diseblah dan didepan. Sesekali Lusi pun memegang tangan Renata untuk meluapkan rasa takut yang begitu mendalam pada dirinya. Fabio tampak Lusi gendong, berutung Fabio masih dalam pangkuan. Dan saat itu Fabio masih tertidur, Lusi pun tampak bergetar takut karena Lusi tak tahu kemana dirinya akan dibawa pergi.
Lusi pun tampak menengok kiri dan kanan melihat jalan saat itu.
Sampai mobil itu berhenti disebuah hunian mewah yang rumah itu memang Lusi tak kenali baru kali itu Lusi datang ketempat tersebut.
Rumah itu bergaya klasik dan memeliki parkiran yang luas dan pagar yang cukup tinggi.
Lusi pun ditarik dan dibawa masuk kedalam rumah itu dengan paksa.
"Ini rumah siapa?" Ucap Lusi ketakutan tak terima dirinya diperintahkan untuk masuk.
"Menghadaplah pada boss kami, bahwa anda tidak bisa membayar hutang kalian"
"Bagaimana bisa bayar kalau saya sendiri tidak tahu hutangnya berapa?"
"Nanti anda bisa jelaskan langsung ke Boss kami" ucap pria berbadan besar.
Lusi pun dibawa masuk kedalam ruangan yang cukup besar namun agak gelap bersama Renata disana, tak hentinya Fabio di peluk erat oleh Lusi. Lusi tidak mau melepaskan putranya.
Seketika seseorang datang menyalakan lampu yang tadinya ruangan itu terasa gelap, dia adalah pria muda yang ternyata cukup gagah dan tampan. Namun dengan wajah yang cukup dingin dia datang.
"Mana Rian???" Tanya pria tersebut.
"Tidak ada" jawab orang suruhan mereka.
"Saya memerintahkan Rian untuk datang kesini bukan mereka bodoh" ucapnya kesal.
__ADS_1
"Tapi Rian memang tidak ada, dan ini adalah keluarganya. Berita yang kami ketahui Rian sudah meninggal"
"Oh rupanya dia meninggal tanpa melunasi hutangnya dulu, dasar keparat!!!" Ucap pria itu.
"Lalu mereka siapa?"
"Katakan nenek tua, nama anda siapa dan wanita itu siapa?" Ucap seorang suruhannya itu.
"Hey aku belum tua!!!" Ucap Renata kesal.
"Kalau gitu cepat katakan" titah Pria suruhan.
"Saya adalah mama Rian dan ibu adalah istrinya"
Lalu dengan perlahan dan pasti, pria itu mendekati Renata dan Lusi dengan sorot mata yang tajam.
"Berapa?" Tanya Lusi tampak takut dan tak tahu totalnya.
"24 milyar dia berjanji akan melunasi hutangnya segera, namun sampai sekarang dia belum melunasi. Dan itu belum termasuk bunganya" kata pria itu.
Lusi pun kaget dengan jumlah uang yang dikatakan pria itu. Lusi sangat kaget pasalnya uang itu tidaklah sedikit. Sebenernya uang segitu tidak lah besar bagi Renata, namun karena Renata sudah bangkrut uang segitu cukup lumayan.
"Bagaimana? Bisa kalian melunasinya sekarang, kalau tidak?"
"Kalau tidak kamu akan apa?" Tanya Renata ketus.
"Jangan harap hidup kalian bisa bahagia, dan tak akan bisa kalian bisa hidup sebelum kalian benar-benar bisa melunasinya" ancam Pria itu.
__ADS_1
"Pisahkan balita itu dari ibunya" perintah pria itu.
Lalu dengan cepat Fabio pun tampak diambil paksa oleh orang suruhannya.
"Lepaskan dia putraku, jangan sentuh dia" kata Lusi takut bila Fabio kenapa-kenapa.
"Aku takan melepaskan, sebelum kalian melunasi"
"Baiklah kami akan lunasi, beri kami waktu"
"Beberapa lama?"
"Satu tahun" kata Lusi.
"Gila, tidak bisa, tidak setuju" ucapnya galak.
Satu tahun itu sudah sangat waktu yang singkat, sebulan itu artinya dua milyar harus dibayar. Namun dengan mudah nya pria itu mengatakan tidak bisa dan setuju.
"Jadi kamu berapa lama?" Ucap Lusi kesal.
"Dua minggu, dua minggu kalian harus melunasinya"
"Sungguh tega anda pada saya dan keluarga saya, mana mungkin itu waktu nya sangat cepat" kata Renata.
"Tidak setuju itu artinya siap-siap terima resiko yang ada. Saya adalah orang kejam perihal hutang, saya tidak bisa di ulur waktu. Itu terserah kalian jika memang hidup kalian sudah siap menderita menerima penyiksaan. Bahkan termasuk putra anda juga" ancam pria tersebut.
"Baiklah saya akan mengusahakannya tapi mohon berikan putra ku, padaku!!!" pinta Lusi seraya memohon, saat pria yang terlihat menarik paksa putra Lusi dari tangannya.
__ADS_1
Lusi tanpa sadar menangis dan mejatuthkan air matanya. Lalu mengatakan, "baiklah dua Minggu lagi, dua Minggu lagi. Aku akan segera lunasi" ucap Lusi yang tidak ada pilihan lain.