
Sementara itu terlihat Lusi yang sudah didesak untuk melunasi hutang nya yang senilai 200 juta itu kepada Gery yang akan segera menikah. Ya beruntung Lisa adiknya mau membantu dan kini uang nya sudah 150 juta. Masih kurang sih 50 juta tapi Lusi akan tetap mengusahakan nya.
Mengingat kondisi perusahaan Rian yang juga sedang diujung tanduk kebangkrutan itu membuat Lusi enggan meminta pada suami atau ibu mertuanya.
Kandungan Liana sudah menginjak 5 bulan sudah tampak membesar. Jangan sampai hanya karena Lusi belom bisa membayar hutang untuk acara pernikahan, Gery tidak jadi menikah dan Liana keburu melahirkan.
Dimulai dari acara pernikahan Gery yang dilangsungkan nanti. Lusi tampak mempersiapkan untuk membeli beberapa seseharan untuk nikahan. Sebenarnya Lusi bisa saja membeli sendiri. Tapi Gery meminta ikut untuk membeli bersama.
"Hallow" ucap Lusi ditelpon.
"Hmm..." Jawabnya singkat.
"Aku siang ini mau belanja persiapan seserahan" kata Lusi ditelepon.
"Terus?"tanya Gery.
"Yaudah mau laporan doang"kata Lusi.
"Gua ikut" pinta Gery
"Mau ngapain ikut?"
"Lah ini kan nikahan gua, lu ngapain tanya, emang kenapa gue gak boleh ikut" ucap Gery pada Lusi marah.
"Yaudah. Eh, tapi aku ajak Liana ya"
"Gak usah bawa dia deh, ribet tuh perempuan nanti milihnya yang mahal-mahal masih mending gua nikahin tuh orang"
"Yaudah iya" jawab Lusi.
Lalu Lusi pun membuat janji ketemuan disebuah mall yang lengkap namun harganya yang memang lebih miring. Lusi pun membuat janji ketemuan pada pria rese yang satu ini.
Baru kali ini Lusi repot urusin nikahan orang yang bukan urusannya. Padahal bila mengingat dulu, Lusi tidak pernah seribet ini mengurusi pernikahan sendiri.
Lalu dengan waktu yang cukup lama itu, tampak Gery dari kejauhan yang tersenyum melihat Lusi yang sudah menunggu dirinya itu sedari tadi. Sambil bersandar ditembok sambil minum es Boba rasa coklat. Gery pun datang.
"Eh incess dah datang. Gimana nunggunya lama. Gaya bener minum es. Biasanya minum tuak"
"Tau ah Lama banget, sumpah!!?" Gerutu Lusi.
"Hahahaha.." Gery malah tampak tertawa.
__ADS_1
Lalu Lusi pun tampak mengeluarkan dompetnya di tas.
"Nah sekarang beli apa ya? Buat nikahan itu aku juga gak hapal banget sih tahunya cuma parsel aja buat dibungkus-bungkus gitu" kata Lusi seraya berfikir
"Ribet amat sih, udah bungkus aja pakai kertas koran" jawab Gery sinoek
"Eh, emang kamu kira mau bungkus nasi uduk" kata Lusi yang tak terima.
"Yaudah pilih deh buruan. Gak usah pake L"
"Sip.." ucap Lusi menunjukan jempolnya
"Beruntung juga situ ngikut" ucap Lusi lagi.
"Kenapa?" Tanya Gery.
"Buat nententengin belanjaan" kata Lusi.
"Sadis, lu kata gue tukang panggul" sahut Gery tak terima.
"Sebelas duabelas lah" kata Lusi
"Mulai dari mana ya?" Ungkap Lusi tampak melihat-lihat. Dan ia pun tertuju pada mukena dan sajadah yang dipajang disitu.
"Buat apa?" Tanya Gery.
"Buat seserahan lah, sajadah dan mukena"
"Emang kamu kira dia solat, perasaan dia gak pernah solat"
"Heh, Bambang!!! Emang kalau mentang-mentang dia gak rajin solat gak perlu dia dibawain seserahan ini. Ya perlu lah.. kamu Islam kan" ucap Lusi lagi.
"Iya dah terserah" jawab nya pasrah.
Lalu Lusi pun membeli mukena putih yang begitu bagus dan berenda berwarna emas. Serta sajadah dengan warna gold yang begitu cantik. Berharap jika Liana bisa memakai ini saat sudah sah nanti menjadi istri Gery. Ia tampak Soleh dan anggun pikirnya. Lusi pun tampak tersenyum sendiri sambil melihat seseharan pernikahan didepannya.
"Kenapa lu senyum-senyum" tanya Gery.
"Seneng aja" kata Lusi.
"Kenapa lu yang seneng kan gue yang nikah" jawab Gery.
__ADS_1
"Ya, wajar lah seneng. Masa orang lain bahagia aku gak ikut bahagia" kata Lusi.
"Hemzz" ujar Gery melihat ke arah Lusi.
"Cuma dulu waktu nikahan aku. Rian gak pernah kasih hantaran sebanyak dan seribet ini. Yang aku ingat dia cuma bawa satu" kata Lusi yang tiba-tiba teringat pada pernikahan nya dulu.
"Apa?"
"Parcel buah dan itu cuma satu-satunya. Seperti jenguk orang sakit dia cuma bawa itu"
"Masa sih?" Kata Gery tampak heran.
"Hem jangankan parcel yang banyak, keluarganya aja gak ada yang dia undang. Gak ada yang datang dan cuma mama Renata yang ada. Itu juga datang nya sebentar"
Terlihat Lusi yang kali ini menunjukkan raut wajah yang sedih.
"Kenapa seperti itu"tanya Gery.
"Kami menikah karena kecelakaan rasanya pahit banget kaya pare. Tapi kalau pare sih masih mending biar pahit masih ada yang suka. Tapi yang ini udah pahit ada getar-getirnya gitu"
Gery pun sontak menatap wajah Lusi yang tampak terlihat cantik dan bersih itu. Namun dengan raut wajah yang terlihat sedih.
"Kenapa emangnya? Lu hamil diluar nikah. Makanya nikah"tanya Gery.
"Bukan?"
"Terus?"
"Karena dia perkosa aku Gery, mamanya maksa buat nikah. Agar dia terbebas dari jerat hukum"
Seketika Gery pun tampak membulat kan mata menatap Lusi dengan kaget.
"Terus kamu gak cinta sama dia" kata Gery yang tampak kaget gitu.
"Dulu sih nggak sekarang sih cinta. Cinta banget lah, masa gak cinta"
"Alesannya kenapa dia lakuin itu"tanya
"Tolak, cinta ditolak dukun bertindak. Eh nggak cinta ditolak, niat jahat bertindak. Aku juga heran dia kenapa lakuin itu, bukan karena nafsu kayanya. Lebih ke balas dendam aja sih dan kesal karena penolakan cinta nya. Karena kalau dipikir-pikir cewek seksi banyak kenapa aku. Bahkan setelah melakukan itu, Rian tampak biasa aja gak ada pikiran nikahin aku secara baik-baik itu sih mamanya aja yang mau" kata Lusi seraya menjatuhkan air matanya.
"Ya pedih banget lah kalau ingat dulu itu sakit banget. Rasanya hampir mau bunuh diri" ucap Lusi termenung Lusi pun menghela napasnya.
__ADS_1
Seketika Gery pun menatap wajah Lusi lama dengan cinta. Ya cinta...
Jika saja Gery bertemu dengan Lusi lebih dulu dibanding Rian, sudah pasti ia akan memperjuangkan Lusi untuk dia jadikan istri. Ya istri...