
Lusi yang tampak bingung dengan suasana dirinya saat itu tidak lantas membuat dirinya merasa berbunga-bunga atas kata cinta yang dirasa terlalu cepat.
Lusi pun bukanlah orang yang mudah mencintai hanya karena dirinya ada yang mengatakan cinta entah benar atau tidaknya.
Lusi juga tidak berharap banyak selain ia lepas dan boleh pulang dari genggaman sang pria yang menculiknya dari genggaman dirinya. Ya anggap lah Lusi saat ini bisa lepas siksaan dari jerat sang pria bernama Demian, walau ada embel-embel kata cinta. Tidak seperti awal-awal yang dirinya mendapatkan sebuah tamparan karena dirinya yang tak mampu membayar hutang.
Lusi pun terbangun dari tidurnya, lantas ia langsung solat subuh. Walaupun Lusi tidak menemukan sebuah alat solat namun ada baju panjang yang memang mampu menutupi seluruh tubuhnya dan ada slendang panjang yang dapat membalut dikepalanya sehingga Lusi dapat melakukan ibadah solat subuh.
Selesai solat Lusi pun duduk dan berdoa selesai solat, Lusi mengecek pintu apakah pintu itu bisa terbuka namun nyatanya masih tidak. Pintu masih tertutup dan terkunci. Demian sengaja melakukan itu agar Lusi tetap dikamar dan tak bisa lepas darinya walau Demian yang sudah mengatakan cinta.
Demian adalah pria yang tak mudah jatuh cinta, dan kali ini Demian tampak mencintai seorang wanita yang tengah hamil itu.
Lusi yang merasa harus bisa lepas dan kembali ke rumah, menggedor-gedor pintu untuk minta di bukakan tapi tak ada yang mendengar seorang pun.
Setelah lelah menggedor Lusi pun duduk sambil berfikir bagaimana cara ia bisa lepas dan pergi dari rumah tersebut.
Tiba-tiba Demian masuk dan melihat ke arah Lusi.
"Padahal ini masih pagi, kenapa berisik sekali!!!" Ucap Demian dengan setelan jas masuk kedalam kamar Lusi melihat Lusi dengan tatapan tajam.
"Yang semalam kamu katakan aku tidak bermimpi kan?" tanya Lusi
"Yang mana?"
"Yang semalam, yang aku dengar katanya kamu mencintaiku"
"Kenapa memang kamu tidak percaya" ucap Demian yang menatap Lusi dari dekat sambil menatap wajah Lusi.
"Bukan begitu, hanya saja jika kamu memang mencintai ku. Tolong lepaskan aku dari sini" pinta Lusi.
"Semakin aku mencintaimu semakin tidak mungkin aku melepaskan mu, jika kamu bisa lepas ya tetap harus dengan bayar hutang" kata Demian tersenyum mendekati Lusi.
"Aku ingin mencium bibir mu lagi, dirimu sangat menggoda ku"
__ADS_1
"Mundurkan dirimu" ucap Lusi lantang.
"Tidak akan, aku ingin mencium mu dan mengatakan bahwa aku mencintai mu" kata Demian. "Menyerah saja Lusi, aku tidak akan kasar melakukannya"
"Tapi aku tidak mau, yang aku inginkan aku hanya lepas dan pergi dari sini" ucap Lusi dengan keteguhan hatinya meminta untuk lepas.
"Tidak akan pernah, kecuali kamu bayar hutang mu" ucap Demian tersenyum.
"Dari semalam aku belum makan bagaimana kalau aku mati kelaparan disini" kata Lusi memegang perutnya.
"Ayolah kita sarapan aku sudah menyiapkan makan untuk mu" kata Demian menarik Lusi dan membawanya ke lantai bawah.
Sesampainya dibawah, Lusi pun dibawa ke meja makan yang sudah tersedia banyak makanan untuk Lusi santap. Diatas meja sudah banyak makanan yang sangat banyak dan lezat, mulai dari ayam goreng, ikan bakar, daging gulai dan sayur. Untuk makan pagi itu terlihat mewah dan terkesan berlebihan.
"Makanlah bersama ku" kata Demian memakaikan serebet dileher Lusi. "Selama ini dimeja makan tak pernah sekalipun diisi oleh wanita lain selain adikku. Dia sedang sekolah diluar negri" kata Demian tersenyum.
Lusi pun tampak canggung dengan semua makanan yang dihidangkan diatas meja.
Saat makan Lusi pun melihat sebuah cincin yang tersemat dijari manis Demian yang sepertinya itu adalah cincin tunangan. Lusi pun juga masih memakai cincin yang pernah Rian berikan. Dan mereka pun sama sama memakai cincin. Namun, soal cincin yang di kenakan Demian Lusi tidak terlalu tahu dan menurut Lusi tidak lah terlalu penting.
"Lusi, aku sebenarnya ingin segera menikahimu tapi ada banyak hal yang harus aku selesaikan jadi tidak secepat itu dan semudah itu. Jadi aku harap kamu bersabar"
"Bersabar? Aku hanya meminta kamu melepaskan, bukan untuk dinikahkan orang hebat seperti mu aku yakin akan ada banyak musuh, aku tidak mau menikahi mu dan menjadi tumbal musuh mu" kata Lusi.
"Aku yakin orang seperti mu memiliki banyak musuh dimana-mana, dan aku yakin tidak mudah untuk menjadi istrimu dan untuk menjadi istri mu bukan cita-cita ku" ucap Lusi lagi.
"Hanya kamu wanita yang mengatakan tidak ingin menjadi wanita ku, sadarlah Lusi... aku punya harta, tampan dan memiliki segalanya. Bukankah setiap wanita akan mau padaku" kata Demian penuh percaya diri.
