
Lusi yang melihat sebuah surat ditangannya tiba-tiba tertegun dengan tulisan undangan sebuah makan malam yang ia pikir bukan makan malam yang biasa.
Restoran Pelangi, bukan Restaurant biasa, restaurant mewah yang punya fasilitas dan pelayanan yang baik. Lusi memang belum pernah masuk kedalam Resto itu hanya melihatnya dari luar saja tapi dari luar memang sangat mewah. Sontak Lusi terdiam untuk apa dirinya diundang makan malam restoran itu, Lusi tampak bimbang antara ingin datang atau tidak. Mengingat hidupnya memiliki waktu yang sempit tidak ada waktu kalau hanya menikmati makan diresto sekalipun itu mewah. Mana mungkin Lusi bisa santai makan enak sedangkan anaknya dirumah menunggu dirinya. Mana hati nurani Lusi sebagai seorang ibu.
Terlebih lagi kalau tiba-tiba ia disuruh bayar sendiri sungguh memalukan sekali, mana ada Lusi punya uang untuk membayar.
Bahkan uangnya saja hanya cukup untuk ongkos pulang saja, Lusi pun seperti enggan untuk menghadiri sebuah makan malam yang menurut Lusi cukup memberatkan hidupnya.
Lusi pun menyusuri jalan dikantor untuk menemui pak Hilman dan mengatakan bahwa dirinya tak bisa hadir memenuhi undangan makan malam yang entah untuk apa tujuan itu.
"Permisi pak?" Kata Lusi masuk kedalam ruangan pak Hilman.
"Silahkan masuk" jawab Pak Hilman. " Ada apa?"
"Saya sudah terima surat tulisan tangan bapak yang tampak indah dan ternyata isinya adalah tentang undangan makan malam , sepertinya saya tidak bisa" ucap Lusi kepada pak Hilman.
"Loh kenapa?" Tanya Hilman menaikan alisnya yang merasa heran.
"Ehm selayaknya orang biasa saya tidak pantas makan malam di restoran mewah seperti itu, selain itu juga saya berat karena pasti harganya mahal"
"Tapi kan bukan kamu yang membayar" kata pak Hilman.
"Meski ini undangan tapi saya harus tetap bawa uang dong pak. Malu kalau gak bawa uang sama sekali dan Kebetulan saya hanya bawa uang pas-pasan untuk pulang. Dan Maaf mungkin saya terlalu jujur dalam hal ini. Dan yang terakhir adalah, saya tidak bisa meninggalkan anak saya. Waktu saya pulang kerja adalah waktu untuk anak saya pak. Bukan untuk hal lain..."
"Ibu yang baik tapi saya yakin tidak masalah jika sebentar saja" kata pak Hilman.
"Saya janji ini tidak akan menghabiskan waktu mu dan tidak akan memakai uang mu. Saya juga akan memberikan uang untuk ongkos berangkat dan pulang. Saya jamin kamu tidak akan rugi waktu, juga uang. Jika waktu kamu sekiranya habis karena saya. Saya akan mengganti semua" kata Hilman bediri penuh rasa antusias tidak ada istilah Lusi menolak makan malam yang sudah dirancang oleh Pak Hilman.
Lusi tampak mengerinyitkan dahinya masih tampak meragu dan bimbang.
"Ini hanya makan malam saja tidak lebih, kamu tidak perlu khawatir. Kamu bukan akan melaksanakan perang buat apa kamu seperti orang kebingungan" kata Hilman sekali lagi.
"Tapi untuk apa bapak mengajak saya" tanya Lusi.
"Saya akan menjelaskan nanti saat kita makan" jelas Hilman.
Lusi pun terdiam dia sebenarnya agak bingung harus menerima ajakan makan malam itu tidak.
"Lusi ini acara makan malam untuk merayakan ulang tahun saya, cukup setengah jam saja kamu boleh pulang" kata Hilman beralibi.
