Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Jiwa dan batin mu sedang terguncang


__ADS_3

Pagi hari yang terlihat cerah dikota Bandar Lampung, pulau Sumatra. Lusi terbaring diatas tempat tidur rumah sakit, kondisi terlihat belum pulih setelah kejadian yang menimpa dirinya.


Matanya masih terpejam dan lelah yang begitu teramat.


Batin Lusi terasa sakit mana kala dirinya yang ingin berniat untuk menolong suaminya namun malah masuk kedalam situasi yang genting. Beruntung kini dirinya telah lepas dari pria yang kurang ajar dan kejam itu.


Lusi merasa mengapa orang bisa tega terhadap dirinya yang sedang berada dimasa sedih dan sulit karena suaminya kecelakaan bukannya turut serta membantu justru malah memberikan luka. Mengapa orang didunia ini ada yang seperti itu, mudah memberikan kejahatan.


Lusi membuka matanya perlahan dan melihat sekelilingnya, ia pun tersadar bahwa dirinya kini berada dirumah sakit. Dengan selang infus terpasang, dengan tangan yang begitu sakit dan dibalut perban. Begitu juga dengan kaki kirinya. Sekujur tubuh Lusi begitu terasa sakit, mulai dari ujung kepala sampai kaki merasakan sakit semua. Entah karena lelah dengan berlari, atau kah karena dirinya yang jatuh dari mobil, mungkin juga karena kakinya yang dipukul oleh Pria itu sehingga jadi sakit. Ah entahlah rasa sakit itu menumpuk jadi satu. Kalau ditanya mana yang paling sakit rasanya sakit semua. Lusi yang tidak bisa berkelahi hanya bisa berusaha berlari dan pasrah pada takdir pun berkahir dengan babak belur bukan dihajar massa. Melainkaan yang mencoba kabur.


Lusi melihat Gery yang tertidur disampingnya. Tak seharusnya Gery menemani Lusi karena Lusi sadar Gery sudah memiliki istri tak seharusnya dia berada disini.


"Ger.. Gery" ucap Lusi membangunkan Gery.


"Kamu sudah bangun" ucap Gery membuka matanya itu dan melihat ke arah Lusi. "Syukurlah kalau kamu sudah bangun" ucap Gery yang langsung mengucek matanya.


"Kamu menemaniku" tanya Lusi lirih yang melihat ke arah Gery.


"Iya, semalaman aku disini"


"Terimakasih, karena kamu sudah menolongku. Jika saja tidak ada dirimu, aku tidak tahu akan jadi apa"


"Ya" jawab Gery singkat sambil tersenyum.


"Terimakasih kamu sudah mengantar ku sampai sini. Lebih baik kamu pulang aku sudah tidak apa-apa" kata Lusi.


"Ssttt....aku tidak akan pulang secepat itu"


"Gery, kamu harus kembali. Aku takut jika istri mu mencari mu" kata Lusi.


"Jangan pikirkan soal itu, aku hanya ingin kamu sehat dulu. Pulih kembali, dan sekarang kamu makan dulu. Aku akan bantu kamu untuk sarapan" ucap Gery membantu Lusi untuk duduk.


Baru kali ini Lusi berani disentuh oleh pria yang ia anggap jahat itu. Gery pun membantu perlahan Lusi untuk duduk.


"Tapi aku mau ke kamar mandi dulu aku ingin cuci muka" kata Lusi.


"Sudah itu nanti saja, sekarang sarapan dulu ya habis makan, lalu minum obat" kata Gery dengan suara lembut kali ini. Lalu dengan perlahan-lahan Gery tampak menyuapi Lusi makan.


Lusi yang agak ragu untuk disuapi oleh Gery itu akhirnya menerima suapan dari Gery. Seketika saat itu, saat Gery mau menerima suapan dari Gery. Gery merasakan getaran lagi didalam hatinya sebuah rasa cinta yang tak semestinya. Ada perasaan dan debaran yang Gery rasakan. Meskipun wajah Lusi ada luka dan memar pada bagian kiri nya karena aspal. Namun bagi Gery Lusi tetaplah Cantik sekalipun luka itu begitu jelas berada diwajah Lusi.


Dengan sorot mata yang tajam dan penuh cinta Gery menyuapi Lusi.


Lusi pun akhirnya meraskan kecanggungan karena bagaimana pun Gery tak seharusnya memberi perhatian lebih pada dirinya itu.


"Berikan bubur itu padaku, biarlah aku makan sendiri" pinta Lusi.


"Jangan, biar aku saja" kata Gery.

__ADS_1


"Tidak kamu tidak tahu caranya aku makan bubur"


"Memangnya harus bagaimana?"


"Aku yang lebih tahu jadi berikan lah bubur itu, biasanya aku mengaduknya dan aku mengaduk sendiri"


Gery pun tampak pasrah dan memberikan bubur itu pada Lusi. Lusi pun tidak mengaduknya sama sekali dan langsung memakannya.


"Mana gak diaduk" ucap Gery yang melihat bubur itu.


"Aku hanya alasan saja biar aku gak disuapin oleh mu"


"Segitu jijikny sama aku"


"Bukan"


"Terus?"


"Aku canggung di suapi oleh mu" kata Lusi.


Seketika Gery pun langsung dengan cepat memegang kedua bahu Lusi dan menatap Lusi lama.


"Apa yang ingin kamu lakukan" tanya Lusi was was.


