
Dalam cinta itu sekali, dalam hidup pun sekali. Kehilangan itu bak sebuah rasa tanpa ada obatnya kehilangan suami yang paling terasa dicinta itu seperti kegetiran setiap harinya.
Rian mengapa engkau begitu tega meninggalkan dua anak mu, bahkan disaat diriku tengah mengandung dirimu tidak tahu itu kamu pergi meninggalkan ku. Ini anak mu, dua anak mu. Yang satu masih dalam kandungan dan yang satu masih satu tahun dua bulan dia masih sangat kecil bahkan dia baru bisa berjalan. Kenapa kau begitu tega meninggalkan ku sendiri, kepada siapa aku mencurhkan semua isi hati ku, kepada siapa aku menggenggam langkah panjang ku yang ternyata sulit untuk ku jalani. Kedukaan begitu terasa pahit tanpa dirimu, aku harus berjuang sendiri. Kenapa kamu tega meninggalkan aku sendiri, kenapa kamu tega.. batin Lusi meronta sakit mana kali hati dan perasaan ikut sakit merasakan pedih nya arti sebuah kehilangan. Lusi tampak memandang foto yang ia taruh dinakas kamar miliknya itu. Lisa pun tak sengaja melihat kakaknya yang menangis karena kehilangan suaminya.
"Kakak nangis lagi, tuh kan bener Kakak menangis" ucap Lisa yang tiba-tiba datang itu.
"Kakak gak nangis cuma kakak sedih" ucap Lusi menyeka air matanya.
"Sedih sama nangis apa bedanya kak"
"Gak tahu kakak belum siap aja ditinggal sendiri, apalagi setiap kali kakak melihat Fabio. Perasaan kakak kerap kali melihatnya terasa hancur, jika kepergian jauh dari suami karena kerja kakak yakin suatu hari nanti ia akan pulang, tapi kalau kepergian karena meninggal hanya mimpi yang mampu mempertemukan kita. Bahkan kakak belum puas untuk memeluk suami kakak saat itu, perih batin kakak Lisa rasanya ingin sekali memeluknya saat ini" ucap Lusi teramat sedih.
"Ya kakak bisa anggap ayah sebagai papanya, wlaupun sebenernya ayah cuma kakek nya tapi paling tidak ia tidak kehilangan sosok papa dalam hidupnya" ucap Lisa.
"Iya"
ucapan Lisa memang ada benarnya, masih ada Ayah kandung Lusi yang bisa menjadi sosok untuk Fabio bila ia merindukan papanya.
"Terus kehamilan kakak, kandungan kakak. Dia lebih parah lagi, belum pernah sekalipun melihat sang ayah dalam hidupnya sudah keburu ditinggal pergi"
Lusi pun langsung menelan salivanya dengan sangat dalam.
"Ini pun menjadi keperihan hati kakak saat ini. Jadi ibu tunggal dan memiliki dua anak jujur Kakak gak enak ngeberatin ayah dan ibu saat ini. Seperti nya Kakak akan cari kerja"
"Kak, kakak kan lagi hamil. Masa iya kakak kerja. Emang ada yang mau terima wanita yang sedang hamil seperti ini"
"Kakak gak tahu tapi kakak kan belum coba, siapa tahu kan bisa namanya rejeki. Paling tidak ini cara kakak buat anak-anak kakak"
"Emang harta Rian kemana kak?"
Lusi pun tampak menggelengkan.
"Gak ada, kakak gak tahu. Sebelum Rian meninggal emang kondisi keuangan keluarga sedang tidak baik-baik saja. Bahkan ada hutang yang memang kakak sendiri gak tahu nominal nya berapa tapi itu pasti suatu saat akan ditagih" ucap Lusi tampak sedih.
Seketika Lisa pun langsung mengelus punggung sang kakak dengan lembut. Saat itu Lusi hanya merasakan kedukaan dan kepedihan dalam hatinya yang sulit untuk dijelaskan dengan kata. Mungkin hanya air mata yang dapat mewakili semua perasan Lusi saat itu.
