
Pagi itu suasana rumah sakit masih terasa, Lusi masih belum boleh pulang dari rumah sakit karena kondisinya meski mulai membaik tapi masih belum boleh pulang. Kemungkinan lusa Lusi akan pulang kerumah. Lusi pun mulai tersadar dengan kesalahan yang pernah mengabaikan anak dalam kandungannya. Ia pun sedikit demi sedikit mulai menerima semua keadaan dirinya yang tengah hamil. Lusi perlahan mulai bisa menerima takdir dan kenyataan hidupnya.
Namun sakit yang menyerang Lusi saat ini membuat Lusi hampir lupa dengan hutang suaminya yang telah meninggal, ia mengingat bahwa uang yang kini harusnya terkumpul belum sedikit pun. Lusi pun kembali bingung galau dan gundah pasalnya dari mana ia harus mendapatkan uang itu. Sementara dirinya masih berada dirumah sakit.
Namun Lusi berusaha untuk tetap tenang karena masih ada waktu satu Minggu lagi untuk melunasi hutang itu, Lusi pun akan mencari nya setelah ia keluar dari rumah sakit.
Hari itu..
Ibu Lusi pun tampak ingin menemui Lusi yang masih terbaring dirumah sakit, saat itu Ibu Lusi berada diparkir dan tak sengaja bertemu Gery di parkiran.
"Eh, Bu" kata Gery yang menghampiri ibu nya Lusi.
"Eh nak Gery" ucap Gery.
"Bu apa Lusi masih di rawat?" Tanya Gery.
"Iya, kemungkinan besok sudah bisa pulang" jawab Ibu.
"Oh syukurlah"
"Oia Bu bagaimana dengan kandungan Lusi saat ini? Aku harap baik-baik saja karena jujur aku tidak mau jika kenapa-kenapa" ungkap Gery.
Ibu Lusi pun tampak heran dan mengerinyitkan kening nya, karena merasa aneh dengan pertanyaan Gery soal kehamilan Lusi.
"Oh baik, baik-baik saja" jawab Ibu.
"Baik nya seperti apa Bu?" Tanya ibu.
"Ya baik-baik aja, bahkan kemarin habis di USG" kata ibu.
"Oh sudah di USG ya Bu. Lalu bagaiman Bu bayi nya?" Tanya Gery yang tersenyum dan terlihat antusias.
"Sehat anaknya katanya sih perempuan"
"Perempuan" ucap Gery yang sedikit kaget sambil tersenyum. "Wah pasti anaknya akan cantik sekali seperti mamanya, jadi pengen cium nanti setelah lahir nanti pasti akan menggemaskan sekali, akan aku ciumi setiap saat"
"Cium siapa?"
"Cium anaknya dong Bu, masa ibu nya"
ibu pun yang manggut-manggut saja.
Ibu pun seperti sedikit menaruh curiga pada Gery karena yang seperti bersemangat menanyakan tentang kehamilan putrinya itu. Tapi ibu berusaha untuk tidak menaruh curiga apa-apa. Soal Gery yang saat ini sedang antuasias menanyakan anak yang didalam kandungan Lusi.
"Oia Bu?" Kata Gery.
"Ya?"
"Ini ada makanan untuk Lusi spageti dan buah-buahan, aku ingin memberikan nya tapi gak enak karena kemarin sudah datang. Nanti takut ganggu, jadi aku titip ini ke ibu. Mohon berikan pada Lusi ya"
"Oh ya baiklah terimakasih"
__ADS_1
"Oia Bu satu lagi"
"Apa?"
"Tolong pastikan Lusi jangan sampai telat makan, pastikan juga dia minum susu hamilnya, pastiin juga dia untuk istrihat yang cukup" terang Gery.
Ibu pun bukan menjawab iya justru malah memandang Gery aneh dengan apa yang Gery ucapkan seperti perhatian Gery pada Lusi namun terlalu berlebihan.
Mungkin...
kalau hanya dianggap teman, ya ibu lusi memang mengenal Gery tapi yang Ibu tahu Gery hanyalah teman dari menantu dan terasa janggal saat Gery berkata seperti itu.
"Ibu, kenapa diam" tanya Gery yang melihat ke arah ibu nya Lusi yang terdiam dengan apa yang dikatakan Gery barusan.
