
Lalu setelah Tanisa memiliki kalung yang berharga mahal itu. Tanisa merasa beruntung dengan apa yang dibelikan oleh Deon. Meski Tanisa tidak mencintai secara keselurahan dan utuh.
Namun Tanisa merasa menjadi wanita istimewa. Apalagi dengan kalung pemberian yang ternyata Tanisa juga sangat menyukainya.
"Tanisa?" Panggil Deon.
"Ya pak" jawab Tanisa masih dengan panggilan bapak terhadap pria yang sudah membelinya itu.
"Kamu tahu?" Tanya Deon ..
"Apa?"
"Saya juga punya anak seumuran kamu. Dia sudah usia 20 tahun"
"Terus pak?"
"Saya suka heran. Dia suka bandel. Kuliah sering bolos, kerjaannya bikin darah tinggi orang tuanya saja" ungkapan Deon.
"Sabar pak. Setiap anak itu berbeda. Tidak bisa sama dengan yang lainnya. Punya kelebihan dan kekurangan juga. Tapi sebagai orang tua kita harus tetap sabar dalam mendidik dan menghadapi anak. Tetap harus dikasih tahu yang benar dan salah, tapi secara pelan jangan dengan emosi pak" nasihat dari seorang Tanisa.
"Kenapa saya keras, sengaja saya kerasin dia biar nurut" ucap Deon.
"Ya kalau dua-duanya emosi dan keras kepala, yang ada bukannya beres malah tambah panjang masalah nya. Malah jadi berantem" ucap Tanisa.
"Ya, kamu benar saya akan coba kasih tahu dia pelan-pelan. Kamu ternyata dewasa juga diumur segini" ucap Deon pada Tanisa.
Ya suasan saat itu tampak didalam kamar..mereka berdua saling duduk diatas ranjang. Dan saling menatap satu sama lain.
"Tanisa saya mau tahu kamu berasal dari mana? Apakah kamu punya keluarga" tanya Deon yang tidak tahu menahu soal Tanisa.
"Saya tidak pernah tetap untuk tinggal. Saya berasal dari keluarga yang sangat sangat sederhana"
"Rumah orang tua kamu dimana?" Tanya Deon pada Tanisa.
"Saya dari dulu mengontrak rumah" ucap Tanisa dengan kesedihan.
Deon pun tampak mendengarkan Tanisa.
"Saya hidup dari pindah kesana lalu pindah kesini. Kesana kemari tidak jelas..saya hanya mengikuti saja." ucap Tanisa sambil mengingat masa lalunya.
"Ayahku pergi untuk selamanya saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu keluarga ku tidak punya uang, namun banyak hutang. Semenjak ayah meninggal Ibu ku bekerja sebagai buruh serabutan. Apa pun saja ia kerjakan. Kalau ingat itu batin saya terasa sakit Sampai pada akhirnya ibu ku meninggal karena sakit parah. Kemiskinan memang telah membawa aku pada kesedihan dan kepedihan. Namun kehilangan orang yang paling dicintai yaitu ayah dan ibu itu lebih terasa menyakitkan dan menyedihkan. Aku hidup sendirian.. berjuang dan masih terus berjuang, kalau ingat itu batin saya terasa sedih" ucap Tanisa menjatuhkan air matanya yang mengalir di pipinya. Air matanya tak mampu ia bendung.
Lalu Deon pun memberikan tisu dan mengelus pundak Tanisa. Tanisa tampak menangis tersedu. Ia tak kuasa menahan air matanya bila mengingat semua yang ia alami.
"Karena hal itu lah kamu menjual diri kamu"
"Bukan alasan itu, kemiskinan tidak membuat ku melakukan pekerjaan yang hina. Tapi saat Ayah dan ibu ku meninggal. Saat aku jadi yatun piatu. Akuu diasuh oleh paman Hardin. Saat itulah aku diperjual belikan. Dengan alasan membayar hutang almarhum ayah " Tanisa kembali menangis.
"Kamu yang sabar Tanisa"
__ADS_1
"Saya ingin bahagia pak" ucapnya sambil menangis tersedu.
"Ya, kamu akan meraih nya segera. Kamu tatap mata saya. Kita akan bahagia bersama" Deon pun mengecup kening Tanisa. Deon pun memeluk Tanisa dengan erat. Ya sangat erat.
Tanisa pun tampak menangis tersedu dalam pelukan Deon. Deon tampak mengelus pundak Tanisa.
"Bersabarlah sayang. Kamu akan bahagia saya janji akan bahagiakan kamu" ucap nya.
"Terimakasih pak" kata Tanisa sambil menghapus air matanya.
Seketika Deon pun tersenyum.
Ya aku akan membuat kamu bahagia Tanisa. Sangat bahgia. Tapi kamu juga harus membahagiakan aku dengan tubuh mu Tanisa. Saya tidak akan melepaskan mu. Dunia ini tak ada yang gratis. Karenak aku telah membelimu untuk seumur hisup mu. Batin Deon.
"Tanisa?" Ucap Deon memegang wajah Tanisa dan menatap Tanisa begitu dalam.
