
Malam hari yang sepi dihiasi lampu kamar yang tampak remang-remang itu pun Lusi tidur diatas kasur yang tampak besar bahkan bisa untuk ditiduri untuk tiga orang namun hati Lusi tampak sepi sudah hampir 10 hari Rian tak pulang.
Sebenci-benci Lusi pada suaminya ia tetap merindukan pria yang kini ada di hatinya.
Lusi pun tampak memejamkan matanya berusaha untuk dapat tidur walau hatinya kini sedang gundah karena suaminya tak pulang-pulang.
Sampai pukul jam 01.00 malam Lusi pun tak sengaja tertidur. Saat matanya terpejam dan sudah hampir masuk ke alam mimpi. Tiba-tiba ada seseorang lelaki yang memeluknya dari belakang Lusi pun memegang tangan kekar nya dan Lusi pun menengok dan itu ternyata suaminya yang memejamkan matanya sambil memeluk. Seperti mimpi melihat nya kini kembali, wajahnya yang tampak bagi Lusi kini sudah ada didepan mata.
Terimakasih kamu sudah mengembalikan suami ku Ya Allah.
Dengan cepat Lusi pun memeluk juga suaminya diatas kasur yang selalu ia gunakan untuk memadu cinta. Lusi pun memeluknya begitu erat tak mau melepaskan sama sekali, Lusi pun membenamkan wajahnya ditubuh kekar suaminya. Sambil mencium aroma tubuh suaminya yang sangat ia rindukan itu.
"Kamu kemana aja sayang" ucap Lusi lirih. "Kamu marah atau sengaja ingin melupakan aku dalam hidupmu" ucap Lusi.
Rian pun memeluk istrinya lebih erat dan mencium keningnya.
"Kamu tahu sayang aku sangat merindukan mu" ucap Lusi mencium tubuh bidang suaminya.
"Aku hanya takut" ucap Rian dengan tatapan kosong.
"Takut apa?"
"Aku hanya takut dengan keadaan ku saat ini, aku takut dengan semuanya"
"Maksudnya?" Tanya Lusi.
"Aku takut kalau kamu meninggalkan ku, aku takut untuk pulang. Aku takut kamu tak bisa menerima ku, karena?"
"Karena apa?"
"Perusahaan ku bangkrut, aku sudah tak seperti dulu. Aku tidak bisa membahagiakan mu karena aku mungkin akan miskin"
"Rian, aku tidak akan meninggalkan karena kamu miskin. Tapi yang aku takut adalah disaat kamu tak peduli lagi dengan aku" ucap Lusi.
"Satu hal Rian, aku sedih saat kamu cuek dan tak peduli kepadaku terlebih lagi disaat kamu marah soal aku yang ke gep berdua dengan Juna disana. Aku takut kamu marah dan tak kembali. Aku takut kamu berpaling dan menemukan wanita baru" terang Lusi lagi.
"Lusi aku tidak mungkin meninggalkan dirimu, wanita terbaik yang pernah aku miliki. Wanita yang sempurna dan selalu hadir dalam hidupku" ucap Rian menatap wajah sang istri.
__ADS_1
"Terus soal yang aku sama Juna?"
"Ya aku marah, aku pasti marah. Siapa sih suami yang tak marah istrinya seperti itu"
"Tapi aku sudah maafkan aku kan" tanya Lusi.
"Iya aku sudah maafkan kamu"
"Jangan tinggalkan aku Rian" ucap Lusi tampak sedih.
"Iya aku tidak meninggalkan kamu, aku juga minta maaf karena aku sempat pergi darimu"
Lusi pun tampak mengangguk.
Lalu Rian pun tampak memeluk tubuh istrinya dan mencium leher sang istri. Dan menghapus air mata yang seketika terjatuh itu.
"Lusi?"
"Ya?"
"Memang kamu menginginkannya"
"Iya aku sangat menginginkannya"
Lusi yang memang sudah lama juga ingin melakukan itu pun langsung tersenyum lebar
Lalu dengan cepat Rian pun menarik tubuh istrinya.
"Kamu terlalu lambat sayang, aku sudah tak kuat lagi menahannya. Malam ini kamu menjadi milikku. Aku tidak mau kehilangan kamu, malam ini aku akan membuat mu bahagia. aku bahagia walau dulu kamu sempat tak mencintai ku"
"Rian itu dulu, lain dulu lain sekarang. Aku tidak mau kehilangan mu" sahut Lusi.
"Lusi aku tidak sudi tubuhmu disentuh oleh siapapun. Berjanjilah untuk tetap menjaga tubuh mu hanya untukku, kamu adalah miliki ku" ucap Rian yang bahagia.
Lalu keduanya tampak melakukan pelepasan dimalam yang panjang itu.
Lalu keduanya pun membersihkan diri dan mandi, untuk melakukan mandi wajib setelah berhubungan sampai tak terasa selesai mandi waktu subuh tiba. Mereka pun solat berjamaah.
__ADS_1
Setelah solat berjamaah Lusi pun tampak tersenyum, ya selama ini Lusi hanya ingin memiliki hidup yang bahagia tidak lebih dan tidak kurang. Hanya itu lah kebahagiaan yang Lusi rasakan yang ingin selalu ada dalam hidup Lusi.
.
.
.
Pagi harinya, ya pagi itu..
Lusi pun tampak bercermin dan melihat dirinya dicermin dan tersadar kalau banyak bekas kecupan yang dileher.
"Rian kamu melakukannya sangat kasar aku baru tersadar banyak bekas kecupan merah dileher ku" ucap Lusi sambil bercermin.
Rian pun hanya tampak tersenyum.
Lusi pun melihat Rian yang sedang melihat-lihat barang dirumahnya yang seperti nya akan dipindahkan.
Rian tampak memasukan barang-barangnya ke dalam kardus.
"Lusi kamu pack semua barang ya" perintah Rian.
Lusi pun tampak termenung.
"Kita akan pindah" tanya Lusi.
"Iya kita akan pindah kerumah yang lebih kecil, mobil dan rumah ini akan aku jual"
"Semuanya" tanya Lusi.
"Semuanya, ya semuanya. Uangku sudah habis saat ini bahkan yang ada hanyalah hutang. Aku harus menjual semuanya untuk membayar pesangon untuk karyawan"
Lusi pun benar-benar tak menyangka jika Rian yang dulu kaya raya itu akan jatuh miskin seperti ini.
Sementara Renata tampak tak mau keluar dari kamar tidurnya masih shock saat semuanya yang dia punya harus dijual dan tak punya apa-apa lagi. Disaat kehidupan Renata yang sangat hedon itu kini berada di titik nol itu seperti pukulan keras untuk Renata. Renata pun tampak menangis dan tak terima dengan kemiskinan yang ada.
Bahkan Resort dan hotel yang Renata miliki pun kini dijual habis dan tak mampu lagi dipertahankan. Lusi pun tampak sadar dengan semua yang dimiliki adalah sesuatu yang tak abadi. Entah itu harta atau pun jabatan semua akan hilang disaat Tuhan sudah berkehendak. Ya bisa jadi ini memang ujian untuk dirinya dan keluarganya saat ini.
__ADS_1