Dalam keheningan malam itu, Lisa pun menemani kakaknya tidur dikamar kakaknya. Fabio tampak sudah terlelap, Lisa sengaja tidur bersama dengan kakaknya dikamar dengan harapan bisa menghibur dan meredakan kedukaan yang saat ini tengah dirasakan oleh sang kakak.
Dalam tidur Lisa pun memeluk sang kakak yang saat ini memang sedang hamil, Lisa pun tahu perasaan sang kakak yang saat ini jauh dari kata baik-baik saja. Lisa pun tahu setiap malam kakaknya pasti akan menangis setiap kali mengingat semua yang sedih dalam hatinya.
Siapa yang tidak sedih dengan apa yang Lusi alami saat ini. Ditinggal suami meninggal dalam kondisi hamil dan anak yang masih kecil. Bila hidup bersama suami yang lumpuh membuat hati Lusi hancur ternyata kehilangan suami pun lebih hancur.
Karena semua ujian yang pernah dilalui nyatanya sang suami lah yang mampu membuat Lusi berdiri dan mampu menghadapi setiap ujian yang berat itu.
Kini semua tinggal kenangan, semua tinggal kedukaan. Jika kehamilan saat ini menjadi suka, justru menjadi duka dan keperihan yang Lusi saat ini alami. Rasanya Lusi ingin berlari sekuat tenaga melupakan emosinya saat ini.
Sebelum tidur Lisa pun tampak memberikan uang pada sang kakak.
"Ini uang buat kakak"
"Buat apa? Kamu kan gak kerja"
"Siapa bilang aku kerja lagi, aku juga ada usaha ikut join kecil-kecilan sama teman. Ini sedikit lah bisa lah buat beli susu sama ongkos besok cari kerja" ucap Lisa. "Aku besok harus kembali lagi kak, ke Bali kak"
"Terimakasih banyak Lisa"
Lalu Lisa pun memeluk sang kakak. Tanpa terasa Lusi pun hanya bisa menangis dalam pelukan sang adik saat itu.
"Menangis lah, luapkan semua ungkapan kesedihan kakak saat ini"
Lusi pun tampak menangis dengan tubuh yang terlihat bergetar saat itu. Jika putus cinta itu terasa menyakitkan tapi percayalah ditinggal saat masih sayang-sayangnya itu terasa sangat sakit. Apalagi yang disayang itu pergi untuk selamanya.
Keesokan harinya Lusi pun pagi-pagi sudah mandi mempersiapkan dirinya untuk melamar pekerjaan, kemana pun itu. Yang pasti pekerjaan yang halal yang mampu menghidupi dirinya dan putranya.
Lusi pun tampak mengambil pakaian yang bagus untuk melamar pekerjaan. Dirinya mengambil baju blus berwarna abu-abu dan celana hitam panjang untuk orang hamil.
Lisa pun tampak melihat sang kakak yang terlihat rapi.
"Kak, bajunya sudah bagus tapi make up nya kurang tebal lagi. Agak tebal dikit"
"Untuk apa?"
"Kok untuk apa, atasan itu suka sama make up kita yang all out. Ya paling tidak untuk kesan pertama"
"Yang biasa aja"
"Ya kalau ada yang luar biasa buat apa yang biasa" kata Lisa langsung mengambil alat make up dan menandani Lusi. Lusi pun tampak pasrah saat tangan ke lentik sang adik memakai kan make up pada kakanya.
"Tara... cakeup kan kalau begini" ucap Lisa memberikan cermin untuk sang kakak melihatnya.
"Anggap ini hadiah karena semalem Kakak makeup in aku" kata Lisa.
"Kenapa bukan kamu aja yang make up sendiri tadi malam. Ini lumayan wow" ucap Lusi yang melihat wajahnya. Memang Lisa merasa Lusi itu cantik terasa sayang jika tidak diperlihatkan.
"Ya bagus, sukses ya kak cari kerja nya" ucap Lisa mencium pipi sang kakak untuk menyemangati.
