
Setelah itu Lusi pun diberi kesempatan untuk dikasih waktu berdua untuk berfoto bersama. Sementara Liana memicingkan matanya terlihat kesal suaminya menikah lagi.
Liana kesal karena ia tidak pernah menyangka dirinya akan dimadu dan itu sudah menjadi takdir pahit dalam hidupnya.
Di balik pernikahan yang terasa dadakan Lusi salut pada Liana yang ternyata memiliki hati yang besar saat menerima satu hal yang paling menyulitkan yaitu membiarkan suaminya menikah lagi. Mungkin Lusi jika jadi Liana pasti perasaan terparah saat ini adalah hancur dan tak bisa tidur sepanjang malam.
Lusi entah mengapa tak sanggup bila membayangkan perasan Liana yang saat ini hancur lebur menerima kenyataan pahit yaitu memiliki suami yang sudah menikah lagi.
Lusi tahu betul rasanya disakiti walau sebenernya Liana mungkin saat ini berusaha untuk baik-baik saja.
"Liana?" Panggil Lusi pada Liana.
"Aku dan kamu adalah saudara, kamu adalah adik sepupu dari suami ku yang telah meninggal. Bagaimana pun aku salah padamu aku minta maaf karena aku sudah menikah degan suami mu"
Liana terdiam memandang Lusi saat itu.
"Aku hanya istri siri dari Gery, kamu lebih berhak atas suami mu dibanding aku. Aku tidak banyak berhak atas suami mu dimata hukum" kata Lusi memegang tangan Liana.
"Sejujurnya malam ini aku tidak mau ada yang merasa tersakiti, apalagi menyakiti kamu. Bahkan sejujurnya aku belum siap untuk menikah lagi, namun takdir meminta ku begitu. Suami mu memaksa ku untuk menikah dengannya, karena ia sudah melunasi hutangku yang ia sudah bantu bayar semuanya. Kamu boleh membenci ku sepanjang hidupmu, tapi aku pun juga tidak mau membiarkan diriku terhanyut dalam banyak rasa bersalah padamu" ucap Lusi yang melihat Liana yang membuang wajahnya.
"Gery aku meminta pada mu pulang lah bersama Liana. Aku tetap menjadi istri mu, Liana pun juga istri mu. Tapi perasaan Liana saat ini sedang hancur dan sangatlah hancur. Jangan pedulikan tentang perasaan ku saat ini seperti apa, aku pun hanya ingin sendiri menerima takdir ku yang ternyata hanya menjadi wanita kedua untuk mu" ungkap Lusi yang terlihat sedih dihari bahagianya.
" Gery menjadi istri kedua bukan lah cita-cita untukku bahkan saat ini aku tidak siap menikah lagi, jangankan istri kedua menikah saja aku tidak siap. Gery aku butuh ruang sendiri aku tidak butuh malam pertama saat ini. Aku perlu waktu menerima ini semua. Bawalah istri mu sampai dia benar-benar merasa tak ditinggalkan oleh mu. Aku belum siap, aku belum siap untuk semuanya. Kamu pulang peluk lah istri mu, bawalah dia kerumah mama mu agar dia lebih tenang" kata Lusi lagi.
Lalu seketika Lusi pun mencium kening dari Liana yang dianggap sebagai adiknya sendiri.
"Kamu pulang ke rumah mama mertua mu dulu ya, jangan pikirkan aku" kata Lusi yang menyerahkan suaminya Liana.
"Lusi kamu istri ku, kamu sudah gila. Kamu istriku" kata Gery.
"Tenang saja aku bukan buronan yang mencoba kabur dari kamu, kalau kamu tidak percaya.. kamu boleh pegang identitas ku sebagai jaminan. Atau mungkin mobil yang kamu berikan padaku sebagai mas kawin kamu pegang lagi saja sebagai jaminan. Aku tidak akan kabur" kata Lusi.
"Aku suami mu siapa yang akan melindungi mu"
"Jika aku perlu pada mu, aku akan menelpon mu atau mungkin menemui mu"
"Kamu memang paling bisa ya putar cerita" Gery menatap Lusi kesal.
"Aku tidak pernah putar cerita, aku hanya ingin semua baik-baik saja. Gery aku mohon jangan buat aku menjadi orang yang merasa paling bersalah karena menyakiti sepupu dari almarhum suami ku" kata Lusi.
Gery pun menayapu kasar wajahnya.
"Baik aku ikuti apa mau mu, asal kamu tetap bersama ku. Aku mohon berjanjilah untuk tetap setia pada suami mu ini Lusi" ucap Gery memegang kedua tangan Lusi dengan erat menatap Lusi yang saat itu masih memakai kebaya pengantin.
"Lusi aku mau kamu tetap setia dan tak pernah pergi dari hidupku dan cintaku" kata Gery dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Iya... Iya .." kata Lusi.
Lalu seketika Gery pun mencium kening Lusi dan memeluknya.
"Biarkan aku memeluk mu sebentar"
"Sudah Liana sudah menunggu mu" kata Lusi.
"Oyah... Salam buat anak mu, bahkan aku lupa menanyakan siapa nama nya?" Kata Lusi yang lupa menanyakan anak dari Liana yang telah lahir.
