
Dea pun masih memandang wanita yang dihadpannya kini. Tanisa tampak dengan penampilan cantik feminim, dengan dress selutut, rambut panjang, dan diikat kebelakang. Kulitnya yang bersih putih membuat tampak Tanisa semakin mempesona. Meski Tanisa masih tampak menunduk karena wajahnya yang terlihat memar itu.
Dan Dea tampak terlihat kesal ketika tahu ada wanita lain dikeluarganya kini. Meski itu adalah sebagai kekasih dari papanya. Namun itu seperti ancaman bagi Dea, mengingat dirinya akan kalah cantik dari wanita dihadpannya kini.
"Oh rupanya dia hamil, hamil anak papa ya. Itu artinya aku akan segera memiliki adik dong dan itu artinya juga dia menjadi ibu ku. Ibu tiri ku, betul" kata Dea menganggapi dengan sini.
"Lucu sekali ya, aku harus memiliki seorang ibu tiri yang mungkin umur kita sama atau dia lebih muda dari ku. Kalau bukan karena uang aku yakin dia takan memilih papa, secara logika saja ini terasa aneh bagiku dia lebih muda tapi mau dengan papa yang lebih tua" kata Dea lagi.
"Dea, Tanisa bukan lah wanita yang seperti itu. Dia baik, lebih dari apa yang kamu pikirkan. Papa dan Tanisa saling mencintai bukan karena uang. Betul begitu kan Tanisa, katakan pada putriku bahwa kamu mencintai ku" kata Deon memegang tangan Tanisa.
Seketika Tanisa pun tampak menoleh ke arah Deon dan menatap sebentar ke arah Dea.
"I-iya kita saling mencintai" kata Tanisa terpaksa.
"Oh kalau begitu bagus, jika memang diantara papa dan wanita ini saling cinta. Aku hanya takut kalau dia hanya mengincar harta, dan dia tidak betul-betul mau dengan papa. Apalagi kalau dia tidak bisa menjaga hubungan papa atau lebih jelasnya dia tak setia" ucap Dea dengan tatapan tajam.
"Ya, papa memang paling benci dengan wanita yang tidak setia. Tapi papa yakin kalau Tanisa setia dengan papa" timpal Deon.
"Semoga saja. Mm... Berapa umur mu?" Tanya Dea menatap Tanisa.
Tanisa masih tampak tertunduk tak berani menatap Dea.
"Aku ingin tahu kamu umur berapa?" Tanya Dea lagi tampak menatap sinis ke arah Tanisa yang masih tertunduk itu
"A-aku umur 19 tahun" jawab Tanisa.
"Oh, anak kecil rupanya. Bahkan dia lebih muda dari adikku sendiri, sungguh diluar dugaan ku wanita ini. Ya, satu pesan aku kepada kamu. Jangan pernah mengkhianati papa ku apapun alasannya" kata Dea dan langsung beranjak berdiri.
"Pah aku pergi dulu, ada tugas kuliah yang masih belum selesai" sambung Dea lag, dan beranjak pergi.
Ucapan Dea yang padat merayap itu mampu membuat hati Tanisa serasa pilu, setiap bicara soal cinta dan pengakuan cinta untuk Deon hati Tanisa seperti tertusuk pisau yang sangat tajam, terasa sakit.
Lalu Dea pun tampak pergi, ia kembali ke kampusnya untuk menyelesaikan beberapa tugasnya.
__ADS_1
Sementara itu tak lama Jihan datang, wanita bernama lengkap Jihan Nani Wijaya itu tampak duduk menatap Tanisa. Ia tak percaya jika ada wanita lain didalam rumah tangga nya kini.
"Pah, tadi Dea kemana?" Tanya Jihan.
"Sudah berangkat lagi, masih ada tugas kuliah katanya" jawab Deon.
"Oh, tadi aku mau bicara lagi sama kamu" ucap Jihan memandang Tanisa lama. Kini tampak Tanisa dihadapan Jihan lagi dengan tatapan biasa namun bagi Tanisa itu seperti tatapan membunuh.
"Aku mau tanya, kenapa wajah mu babak belur" tanya Jihan.
"Ehm itu.. " kata Tanisa terbata.
"Putramu!!! Itu semua kelakuan putramu yang sudah memukul dia sampai seperti itu" timpal Deon kesal.
"Leon kamu tak boleh pukul wanita sembarangan, kamu sudah melukainya" ucap Jihan pada putranya.
"Tadi mama sendiri gak sadar mama sudah tampar wanita ini" jawab Leon.
