Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Sikapnya berubah


__ADS_3

Sakit tak berdarah, hal itulah yang dirasakan Lusi saat ini. Perlakuan Demian memang ternyata tidak semanis itu, tetap pahit dan kurang ajar. Ingin membunuh pun rasanya tidak mampu, bunuh diri pun tidak mungkin.


Akhirnya setalah pergulatan yang terakhir dilakukan membuat Lusi akhirnya dilepaskan dari pria yang bernama Demian.


Hari ini Lusi merasakan lemah pasa tubuhnya, gila ya mungkin dirinya nyaris gila. Tapi Lusi berharap dirinya tidak gila dulu, karena sebenarnya Lusi sangatlah merindukan putra nya dirumah. Lusi meminta ikatan itu dilepaskan Demian pun melepaskan dan pada akhirnya Lusi pun tertatih berjalan menuju tempat tidur. Lusi duduk termenung sejenak terdiam dan seolah membeku hatinya kali ini. Dia pun mengambil kembali pakaian yang ada dan kembali mandi memebersih tubuhnya yang dirasa kotor itu. Lusi pun sedikit terdiam dan terlihat putus asa pada kehidupannya sendiri.


Selesai mandi Lusi pun kembali ke tempat tidurnya, Lusi tampak mengenakan dress berwarna ungu, ia mengambil asal yang ada dilemari dan tidak penting soal warna yang ada saat itu.


Lusi terdiam termenung dan tidak tahu harus bagaimana? Lusi seperti manusia yang tidak ada dan upaya pikirannya melayang-layang dengan apa yang baru saja ia alami. Shock berat itu sudah pasti, marah besar itu pun juga sudah pasti, namun Lusi juga merasakan kekalahan yang teramat dalam hidup ini. Yang nantinya Lusi cuma bisa pasrah mengikuti kemana arah angin, dan kemana arah takdir dalam hidupnya. Lusi pun memanjatkan doa yang paling dalam hatinya agar dirinya bisa lepas dan bahagia.


Soal Demian? Lusi sudah tidak mau memandang Demian lagi. Lusi tidak ingin bicara apapun lagi dengan pria itu. Lusi kira Demian masih punya hati memperlakukan dirinya dengan baik nyatanya sama sekali tidak. Demian bukan pria yang baik untuk Lusi.. nyatanya dia sama saja dengan pria bejat lainnya.


Demian pun merasakan tatapan Lusi mulai berubah pada dirinya Lusi lebih banyak membuang wajahnya namun dengan tatapan kosong. Lusi tidak mau anggap Demian lagi dalam hidup Lusi. Sudah tidak ada rasa sedikit pun sebagai teman apalagi kekasih. Lusi sudah tak Sudi lagi tahu dan tidak mau tahu tentang Demian.


Demian membawakan sepiring nasi dan lauk pauk diatas meja untuk Lusi.


"Lusi makanlah aku membawa kan ini untuk mu" ucap Demian.


Lusi tidak menjawab iya dirinya hanya membuang wajahnya saja.


"Lusi apa kamu dengar?" tanya Demian.


"Iya" jawab Lusi singkat.


Demian pun tampak berdiri.


"Aku tidak akan pergi sebelum kamu memakannya" kata Demian.


"Iya" kata Lusi sekali lagi.


"Makanlah aku tahu kamu belum makan kan" ucap Demian menebak.


"Iya"


Hanya iya iya saja lusi menjawab setiap pertanyaan yang diutarakan oleh Demian.


"Aku minta kamu makan, cepat" kata Demian menaruh piring berisi nasi dan lauk Pauk itu dipangkuan Lusi agar Lusi mau makan.


Lusi pun mengambil sendok dan hanya memakai sesuap saja. Lalu ia taruh lagi diatas nakas.


"Kenapa sedikit?" Tanya Demian.


Lusi pun menggelengkan kepalanya.


"Sudah cukup" jawab Lusi.


"Tapi kamu baru makan sesuap" kata Demian menatap Lusi.


"Aku sudah katakan itu sudah cukup"

__ADS_1


"Kamu harus makan!!!" Titah Demian.


Tiba-tiba Lusi terlihat emosi dengan apa yang disampaikan oleh Demian.


"Kamu tidak mengerti ,apa yang baru saja aku katakan, AKU KATAKAN SUDAH CUKUP!!!" Teriak Lusi yang melempar piring itu lalu menangis.


Praaannkkk..


Hiks hiks hiks... huhuhu


Demian pun terdiam saat baru pertama kalinya ia melihat Lusi membanting sebuah piring didepan matanya.