"Namanya Alena" jawab Gery.
"Alena, nama yang bagus. Berati dia sepupunya Fabio ya. itu artinya dia adalah adiknya Fabio pasti dia lucu sekali dan menggemaskan. Seperti halnya melihat Fabio dalam versi anak perempuan" ucap Lusi tersenyum membayangkan wajah dari baby Alena.
"Aku belum sempat memberikan sebuah kado untuknya" ucap Lusi memikirkan Alena.
"Iya nanti kamu boleh memberi hadiah padanya, Aku boleh memegang perut mu" pinta Gery
"Apa?"
"Sebelum aku pulang, aku ingin mengelus bayi dalam perut mu. Aku ingin membelainya" kata Gery.
Lusi pun mengangguk boleh. Karena Lusi sadar saat ini Gery adalah suaminya.
Gery pun berjongkok dan menaruh wajah diperut Lusi yang tengah mengandung.
Seketika Lusi pun merasa keharuan yang mendalam melihat perilaku Rian.
"Kenapa kamu bicara seperti kamu seolah Ayahnya. Membuat ku terharu saja mendengar semuanya" kata Lusi menyapu air matanya yang nyaris akan jatuh.
"Anak mu itu anakku juga. Jaga dirimu baik-baik Aku akan ikuti apa mau mu untuk bersama Liana untuk kali ini"
"Barulah kamu kembali disaat aku siap dan Liana juga siap dengan hatinya" kata Lusi lagi.
"gak usah diingatkan terus!!! kamu sudah bicara berulang kali" kata Gery kesal.
"Oya satu lagi aku sudah siapkan makanan nanti orang catering datang. Kamu boleh undang tetangga atau siapapun untuk memberi kabar tentang pernikahan kita" kata Gery
"Baiklah terimakasih"
"Kamu kan paling suka kalau di acara nikahan makan-makan" kata Gery.
Lusi pun langsung menghela napas nya dengan ucapan Gery yang cukup mengesalkan.
"Gery emang aku serakus itu" ucap Lusi mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Hehehe imut banget sih istri ku ini"
"Auaahh"
Lalu Gery pergi meninggalkan istri keduanya demi menjaga perasaan istri pertamanya. Gery yang sudah sangat sayang pada Lusi dan ingin memeluk Lusi ia harus tahan demi keinginan Lusi yang tak terduga. Gery pun hanya bisa menuruti saja keinginan saja keinganan sang istri kedua yang terlalu baik. Atau lebih tepatnya tidak terlalu mencintai Gery sehingga mudah saja melepaskan Gery untuk pergi.
"Jangan mesra-mesraan ya sama Lusi didepan aku" kata Liana kesal.
"Emang tadi mesra ya" kata Gery bingung.
"Iya, mesra banget pake nanya!!!" Kata Liana kesal.
"Kan Lusi udah ngalah. Aku ikut kamu hari ini"
"Kamu serius mau ikut aku pulang"
"Iya"
"Serius?"
"Iya Maemunah nanya mulu"
"Heheh ayo pulang" kata Liana merangkul sang suami dengan senang dan mesra.
Lalu Gery pun membawa pulang istri bersamanya.
Sementara Liana seolah tak percaya dengan apa yang menjadi keputusan Lusi yang menurut nya gila.
"Lusi kamu gak apa-apa" tanya Liana.
"Gak apa-apa.. pergilah kalian anggap saja kalian berbulan madu" ucap Lusi.
Gery pun hanya menggerutu kesal dalam hatinya. Sambil mengancam Lusi didalam hati.
Awas saja kamu Lusi, kalau sudah saatnya kamu sekamar dan hidup dalam satu atap dengan ku. Aku akan habisi kamu dikamar siang malam. Dan saat itu kamu tidak akan lepas dari ku batin Gery yang merelakan dirinya pergi bersama Liana. Namun seolah akan membalas dendam pada istrinya saat bertemu lagi.
Lalu Lusi pun mengadakan acara dadakan makan bersama keluarga dan tetangga..karena sudah terlanjur banyak makanan yang Gery pesan mau tidak mau harus mengundang secara dadakan.
Lalu Lusi pun mengadakan acara tanpa mempelai pria. Dengan alasan pengantin pria sedang sibuk. Lusi paham mungkin dirinya akan dipandang hina dan rendahan saat ini tapi Lusi hanya bisa terima saja saat ini.
Perih sudah pasti perih.
Lusi yang paling anti dengan kata mendua dan tidak mau jadi orang ketiga didalam rumah tangga, kini seperti menelan ludahnya sendiri menjadi istri kedua yang mungkin selalu dianggap hina dimata orang lain. Dan inilah kenyataan paling pahit tentang dirinya, yang sedih menerima kenyataan paling pahit dalam hidupnya.
Dalam diam Lusi hanya terdiam termenung dan melamun, Lusi terdiam dalam hening dalam hatinya.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya tanpa terasa Lusi berlari ke kamar mandi dan tanpa terasa air matanya membasahi pipinya. Menangis merasakan kepiluan didalam hati.