Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Tanisa sakit


__ADS_3

Lalu Lusi pun dengan perasaan yang bercampur aduk pulang kerumah. Lusi merasa sedih dengan sifat suaminya yang kali ini berubah. Dalam hati terdalam Lusi tidak ingin kehilangan suaminya, tak ingin rumah tangganya hancur namun semua itu seolah sulit. Dari awal pernikahan Lusi sudah merasa ujian rumah tangga nya penuh liku. Namun setelah luka dan duka lalu, Lusi harus menerima kenyataan tentang fitnah itu.


Lusi pun salah karena harusnya tidak mau diajak bertemu oleh Gery harusnya Lusi menolak mentah-mentah permintaan pertemuan itu. Lusi yang dimintai pertolongan mengurus pernikahan namun sialnya Lusi juga yang jadi korban fitnah yang lebih kejam daripada pembunuhan itu.


Logikanya seperti ini saja buat apa Lusi gak ada angin gak ada ujan buka buah dada kembarnya didepan pria yang sudah ia anggap adiknya itu. Buat apa? Lagi pula jika Lusi mau tidak mungkin dilakukan dikantor orang pasti cari di tempat berkelas mungkin dihotel atau sebagainya. Lusi pun merasa kesal dengan pemikiran Rian yang cetek dan termakan ucapan orang.


Lusi pun pulang menatap mama mertuanya yang terlihat curiga dengan hubungan Lusi dan Rian yang tidak baik-baik.


Lalu mama mertuanya pun menghampiri Lusi yang tampak tak bergairah dan menunjukkan aura kesedihan yang aur-auran itu.


"Kamu kenapa mukanya ditekuk seperti dompet tanggung bulan"tanya Renata.


"Sedih ma"


"Kenapa?"


"Huhuhu Rian marah sama aku. Aku dianggap selingkuh"


"Oh, yaudah kamu kasih aja sana"


"Kasih apa?"


"Jatah"


"Jatah apa ma?"


"Ya biasanya suami istri lakukan masa gak ngerti"


Lusi terdiam.


"Kamu tahu, dulu papanya Rian suka cemburuan kalau mama deket sama clien atau rekan kerja mama yang good looking terus cemberut gitu sepanjang hari. Eh malemnya mama dihajar habis-habisan"


"Babak belur dong kalau di hajar ma"


"Lebih tepatnya service ranjang. Coba kamu service Rian habis-habisan. Kamu kan bisalah apalagi kamu masih muda, masih banyak gairah nya"


"Gitu ya ma"


"Mama bukannya jorok cuma kamu harus tahu aja ilmunya"


"Tar malam coba ya ma"


"Harus dong"


Lalu Lusi pun tampak memakai baju seksi dan memakai make up yang cantik berharap kalau Rian mau menghabiskan malamnya bersama Lusi. Lusi tampak merapihkan kamar dan memakai parfum yang paling wangi agar membuat Rian klepek-klepek.


Saat Rian sayang Lusi memandang Rian penuh dengan senyum.

__ADS_1


"Hallo ganteng, udah lama ya gak pernah main lagi ke warung" goda Lusi, sambil berlagak seperti wanita paling seksi.


Rian pun malah tampak cuek dan pura-pura tak melihat dan mendengar Lusi yang berusaha untuk menggodanya.


"Ayoo dong bang, udah gak tahan nih masa ada istri seksi malah dianggurin sih. Emang udah lupa ya cara nya bermain cinta" ucap Lusi sekali lagi.


Rian pun masih saja tetap cuek.


"Ayo dong Abang yang ganteng, katanya suka sama yang mulus dan halus. Aku udah belajar gaya gaya cinta loh yang lain, bikin ketagihan deh pokoknya"


"Yakin udah belajar"sahut Rian yang tiba-tiba tergoda.


"Nah gitu dong bang, jangan anggurin benda paling mahal diantara yang paling mahal itu udah lama kan gak ehem ehem" goda Lusi lagi.


"Iya sih" ucap Rian yang langsung memeluk Lusi dengan erat.


"Ini baru namanya laki-laki" ucap Lusi tersenyum.


Lalu dengan cepat Rian pun mencium bibir Lusi sangat dalam. Dan menikmati bibir seksi dari wanita sah nya itu.


Saat ditengah-tengah permulaan itu, Lalu tiba-tiba Rian kembali teringat kejadian antara Lusi dan Juna dengan cepat Rian melepaskan Lusi.


"Kenapa gak dilanjutkan permainan ini" tanya Lusi yang sudah mau terbawa suasana itu.


"Gak jadi aku baru ingat kamu sudah khianati aku" ucap Rian masih kesal.