"Tapi saya tidak bawa kado untuk bapak"
"Tidak perlu, intinya jam 18.30 malam ini ya. Sampai jam 19.00 kamu boleh pulang. Saya tidak mau kamu menolak. Permisi..." Kata Pak Hilman langsung pergi meninggalkan Lusi sendiri dalam ruangannya.
Lusi pun pada akhirnya menurut apa yang menjadi keinginan Pak Hilman. Walau sebenarnya berat untuk terima hal ini.
Sampai pada pukul 18.30, Lusi sudah selesai solat Maghrib dimusola kantor, dia pun sejenak termenung dengan ajakan pak Hilman yang seperti sebuah tanda tanya besar untuk apa Lusi sampai ingin makan malam bersama. Sedangkan di kantor tidak ada kehebohan ulang tahun boss mereka.
Lusi pun selesai solat tampak sudah ada yang menjemput yaitu Pak Adi supir pribadi pak Hilman yang tampak menunggu Lusi di depan musola.
__ADS_1
"Mba ayo" kata Pak Adi.
"Saya dijemput"
"Iya"
"Kemana?"
"Makan mba"
Lusi pun menaiki mobil yang ternyata sudah menunggunya sejak dari jam 18.00 sore itu.
Selama perjalanan kota Bandung yang saat ini cuaca tampak dingin membuat Lusi agak kedinginan dengan suasana disekitar. Lusi pun meminta pada Adi untuk mematikan AC didalam mobil itu.
"Pak tolong matikan saja ac nya sepertinya aku kedinginan" kata Lusi mengelus badannya yang kedinginan.
"Baik"
Lalu tak lama mobil itu pun berhenti pada sebuah resto yang memang Lusi tahu itu adalah resto Pelangi. Resto mewah yang isinya biasanya orang kaya dengan view paling indah diatas gedung tinggi.
Resto itu tampak sepi lebih dari biasanya, Lusi melihat hanya dua mobil saja yang terparkir. Satu mobil yang Lusi yakini itu adalah milik Pak Hilman dan yang satu lagi mobil yang Lusi tumpangi.
Lusi pun masuk kedalam restoran yang tampak sepi dari luar dan saat Lusi masuk Lusi kaget ternyata hanya ada dirinya saja dan pak Hilman yang menjadi tamu.
Lusi pun menaiki lift sampai atas dan diatas sudah ada pak Hilman menunggu.
Sontak bukan ucapan tampan yang tersirat tapi lebih terkesan aneh.
Sebuah senyuman tampak hadir dibibirnya, seperti hal yang paling tak terduga bagi Lusi dapat mengahadiri sebuah makan malam hanya berdua saj.
"Pak ini acara apa sih pak, saya sampai dibuat bingung sendiri. Kalau memang ini acara ulang tahun bapak, kenapa dibuat seperti uji nyali. Banyak lilin yang menyala dan cuma saya dan bapak saja. Ini terlalu sepi untuk dikatakan pesta ulang tahun" kata Lusi yang menengok ke arah kiri dan kanan melihat sekeliling.
"Lusi duduk lah, ini bukan aneh tapi romantis. Makan malam romantis" jelas pak Hilman.
"Pak, jangan buat sesuatu yang lucu untuk saya. Dimana-mana tidak ada acara ulang tahun seperti ini makan malam romantis, maskudnya apa" ucap Lusi yang malah tampak tertawa kecil.
"Memang tidak ada? Tidak ada yang ulangtahun"
"Lalu ini apa? Untuk apa bapak mengundang saya" Tanya Lusi yang masih tampak bingung.
"Ini adalah makan malam spesial untuk aku dan kamu. Ya acara makan malam kita" ungkap Hilman.
