Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Kiriman bunga


__ADS_3

Lusi tidak pernah menyangka jika dirinya akan menghadapi sesuatu hal yang tak pernah ia duga sebelumnya, ia sadar meskipun ia janda dan otaknya sudah mulai sedikit korselting tapi dia masih sadar mana suami orang dan mana yang bukan. Lusi tidak mau hanya karena rasa butuh belas kasihan Lusi melibatkan orang lain untuk masuk dan ikut serta dalam kehidupannya.


Lusi pun berusaha untuk tetap waras walau banyak orang yang mengatakan dirinya nyaris tidak waras. Nyaris tidak waras kan itu kan kata mereka belum kata Lusi pribadi.


Lusi pun terbangun dari tidurnya setelah ia istrihat Lusi merasa jika dirinya sudah jauh lebih baik.


Lusi pun memulai untuk aktivitas nya kembali, yakni membantu ibu dan mengurus putranya.


"Kamu sudah terbangun" tanya ibu yang menaruh piring. Lalu menyendokan nasi kedalam piring kosong Lusi. Dan tak lupa lauk pauk.


"Sudah, sepertinya obat yang diberikan dokter membuat Lusi cukup tertidur pulas" jawab Lusi. "Nasinya sedikit aja Bu, ini terlalu banyak" ucap Lusi yang melihat ibu nya menyendokan nasi ukuran porsi kuli.


"Biar kamu dan bayi kamu sehat" kata ibu memberi saran.


"Iya Bu, tapi gak gini juga Bu. Ini sih buat makan tiga orang" kata Lusi pun menaruh lagi nasi yang menurutnya terlalu banyak itu.


"Ya sudah terserah kamu" jawab ibu pasrah. "Tadi ayah kamu membahas dirimu yang katanya kamu jadi sedikit tidak waras setelah menjadi janda, bahkan ayah kamu bilang jika kamu mau dijodohkan kalau begini terus" kata ibu menatap sang putri.


"Bu, Lusi belum siap jika harus menikah lagi" kata Lusi.


"Ibu pun sudah bicara dengan bapak mu, jangan buru-buru menikah kan kamu. tapi apakah kamu punya calon sendiri atau mungkin pilihan pria lain gitu yang bisa bikin kamu lebih eling" kata ibu.


"Ya ampun bu. Lusi menjanda belum setahun" kata Lusi yang heran.


"Terus ini apa?" Ucap ibu. Ibu pun memberikan seikat bunga yang tidak ada nama pengirimnya.


"Menurut mu, siapa yang memberikan ini. Ini tertulis untuk mu, tapi tidak tertulis siapa nama pengirimnya. Kamu sudah memiliki calon suami sendiri, kamu sudah punya pilihan dalam hidup mu" kata Ibu.


Lusi pun melihat seikat bunga mawar merah yang dia sendiri pun tidak tahu dari mana bunga itu beras, tahu-tahu ia datang sendiri tanpa konfirmasi.


"Entahlah mungkin salah alamat" jawab Lusi.


"Kalau memang salah alamat tidak mungkin ada nama kamunya" kata ibu.


"Abaikan saja Bu, paket misterius tidak penting juga kan Bu. Kalau ibu mau ibu bisa menyimpannya untuk ibu" ucap Lusi.


Lusi pun memang tidak peduli siapa pengirim bunga itu, apalagi bila tidak jelas siapa pengirimnya untuk apa.


Lusi pun kembali menikmati santap siang nya saat itu.


"Yakin kamu tak mau bunga ini" tanya ibu pada Lusi.


"Gak Bu"


"Biasanya kamu paling suka bunga" ucap ibu lagi.


"Untuk saat ini tidak dulu Bu"


"Baiklah untuk ibu" kata ibu memegang bunga itu dalam genggamannya.


Lusi pun hanya manggut-manggut saja sambil makan.


Lalu saat ibu mendapatkan bunga itu, ibu pun terlihat senang dengan bunga tersebut karena ibu itu seperti Lusi yang memang menyukai bunga.


Ibu pun membawa nya kekamar dan menaruh nya di meja kamar.


Lalu Ayah pun tampak melihat ibu yang senyum-senyum mendapatkan bunga mawar itu.


"Ibu senyum-senyum sendiri mulai deh ada apa sih Bu? Ibu minta digoyang ya" tanya Ayah.


"Ya ampun ayah masih juga sore pikirannya sudah goyangan aja, ayah itu ya gak bisa apa sehari aja, gak mikirin goyangan" kata Ibu marah namun masih terlihat manja.


"Ya abis ibu senyum-senyum sendiri seperti orang yang sedang menggoda, ibu sedang menggoda Ayah" kata Ayah yang saat itu memang sedang dikamar mengganti baju.


"Gak Ayah, ibu dapat bunga bagus lumayan buat dikamar"

__ADS_1


"Oh ibu punya selingkuhan sekarang" sindir Ayah.


"Ya ampun ayah, masa iya ibu selingkuh. Ayah mah gak ada tandingannya tetep nomer satu" jawab Ibu.


"Yakin?"


"Iya"


"Terus bunga itu" tanya Ayah


"Ya bagus aja kalau ditaro kamar, lagi juga bukan dari selingkuhan yah, ibu mah setia gak mungkin selingkuh"


"Ah timbang bunga gak ada kerennya gak berharga" kata ayah meremehkan.


