Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Saya Diana


__ADS_3

Sebuah kecelakaan menimpa Hilman saat itu, Lusi tak pernah menyangka hal itu akan terjadi kepada calon suaminya.


Ya satu sisi memang..


Lusi tidak mencintai Hilman secara utuh, tapi Lusi juga shock mendapati sebuah kabar yang mengejutkan ini.


Lalu dengan cepat Lusi pun menyusul Hilman ke rumah sakit, Lusi naik taksi menyusul Hilman dan ingin segera tahu keadaan Hilman saat itu juga.


Lusi pun menyusuri jalan dengan perasaan dag Dig dug jujur sekalipun Lusi tak mencintai pria itu, tapi Lusi mengkhawatirkan keadaannya.


Bagaimana pun Lusi menyimpan rasa khawatir yang teramat dalam.


Sampai di rumah sakit Hilman mengalami pendarahan dan ada yang patah dibagian tubuhnya dan masih belum sadarkan diri. Kepalanya mengalami benturan dan masih perlu observasi oleh dokter.


Lusi tampak cemas menunggu dan duduk dengan keadaan perasaan yang tak karuan. Lusi merasa tidak ingin menimpa hal buruk terjadi pada Hilman. Tak mau ..


Sampai Seorang dokter wanita pun tampak hadir dan dia bernama dokter Ilham. Dokter Ilham adalah spesialis ortopedi yang menerangkan kondisi tulangnya retak ada yang retak dan perlu perawatan. Dan untuk pendarahan beruntung stok darah cukup dan hanya saja memang kondisinya belum sadarkan diri.


Lusi pun tampak mengusap wajahnya dengan perasaan sedih, merasa kasihan dan tak tega mendengar apa yang disampaikan oleh dokter. Lusi melihat kearah kaca rumah sakit dalam diam Lusi hanya bisa berdoa semoga Pak Hilman segara pulih dari sakitnya.


Lalu Lusi pun menghampiri Hilman yang sedang terbaring lemah dalam keadaan belum sadar.


Hilman tampak masih memejamkan mata dengan perban dikepala dan alat medis yang terpasang didada.


Lusi pun tampak menghela napasnya tak kuasa melihat semuanya.


Sementara itu dalam keadaan yang tak sadarkan itu, Hilman tampak menyebut sebuah nama yang Lusi baru dengar namanya yaitu Diana...


Berulang kali Hilman menyebut sebuah nama yang Lusi baru kenal yaitu Diana..


Diana...


Diana...


Diana..


Panggil Hilman berulang kali seketika Lusi pun menyadari jika Hilman memang mencintai seorang wanita yang ia cinta yakni Diana. Bukan nama Lusi yang ia sebut sampai dokter datang melihat kondisi Hilman yang masih menyebut nama wanita itu.


"Maaf mba ini anaknya atau siapa?" Tanya dokter itu.


"Saya calon istri dari pak Hilman"


"Berati apakah nama mba Diana?"


"Bukan"


"Lalu Diana siapa?"


"Saya tidak tahu dok" ucap Lusi.


"Baiklah saya permisi dulu" ucapnya yang sedang membawa sebuah dokumen ditangan tenang kondisi Hilman.


Dokter pun pergi Lusi pun menatap Hilman yang masih terbaring itu. Lusi pun merenung terdiam ada rasa penasaran sebenarnya Diana siapa?


Tak lama kemudian..


Hilman pun membuka matanya perlahan terlihat Lusi yang sudah didepan mata.

__ADS_1


"Alhamdulillah bapak sudah sadar" ucap lusi yang tersenyum melihat Hilman.


"Lusi?"


"Iya pak" kata Lusi.


"Saya kenapa, kenapa saya disini" tanya Hilman bingung.


"Sssttt... Jangan banyak bicara pak kondisi bapak sedang tak baik-baik saja"


"Lusi? Saya kenapa?"


"Bapak tadi kecelakaan" jawab Lusi.


Hilman pun sejenak terdiam dan menatap Lusi ketika itu.


"Terimakasih" ucap Hilman tiba-tiba.


"Untuk apa?"


"Kamu sangat peduli padaku"


"Sama sama pak"jawab Lusi.


"Lusi, kamu pulang saja kasihan anak mu. Mereka membutuhkan mu" ucap Hilman.


"Lalu bapak bagaimana?" Ucap Lusi yang mengkhawatirkan Hilman.


"Kamu tenang saja. Nanti saya akan menghubungi anak perempuan saya"


"Pak jangan seperti itu...."


"Baiklah pak" ucap Lusi yang menerima sambil menghela napasnya.


"Kamu terlalu baik pada saya Lusi, kamu wanita yang sangat baik. Saya banyak salah padamu" ucap Hilman.


Lusi pun seketika terdiam dan tersenyum.


"Baiklah saya pulang pak, bapak jaga diri bapak ya" kata Lusi pergi.


Lalu Lusi pun pulang Lusi memang merasa harus pulang karena Yasmin sudah menunggu di rumah. Lusi bukan tak peduli pada Hilman hanya saja Lusi memang harus pulang dulu untuk Yasmin Lusi pun juga lupa menyedot asinya.