"Kamu mau kemana?" Tanya Lusi.


Rian pun tidak menjawab.


"Hmm Rian"


Rian masih tampak tak peduli dan pergi.


Yasudahlah terserah dia maunya apa, yang penting aku sudah usaha buat memperbaiki semuanya. Ya semuanya.


Sementara itu....


Di kediaman rumah keluarga Deon.


Terlihat Tanisa dikamar sendiri..


Deon mengunci kamar Tanisa didalam, Deon tidak memperbolehkan Tanisa keluar dari kamar kecuali atas seijinnya. Bahkan Deon tidak memikirkan bagaimana jika Tanisa ingin buang air kecil atau lainnya. Tanisa tampak terlihat semakin memperhatikan didalam sana, seharian penuh Tanisa hanya memejamkan matanya saja menahan rasa pilu dan meraskan bahwa dirinya memang tidak baik-baik saja. Jika kemarin Leon yang begitu baik selalu memperhatikan Tanisa dengan mondar mandir ke dalam melihat Tanisa, kini semakin sulit karena Deon mengunci Tanisa dikamar.


Tanisa pun tampak lemah dan tak berdaya didalam sana. Deon memberikan makan saat dirinya pulang kerja saja. Sementara Tanisa yang habis mendapat kekerasan itu memang belum pulih.


Sudah dua hari Tanisa tampak memejamkan matanya saja, sambil menutup tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


Dengan batin yang terasa begitu tersiksa Tanisa memanggil nama pria yang ia cintai. Ia sudah tak sanggup lagi, hidup dalam penderitaan seperti ini. Dipenjara dalam kehidupan yang tak semestinya. Tak dihargai dan selalu teraniyaya. Tanisa tampak kehilangan arah kehidupannya sendiri. Matanya terlihat kosong dan sering menangis.


Lalu keesokan harinya....


Leon yang ingin datang memberikan makanan pada pagi hari untuk Tanisa namun ternyata kamar itu terkunci.


Coba aku ketuk pintu nya .. batin Leon.


Tok.. tok.. tok...


"Tanisa.. Tanisa... Buka pintunya aku membawa kan kamu makanan" ucap Leon sambil mengetuk pintu.


Tiba-tiba asisten rumah tangga itu tampak menghampiri Leon yang berusaha untuk masuk. Dan memberitahukan


"Tuan gak akan bisa dibuka, karena sudah pak Deon kunci"jelas Bibi.


"Dikunci lagi bi"


"Iya, sejak tadi subuh"


"Lalu dimana kuncinya?"


"Dibawa sekarang pak Deon sudah berangkat ke kantor"


"Ya ampun dia seperti itu, lakukan itu pada wanitanya sendiri. Papa bener-bener kelewatan" ucap Leon emosi.


Lalu Leon pun langsung mengambil linggis tampak Leon yang ingin mendobrak pintu kamar Tanisa.


"Tuan mau apa?"tanya asisten rumah tangga itu.


"Ini gak bisa dibiarin bi, Tanisa tidak boleh dibiarkan didalam sana dengan keadaan seperti ini. Aku akan dobrak kamar Tanisa bi" jelas Leon emosi.


"Nanti dimarahi tuan" kata Bibi


"Aku gak takut" jawab Leon.


Lalu dengan cepat Leon mencongkel kamar itu dan mendobrak kamar itu, kamar itu pun terbuka lebar. Leon membulatkan matanya saat melihat Tanisa yang seperti tak baik-baik saja. Tanisa tampak menutup seluruh tubuhnya dengan selimut


Leon pun menghampir Tanisa dan membuka wajah Tanisa yang ditutupi dengan selimut itu, dan lalu membuka nya saat dilihat Tanisa tampak pucat dan terlihat lemas.


"Tanisa kamu baik-baik saja" ucap Leon tampak sangat khawatir. Namun Tanisa tak menjawab apa yang dilontarkan Leon. Mata Tanisa tampak gelap tak sanggup membuka matanya sama sekali. Badan Tanisa tampak lemas dan tak berdaya. Saat Leon memegang wajah Tanisa Leon pun panik. Karena tubuh Tanisa sangat panas dan Tanisa pun tampak menggigil.


"Tanisa kamu sakit, Tanisa" ucap Leon yang menepuk pelan pipi Tanisa.


Tanisa tampak tak sadarkan diri saat itu, Tanisa tak menjawab sama sekali.


Lalu dengan cepat Leon pun menggendong Tanisa.

__ADS_1


"Bi, aku akan membawanya ke rumah sakit. Tanisa sakit bi, aku harus membawanya" ucap Leon menggendong Tanisa dan membawanya ke mobil.


__ADS_2