Seketika Lusi pun terdiam sejenak ada perasaan yang terasa membuat Lusi tak nyaman dengan suansana yang sebenernya lebih layak untuk pasangan. Lusi berusaha untuk menerka dengan maksud dan tujuan pak Hilman kepadanya. Tapi Lusi masih memberikan ruang untuk Hilman bicara padanya sampai pada akhir.
"Jadi sebenernya, bapak mau ajak saya kesini untuk apa?" Tanya Lusi.
Dengan cepat Hilman menekuk lututnya dihadapan Lusi dan memberikan sebuah pernyataan yang mengagetkan. Dengan bunga ditangan Hilman seolah seperti orang yang akan melamar seorang wanita.
"Lusi saya mencintai mu" ungkap Hilman memang tangan Lusi.
__ADS_1
"Hah?" Lusi tampak kaget.
"Saya ingin kamu menjadi orang yang spesial"
"Loh bukannya bapak bilang kalau saya ini mirip dengan anak bapak"
"Itu dulu, itu hanya sebuah makna untuk saya dapat mendekati mu..jauh lebih dari itu saya mencintai mu Lusi"
Lusi pun mematung tak percaya dengan penuturan yang sulit untuk ia cerna dan terima.
Pasalnya ini terlalu jauh dalam hidup Lusi melangkahkan kaki pada sebuah cinta yang terpaut umur begitu jauh. Berat rasanya..
"Saya bisa memberikan apapun yang kamu mau, mobil, rumah, dan semuanya yang kamu mau" Ungkap Hilman.
"Tapi saya tidak mau, lagi pula wanita yang tadi dikantor bukannya tunangan bapak"
"Dia bukan siapa-siapa, dia hanya mengaku saja" kata Hilman lagi. "Bagaimana jawaban kamu?"
"Pak saya tidak bisa, ini terlalu berat untuk saya" kata Lusi memijit keningnya tak percaya.
"Kamu tak perlu menjawabnya..karena saya akan menunggu mu sampai kamu benar siap. Saya sadar umur kita terlampau jauh tapi saya akan memberikan mu kebahagiaan lebih dari siapapun" kata Hilman.
"Saya pulang permisi pak" Ungkap Lusi berdiri.
Hilman pun memegang tangan Lusi.
"Saya tidak bisa, saya tidak bisa merajut kisah cinta pada pria yang bahkan umur kita terpaut. Terpaut jauh umur bapak lebih tua 27 tahun" kata Lusi.
"Kamu yang bilang tentang cinta bahwa cinta itu tidak melihat itu" kata Hilman.
"Kapan saya mengatakannya"
"Kamu sendiri mengatakan bahwa kamu menerima jodoh yang diberikan Tuhan, asal pria itu bertanggung jawab dan siap menerima kamu apadanya. Kamu lupa saat dimini market itu.. saya cukup baik untuk kamu!!!!!" Jelas Hilman.
"Tapi saya tidak bisa!!!!"
"Saya akan menunggu kamu sampai siap"
"Permisi pak" ucap Lusi yang tak peduli soal Hilman lagi.
Hilman pun tampak terima dengan jawaban Lusi saat itu meski perasannya kesal karena ungkapkan cintanya ternyata tak mampu Lusi terima saat itu.
Lusi tidak bisa memaksa hatinya yang tak bisa mencintai, terlebih lagi pria itu baru saja Lusi kenal.
Lusi memang butuh sesosok pria dan pendamping tapi Lusi juga tidak bisa, hati Lusi mengatakan tidak.
Lusi pun turun kembali dengan lift tanpa pedulikan soal perasaan pak Hilman padanya. Hidup ini bukan sebuah paksaan, sekalipun pak Hilman atasannya dan punya segalanya tapi Lusi belum bisa terima perasan pak Hilman.
Lusi pun berjalan menuju parkiran tapi tanpa di duga dan ia sangka tiba-tiba seseorang membekap Lusi dari belakang. Lusi pun pingsan saat seorang dari belakang itu memberikan obat bius kepada Lusi.
__ADS_1