
Duka yang menyelimuti saat ini seolah membunuh Lusi disaat malam yang terasa menyedihkan itu. Tubuh Lusi seolah ingin jatuh dan tak berdaya mendengar kabar buruk tentang suaminya yang mengalami kecelakaan dan jauh berada disana.
Pahit rasanya itulah yang Lusi rasakan.
Rasa sakit yang begitu terasa dalam tak mampu mengobati semua derita yang ada.
Rian..
Rian...
Rian...
Lusi pun menangis tanpa bersuara, mama Renata pun kaget melihat Lusi yang kembali menangis setelah menerima panggilan telepon di tengah malam itu.
"Ma, hiks ma" ucap Lusi seraya menjatuhkan air matanya tak kuasa menahanya. "huhuhuhu"
"kamu kenapa?" Tanya mama yang terlihat bingung.
"Rian ma Rian" ucap Lusi sedih.
"Iya dia kenapa?" Tanya mama semakin bingung.
"Rian koma ma, dia kecelakaan" ucap Lusi sambil menangis.
"Apa??" Ucap mama kaget.
seketika mama pun pingsan, mendengar apa yang disampaikan oleh menantunya tentang putranya.
bruuuggh
"Mama, mama, ma.." seru Lusi berusaha menyadarkan ibu mertuanya yang tak sadarkan diri itu. Lusi tak menyangka jika mama Renata akan lebih tak kuasa menerima berita buruk seperti ini.
Ya, hati Ibu mana yang tak hancur mendengar putranya mengalami kecelakaan dan saat ini sedang koma.
__ADS_1
Lusi pun akhirnya mengambil minyak kayu putih dan air putih hangat untuk mama mertuanya yang pingsan itu.
Lusi pun memakai kan ke hidung dan perut Renata, untuk menyadarkan ibu mertuanya.
Setelah beberapa menit barulah Ibu mertuanya itu sadar.
Saat mama tersadar mama pun membuka mata secara perlahan. Dan langsung menangis.
"Huhuhu" mama menangis.
"Sabar ma, ini minum air putih hangat dulu ma" ucap Lusi memberikan air putih hangat.
"Lusi, bagaimana bisa Rian kecelakaan bagaimana bisa? Katakan ini tidak mungkin kan, tidak mungkin. Ya Allah putraku" kata mama sambil menangis.
Lusi pun memeluk mamanya untuk menguatkan dan tak terasa Lusi pun ikut menangis dalam pelukan sang mama mertua.
"Huhuhuhu iya ma" Isak tangis Lusi pun tak kuasa mengiringi tangisan mama mertuanya.
Mereka berdua pun menangis sambil berpelukan.
Sampai pagi harinya Lusi pun masih terlihat sedih, panik namun juga bingung.
Satu sisi Lusi ingin tahu keadaan suaminya. Namun satu sisi suaminya jauh di sana yaitu di sebrang pulau, pulau Sumatra yang entah dimana lokasinya Lusi tidak tahu.
Dalam situasi sulit ini, tampak mama Renata dan Lusi yang tidak enak makan dan minum. Penuh rasa sedih dan keharuan yang mendalam, mereka tampak bingung kemana mereka akan meminta tolong untuk mengecek kondisi Rian saat ini. karena berada disebelah pulau.
Lusi pun tampak bingung dan diam sambil berfikir baiknya seperti apa.
Lusi yang saat itu panik pun seolah nekat ingin menyusul dimana Rian kini.
Lusi pun menelpon balik orang yang menelponnya tadi untuk mengetahui Rian berada dimana saat ini.
"Hallo mba ini pihak rumah sakit" ucap Lusi ditelpon.
__ADS_1
"Iya mba betul"
"Saya ingin tahu alamat rumah sakitnya" kata Lusi.
Ya rumah sakit itu berada di Lampung yakni pulau Sumatra. Lusi yang tak pernah ke sana ia pun tampak berani untuk menyusul suaminya yang sedang terbaring koma dirumah sakit itu.
Minimal Lusi tahu kondisi suaminya terkini dengan melihat kondisinya langsung. Walau mungkin hanya itu yang mampu ia lakukan.
Namun sepertinya Lusi tidak bisa membawa keluarganya, karena uang nya yang tidak cukup. Lusi hanya memiliki uang tiga juta rupiah sisa uang dari pak David kemarin.
Lusi sebenarnya enggan untuk menggunakan uang itu, namun hanya uang itu yang ada sekarang.
Lusi pun tidak enak meminta pinjaman atau meminta tolong kepada siapa-siapa. Karena disamping Lusi tidak mau merepotkan orang lain, keluarga Rian masih ada hutang di bank. Pasti orang akan sulit meminjamkan uang pada orang yang memiliki banyak hutang, semenjak usaha yang Rian miliki mengalami kebangkrutan, bukan cuma harta yang habis. Namun membuat keluarga Rian harus hutang di bank.
Dengan perasaan yang penuh kesedihan Lusi pun memesan tiket pesawat untuk datang ke kota Bandar Lampung.
"Ma Lusi akan menyusul Rian kesana ma, Lusi ingin tahu kondisinya saat ini ma. Lusi akan pergi menyusul Rian ke Sumatra" ucap Lusi penuh keyakinan dengan apa yang ia katakan.
"Lusi kamu sendirian kesana?"
"iya"
"Apa kamu yakin?"
"Iya ma Lusi yakin, cuma Lusi gak bisa ajak Fabio ya ma. Lusi titip Fabio dulu. Gak apa-apa kan ma"
"Lusi kamu yakin akan kesana?" Tanya ibu mertuanya meyakinkan sekali lagi dengan keputusannya.
"Iya ma" ucap Lusi dengan modal nekat dan penuh keyakinan itu.
Lusi pun memesan tiket pesawat untuk mempersingkat waktu perjalanan, dengan harga tiket pesawat kurang lebih satu juta rupiah.
Ya, Lusi pergi karena perasan panik akan kondisi suaminya yang koma dan juga bermodalkan nekat datang kesana. Dan Lusi sebetulnya tak memiliki saudara atau pun sahabat disana. Dengan modal keyakinan dalam hati Lusi pun pergi menemui suaminya di sebrang pulau sana.
__ADS_1