"Harta tak selalu membuat aku bahagia, harta juga tak menjamin semua kehidupan ku akan terjamin dan sekarang, liat aku. Aku terpenjara hanya karena harta yang aku sendiri tidak merasakan dan menikmati nya" ungkap Lusi menatap Demian dan sesekali membuang wajahnya. Sementara Demian terlihat fokus menatap Lusi.
"Hemm.. wanita itu semuanya cantik dan kamu cuma bukan cantik tapi lebih tepatnya istimewa. Aku tidak yakin kamu dapat membahagiakan ku, tapi karena dimata ku kamu istimewa dan itu merupakan daya tarik untukku. Dan aku akui aku mau dengan mu. Memang aku bisa mendapatkan hal yang lebih dari seorang wanita, bahkan lebih dari pada kamu. Namun hanya kamu yang aku rasa aku cinta namun ternyata kamulah orang paling sombong yang pernah aku temui" kata Demian.
"Aku bukan pengemis cinta, kasih dan sayang. Aku baru memberikan cinta ku pada pasangan sah ku saja, sekalipun kamu berjanji akan memberikan segalanya tapi kalau dirimu hanya sebatas teman atau pacar, dan itu bukan merupakan sebuah jaminan untuk aku mengabdi perasaan dan cintaku padamu. Kalau kamu mau wanita yang mencintai mu setulus hati beserta tubuhnya, mungkin akan kamu dapatkan, tapi jelas bukan aku orangnya" tegas Lusi mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Dirimu sudah tak gadis lagi, wanita bekasan yang mungkin sudah dipakai oleh banyak orang. Lihat saja dirimu tengah mengandung dan memiliki anak bahkan janda. Apa yang kamu katakan tidaklah sesuai fakta, kamu mau menomorsatukan harga diri, itu hanya seorang gadis lah yang pantas bicara begitu, bukan wanita yang mudah dipandang buruk seperti dirimu" ungkap Demian pada Lusi.
"Terserah mau bicara apa perihal dirimu yang menilai tentang ku, terserah kamu mau anggap aku apa? Itu Terserah, kamu mau sebut dan menilai diriku yang mungkin rendahan dimata mu, dan hina hanya karena aku hanyalah seorang janda yang sedang mengandung. Itu terserah padamu saja. Tapi, aku yang lebih tahu atas diriku sendiri, bukan orang lain atau pun kamu. Kamu mungkin punya hak atas penilaian diriku, tapi kamu tidak bisa mengubah jalan hidupku" kata Lusi.
"Menarik, menarik sekali bicara kepada orang yang sok suci dalam hidup. Ku harap perkataan mu sesuai dengan jalan hidupmu, bukan hanya ungkapan dan omong kosong belaka. Aku suka pada Wanita yang paling sok jual mahal dan kamu adalah orangnya. Ya yang ku harapkan kamu bisa menjaga apa yang disebut itu harga diri" ungkap Demian.
"Makanlah makanan itu, aku sengaja mempersiapkan pada tamu yang katanya berbadan dua. Makanan ini aku hidangkan banyak supaya kamu paham betapa kaya raya nya aku" Ungkap Demian sembari tertawa.
"Namun sepertinya aku tidak bisa menghabiskannya"
"Tidak masalah, aku tidak menyuruh mu untuk menghabiskannya aku hanya mau kamu menikmatinya saja. Seperti diriku kepada kamu, yang tidak segera menghabiskannya dan hanya perlu menikmatinya saja" ungkap Demian dengan tatapan yang nakal.
"Diamlah dan jangan tatap aku dengan seperti itu" kata Lusi.
"Oh tatapan ini adalah tatapan dari seorang pria yang memang sudah melihat target didepan mata" ungkap Demian yang terlihat gemas ingin mencium bibir Lusi namun ia berusaha menahannya.
"Oia satu lagi, pagi ini aku akan pergi ke luar negri. Dalam waktu kurang lebih seminggu, ku harap kau tetap sama saat ku berangkat dan pulang. Tetaplah bersama ku, kalau seandainya tiba-tiba kamu ingin melahirkan bilang saja dengan bodyguard ku bernama Beni dia yang akan membawa mu ke rumah sakit" ungkap Demian.
"Dan semuanya ingat, tolong jaga wanita ini jangan sampai ia kabur" kata Demian dengan nada tegas, memperintahkan seluruh kepada para bodyguard untuk menjaga Lusi supaya tidak pergi.
"Ucapan mu penuh perhatian namun juga bersifat ancaman" kata Lusi yang sedang duduk dan sesekali menatap makanan yang begitu banyak diatas meja.
"Aku pasti akan merindukan mu, selama aku pergi" kata Demian.
Demian pun langsung mendekati Lusi yang sedang duduk dan menarik tangan Lusi lalu menciumnya.
"Oia makan lah, semuanya yang kamu suka, aku pergi dulu" kata Demian berdiri dan mencium kening Lusi.
"Apa bodyguard kamu semuanya akan baik padaku" ucap Lusi .
"Tentu saja, kalau mereka berbuat yang tidak baik pada mu. Akan aku bunuh" kata Demian menatap Lusi dengan senyuman.
"Aku berangkat dulu"
__ADS_1
Lalu Demian pun pergi membawa beberapa orang suruhan dan assitennya yang bernama Edy. Dan kini Lusi sendiri di rumah besar itu dengan beberapa orang suruhan Demian. Meksipun Lusi ditinggal oleh Demian namun bukan berati Lusi bisa bebas.
Bahkan Lusi masih dengan pengaman ketat dan tidak bisa keluar dari rumah besar itu sembarangan tanpa seijin dari pemilik rumah yaitu Demian.