Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Keputusan Pak Hilman


__ADS_3

Lusi pun langsung panik setelah ia tahu bahwa orang yang ia sudah suruh dan ia anggap supir itu adalah pemilik dari perusahan yang ia tempati bekerja. Lusi tidak menyangka dirinya akan mengalami hal ini.


"Aduh gimana ini, Pak Hilman galak gak" tanya Lusi kebingungan.


"Ya lumayan galak, tapi kamu buruan samperin ntar keburu tambah marah" kata Tasya yang merasa tak bersalah itu.


"Tasya kamu bantu aku jelasin semua"


Tasya malah tampak tertawa pada Lusi.


"Mana mau dia dapat penjelasan dari aku, kan yang salah kamu. Udah minta maaf aja siapa tahu maafin"


"Kalau gak?"


"Makanya berdoa dimaafin"


"Ruangannya dimana?" Tanya Lusi.


"Dekat sini belok kiri"


"Baiklah" kata Lusi yang akhirnya berjalan menuju ruangan pemilik perusaah.


Lusi pun tampak memperhatikan setiap sudut ruangan yang ada dengan langkah kaki yang perlahan.


Lalu Lusi melihat dari sebuah kaca yang terlihat dari luar sudah ada pak Hilman didalamnya.


Lusi pun mengetuk pintu terlebih dulu sebelum ia masuk


Lalu Lusi pun masuk melihat pak Hilman duduk dihadapannya dengan wajah datarnya. Lusi tampak kaku dan tegang melihat pria paruh baya itu menatapnya dengan sinis. Ya meski dia sudah tua tapi bagaimanapun dia adalah bos dari perusahaan.


Sebelum pak Hilman angkat bicara Lusi membuka suara lebih dulu.


"Selamat Siang pak" kata Lusi sambil sedikit menunduk.


"Saya meminta maaf atas ketidaktahuan saya, karena sebelumnya saya memang belum tahu siapa bapak" kata Lusi merasa bersalah dengan dirinya sendiri dan tak berani menatap Hilman.


"Berapa hari kamu kerja disini" tanya pak Hilman dengan tatapan sinis.


"Satu hari pak, semoga bapak memaklumi saya" kata Lusi.


"Jangan jadikan alasan kamu karena ketidaktahuan kamu. Hal yang paling Saya tidak suka ada orang merendahkan saya"


"Sekali lagi saya minta maaf pak" kata Lusi.


"Maaf saja tidak cukup, kamu sedang masa training kan. Itu artinya kamu gagal dan kamu tidak perlu lagi bekerja disini"


"Pak, berikan saya kesempatan sekali lagi. Paling tidak sampai akhir bulan" kata Lusi seraya memohon maaf.


"Saya tidak suka memiliki karyawan yang bodoh. Ini hari terakhir kerja untuk mu" kata Hilman saat itu dengan wajah dingin. "Sekarang kamu boleh keluar dari ruangan saya"

__ADS_1


"Tapi pak" ucap Lusi.


"Ini putusan akhir tidak dapat diganggu gugat!!!!" Katanya dengan nada tinggi.


Seketika Lusi merasa sedih dengan apa yang menjadi keputusan pria itu, Lusi tidak menyangka dirinya yang baru kerja setengah hari itu harus dapat hal tak mengenakkan sama sekali untuknya.


"Baiklah pak, saya permisi"


Lusi pun keluar dari ruangan pak Hilman dengan wajah pucat sekaligus sedih dengan apa yang menjadi keputusan pak Hilman.


Lusi pun keluar dengan wajah sedihnya karena baru hari pertama bekerja dirinya sudah mendapat hal tak di duga sama sekali.


Lalu Lusi pun mengambil tas kerjanya dan memakai jaket yang ia bawa.


"Kamu mau kemana?" Tanya Tasya saat itu melihat raut wajah Lusi yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Aku keluar, oh bukan lebih tepatnya aku dikeluarin" kata Lusi terlihat tersenyum getir.


"What??? Gak mungkin kan, apa yang kamu lakukan gak fatal Lusi kenapa harus dikeluarin"


"Ini perusahaan bukan punya aku Tas, aku cukup hanya bisa terima tak harus kecewa"


"Lusi?"


