Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Pusing Jadinya


__ADS_3

Maaf yaa girlz. Aku jarang update. Karena keterbatasan waktu. Harap maklum, utk yang sudah setia dengan cerita aku hingga saat ini. Aku ucapkan terima kasih dan Kecup sayang........... muach..


____________


selamat membaca.....


Terlihat Lusi yang pulang dengan menggendong bayinya. Ia bawa tas ditangannya. Ia sedih sudah pasti. Namanya perempuan pasti akan sedih saat dirinya akan diduakan. Dan dimadu.


Lusi pun sampai di terminal Bandung, sudah hampir sore. Duitnya telah habis untuk naik bus tadi. Dan ada sisa sedikit saja, Lusi pun sambung ojek. Untuk sampai kerumahnya. Beruntung uang nya cukup. Lebih tepatnya ngepas.


Dan sesampainya dirumah orangtuanya. Tampak ibu yang sedang memasak didapur.


"Assalamualaikum" ucap Lusi yang langsung masuk kedapur.


Ibu pun kaget saat mendengar suara yang ia kenali itu. "walaikumsalam, Lusi?" Ucap Ibu kaget melihat Lusi dan langsung merangkul tubuh anaknya. Yang terlihat lelah menggendong Fabio.


"Kamu kenapa datang kesini tiba-tiba" ucap Ibu heran.


"Maaf Bu. Nggak kasih tahu"


"Terus Rian mana?" Tanya Ibu.


Lusi pun tampak terdiam.


"Kamu sendirian?" Tanya ibu lagi.


Lusi pun mengangguk.


"Kamu lagi gak ada masalah kan" tanya Ibu.


Lusi pun terdiam menarik napas dalam. Lalu Lusi pun duduk mengambil air putih hangat dan meminumnya. Sambil menyeka sedikit keringat lelahnya saat itu.


Lalu ibu pun tampak meraih Fabio dalam gendongan Lusi.


"Kamu kenapa? ceritakan sama ibu?" Tanya ibu.


"Lusi gak tahu harus memulai dari mana? Tapi, Lusi kesini ingin menenangkan hati Lusi dulu Bu" ucap Lusi tampak meragu untuk menceritakan semua pada ibunya.


"Menenangkan diri dari apa?" Tanya Ibu.


"Rian" ucap Lusi tampak terdiam sejenak. "Akan menikah lagi"


Ibu pun tampak kaget. Dan langsung membulatkan matanya.


"Bagaimana mungkin!!!" Ucap ibu tampak marah. Dan berdiri.


"Bu tenanglah dulu" ucap Lusi yang menenangkan ibunya.


"Bisa-bisanya ia menduakan anak ibu! Emang satu wanita masih kurang apa!!! Mana Rian!! biar Ibu sunat dua kali!!" ucap Ibu tampak marah.


"Ibu tenanglah dulu. Ingat ibu. Ibu punya penyakit darah tinggi, jadi jangan emosi" ucap Lusi yang tampak menenangkan sang Ibu.


Ibu pun tampak menarik napas dengan cepat. Dan duduk kembali, karena ingat akan penyakit nya.


"Sabar dulu justru itu Lusi kesini ingin menangkan pikiran Lusi dulu. Semua tidak seratus persen keinginan Rian Bu" ucap Lusi.


"Maksudnya kamu?" Tanya Ibu.


"Rian menabrak wanita dengan mobilnya, wanita itu mengalami kecelakaan berat dan kakinya diamputasi. Wanita itu meminta pertanggung jawaban pada Rian Bu. Dan bentuk tanggung jawabnya adalah dinikahi" ucap Lusi menjelaskan.


"Rian pun menyanggupi karena Rian juga merasa bersalah mungkin pada saat itu. Dan Lusi tidak siap bila terluka melihat Rian untuk menikah lagi. Lusi pun meminta cerai"


"Lalu?" Tanya ibu.


"Untuk sementara waktu Lusi tinggal disini ya Bu. Untuk memikirkan kembali soal perceraian itu. Dan memantapkan hati Lusi pada keputusan apa yang paling baik" ucap Lusi.

__ADS_1


"Rumah ini selalu terbuka untukmu sampai kapan pun kamu mau" ucap Ibu.


"Makasih Bu" ucap Lusi.


"Ibu tidak menyangka, jika ujian ini akan menimpa rumah tangga kamu" ucap Ibu memandang Lusi.


Lusi pun hanya tampak tersenyum palsu untuk mengisyaratkan bahwa ia mampu menjalani semua apa yang menjadi ujiannya.