__ADS_1
Lalu pagi hari tepat jam 9.30 Lusi pun berangkat ke tempat yang ia dapatkan info dari internet. Ya berbekal info yang ia cari di internet Lusi mendapatkan info lowongan kerja sebagai staf admin di perusahaan yang cukup besar di kota Bandung. Lusi pun berusaha untuk tetap percaya diri melamar kerja, meski ia tahu saat ini dirinya tengah hamil. Ia pun tak peduli jika nantinya akan ada omongan yang tidak ia sukai tapi Lusi harus bisa. Ya harus bisa, demi anak yang ia kandung dan Fabio yang saat ini dirumah.
Sesampainya disana memang ada lowongan kerja, tapi ada banyak pasang mata dari pelamar lain yang tampak heran melihat Lusi. Ada dua kesan yang terlihat pada Lusi saat itu, ya apalagi kalau bukan kesan cantik. Lusi yang memang memiliki kecantikan tiada tara itu pun berhasil membuat pasang mata melihat dirinya terpana. Namun ada satu kesan lagi, yaitu buruk. Apalagi kalau bukan kehamilan yang saat ini Lusi tengah jalani. Mungkin Lusi seperti orang yang tebal muka, karena berani melamar kerja dengan keadaan hamil 6 bulan. Logikanya saja buat apa melamar kerja di kehamilan 6 bulan, kalau nanti usia 9 bulan pun sudah ambil cuti hamil. Tapi bukan Lusi namanya kalau ia tidak berjuang untuk hidupnya. Tidak bekerja dan uncang-uncang kaki dirumah itu bukan lah sifat Lusi. Lusi harus berjuang.
Saat ini pelamar kerja berjumlah sekitar 15 orang dan menunggu disebuah kursi yang sudah disediakan. Lusi pun siap sedia menunggu giliran untuk dirinya di panggil dalam wawancara kerja saat itu.
Lusi yang seharusnya mengikuti apa yang menjadi prosedur yaitu wawancara pada senior manajer tiba-tiba dipanggil oleh senior manajer untuk diwawancara langsung oleh seroang direktur perusahaan.
Lusi pun tampak kaget, pasalnya dia wawancara kerja untuk bagian staf. Untuk apa wawancara dengan seorang direktur.
"Mba dipanggil sama pak Gunawan, dia pemilik perusahaan"
"Kenapa harus saya" ucap Lusi heran.
"Saya kurang tahu, coba mba datangi dilantai empat. Nanti beliau ada diruangannya" ucap sekurity pada Lusi.
"Harus kah?"
"Ya tentu, karena jarang-jarang beliau ada dan siapa tahu langsung jalur cepat"
"Baiklah saya akan temui" kata Lusi.
"Mba jangan lupa naik lift ya, khawatir mba keguguran kalau naik tangga" ucap sekurity itu.
"Ih si akang bisa aja, gak mungkin saya naik tangga kalau ada lift" sahut Lusi.
Lusi pun langsung mengikuti arahan apa yang diperintahkan untuk menemui pak Gunawan diruangannya. Lusi pun perasaan deg-degan datang keruangan pak Gunawan. Berharap bahwa semuanya akan sesuai rencana dan ia diterima oleh perusahaan tersebut.
Lusi pun melihat pria yang berusia 50 tahun duduk di kursi sambil menunggu Lusi yang akan mendatangi itu. Dengan tatapan tajam sembari tersenyum melihat Lusi datang.
"Permisi pak" ucap Lusi.
"Ya silahkan duduk" ucap Gunawan saat itu.
Lusi pun duduk diatas kursi yang telah disediakan dengan tatapan tajam Lusi pun merasa deg-degan bertemu dengan pria dihadapannya saat itu.
"Kamu tahu kenapa saya mengundang kamu kesini" ucap Gunawan.
"Tidak pak" jawab wanita berusia 28 tahun itu.
"Saya dari kejauhan melihat mu, dan saya tertarik. Jadi saya meminta CV mu dan meminta dirimu untuk menghadap dengan ku langsung. Saya butuh sekertaris pribadi"
"Sebelum bapak memilih saya, sebelumnya saya beritahu dulu bahwa saat ini saya sedang hamil" ucap Lusi terasa gugup.