"Leon juga ma"
"Sudah kamu masuk ke dalam kamar, mama mau bicara sebentar dengan Tanisa" perintah mama.
Leon pun tampak pergi meninggalkan Tanisa dan juga kedua orangtuanya diruang tamu.
Kini Jihan menatap Tanisa.
"Boleh saya liat KTP kamu" pinta Jihan.
Tanisa pun memberikan identitas dirinya pada wanita yang bernama Jihan itu. Lalu Jihan pun tampak melihatnya, ia pun tampak menggeleng kepala tak percaya saat tahu umur Tanisa yang masih berumur 19 tahun itu.
Jihan pun tampak menatap lama pada Tanisa.
"Kamu tahu kan, kamu juga seorang wanita kamu lebih paham dengan perasaan wanita seharusnya kamu pahami dulu Deon yang memiliki status belum resmi bercerai secara hukum. Apalagi kamu sampai hamil. Jujur saya sangat sakit hati saat saya tahu suami saya menghamili wanita lain" ujar Jihan menatap tajam Tanisa, Tanisa pun masih tampak tertunduk.
__ADS_1
"Apakah tidak ada pria lain hingga kamu memilih suami saya yang sudah tua ini. Apakah kamu tidak pernah memikirkan perasaan istrinya disaat kamu enak-enak dengan suami orang. Saya tidak menyangka kamu semudah itu hingga mau dengan pria yang lebih pantas menjadi ayahmu ketimbang kekasih mu" tutur Jihan yang tampak bicara dengan lantang.
Seketika Tanisa pun merasakan sakit pada hatinya yang begitu mendalam, disaat orang tak tahu apa yang Tanisa alami semuanya. Hal berat dalam hidupnya, tak ada yang tahu satu pun.
Tanisa pun tak mungkin mengatakan bahwa dirinya hanyalah wanita malam yang dibeli oleh Deon, Tanisa hanya tertunduk dengan air mata yang tampak tertahan.
Lalu tanpa disadari Tanisa pun tampak menjatuhkan air matanya, ia pun tampak tak mampu menahan air matanya itu, Tanisa sadar akan kesalahannya yang saat itu mau ikut dengan Deon karena sudah kehilangan asa yang terus menerus menjadi pemuas nafsu pria hidung belang, padahal seharunya Tanisa tidak mengiyakan ikut dengan Deon. Sehingga ia menyakiti perasaan istri Deon saat ini.
Ya, hidup Tanisa bagaikan terbelenggu, dalam hidup kelam yang tiada habisnya. Seolah semua keputusan yang Tanisa pilih tetap menjadi kesalahan untuk Tanisa.
Tanisa pun tampak tertunduk dan berlutut minta maaf pada wanita dihadapannya kini. Tanisa merasa bersalah karena sudah datang dalam kehidupan rumah tangga orang lain.
"AKU minta maaf, aku sungguh meminta maaf dengan semua ini" ucap Tanisa sambil menangis tersedu.
"Hiks hiks, aku tidak ingin menyakiti hati siapapun, hati nyonya dan juga putra-putri nyonya, aku mohon maaf sebesarnya hiks hiks hiks. Aku benar-benar meminta maaf"
Tanisa pun menangis tersedu sedu dihadapan istri Deon.
"Tanisa kamu tak perlu seperti itu, ini juga bukan kesalahan mu. Jangan menangis dan minta maaf" ucap Deon menarik tubuh Tanisa untuk kembali duduk.
"Saya memaafkan mu dengan sangat terpaksa, tapi tidak untuk luka di hati saya yang begitu dalam"
Jihan pun menarik napas beratnya. "Dan kamu boleh tinggal disini. Saya merestui hubungan kalian menikah, saya terima kamu menjadi istri kedua untuk suami ku. Tapi jangan pernah berharap menjadi nyonya dirumah ini. Untuk pernikahannya lakukan dua bulan lagi" ucap Jihan sambil berdiri dengan aura sombongnya.
"Dan satu lagi, tidak ada kamar untuk dirimu, hanya ada kamar pembantu saja. Jadi kamu mau tidak mau harus tidur disana" ucap Jihan sambil menyilangkan tangan didada.
"Tapi?" Kata Deon
"Masih mending dia aku kasih kamar kan" jawab Jihan ketus.
"Baiklah" ucap Deon akhirnya menerima.
Lalu Jihan pun meninggal kan Tanisa yang tampak masih menjatuhkan air matanya.
__ADS_1