Deru napas Gery bersahutan pada Lusi yang kini dihadapannya, rasa Gery semakin kuat sebenarnya untuk mencium bibir Lusi namun Gery menahannya saat Lusi malah memejamkan mata dengan wajah yang menunduk.


"Aku pergi sebentar, aku ingin cuci muka sebentar" kata Gery berusaha menjernihkan otaknya.


Lusi pun menghela napasnya karena Gery akhirnya tidak jadi menciumnya padahal wajahnya saat itu sudah saling bertemu.


Huuffff untung tidak jadi... Batin Lusi menarik napasnya.


Tak lama Gery pun kembali kali ini dengan wajah yang habis dicuci bersih.


"Bagaimana sudah habis buburnya" tanya Gery.


"Sudah" jawab Lusi.


"Mau nambah?"tanya Gery.


"Sudah cukup" jawab Lusi.


Gery pun langsung memberikan obat pada Lusi yang saat itu memang masih dalam perawatan dokter.


"Siang ini aku harus kembali" ucap Lusi.


"Kemana ?" Tanya Gery.

__ADS_1


"Ke rumah sakit dimana tempat suami ku terbaring, aku tidak mungkin meninggalkan ia disana sendirian"


"Tunggu dulu, kamu masih sakit. Disini dulu, sehari atau dua hari"


"Lalu apa gunanya aku, kalau aku masih disini. Aku datang kesini untuk suami ku bukan untuk terbaring dirumah sakit ini"


"Lusi kamu jangan egois kamu sakit"kata Gery.


"Aku tahu, tapi tak seharusnya aku disini aku harus kembali ke sana untuk suami ku" ucap Lusi sedih.


"Iya aku tahu suami mu sedang koma. Tapi kenapa saat itu terjadi, kamu kenapa tidak menelpon ku? Kenapa kamu tidak minta tolong, kenapa Lusi? Andai saja kalau kamu minta tolong pada ku ini semua takkan terjadi" kata Gery.


"Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa?" Kata Lusi.


"Pada ku, padaku Lusi!!"


"Pada mu, itu sama saja aku masuk kedalam kandang harimau. Aku takut "


"Kenapa kamu takut, jelas kamu tahu aku siapa dan kamu tak perlu takut"


"Aku takut sama kamu Gery, aku takut!!! Selama ini dirimu lah yang buat aku takut"


"Apa aku seram sehingga kamu takut"


"Aku takut semua hal tentang mu meskipun kamu baik, aku takut, meskipun kamu memberi perhatian pada ku atau keluarga ku sekalipun. Aku takut semua tentang mu" ucap Lusi yang tiba-tiba menangis. "Hiks, hiks, Aku mengenal mu... bukan baru hari ini.. sudah dari sebelumnya, kenangan terburuk pun pernah kamu berikan kepadaku, apakah kamu tidak sadar akan hal itu. Kamu sering memberi ku kejutan dan sakit hati didalam nya, sekali pun kamu baik apa itu benar tulus atau bukan aku tidak tahu"


Lusi pun menangis terisak perihal kenangan buruk yang pernah Lusi alami entah itu dengan Gery atau pun Arga, Lusi tetap merasakan rasa sakit yang sama.


Lusi menangis ....


"Mengapa semua orang tidak ada yang baik padaku, kenapa??? Hiks, aku tidak pernah berbuat salah pada siapapun kenapa aku diperlakukan seperti ini" ucap Lusi sembari menangis. "Aku lelah dengan semua ini. Aku lelah. Aku lelah"


Gery pun terdiam memandang Lusi. Gery pun bingung harus berkata apa lagi pada wanita dihadapannya kini, apa yang dikatakan Lusi memang benar. Gery pun sadar diri selama ini dia memang salah pada Lusi. Apalagi hal terakhir yang ia lakukan adalah meniduri Lusi tanpa Lusi tahu. Dan itu adalah kesalahan paling fatal. Lusi pantas jika memang harus marah pada diri nya saat ini. Gery juga tak berani untuk mengatakan bahwa dirinya juga adalah orang yang jahat sudah menidurinya malam itu.


Gery pun berusaha untuk mengelus punggung Lusi, tiba-tiba...


"Jangan sentuh aku!!!!" ucap Lusi tegas.


"Hah. Lalu?"


"Aku tidak mau disentuh oleh siapapun termasuk kamu!!!" jelas Lusi.


"Baiklah jika kamu tak mau, aku tidak akan memaksa tapi satu hal yang kamu harus ketahui, aku adalah boss dari perusahaan tempat Rian bekerja"


Lusi pun terperangah mendengar apa yang dikatakan oleh Gery. Bahwa Rian selama ini tak pernah cerita perihal itu.


"Aku akan membawa Rian ke Jakarta, semua biaya operasi yang dibebankan akan aku tanggung semuanya. Itu memang kewajiban ku sebagai pemilik perusahaan, dari itu aku datang kesini" jelas Gery

__ADS_1


"Aku juga sudah memesan tiket untuk mu pulang. Pulihkan kondisi mu Lusi. Batin mu saat ini sedang goyah dan terguncang, aku tidak mau kamu berfikir yang aneh-aneh dulu. Kalau di Jakarta masih ada ibu mu dan ibu mertuamu. Satu hal yang harus kamu ketahui, aku hanya peduli pada mu" ucap Gery mengambil tisu dan menghapus air mata Lusi. Gery pun tampak membuang wajahnya lagi setelah ia mengahapus air mata Lusi demi menjaga dirinya agar tak mencium bibir Lusi.


__ADS_2