Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Pertemuan Pertempuran


__ADS_3

Waktu berlalu silih berganti kini saatnya Marisa kembali ke rumah setelah beberapa hari menempuh waktu yang berat dirumah sakit. Kakinya hilang satu, namun hatinya bertemu pada pujaan hatinya yang kelak menjadi suaminya dikemudian hari. Yaitu sesosok pria yang sudah beristri. Entah salah atau benar namun seorang Marisa menerima takdirnya bila nanti menjadi istri kedua.


Marisa mempersiapkan diri akan kepulangannya, terlihat mama yang duduk di pinggir tempat tidur rumah sakit.


"Papa tahu kamu akan menikah. Namun ia belum tahu bahwa Rian sudah beristri" ucap Mama.


"Lalu?" Ucap Marisa.


"Papa mu bisa murka bila tahu Rian sudah punya istri"


"Ya, kita lihat nanti saja" ucap Marisa santai.


Lalu Marisa pun pulang, dengan sebuah tongkat ditangannya. Bukan tongkat untuk memukul. Namun tongkat untuk memikul betapa beratnya perjalanan hidup ini. Memikul dan menopang tubuhnya. Berjalan hanya dengan sebuah kaki. Walau semua orang dirasa tak cukup sanggup untuk ke cacatan ini. Marisa harus sanggup menjalani.


Hidup dirumah bak princess. Kini tak lagi dirasakan. Marisa merasa mana ada princess yang hanya memiliki satu kaki. Mana ada princess yang menjadi istri kedua. Ya pedih memang, mengingat semua itu. Namun inilah hidup.


Jam makan siang..


Memang Marisa sekarang sudah lebih baik. Masih mau makan tanpa harus menunggu Rian. Mengingat kini ia sudah pulang kerumahnya mana mungkin Rian harus ke rumahnya. Apalagi bila harus bertemu papa yang tak suka sebenarnya pada sesosok pria yang bernama Rian itu.


Makan siang terlihat menarik. Hampir semua menu disuguhkan. Mulai dari makanan pembuka sampai makanan penutup. Mulai dari air putih sampai jus buah tersaji. Entah menunggu kepulangan Marisa. Atau ada perihal lain didalamnya. Marisa hanya santai melihat makanan begitu banyak tersaji di meja makan.


Terlihat papa yang memandang Marisa tersenyum miring entah ada sesuatu. Bahasa tubuh yang sedikit menyepelekan anak perempuan nya itu. Marisa pun hanya membuang wajahnya. Tak perlu ada yang dibahas menurut Marisa, melihat senyuman papa yang terkesan meledek Marisa.


"Ada sesuatu hal" ucap papa tampak serius.


"Kaya Syahrini aja pa, pake sesuatu segala" ucap Marisa.

__ADS_1


"selamat siang semuanya. Jadi.. Jadi begini" ucap Papa lagi.


"Langsung aja pa, gak usah pakai kata pembuka kaya mau pidato" ucap Marisa.


"Baiklah kalau begitu" kata papa.


"Apa?" Tanya Marisa.


Mama pun memandang juga papa.


"Ini penting. Papa akan memperkenalkan seseorang kepada kalian. Mm.... Gery.. Gery, kesini" ucap Papa.


Tiba-tiba... Tak sampai 1 menit tampak Gery yang datang.


Deg...


"Sudah lama kita tidak bertemu" ucap Gery. "Marisa aku turut bersedih atas apa yang menimpamu, kaki kamu cacat." ucap Gery.


"Ya aku cacat.. lalu kenapa ada ?"ucap Marisa heran.


"Selama ini papa tak pernah cerita soal Gery. Papa merasa sudah saatnya Papa beritahu, bahwa papa punya anak selain kamu. Dan dia, adalah Gery" ucap papa menyampaikan maksud dan tujuannya.


"Jadi semua makanan ini untuk Gery" ucap Marisa.


"Ya, untuk menyambut kedatangan Gery disini,. Dia adalah kakakmu" ucap Papa menjelaskan.


Marisa pun tampak menggelengkan kepala seolah tak percaya akan hal tersebut. Bagaimana mungkin bisa Gery jadi kakaknya.

__ADS_1


Marisa pun tampak menghela napasnya.


Mama hanya terdiam tampak tak kaget. karena sudah lebih tahu tentang Gery. karena papa sudah menceritakan lebih dulu.


"Papa, mendatangkan Gery. Sebagai keluarga, dan pewaris utama dalam bisnis Papa. Dengan sangat terpaksa Marisa. Hotel yang Papa miliki tidak seratus persen berada tangan mu. Masih ada Gery yang sah sebagai anak kandung Papa" ucap Papa.


Marisa pun tampak kaget.


"Papa putuskan Gery untuk tinggal bersama kita disini. Menjadi anak Papa. Kakimu yang cacat menyadarkan papa, bahwa kamu tak bisa seratus persen menjalankan bisnis papa. Penuh rasa berat hati papa serahkan kebijakan dan wewenang atas harta papa kepada Gery. Ketidaksempurnaan kamu saat ini Marisa. Membuat papa berfikir ulang kembali, atas harta warisan itu. Papa tak akan yakin kamu bisa membuat bisnis maju dengan keadaan mu sekarang" ucap Papa menjelaskan sambil memandang wajah Marisa.


Marisa pun memandang sinis penuh ketidak percayaan atas apa yang diucapkan Papanya itu. Bukan rasa bahagia atas pertemuan kembali dengan Gery. Namun malah tampak kesal diraut wajah Marisa saat itu. Meskipun Gery dulu adalah sahabatnya. Namun lain kali ini. Saat ini tampak pertemuan penuh pertempuran dingin.


"Jadi hanya karena Marisa cacat papa menganggap Marisa tidak pantas" ucap Marisa lantang.


"Kurang lebihnya seperti itu" jawab papa.


"Aku tidak butuh uang papa. Aku pun bisa hidup tanpa belas kasihan dan uang papa. Semuanya aku tidak butuh!!" ucap Marisa tampak kecewa.


"Lalu bagaimana kamu biayai hidup kamu?" tanya papa.


"Terserah aku hidup bagaimana, yang paling penting tidak dengan uang papa" Marisa kesal.


Marisa tampak kesal dan langsung pergi meninggalkan meja makannya dengan tongkat ditangannya.


Marisa pun langsung ke kamar dan membanting pintu. Kecewa ya sudah pasti. Dirinya merasa tersisih.


Papa bukan memberi semangat akan hidup putrinya, yang nyaris kehilangan asa. Justru papa menggeser Marisa dalam daftar harta warisan nya. Marisa pun tampak menjatuhkan air matanya. Perasaan sedih dan kesal yang seolah bercampur aduk menjadi satu itu. Marisa bukan kecewa karena harta warisan itu. Hanya saja Marisa sangat merasa kecewa. Karena, kecacatannya seolah menjadi suatu alasan. Sehingga semua ini terjadi.

__ADS_1


__ADS_2