
Lusi pun pulang kerumah pukul 12.30 malam, dia pun melihat sang ibu yang sudah menunggunya di depan pintu rumah dengan harap-harap cemas menunggu Lusi pulang pada saat malam itu.
Ibunya merasa khawatir karena takut bila Lusi kenapa-kenapa karena waktu sudah menunjukan lewat tengah malam.
Terelebih lagi sebelum itu ibunya melihat dari kejauhan, Lusi yang turun dari mobil mewah dan dibukakan oleh seroang pria yang sudah tua. Itu menjadi khawatir akan hal nekat yang mungkin saja Lusi lakukan.
Ibu pun menatap Lusi dengan tatapan sinis tapi sebenernya ada perasaan khawatir yang mendalam.
"Assalamualaikum, maaf ya buat ibu menunggu" kata Lusi yang melepas high heels nya itu lalu mencium tangan sang ibu. Dan heels yang baru saja ia lepaskan ia taruh dirak sepatu.
Ibu pun tidak menjawab apa-apa dan terlihat malah menarik napasnya lebih dalam memandang putri dari atas ke bawah.
"Lusi sebentar ibu mau bicara sama kamu" kata ibu terlihat serius.
Lusi pun duduk dan mengambil air putih di gelas lalu meminumnya.
"Lusi haus Bu, minum dulu ya" ungkap Lusi tersenyum dan mengambil air didalam gelas dan ia habiskan dalam satu gelas penuh tanpa sisa.
Lusi meraksan haus sekali pada malam itu.
Ibu pun menatap wajah Lusi secara seksama, melihat Lusi pulang malam dengan make up dan pakaian sedikit seksi membuat Ibu kahwatir bahwa Lusi melakukan hal yang tidak-tidak.
"Kamu benaran kerja kan?" Tanya ibu.
"Iya Bu, Lusi beneran kerja kok" jawab Lusi.
"Kamu kerja apa jam segini baru pulang?"
"Meeting dan makan malam"
"Lalu tadi yang antar kamu siapa?"
"Oh yang tadi, itu boss Lusi Bu. Dia memang begitu katanya suka minta ditemenin"
"Temenin apa?" Tanya ibu dengan tatapan melotot.
"Ibu santai dulu maksudnya Lusi meeting sama kliennya untuk makan malam bersama. Kebetulan makan malamnya memang pas jam pulang kerja, jadi waktunya ya begini Bu agak mepet" kata Lusi berusaha untuk menjelaskan kepada ibunya.
"Ibu harap kamu tidak berbohong, jujur ibu kahwatir melihat kamu pulang tengah malam bersama seorang pria. Ibu takut kalau kamu putus asa lalu kamu melakukan hal yang nekat"
"Maksudnya ibu, ibu takut kalau Lusi jadi perempuan malam begitu"
"Ibu tidak mengatakan hal seperti itu, dan kamu bisa menebaknya sendiri. Jika ada orang yang melihat mu begini pulang diantar oleh pria dengan waktu larut malam apa kata orang nanti" ucap ibu menjelaskan kekhawatirannya.
__ADS_1
Lusi hanya menelaah setiap perkataan ibunya dan mencoba memahami ibunya. Dan Lusi berkali-kali menelan salivanya dalam.
"Ya bu Lusi paham" kata Lusi.
"Apalagi kamu Lusi adalah seorang janda, imej kamu dipertaruhkan dalam hal ini" jelas ibu lagi.
"Iya, apa yang ibu katakan benar. Lusi pun sebenarnya tidak nyaman. Tapi mau bagaimana lagi, kebutuhan memaksa Lusi harus begini. Tapi jujur.. Lusi mengatakan hal yang sebenernya, bahwa apa yang Lusi lakukan adalah sebatas makan malam bersama klient penting dan itu saja, maaf ya Bu kalau mungkin buat ibu khawatir"
"Jadi benar, hanya sebatas makan saja" tanya ibu sekali lagi dengan penuh penekanan.
"Iya Bu Lusi jujur"
Lalu ibu pun memegang pundak putrinya yang begitu terlihat sangat anggun dari belakang, namun sebenarnya lebih kokoh dan kuat bila mengingat dirinya yang begitu banyak beban tertumpu di pundak milik Lusi.
Ibu pun mengelus pundak Lusi perlahan.
"Ibu bukan tidak percaya pada mu nak, ibu hanya khawatir saja"
"Iya Bu, Ibu berhak bertanya dan mengingatkan Lusi dalam hal ini" kata Lusi.