"Bu, Lusi buatkan Fabio susu dulu ya. Kasihan dia sepertinya lelah" ucap Lusi.


"Iya, lebih baik kamu istirahat juga" ucap Ibu.


"Ya Bu"


Lusi pun tampak membawa Fabio ke kamar. Dan menidurkan Fabio.


Waktu berlalu. Waktu sudah menunjukan hampir Maghrib. Lusi pun mandi, sebelumnya Lusi memang sudah solat ashar. Sebelum menidurkan Fabio.


Setelah mandi. Lusi pun mengecek pakaian dilemarinya, ternyata tidak ada. Lusi yang masih menggunakan handuk itu pun lantas langsung menemui Ibunya.


"Bu baju Lusi pada kemana?" Tanya Lusi.


"Maaf ya Ibu lupa bilang. Kamu kan sudah kaya raya hidup dengan suami mu. Ibu pikir baju kamu pasti gak akan kami cari. Jadi baju kamu yang dilemari Ibu kasih ke posko bencana banjir waktu itu. Sayangkan dilemari masih pada bagus. Jadi ibu sumbangin"


"Baju Lisa mana? ada kan?" Tanya Lusi.


"Baju adikmu, ya udah dibawa dia. Dia kan sekarang lanjut S2 di Bali"


"Hah???" Ucap Lusi kaget. "Ngapain ke Bali segala"


"Mau cari bule katanya, memperbaiki keturunan"


"Ya ampun kenapa ibu biarin sih, si Lisa di Bali, lagian pelit amat itu anak. Baju aja dibawa juga" ucap Lusi heran.


"Mana ibu tahu, lagi juga gak apa-apa itu kan baju dia. Dan soal dia keBali. Ibu kira ya Lisa sudah dewasa, punya pilihan hidup. Mau di Bali ataupun di hutan belantara ya buat Ibu silahkan saja. Asal benar hidupnya. Yaudah mau gak mau kamu pakai baju Ibu"


"Yang gambar kembang corak batik, bahan adem model daster. Lagi juga kamu hamil, mau pakai baju apa emangnya. Kebaya yang biasa buat arisan"


"Bu Lusi mau tidur tar malam, bukan mau acara nikahan. Ngapain ditawarin pakai kebaya segala"


"Yaudah ambil sendiri, pilih sendiri. Ibu gak punya daster Doraemon atau pokemon, jadi jangan harap ada" ucap Ibu.


"Ya, gak mesti kartun juga sih Bu. Yang penting ada" ucap Lusi beranjak pergi.


Lalu Lusi pun memilih pakaian asal, yang daster biasa ibunya pakai. Lusi pun memakainya. Memang Lusi juga suka suka saja memakai daster rumahan. Selama masih pas dibadan.


Lusi pun memakai daster ibunya. Sementara Ibu yang menjaga Fabio dikamar.


Lusi pun hendak ke dapur untuk memasak mie instan. Karena merasa tiba-tiba Lusi ingin makan mie instan. Dan selang beberapa menit kemudian ada seorang pria yang memeluknya dari belakang. Yang tidak lain tidak bukan itu adalah Ayahnya sendiri. Lusi pun tahu jika itu Ayah. Namun Ayah tidak menyadari jika itu adalah Lusi.


"Ibu kenapa Badan nya agak berubah ya. Lebih tampak lebih ramping dan seksi. Dan Kok wangi banget ya, habis mandi"ucap Ayah mencium belakang leher milik Lusi.


"Dan memang bukan ibu kok" ucap Lusi menengok ke arah Ayah.


Seketika Ayah pun kaget karena mendengar suara anaknya. Yang ia kira istrinya.


"Ya ampun kamu Lusi!!" ucap Ayah kaget langsung melepaskan pelukannya.


"Astaghfirullah. hampir saja Ayah gerayangin anak sendiri. Lagi juga kamu ngapain pakai daster ibu kamu. Ayah jadi ketuker gini. Hadeh dosa besar ini ayah cium kamu"


"Makanya yah, jangan langsung serobot aja. Liat-liat dulu siapa. Tapi bukannya, Ayah dulu pernah ciumin aku. Ketek Lusi, aja Ayah ciumin katanya harum"


"Lusi ini lain nak, masalahnya ini lain. Itu dulu saat kamu masih TK. Sekarang kamu sudah dewasa. Mana mungkin Ayah cium cium kamu sembarangan seperti itu" ucap Ayah menjelaskan.