"Daripada Ayah gak pernah kasih bunga"


"Ya buat apa, kan didepan banyak" ucap Ayah


"Kalau yang depan kan sudah biasa"


"Ya sama aja ibu yang penting kan judulnya bunga, Tapi, bener kan itu bunga bukan dari selingkuhannya ibu"tanya Ayah penuh curiga.


"Ya bukan lah Ayah" jawab Ibu sambil tersenyum dengan bunga yang ada ditangannya itu.


"Awas aja kalau ibu selingkuh"


"Gak ayah sayang" ucap Ibu yang mengecup pipi sang ayah.


"Bibir dong Bu sekalian" pinta Ayah.


"Yang itu nanti malam aja" jawab ibu tersenyum lembut dan genit.


"Bener ya Bu" kata ayah meyakinkan.


"Iya"


Lalu setelah itu Lusi pun tampak membuat rujak sendiri, entah mengapa mulutnya terasa pahit.


Lalu Lusi pun tampak membuatnya sambil ia memakan di meja makan.


"Rujak enak juga, apalagi kalau aku yang buat eh enak nya pakai banget ini sih, tukang rujak mah lewat" ucap Lusi yang tertawa sendiri memuji buatannya sendiri .


Lalu tak lama suara handphone Lusi berdering Lusi pun tanpa tahu siapa pemilik nomer tersebut karena Lusi tak mampu mengenalinya. Ya itu adalah nomer baru yang Lusi tidak ketahui.


"Hallo" ucap nya lembut dan itu adalah suara laki-laki.


"Iya hallo" jawab Lusi ditelepon.


"Bagaimana?" Tanya nya


"Bagaimana apa?" Jawab Lusi heran.


"Bunganya apakah kamu suka" tanya pria yang tak dikenali itu.


"Oh jadi kamu yang kirim bunga" ucap Lusi.


"Hahaha betul sekali, kamu suka kan" tanyanya.


"Kamu siapa?" Tanya Lusi.


"Rahasia"


"Oh baiklah kalau gitu tidak penting, aku akan menutup teleponnya" kata Lusi.


"Baiklah aku akan mengatakannya sekarang. Aku adalah Gunawan"

__ADS_1


"Gunawan?" Ucap Lusi bingung.


"Rupanya kamu sudah lupa dengan ku"


"Jelas aku melupakan orang yang tidak penting"


"Baiklah aku akan membantu mu untuk mengingatnya" kata Gunawan. "Aku adalah pria yang waktu itu yang wawancara kerja. Kamu ingat kan dengan ku"


"Oh bapak tua yang sudah kurang ajar itu" kata Lusi.


Sial rupanya dia tahu nomer ku dan alamat rumah ku, pasti dia sudah mencatat nya saat aku melamar kerja kemarin, lebih baik aku matikan saja telepon nya. batin Lusi.


"Sudah ya aku tidak mau cari perkara" ucap Lusi yang akhirnya mematikan teleponnya.


Tut


Tut


Tut.


Pria itu pun kembali menelpon Lusi. Rupanya pria itu tidak mau menyerah saat itu.


"Jangan cari perkara pada ku, jangan matikan telepon ku. Jika kamu tidak ingin hidup mu menderita!!!" ancamnya.


"Baiklah katakan apa yang sebenernya kamu mau dan ingin kan, pria tua!!!" kata Lusi ditelpon.


"Jangan menyebut ku tua!!!"


"Baiklah apa yang kamu inginkan" tanya Lusi.


"Aku hanya ingin memberikan hadiah padamu saja tapi satu"


"Apa?" Tanya Lusi agak galak.


"Aku hanya inginkan hubungan yang spesial dengan mu" ucapnya.


"Tidak ada!!! Anggap saja kita tidak pernah kenal" kata Lusi.


"Kamu menolak ku"


"Jelas iya"


"Padahal aku belum mengatakan cinta"


"Aku rasa bapak sudah tahu jawaban apa yang saya akan katakan, jadi lebih baik tutup telepon ini"


"Tidak akan!!!"


"Aku tidak peduli"


Lusi pun langsung menutup teleponnya dengan cepat dan kesal.


"Aku tidak menyangka si tua itu menyimpan nomer ku. Menyesal aku melamar kerja ditempatnya, benar-benar tua keladi"


Lusi pun langsung kesal dan emosi sehingga ia tampak tak melanjutkan makan rujaknya.


"Kenapa ditekuk gitu mukanya" tanya ibu pada Lusi.


"Kesel aja Bu"


"Kenapa?"


Lusi pun tidak menerangkan apa yang membuatnya kesal ia pun langsung tampak menggeleng dan masuk kedalam kamar.


"Itu anak aneh banget ntar sedih, ntar kesel sendiri. Lusi .. Lusi" ucap ibu yang heran melihat putrinya masuk kedalam kamar sambil menekuk wajahnya.

__ADS_1


Ibu pun hanya heran dengan Lusi saat itu.


Memang Lusi setiap ada masalah ia biasanya jarang cerita kepada ibunya. Ia lebih banyak menyimpan masalah itu sendiri.


__ADS_2