Sesampainya di rumah Lusi pun langsung menggendong Yasmin yang benar saja sedang menangis. Lusi pun dengan erat menggendong anak perempuannya itu. Lusi membuka pakaiannya bagian dada lalu memberikan asi kepada Yasmin. Yasmin menerima dengan lahap asi yang diberikan oleh Lusi.


Lusi pun merasa bersalah meninggalkan Yasmin saat itu.


"Maaf ya Bu, tadi Lusi belum sempat sedot asi karena tadi buru-buru banget" kata Lusi.


"Bagaimana kondisi Hilman" tanya ibu yang sudah tahu kalau Hilman kecelakaan.


"Sudah sadar tapi masih belum baik bu" kata Lusi. " Mungkin malam ini Lusi akan tetap menengok dia paling tidak untuk menengok kondisinya saja"


"Iya, kasihan dia sudah tua"


"Kalau yang itu tidak usah diperjelas bu" kata Lusi


"Apakah kamu mencintainya" tanya Ibu pada Lusi yang tiba-tiba menanyakan tentang cinta.

__ADS_1


"Entah lah Bu, Lusi pun bingung. Jika bilang tidak cinta Lusi jahat, kalau Lusi bilang cinta tapi Lusi seperti membohongi diri Lusi sendiri. Lusi sudah serahkan semuanya kepada Allah. Lusi tidak memaksa semuanya, jika memang ini takdir ya.. Lusi harus terima. Lusi berjodoh dengan pak Hilman InsyaAllah Lusi terima semua. Lusi tidak memilih pria muda dan kaya raya, Lusi tidak memilih yang macam-macam. Yang penting dalam hidup adalah Allah bisa memudahkan jalan Lusi dan ibu pun meridhoi semua yang Lusi jalani" kata lusi yang seketika menjatuhkan air mata. Mengingat dirinya yang tidak mencintai Hilman namun Lusi terima jika memang Hilman jodohnya.


Ibu pun memeluk Lusi saat Lusi menjatuhkan air mata.


"Hidup Lusi hanya bisa pasrah pada yang maha kuasa, Lusi terima apapun itu. Lusi terima Bu" ucap Lusi sekali lagi.


Ibu pun menghapus air mata Lusi dan mencium kening sang putri yang memang sedang mengalami kegundahan didalam hati. Namun tetap berusaha menerima dan tegar dengan setiap apa yang dijalani.


Hingga malam hari pukul jam 19.00 malam, Lusi pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit melihat kondisi Hilman yang saat ini dalam kondisi yang belum pulih sampai disana Lusi pun menunggu didepan karena dari kaca Lusi melihat seorang wanita terlihat umur 40an sedang ada didalam. Lusi tak berani masuk dan hanya duduk di kursi depan ruang vip dirumah sakit.


Lusi tak berani masuk sekalipun Lusi sadar Lusi berhak masuk jika mengingat Lusi yang saat ini adalah calon istri dari Hilman tapi Lusi menjaga privasi dari Hilman.


Sampai pada akhirnya wanita itu tampak keluar dan melihat ke arah Lusi yang duduk termenung terdiam dan tak banyak bicara.


Wanita yang Lusi baru lihat itu duduk disamping Lusi.


"Kamu siapa?" Tanya wanita itu.


"Saya Lusi?"


"Kamu dengan Hilman ada hubungan apa?" Tanya wanita itu.


"Saya tunangannya" jawab Lusi pada wanita cantik diumur yang sudah 40an dengan tampilan sederhan tapi begitu keibuan.


Seketika wanita itu pun terdiam dan melihat ke arah Lusi lalu tersenyum.


"Kamu masih muda, sangat cantik dan begitu mempesona. Pantas saja Hilman tertarik pada mu" kata Diana membelai rambut Lusi lembut.


"Tidak begitu, tidak. Dia suka sama saya karena dia bilang saya ini mirip mantan istrinya, ya meski sebenarnya saya sendiri tidak tahu mantan istrinya seperti apa?" Jawab Lusi.


"Lalu ibu siapa?" Tanya Lusi


"Saya adalah Diana"


"Diana ???" Ucap Lusi yang membulat mata mendengar nama Diana.


"Ada apa? ada yang salah" tanya Diana heran.


"Gak, gak ada yang salah hanya saja. Aku kaget!!?"


"Kenapa?'


"Ibu harus tahu bahwa?'"


"Bahwa apa?"


"Saat pak Hilman tak sadarkan diri pak Hilman terus saja memanggil nama Ibu Diana" ungkap Lusi.


"Begitukah?" Ucap Diana yang tiba-tiba lalu menjatuhkan air matanya.


"Kenapa ibu menangis?" Tanya Lusi.


"Saya jadi sedih"


"Maaf sebelumnya memang ibu ini siapa?"


"Saya adalah mantan istri dari Hilman"

__ADS_1


"Hahhhh? Apa?" Ucap Lusi yang seketika itu kaget. Ia tak menyangka jika mantan istri dari Hilman kini berada dihadapannya.


__ADS_2