Tanisa masih tampak memerah wajahnya. Sehabis menangis.
Lalu Deon pun menatap wajah Tanisa. Dan langsung mencium bibir Tanisa. Deon tidak tahan setiap melihat wanita muda dihadapannya kini. Tanisa seolah candu untuk Deon. Begitu lembut dan hangat. Deon pun tampak berciuman dengan wanita itu.
Tanisa pun tampak menerima ciuman pria itu. Walaupun mungkin Tanisa tidak cinta. Tapi Tanisa berusaha untuk menerima keadaannya itu.
Beberapa menit kemudian setelah ciuman itu..
Deon pun memberikan sebuah hadiah. Ya hadiah itu adalah handphone untuk Tanisa.
"Apa ini pak?" Tanya Tanisa.
"Handphone. Aku sengaja membelikan ini untuk kamu. Agar kita bisa saling berkomunikasi" jawab Deon.
Tampak Deon memberikan sebuah handphone yang mungkin tidak seberapa harganya bagi Deon. Namun sangat berharga untuk Tanisa.
"Tanisa. Kamu sangat terlihat muda dan cantik. Aku beruntung mampu memiliki mu. Aku sangat mencintaimu" ucapnya sambil memegang tangan Tanisa.
Tanisa pun tampak tersenyum.
"Besok saya ingin mengajak mu makan malam. Makan malam diluar romantis"
"Baik pak termakasih"
Deon pun tidur sambil memeluk tubuh Tanisa.
Ya...
Antara cinta atau kebutuhan.
Pasalnya saat ini hanya Deon seroang lah. Yang Tanisa miliki. Sehingga Tanisa merasa lebih dihargai dan aman bersama Deon. Meski dalam hati Tanisa..cinta itu tidak untuk Deon. Namun ia tidak mau memikirkan cinta lagi. Apalagi mengingat cinta bersama Gavino yang telah pergi.
.
__ADS_1
.
.
Keesokan harinya, Deon mengajak Tanisa kesalon dan belanja keperluan dirinya. Deon ingin membuat Tanisa yang sudah cantik luar dalam itu. Semakin cantik, Tanisa terlihat lebih elegan dan kasual. Deon membelikan tas baru dan baju yang bagus. Deon tak mau memiliki wanita yang sederhana. Deon mau, memiliki wanita yang terlihat cantik dan juga mewah.
"Tanisa, aku suka kalau warna rambut mu mungkin dirubah menjadi coklat" ucap Deon.
"Baiklah aku akan mengecat rambut ku pak"
"Aku juga akan temani kamu. Aku juga ingin mewarnai rambutku menjadi hitam. Yang sudah sebagaian memutih ini biar kamu makin cinta padaku" ucap Deon pada Tanisa.
Lalu mereka pun kesalon bersama. Tanisa mewarnai rambut warna coklat. Sedangkan Deon warna hitam.
Setalah selesai Deon pun terlihat tampan dan fresh dengan rambut barunya.
Tanisa sudah jelas semakin cantik dengan warna rambut barunya. Tanisa yang sudah dasar nya itu pun semakin cantik. Dengan warna rambut coklat.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, begitu mesra. Banyak pasang mata yang melihat Tanisa dan Deon yang layaknya Bapak dan anak. Namun terlihat malah seperti pengantin baru.
Lalu Deon pun mengajak makan malam romantis. Deon memesan meja untuk mereka makan bersama.
Deon pun memesan hidangan yang paling mahal. Tanisa pun tampak berkesan dengan makan malam itu.
Namun disela-sela. Deon tampak pergi. Meninggalkan Tanisa. Tanisa tampak duduk sendirian menunggu Deon yang pergi entah kemana.
.
.
.
.
Sementara itu diwaktu yang sama dan ditempat yang sama. Gavino tampak mendatangi sebuah restoran tempat dimana Gavino dan Tanisa bertemu.
Gavino pun duduk memesan makan dan tampak melihat orang yang berlalu lalang.
Tanpa ia sadari dan ia duga ia melihat Tanisa sendang duduk sendiri di meja makan. Gavino pun jelas saja mengucek matanya berkali-kali. Ia seperti mimpi bertemu pujaan hatinya yang telah pergi itu.
Gavino pun langsung berdiri dan menemuinya.
Tapi tiba-tiba seseorang memanggilnya. Gavino yang ingin menemui Tanisa itu pun jelas langsung menoleh. Ternyata Gavino menjatuhkan handphonenya. Dan orang tersebut memanggil Gavino. Saat Gavino kembali menoleh Tanisa sudah tak ada.
Gavino pun tampak mencari namun tepat tidak ada.
"Kemana wanita itu. Kenapa secepat itu dia menghilang" ucap Gavino kesal pada dirinya sendiri. Karena ia tidak melihat Tanisa lagi.
"Apa mungkin wanita tadi bukan Tanisa hanya mirip saja. Ah sial.. Tanisa aku merindukan mu. Sangat merindukan mu, sayang!!!"
__ADS_1