
Setelah itu Lusi pun tampak merapihkan tempat tidur setelah permainan panasnya selesai. Rian tampak meminta untuk sekali lagi. Namun sayang Fabio tampak menangis jadi permainannya hanya satu ronde saja.
Keesokan harinya, Lusi pun tampak sudah mandi dan rapi. Mengenakan blazer dan celana panjang berwarna putih.
Lusi tampak rapi, karena ia ingin ke kantor pak David. Untuk memberikan cek senilai 500 juta itu. Yang akan digunakan untuk pernikahan Juna dan Marisa. Meski secara garis besar mungkin uang itu masih kurang jika ingin diadakan acara yang mewah. Namun Lusi akan tetap mengusahakan jika memang uan segitu kurang.
Lusi pun tampak membawa mobil Rian yang sport berwarna merah itu. Meski ada mobil lain, tapi sayang sekali jika mobil Rian yang satu ini jarang dipakai.
Lusi merasa sedikit lega, dengan keputusan David yang menyuruh Gery keluar negri yang ditugaskan oleh David sendiri. Paling tidak kehidupan Lusi merasa tenang semenjak biang kerok itu hilang untuk beberapa Minggu kedepan. Dan nikahan Gery dan Juna bisa berlangsung lancar.
Sesampainya dikantor milik David, semua mata tampak menatap mobil mentereng yang Lusi bawa. Biasalah kalau hasil pinjam memang selalu menarik perhatian. Sekalipun itu punya suami sendiri, ya tetap status mobil itu adalah pinjaman.
Lalu Lusi pun masuk ke kantor David melalui jalur cepat ke ruangan David. Tanpa harus dihadang lagi oleh sekertaris nya. Karena sekertaris David tahu Lusi itu siapa.
Lusi pun berdiri dihadapan David dengan gaya bos besar pada umumnya. Karena Lusi merasa dirinya punya banyak uang. Meski itu uang suaminya. (Sombong dikit lah ya gak apa-apa)
"Kamu lagi rupanya, gak bosen kamu ke kantor saya. Apa kangen sama saya" ucap David tersenyum melihat Lusi. Namun David tampak mengerinyitkan keningnya, kenapa Lusi tidak pakai baju seksi seperti saat pertama bertemu.
"Baju seksi yang dada kamu nyaris luber itu gak kamu pakai lagi" ucap David masih tampak bicara tanpa filter.
Lusi pun tampak tersenyum sinis."saya tidak ingin membahas itu pak. Saya ingin memberikan ini" ucap Lusi. Memberikan sebuah amplop dengan berisikan cek.
Lalu David pun membuka, saat ia membuka ternyata cek senilai 500 juta.
__ADS_1
"Kecil sekali orang kaya seperti anda memberikan cek segini" ungkap David. "Kamu saudara nya Juna kan"
"Saya bukan siapa-siapa dia pak, tapi saya serius membantu Juna untuk menuju pernikahannya dengan Marisa. Sekalipun bapak meminta uang untuk pernikahan yang mewah. saya akan sanggupi" ucap Lusi menerangkan.
"Ini masih kurang asal kamu tahu" ucap David lantang.
"Saya harap bapak sedang tidak memeras saya dalam hal ini. Entah ucapan bapak serius atau tidak serius dengan uang segitu tapi yang pasti. Saya akan menambah nya lagi dua hari sebelum hari pernikahan" ucap Lusi tampak berusaha santai dengan si bapak dihadapannya kini.
"Kamu yakin?"
"Yakin, sangatlah yakin"
"Baiklah"
Lusi merasa jika David tampak ingin mempermainkan dirinya. Lusi merasa jika David ada niat ingin memerasnya. Namun Lusi berharap itu tak pernah terjadi. Dan hanya perasaannya saja.
Lalu saat diparkiran Lusi pun tampak tanpa sadar menabrak seorang pria yang tak ia kenal. Pria itu terlihat tampan. Dan memandang Lusi tajam.
"Sory" ucap pria itu.
"Ya gak apa-apa" jawab Lusi.
"Kamu gak apa-apa kan"ucap Sang pria itu kepada Lusi.
__ADS_1
"Ya ngga apa-apa" ucap Lusi.
Lalu Lusi tampak menuju mobilnya. Dan sang pria itu tampak kaget saat Lusi yang ingin membuka pintu mobilnya. Dia yakin bila Lusi bukanlah karyawan biasa.
"Oh iya boleh saya tahu kamu siapa" ucap pria itu tampak menghampiri Lusi yang belum masuk kemobil.
"Eh maksudnya aku boleh tahu nama kamu", ucap sang pria itu.
Lusi pun hanya terdiam.
Sang pria itu pun kaget. Karena ia mengira jika Lusi adalah Marisa.
"Senang berkenalan dengan kamu. Saya Gavino" ucap sang pria yang tampak muda dan tampan itu.
"Siapa?"
"Gavino nama saya Gavino" terangnya lagi.
"Hahah siapa nanya" ungkap Lusi tertawa dan langsung pergi sambil sedikit tertawa. Dan melesatkan mobilnya pergi.
"Hey nomer telpon kamu berapa? dan nama kamu siapa, kamu Marisa kan"
Lusi pun hanya pergi begitu saja.
__ADS_1
Gavino pun mengira jika wanita yang bertemu dengannya itu adalah anak dari pemilik perusahaan yang ia datangi. karena gayanya begitu sombong dan sok.