"Ya aku pulang dulu" kata Lusi sedih.


Tasya pun menatap Lusi dengan tatapan sedih.


Akhirnya Lusi pulang, Hilman pulang juga saat itu.


Namun


Hilman yang akan segera pulang dengan mobilnya tanpa sengaja melihat Lusi yang ingin pulang dengan tatapan tak biasa menatap Lusi dari kejauhan.


Lusi pulang dengan tatapan sedih itu pun tertampak jelas dari wajah Lusi.


Hilman yang ingin pulang entah mengapa menatap lama Lusi yang dibawah halte sedang menunggu kendaraan umum untuk pulang.


Hilman sedikit merasa penasaran dengan Lusi yang akan pulang itu.


Tiba-tiba hujan turun begitu deras Lusi pun menutup kepalanya dengan jaket yang ia kenakan dikepala.


Hingga...


tak lama datanglah sebuah bus kota berhenti dan Lusi tampak naik, Lusi pun duduk di sebuah kursi didalam bus itu.


Namun tanpa disadari Hilman merasa ingin menemui Lusi kembali. Hilman pun berlari dan ikut masuk kedalam bus itu.


Ada perasaan saat Hilman melihat wajah Lusi yang terlihat sedih itu entah mengapa mengingatkan Hilman pada putrinya yang mungkin seumuran dengan Lusi.

__ADS_1


Hilman teringat dengan putrinya dan Hilman merasa kasihan pada Lusi.


Hilman pun naik dan meninggalkan mobilnya dekat halte itu dan menelpon supirnya untuk membawa mobilnya pulang.


Tanpa disadari Hilman pun duduk diseblah Lusi saat itu. Lusi yang sedang sibuk dengan jaket yang sedikit basah tanpa sadar bahwa ada sesosok pria yang baru saja memecat dirinya duduk disampingnya.


Lusi pun baru tahu saat Hilman menengok ke arah Lusi.


"Bapak" ucap Lusi kaget. "Kenapa?" Ucap Lusi memicingkan mata tak percaya.


"Kenapa kamu kaget?" Tanya Himan.


"Saya bukan cuma kaget tapi bingung"


"Saya sengaja ikutin kamu. Ehem.. setelah saya pikir saya berubah pikiran. Salah saya juga yang tak memperkenalkan diri saat saya datang. Jadi?"


"Jadi apa pak" tanya Lusi.


"Jadi saya masih memberikan kamu kesempatan untuk kerja ditempat saya"


"Jadi bapak ikutin saya sampai sini hanya karena bapak ingin saya bekerja lagi"


Hilman pun seketika tersenyum mendengar apa yang Lusi katakan.


"Entahlah tiba-tiba saja, dirimu mengingkatkan saya dengan putri saya yang mungkin seumuran kamu juga" kata Hilman.


Lusi pun tampak tersenyum.


"Bapak juga mengingatkan saya, pada Ayah saya tapi sayang?" Kata Lusi sambil menatap jalan.


"Kenapa?"


"Ayah saya sudah meninggal dua Minggu lalu. Hari terkahir dalam hidupnya saya tidak disampingnya. Dia pergi untuk selamanya" kata Lusi


"Saya turut berduka atas meninggalnya Ayah kamu, pasti berat disaat kamu harus meraskan arti kehilangan orang yang berati dalam hidup" kata Hilman.


"Terimakasih pak. Setiap kita merasakan kehilangan orang yang dicintai untuk selamanya memang berat, hati juga pedih. Rasanya ingin memeluknya sekali saja walau sebentar" Kata Lusi dengan tatapan sedih.


"Betul" jawab Hilman.


"Oia pak rumah saya sebentar lagi akan sampai saya pulang duluan ya"


Tiba-tiba..


"Lusi?" Panggil Hilman.


"Ya pak?" Jawab Lusi.


"Besok jangan lupa kamu tetap harus ke kantor ya"

__ADS_1


"Terimakasih pak, pasti" jawab Lusi dengan semyumnya.


__ADS_2