Gunawan pun mengerutkan keningnya sambil memandang Lusi. Pria beruban itu tampak sedang berfikir sejenak mungkin seperti mempertimbangkan apa yang Lusi katakan bahwa dirinya tengah hamil. Sambil memandang Lusi pria beruban itu tampak memainkan pulpennya sambil berdiri.
"I-iya pak" jawab Lusi.
"Boleh kamu berdiri" pinta Gunawan.
"Berdiri?" Tanya Lusi heran dengan perintah Gunawan padanya.
"Iya, coba"
"Baiklah" ucap Lusi berdiri.
Gunawan pun tampak memandang Lusi dari atas hingga bawah. Dari ujung rambut dan kakinya. Gunawan memeperhatikan Lusi saat itu.
"Coba kamu berputar" pintanya lagi.
"Berputar?" Ucap Lusi.
"Lakukan saja" kata nya lagi.
Lusi pun tampak berputar mengikuti arahan dan perintah dari direktur perusahaan itu. Selama Lusi berputar mata Gunawan pun membulat dan memperhatikan lekuk dari tubuh Lusi yang terlihat aduhai meskipun ia sedang hamiil.
"Coba menghadap ke belakang" pinta Gunawan.
Lusi pun mengikuti lagi apa yang diperintahkan Gunawan.
Tampak jelas yang Gunawan melihat bagian bokong Lusi yang membuat dirinya menegang.
"Sudah cukup, duduklah" ucap Gunawan mempersilahkan untuk Lusi kembali duduk.
"Setelah saya melihat kamu, saya jadi gerah" ucap Gunawan mengambil sapu tangan dan mengelap ke jidatnya dan pipinya.
"Kamu tidak usah menjelaskan apapun tentang diri kamu saya sudah melihat semuanya, termasuk kemampuan kamu, prestasi kamu semuanya saya sudah tahu dari surat lamaran yang kamu bawa ini. Jadi pikir saya, saya tidak perlu meragukan kamu dalam hal pekerjaan. Saya yakin kamu bisa mengikuti setiap apa yang menjadi perintah dalam pekerjaan. Dan satu lagi yang aku suka dari kamu, yaitu kamu cantik" ucap Gunawan yang tampak panas dingin melihat Lusi.
"Cantik?" Lusi tampak heran.
"Iya kenapa? Salah? Kalau saya bilang kamu cantik. Saya rasa semua wanita suka kalau dibilang cantik, apa kamu tidak suka kalau saya menyebut kamu cantik"
"Oh bukan begitu, hanya saja baru kali ini saya disebut cantik saat pertama kalinya saya diwawancara langsung sama orang nomer satu diperusahaan ini" ucap Lusi menerangkan.
"Baiklah ini gaji pertama mu" ucap Gunawan memberikan sebuah amplop berwarna coklat.
__ADS_1
Lusi pun kaget bukan kepalang belum bekerja namun ia mendapat kan gaji pertamanya.
"Ini pasti bercanda tidak mungkin saya belum bekerja tapi sudah mendapatkan gaji pak" ucap Lusi tampak tersenyum tak enak hati.
"Semua tidak ada yang tidak mungkin kamu cek berapa totalnya" ucap Gunawan lagi.
Lusi pun melihat dan totalnya lima juta rupiah itu bukan total yang sedikit buat orang yang gajinya dibayar dimuka.
"Selain itu"
"Selain apa pak?"
"Coba kamu lihat didalam amplop itu ada surat kecil yang bisa kamu baca"
"Lusi pun langsung mengambil surat kecil dan membacanya"
*Saya tunggu di kamar hotel 109, malam ini didepan kantor kita, jam 19.00 malam jangan terlambat*
Seketika hati Lusi pun kesal membara dengan apa yang tertulis secarik kertas ditangannya.
"Apa-apaan ini" ucap Lusi kesal.
"Kenapa kaget, kamu bilang kamu janda. Kamu butuh pekerjaan kan, kamu dapat ruang khusus dari saya"
"Saya datang kesini murni untuk dapat pekerjaan bukan seperti ini!!!" Ucap Lusi tampak tak terima.