" Lusi pun cuma manusia biasa yang mungkin bisa melakukan hal khilaf, disaat seperti ini ibu berperan penting dalam kehidupan Lusi untuk lebih baik" ungkap Lusi.
"Syukurlah kalau kamu paham akan hal itu"
"Yasudah kalau kamu memang mengerti, paling tidak rasa was was ibu sedikit berkurang. Kalau begitu kamu istrihat, ibu percaya sama kamu" jelas ibu.
"Iya Bu terimakasih Ibu sudah percaya pada Lusi, dan terimakasih juga ibu sudah menjaga Yasmin dan Fabio seharian" kata Lusi tersenyum.
"Iya sama-sama"
Ibu pun yang tadinya seperti kesal dan kecewa, akhirnya berusaha untuk percaya dengan apa yang dikatakan oleh putrinya bahwa Lusi memang bekerja dengan cara yang baik, halal dan tidak menyimpang.
Lusi pun setelah seharian bekerja pun mengganti pakaian yang ia kenakan dan malam itu juga langsung Lusi cuci karena ia merasa harus memulangkan gaun yang dikenakan itu. Karena itu bukanlah miliknya.
Setelah selesai mengganti pakaian tidur dan mengahapus make up. Lusi melihat putra-putri nya yang terbaring di atas kasur dan sedang tidur.
Lalu Lusi ciumi satu persatu pipi dari kedua buah hatinya. Setelah itu Lusi pun berdoa untuk kedua anaknya agar selalu dalam lindungan Allah. Dan baca alfatihah yang ia doakan setalah itu.
Lusi pun menatap wajah Yasmin dan Fabio dengan lekat. Ada perasaan sedih teramat pada keduanya, karena kasihan pada mereka yang kekurangan kasih sayang selama ini.
Lusi juga sedih karena Lusi merasa tidak mampu menjadi Ibu yang baik sehingga harus meninggalkan Fabio dan Yasmin bekerja. Tapi bagaimana pun itulah kenyataan yang Lusi harus tempuh.
Lalu setelah itu Lusi pun teringat dengan amplop yang di berikan oleh pak Hilman yang entah jumlahnya berapa. Saat Lusi buka uang itu sebesar 600.000.
__ADS_1
"Alhamdulillah, ini cukup untuk membeli susu Fabio" kata Lusi tersenyum.
Meski ada drama dengan ibu tapi Lusi harus tetap bersyukur dengan apa yang ia dapatkan,.karena itu rejeki untuknya.
Sementara itu....
Terlihat Pak Hilman yang baru saja sampai rumah di hunian mewah miliknya. Dia tampak tersenyum sepanjang perjalanan pulang. Pak Hilman malam itu merasakan kebahagiaan yang teramat, karena baru kali ini lagi ia merasa jatuh cinta setelah sekian lama sendiri.
Lalu tak lama terlihat putrinya Sarah melihat papanya pulang dan tersenyum sendiri.
"Hem tumben pa senyum-senyum sendiri" kata sang anak perempuannya.
"Oh, kamu belum tidur?" Tanya Hilman kepada putrinya.
"Belum, tadi ada tugas kuliah jadi kerjain dulu. Oia papa belum dijawab kenapa senyum sendiri seperti itu" kata Sarah yang penasaran.
Lalu papa nya pun duduk disamping putri kesayangannya itu.
"Baru kali ini papa bersama wanita merasa sebahagia ini" ungkap Hilman seraya menaruh senyum di bibir.
"Wah apa papa sedang jatuh cinta" timpal Sarah.
"Sepertinya iya hahahah" jawab Hilman.
Lalu Hilman menatap sang anak.
"Sarah?"
"Ya pah"
"Menurut mu apakah papa boleh menikah lagi"
"Iya tentu, memang itu juga yang ingin aku sampaikan. Jika papa suka dengannya kenapa tidak?"
"Kamu setuju, kalau papa menikah lagi"
"Tentu setuju pah, sangat setuju. Selama wanita itu baik dan membuat papa bahagia aku setuju dan mendukung. Papa juga butuh pendamping hidup untuk menemani papa. Jadi aku rasa tidak ada yang salah" jelas Sarah.
"Terimakasih ya nak" jawab Hilman.
"Wanitanya apa boleh Sarah tahu siapa?" Kata Sarah.
"Nanti saja kalau sudah saatnya pasti papa kasih tahu, siapa wanita Luar biasa itu"
__ADS_1
"Okey baiklah" jawab Sarah tersenyum dan Hilman pun juga tersenyum.