
Sementara itu...
Suatu hari yang tampak cerah langit tampak membiru.
Terlihat Marisa yang sengaja keluar rumah untuk menghilangkan kebosanan dirumah.
Marisa tampak ditemani supir pribadinya, Marisa pergi ke sebuah mall. Dan ia pun memutuskan untuk ke sebuah toko buku.
Didalam toko buku Marisa tampak memilih buku yang ia senangi yaitu tentang ilmu bisinis dan satu lagi masak. Ya Marisa juga suka memasak.
Dan saat ditoko buku tak sengaja Marisa menjatuhkan buku, dan membuat Marisa kesulitan mengambil karena saat itu Marisa menggunakan tongkat tidak pakai kaki palsu.
Tiba-tiba saja seorang pria datang melihat Marisa yang tampak sulit mengambil buku yang terjatuh. Dan dia adalah pria yang kemarin pergi tanpa pamit itu yaitu Gavino. Gavino tak sengaja bertemu Marisa disana.
Lalu Gavino memberikan buku itu pada Marisa.
"Nih" ucap Gavino memberikan buku yang terjatuh itu.
"Lu yang kemarin kan" tanya Marisa yang tampak berusaha mengenali pria dihadapannya kini.
"Iya gue yang kemarin"
"Oh oke"
Lalu Gavino pun tadinya tidak ingin banyak bicara tapi entah mengapa ada sesuatu yang membuat ia ingin mengobrol pada Marisa.
"Tempat nongkrong yang asik disini itu dimana ya, gue sebelumnya gak tahu daerah sini" tanya Gavino.
"Gue juga kurang tahu banget sih, cuma gue biasa nongkrong dibawah. Ada resto yang view nya lumayan bagus" jawab Marisa.
"Bisa lu anter gue" pinta Gavino.
"Lu jalan aja sendiri gak bakal nyasar kok"
"Gue gak bakal apa-apain lu kok. Lu mau kan kebawah sebentar temenin gue" ungkap Gavino. Entah kenapa ucapan itu terlintas dimulut Gavino saat melihat Marisa menatap mata Gavino. Gavino pun entah mengapa ada rasa berdebar dalam hatinya saat menatap Marisa balik.
Lalu Marisa pun tampak mengantar Gavino ke lantai dua mall itu.
Awal Gavino yang merasa tidak mau mengenal Marisa karena keadaan cacatnya.
Entah mengapa Gavino ingin mengajak mengobrol Marisa wanita yang baru kemarin ia kenal itu.
__ADS_1
"Lu tenang aja, gue gak gak maksud apa-apa sama lu. Gue kenal bokap lu, bokap gue temen baik bokap lu. Dan gue cuma pengen kenal aja. Lu mau minum apa gue traktir ya" ucap Gavino agar Marisa mau duduk sebentar menemani dirinya.
Lalu Marisa pun tampak mau, karena Gavino bilang bahwa ayah dari Gavino adalah teman baik ayahnya.
Lalu mereka pun duduk berdua di Restorant.
"Mau minum apa?" Tanya Gavino.
"Air mineral" jawab Marisa singkat.
"Hanya itu"tanya Gavino lagi.
"Iya"jawab Marisa."padahal banyak yang enak loh disini. Tapi cari nya yang biasa" ungkap Gavino sambil membuka buku menu.
"Gue dengar lu mau?" Tanya Gavino lagi.
"Iya gue mau nikah" jawab Marisa.
"Nah iya itu, kok lu tahu gue mau tanya itu" ucap Gavino.
"Iya, emang itu yang lagi dipikiran gue sekarang" jawab Marisa.
"Ya itu bukan alasan. Menikah itu pilihan dan keyakinan. Kalau udah yakin buat apa menunda untuk menikah"
"Sama apa yang gue rasakan saat ini. Ingin segera menikah tapi belum ketemu calon yang pas" tutur Gavino.
"Belum ketemu yang pas apa belum ketemu yang sempurna" tanya Marisa lagi.
"Dua duanya, tapi lebih tepatnya. Gue cari yang sempurna"
"Kenapa gitu?"
"Ya kalau ada yang sempurna buat apa cari yang gak sempurna" jawab Gavino gampang.
"Didunia ini gak ada yang sempurna. Sekalipun Dimata setiap pria sempurna. Tapi ada yang tidak sempurna. Pasti ada dan kita tak pernah tahu itu apa"
"Hem, tapi gue akan cari yang sempurna. Jika memang ada, kenapa gak? Btw, lu udah pacaran berapa lama sama cowok lu. Sampai memutuskan untuk menikah" tanya Gavino yang tampak kepo kepada Marisa.
"Gue belum pernah pacaran sebelumnya"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Ya gak apa-apa"
"Itu artinya lu belum sekalipun tidur atau melakukan hal yang lebih untuk menyatakan perasaan lu sama cowok"
"Maksudnya? Contohnya?"tanya Marisa heran.
"ML gitu"
Marisa pun tampak tertawa sinis. Mendengar apa yang dikatakan oleh Gavino.
"Aduh, gue bingung harus jawab apa. Hal spribadi ini gak harus gue jawab" ujar Marisa.
"Serius gua tanya"
Tiba-tiba telepon Gavino pun berdering. Dan Gavino langsung mengangkat telepon. Saat ia cek itu ternyata dari pacar Gavino. Gavino memang banyak memiliki teman wanita. Namun hanya dijadikan teman tidur saja. Dan ia memang ada janji makan siang diluar.
Lalu Gavino pun menutup teleponnya,tanpa ia jawab.
"Pasti pacar lu" sindir Marisa.
"Biasalah, gue emang ada janji mau ketemu orang. Btw, tadi lu belum jawab pertanyaan gue?" tanya Gavino.
"Oke, Gue gak mau melakukan hal yang membuat gue rugi. Dan hal yang gak penting buat gue apalagi untuk memberikan harga diri hanya demi cinta. Gue harap lu paham. Gue permisi"
"Lu mau kemana?" Tanya Gavino.
"Pulang"
"kenapa pulang"
"sory sibuk" ucap Marisa pergi.
Gavino pun tampak menatap kepergian Marisa yang membuat semakin ada rasa ingin mengenal jauh dengan Marisa.
Tiba-tiba saja Gavino merasa senang bisa mengobrol dengan Marisa.
Gavino pun tampak seketika termenung.
Kehidupan Gavino yang serba mewah dan bergelimang harta membuat ia mudah untuk mendapatkan wanita. Ya, wanita mana saja bisa ia dapatkan. Hanya saja Gavino terlalu melihat cantik rupa dan sempurnanya saja pada seorang wanita.
Dan Gavino pun pernah beberapa kali meniduri seorang wanita dasar suka sama suka. Namun tak pernah sekalipun ia temui wanita yang pas dalam hatinya. Apalagi rata-rata wanita yang ia temui adalah wanita malam, yang sekali kencan bisa ia ajak tidur. meskipun tidak semuanya bisa diajak tidur, namun hampir semuanya bisa apalagi jika melihat dari wajah Gavino yang tampan dan memiliki banyak uang.
__ADS_1