Lusi terlihat sedang tidak baik-baik saja. Batinnya tersiksa perih. Lusi pun terlihat menangis.


"Kau apakan dia? Kemarin aku lihat dia baik-baik saja" kata Edy tiba-tiba datang.


"Cepat rapihkan bekas piring yang pecah" perintah Demian.


Lusi pun sama sekali tidak bergeming dari tempat tidurnya. Ia duduk dengan tatapan kosong dan tidak berbuat apa-apa. Ia terlihat melamun dan sesekali hanya menangis.


Hingg air putih dimeja pun Lusi tidak menyentuhnya. Lusi merasa tersiksa dan menyiksa dirinya dengan cara yang tak seharusnya.


Demian pun memperhatikan Lusi dari kejauhan apa yang dilakukan oleh nya tak menyangka akan membuat Lusi sehancur itu.


Sampai pada malam harinya, Lusi pun tanpa terasa pingsan dan memejamkan matanya. Kebetulan Edy yang saat itu sedang mengecek. Dan dengan sigap Edy pun berusaha menyadarkan Lusi yang tengah pingsan itu.


"Lusi apa kamu baik-baik saja, Lusi jawab aku" kata Edy.


Terlihat lemas Lusi pun membuka matanya dengan perlahan.


"Kamu kenapa?"


"Kepalaku sakit, perut ku juga"


"Apakah kamu sudah makan"


"Aku tidak ingin"


"Kamu harus makan paksa ya, kamu harus paksa untuk mu dan anak mu. Hayoo"


Lalu Edy pun mengambil makanan untuk Lusi.


Edy pun membantu Lusi untuk makan.


"Aku suapin ya"


"Tidak usah"


"Tidak apa-apa tangan mu gemetar aku tahu kamu terlalu lama menahan lapar"

__ADS_1


Lalu Edy pun perlahan lahan memberikan suapan nasi dan lauk kepada Lusi.


"Pelan-pelan makannya ya, kalau kamu sulit untuk menelannya kamu dorong pakai air ini airnya" ucap Edy perhatian. Dan memberikan segelas air pada Lusi.


Edy memang tampak kasihan melihat wajah Lusi yang pucat terlebih lagi Lusi yang ternyata pingsan tanpa ada yang tahu. Edy pun merasa iba dengan apa yang Lusi alami terlebih lagi ia sedang mengandung.


Lusi pun mengangguk mau makan beberapa suap dari tangan Edy. Namun belum selsai makan tiba-tiba Demina melihat Lusi yang sedang disuapi oleh Edy lantas kesal dan cemburu dengan apa yang Edy lakukan pada Lusi.


Lalu dengan cepat Demian menarik baju Edy dan lansung memberikan baku hantam.


Buuugghhh.


Edy pun kaget dengan kedatangan Demian yang marah.


"Seperti ini kelakuan kamu!!!!" Ungkap Demian kesal. "Rupanya kamu diam diam begini dibelakang ku. Kamu tahu dia adalah wanita yang kucintai"


"Aku hanya kasihan padanya dia pingsan" ungkap Edy.


"Berikan padaku, biar aku yang suapi" kata Demian.


Bukan menerima Lusi malah membuang wajahnya. Dan tidak mau menerima suapan dari Edy.


"Ini cara mu memperlakukan ku" ucap Demian kesal.


"Aku tidak mau melihat mu, jadi seharusnya kamu paham" ungkap Lusi yang membuang wajahnya.


"Lusi aku mencintai mu" tegas Demian.


"Aku tidak mau dicintai, oleh siapapun" kata Lusi ketus.


"Aku hanya baik padamu" kata Demian.


"Aku sudah tidak mau menerima kebaikan mu demi kebaikan ku"


Demian pun meremas kepalanya, kesal.


"Baiklah" kata Demian. "Habiskan semua makanan itu beserta sendok dan piringnya!!!" Demian kesal.


"Nona apakah masih ingin makan?" Tanya Edy.


"Cukup terimakasih"


Lusi pun akhirnya berhenti makan, dan lebih memilih untuk kembali memejamkan mata. Namun matanya masih belum bisa terpejam karena nyatanya perasaannya saat ini seperti orang sakit namun tanpa obat.


Bibir Lusi tampak mengering pucat dan lemah. Lusi merasa dirinya tak berharga dan tak berguna.


Sementara itu...


Demian merasa kesal pada Lusi yang sifatnya justru sangat dingin padanya. Dan membuat Demian tidak mampu memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2