"Lalu kehamilan kamu apa? bukan nya bukti, kalau kamu menyediakan jasa layanan lebih. Kamu janda kan untuk apa kamu marah"
"Tapi saya wanita baik-baik"
"Kehamilan kamu membuat saya mempertanyakan kebaikan kamu. Tidak mungkin kamu hamil kalau kamu Wanita baik-baik. Kamu butuh uang juga butuh belaian kan"
"Kalau bukan bapak pemilik perusahaan sudah saya pastikan tamparan saya mendarat tapi saya masih menghargai bapak. Sumpah demi apapun, saya tidak mau bekerja ditempat bapak"
"Baiklah kalau begitu saya tidak jadi mengajak mu kencan malam ini, kamu bisa melamar dibagian lain"
"Cukup pak penawaran bapak sudah tidak menarik lagi untuk saya" ucap Lusi berdiri dan beranjak pergi.
"Kamu tidak boleh pergi, kamu baru saja diterima diperusahaan ini!!!!" bentak si tua Bangka.
"Kalau begitu saya resign dari tempat ini. Saya permisi!!!" Ucap Lusi kesal membulat kan matanya.
Lusi pun lansung pergi dari ruangan pak Gunawan yang menurut nya sudah sangat kurang ajar pada dirinya.
Lusi tahu diri meskipun ia janda tapi bukan berati dirinya kegatelan yang mau mau saja di ajak tidur oleh pria lain.
Lusi pun tampak kesal dengan apa yang ia dapatkan hari itu. Lusi pun tak menyangka pula ia langsung resign bekerja tanpa mulai kerja.
Jadi pria kurang ajar itu memberikan aku uang lima juta maksudnya adalah membayar ku untuk satu malam nya, dasar pria tua kurang ajar bisa-bisanya dalam keadaan susah aku malah dikerjain seperti ini. Memangnya dia pikir dia siapa hanya karena uang dia merasa bisa membeli semua, batin Lusi kesal sambil berjalan menapaki kantor itu dengan perasaan kesal.
Sepulang nya...
Lusi pun pulang dengan masih membawa wajah raut kesal.
Dirumah tampak ibu Lusi yang melihat Lusi menekuk wajahnya dengan kesal.
"Kok muka nya cemberut gitu pulang-pulang" tanya sang ibu pada putrinya.
Lusi pun tampak tak menjawab masih dengan raut kesalnya.
"Lalu bagaimana dengan wawancara kerjanya?"
"Tau ah ma. Jangan bahas itu dulu ya aku lagi kesal" ucap Lusi langsung masuk ke kamarnya.
Dan saat dikamar Lusi pun tampak melihat baby Fabio yang sedang duduk dikamar tampak nya dia baru saja bangun dari tidurnya.
"Eh Fabio dah bangun" ucap Lusi.
Tak lama tampak Fabio yang lansung menyebut kata papa yang membuat Lusi terasa pilu.
"Papa, papap papapa" ucap Fabio.
Seketika hati Lusi terasa perih mendengar ucapan dari balita berusia 1 tahun itu menyebut kata papa yang telah meninggal.
"Papa ya, tapi ini mama bukan papa" ucap Lusi lirih.
"Papa, papa, papa" ucap Fabio mengigit-gigit mainannya sambil mengucapkan kata papa.
"Iya mana papa, mana papa" tanya Lusi.
Seketika Fabio menunjuk-nunjuk kesebuah jendela yang sebenernya tidak ada siapapun.
"Fabio pun kangen papa ya tapi papa sudah tidak ada nak" ucap Lusi menjatuhkan air matanya.
Lalu Lusi pun mengambil sebuah foto dan memberikan pada Fabio.
__ADS_1
"Ada Poto papa, Fabio peluk ya sayang, peluk foto papa kalau Fabio rindu. Kamu rindu ya nak. Mama pun rindu juga nak" ucap Lusi memeluk putranya erat.
"Walaupun papa sudah pergi, tapi papa selalu ada dihati kita nak, kamu harus kuat ya sayang. Kuatkan mama juga ya nak" ucap Lusi mengecup pipi sang putra dengan kesedihan yang mendalam.