Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Bunga


__ADS_3

Pagi, itu... Pagi itu terlihat Rian yang menyempatkan diri lagi membawa makanan untuk Marisa. Ah kali ini Marisa bukan teman biasa. Karena dirinya kini punya predikat sebagai calon istri. Ya lebih tepatnya calon istri kedua.


Bukan karena cinta, juga bukan karena perjodohan. Namun karena takdirlah, sehingga Rian siap mempertanggungjawabkan semua. Yang telah ia perbuat atas kecelakaan itu. Dan Rian harus mempertanggungjawabkan semua bukan dengan uang. Namun atas nama bahagia. Kebahagian Marisa yang entah lah, sampai mana dan dititik apa.


Rian pun menghampiri Marisa yang masih dirawat dirumah sakit. Membawakan sekotak pizza sesuai permintaannya kala itu.


"Terima kasih" ucap Marisa ketika Rian datang membawakan sekotak pizaa untuknya


"Oke sama-sama"


"Lu temenin gue makan ya"


"Gue udah sarapan"


"Tapi gue maunya ditemenin"


"Oke. Gue temenin" ucap Rian sambil mengambil pizza itu dan sambil memandang Marisa.


"Hidup tak seluas daun kelor Mar. Lu masih punya masa depan buat meraih kebahagiaan. Jadi gue rasa lu masih bisa lihat masa depan" Ucap Rian lagi.


"Ya masa depan gue adalah elu. Yang gue bawa dari masa lalu gue"


"Apakah lu yakin bakal bahagia kalau nikah sama gue" ucap Rian.


"Gue lebih GAK BAHAGIA, kalau gak nikah sama lu. GUE CACAT RIAN. GUE CACAT"


Rian pun terdiam. Ia seolah bingung atas perasaanya kali ini pada Marisa. Campur aduk. Satu sisi ia tidak ingin menyakiti perasaan istrinya karena harus menikah lagi. Namun satu sisi ia tampak tak tega pada Marisa dalam keadaan seperti ini.


"Lu udh janji kan buat nikahin gue, terus kapan janji lu itu ditepati?" Ucap Marisa lagi dengan nada sinis.

__ADS_1


Rian pun tampak terdiam. Sambil memijat keningnya.


"Mar, gue gak mau lu jadi pelakor dirumah tangga gue" ucap Rian.


"Apa lu bilang, gue pelakor!! Sampai hati lu bilang. Gue cuma minta tanggung jawab dari lu Rian. itu aja, Gue gak rebut siapapun disini. Gue udah kenal duluan dibanding istri lu. Sekarang siapa yang lu sebut perebut"


Rian pun hanya mengangguk terpaksa mengerti. Dalam hati Rian.


"Baiklah. Tapi tunggu nyokap gue dulu ya Mar. Dia masih sebulan lagi diluar negri" ucap Rian lagi.


"Sebulan"


"Iya sebulan, kenapa? Emang lu mau apa, nikahan lu cuma kaya iklan. Numpang lewat, ini pernikahan pertama buat lu kan Mar. Paling tidak lu harus mengurus persiapan semuanya"


Marisa pun tampak terdiam sambil berfikir untuk memahami semuanya. Apalagi keadaannya saat ini belum pulih seratus persen. Dan sepertinya tidak mungkin juga ia menikah dalam waktu dekat. Ya paling tidak harus menunggu sebulan lagi, seperti apa yang dikatakan Rian. Dan itu ada benarnya juga.


Lalu setelah itu Rian pulang. Meskipun Rian tahu, jika Marisa meminta untuk dinikahi. Tapi Rian merasa tak siap bila menceritakan semua. Paling tidak untuk saat ini Rian harus menutupinya dulu di depan Lusi. Karena Rian takut bila Lusi tidak terima dan meminta cerai.


Sore menjelang malam, Rian pun datang lagi membawakan makanan. Rian tidak paham apa yang paling disukai Marisa. Paling tidak pas lah di lidah orang Indonesia.


Rian membawakan soto ayam dan salad buah sebagai makanan penutupnya. Ditambah lagi es kopi dan cemilan. Untuk hidangan dikala waktu senggang. Karena Rian tahu di rumah sakit pasti terasa bosan.


Rian pun sampai dan melihat Marisa yang tampak tertidur kala itu. Dalam hati Rian sebenarnya ragu untuk membangunkan. Namun harus karena takut Marisa belum makan karena menunggu dirinya. Dipandang wajah Marisa dari dekat. Dan ternyata?


Marisa itu lumayan cantik juga, batin Rian.


Seketika Rian pun tampak tersenyum dan tak banyak bicara. Di tepuk pipinya dengan lembut untuk membangunkan.


Lalu tak lama Marisa pun membuka matanya.

__ADS_1


"Rian" ucap Marisa.


"Iya, gue.. Gue udah bawakan lu makanan"


Marisa pun bangun dan melihat paper bag di atas nakas. (maaf ya kita pakai paper bag, karena kantong plastik udah gak boleh)


"Mana lagi?" Tanya Marisa


"Apa?"


"Bunga.."


"Buat apa gue bawa bunga"


"Buat gue"


"Gue lagi gak datang ke kuburan Mar, buat apa gue bawa bunga"


"Lu tahu kan orang pacaran itu selalu bawa bunga buat pacarnya. Biar kaya orang-orang"


"Emang harus ya"


"Harus, dan ingat lu itu lebih dari pacar gue. Bahkan calon suami gue kan"


"Oke besok gue bawain lu bunga. Lu mau Bunga apa? bunga Kamboja, Bunga desa, bunga tidur. Semua bunga yang lu mau, pasti gue bawain"


"Gak usah muluk-muluk. Lu tanya istri lu. Kira-kira dia suka bunga apa? Dan bunga itulah yang harus lu bawain buat gue"


"Hadeh. Oke oke"

__ADS_1


__ADS_2