"Hehehe iya Ayah, aku hanya bercanda"

__ADS_1


"Tapi, kamu jangan bilang ibu kamu ya. Soal yang tadi. Ayah bisa dicekik sama Ibu kamu" ucap Ayah kepada Lusi.


"Iya"


Ayah pun melihat Lusi yang sedang masak mie.


"Makan mie?" Ucap Ayah.


"Iya, lagi kepengen ajah" ucap Lusi.


"Tidak baik keseringan makan mie" ucap Ayah.


"Yang tidak baik itu kalau keseringan makan ati. Gak apa-apa kok makan mie. Asal, mienya tidak kadaluarsa dan tidak sampai satu pabrik"


"Kamu ini ya"


Lalu tak lama Ibu pun datang dan melihat Ayah baru pulang.


"Eh, Ayah sudah pulang" ucap Ibu melihat Ayah yang baru pulang. Dan langsung menyiapkan makan malam.. karena bisanya Ayah kalau pulang. Selalu disiapkan makan oleh Ibu.


Lusi pun tak bercerita apa-apa dulu soal apa yang menjadi alasan ia tinggal dirumah orangtuanya. Lusi pun ikut duduk di meja makan bersama Ayah dan Ibunya.


Lalu Ibu pun mengambilkan nasi dan lauk pauk yang berada dimeja makan. Memang Ibu selalu memperlakukan Ayah seperti seorang raja saat diatas meja makan. Dan terlihat Ayah memandang sang putri sulungnya itu.


"Kamu kalau dilihat-lihat mirip Ibu kamu muda. Eh tapi beda deh. Lebih cantik kamu Lusi, kamu mirip mantan pacar Ayah" ucap Ayah sambil tersenyum memandang Ibu.


Seketika Ibu pun langsung melotot memandang Ayah dan langsung menekan lidahnya dan bersuara. "Hhhmmmmmm"


"Heheh, canda Bu. Ayah cuma bercanda. Lagi juga mana mungkin Lusi mirip mantan pacar Ayah. Masa iya mantan pacar Ayah menghamili ibu bisa sampai mirip. Mantan pacar Ayah kan perempuan" ucap Ayah.


"Kangen mantan?" Ucap Ibu nada kesal.


"Gak lah Bu. Buat apa kangen mantan. Mantan yang kangen Ayah biasanya"


"hmm,, Ge'er!!!"


Ayah pun hanya tersenyum. "Lusi, Ayah sebenarnya memang ingin ketemu kamu"


"Ketemu? Ada apa?" Tanya Lusi.


"Sebenarnya Ayah ingin meminta bantuan kamu. Ayah mau pinjem uang. Dulu Ayah sempet pinjem uang buat toko material, eh yang pinjemin sih santai aja. Katanya bisa ganti kapan saja. Tapi temen Ayah sudah meninggal. namun anak-anaknya yang ribet. Ayah disuruh balikin uangnya segera"


Lusi pun tampak menahan napasnya sejenak. Saat Ayah nya bicara soal uang. Karena Lusi memang tidak bawa uang sama sekali. Hanya bawa diri dan Fabio.


"Kamu mau bantu kan, cuma 300 juta" Ucap Ayah.


Seketika Lusi pun langsung tersedak saat makan, karena kaget.


"Uhhuuukk, uhhhuuuk.." ibu pun tampak mengelus pundak Lusi dan memberi minum.


"Minumlah" ucap Ibu.


"Se-sebanyak itu" ucap Lusi kaget.


"Iya memang segitu, usaha Ayah sedang tidak stabil. Jadi kamu mau kan membantu Ayah. Kamu minjam dulu sama Rian. Ya paling tidak 200 juta dulu. Dia kan kaya, pasti punya banyak uang" tutur Ayah


Seketika Lusi pun langsung menarik napas lagi. Mengingat dirinya sedang tidak baik-baik saja dengan hubungan pernikahannya. Apalagi dengan kondisi begini kalau tiba-tiba meminta uang pada Rian sebanyak itu. Rasanya seperti menjilat ludah sendiri.


Ibu pun langsung mengelus bahu putrinya. Karena Ibu tahu apa yang Lusi alami.


Rasanya Lusi ingin menangis dan berteriak tapi hanya dalam hati. Cuma kepedihan yang Lusi rasa namun ia tampak terdiam dan menahannya.


"Bisa kan Lusi" ucap Ayah menanyakan kembali.


Lusi pun hanya tersenyum palsu dengan perasaan campur aduk.

__ADS_1


"Akan Lusi usahakan soal ini, tolong beri Lusi waktu"


__ADS_2