"Oh, sudah pasti. Sudah pasti ibu lakukan apa yang kamu katakan. Yaitu menjaga Lusi, Tapi sedikit aneh ya"
"Aneh bagaimana?" Tanya Gery.
"Kamu itu kan cuma temen menantu saya, tapi kenapa sebegitu perhatian nya pada anak saya" ucap ibu Lusi yang terlihat curiga dengan perlakuan yang berbeda terhadap ibu
"Itu hanya bentuk solidaritas saja Bu sebagai teman baik"
"Hanya itu"
"Iya"
Lalu ibu pun menerima pemberian dari Gery itu.
Ibu pun lalu meninggalkan Gery diparkiran.
lbu masuk kedalam ruang rawat yang Lusi tempati. Lusi pun memang terlihat sedang melamun.
"Eh ibu, apa itu Bu?" Tanya Lusi yang akhirnya sadar ada ibu nya yang masuk.
"Spageti sama buah, kamu mau?" Tanya ibu.
"Ibu paling tahu, aku lagi bosen masakan disini aku memang sedang ingin makan yang lain" kata Lusi sembari tersenyum dan ibu pun memberikan spageti itu pada Lusi.
Lusi pun memakan spageti yang dibawa oleh ibunya itu, memakan dengan lahap.
"Doyan" ucap ibu melihat ke arah Lusi.
"Ya doyan lah ibu"
"Tadi spageti itu dari Gery" timpal ibu.
Seketika Lusi pun langsung tersedak.
Uhuk....
"Apa? Kok bisa apa benar dari Gery " Ucap Lusi kaget
__ADS_1
"Iya dari Gery emangnya kenapa?" Ucap ibu.
Lusi pun menggelengkan kepala nya seolah tak percaya.
"Kenapa emangnya?" Tanya ibu lagi.
"Gak apa-apa cuma kaget aja"
"Dia perhatian banget tadi sama kamu, apa kamu punya hubungan yang spesial sama dia"tanya ibu.
"Gak bu" jawab Lusi.
"Tapi dari gelagat nya dia seperti perhatian banget sama kamu apalagi kehamilan kamu, apa kamu punya hubungan spesial dengan Gery sebelum Rian meninggal" tanya ibu.
"Ibu, tanya apa sih? Gak mungkin" kata Lusi.
"Yah ibu merasa aneh aja, jarang loh cowok perhatian sampai sedetail itu. Sampai kasih pesan panjang lebar untuk anak yang kamu kandung. Kamu gak main serong kan"
"Gak lah Bu, gak pernah sekalipun Lusi main serong pada pria lain" kata Lusi.
"Baiklah kalau begitu ibu hanya bertanya saja"
Lusi pun akhirnya berhenti makan tidak napsu lagi setalah Lusi tahu makanan itu pemberian dari Gery.
"Bu aku sepertinya kenyang, buat ibu saja, itu ada dua bungkus kan" kata Lusi yang akhirnya kehilangan nafsu makannya.
" ibu sudah sarapan untuk mu saja"
Lalu tak lama Lusi pun membuka handphone nya tiba-tiba pesan masuk itu sebuah peringatan tentang hutangnya yang harus dibayarkan.
Lusi pun yang tadinya biasa saja langsung terdiam dengan pesan singkat yang ia terima di handphonenya.
Karena Lusi merasa ia sangat butuh namun kepada siapa dia meminta tolong dengan uang sbenayak itu. Apa mungkin kepada Gery, seperti nya tidak mungkin. Tidak mungkin pada pria yang sudah berusaha merusak kehidupan Lusi. Lusi pun tertunduk.
Ibu pun seketika bertanya pada Lusi yang tampak terdiam.
"Kenapa kamu?"
"Pusing ibu"
"Pusing?"
"Iya penagihan hutangnya udah kasih kode untuk segara lunasi hutang nya"
"Coba kamu pinjam pada teman Rian yang mungkin bisa membantu, Gery mungkin saja dia"
Lusi pun menggelengkan kepala.
Selama ini ibu memang tidak pernah tahu soal Lusi yang sampai keguguran karena pria itu. Jadi sejelek apapun Gery ibu memang tidak tahu.
"Ya , Lusi akan cari. Tapi tidak meminta pada dia. Masih ada waktu Bu" ucap Lusi.
__ADS_1