
Sementara itu, terlihat Marisa yang sedang duduk berdua sama Juna sambil makan bersama. Menikmati secangkir kopi dan roti disebuah kafe.
"Marisa, kamu mau kita segera menikah atau nanti dulu" ucap Juna pada Marisa serius.
"Kenapa pertanyaannya seperti itu. Bukan kah kita sudah sepakat bahwa hubungan ini serius" jelas Marisa.
"Iya hanya saja?" Ucap Juna tampak tak melanjutkan.
"Kenapa?"tanya Marisa.
"Aku belum kerja, aku belum punya banyak kesiapan. Jika dibanding Rian aku jauh dari matang. Apa tetap kamu mau?"
"Aku tahu segalanya tentang kamu. Tidak peduli dengan seberapa kekurangan kamu. aku tidak peduli. Lalu kenapa disaat aku sudah mantap, malah seolah kamu yang tidak siap Jun" ucap Marisa.
"Aku belum bekerja Marisa"
"Iya aku tahu, aku maklum karena ijazah kamu saja baru turun. Dan darisitu seharusnya kamu mencari kerja bukan mundur memperjuangkan aku Jun"
"Kamu jangan salah paham, bukan aku mundur tapi aku hanya membicarakan ini. Karena aku ketemu sama papa kamu. Kalau dia tidak mau memiliki menantu seperti aku, yang bukan dari orang berada dan bahkan pengangguran" ungkap Juna.
"Hidup ini masih belum berakhir. Kamu masih umur 24 tahun bukan. Kamu masih bisa berjuang. Bahkan kita akan berjuang bersama" jelas Marisa.
"Maafkan aku Marisa" ucap Juna menghela napasnya. "Aku hanya merasa minder. Iya aku akan mencari pekerjaan. Aku akan berusaha kamu doakan aku ya" pinta Juna.
"Pasti Juna. Pasti!!! Asal kamu mau berusaha" ungkap Marisa memberikan semangat.
"Ya Marisa terimakasih"
Lalu Juna pun tampak membuka matanya bahwa semua masalah masih bisa diselesaikan secara baik dan matang.
"Aku dengar Kakak kamu akan segera menikah" tanya Juna pada Marisa.
"Iya si bocah tengik plus manja itu mau nikah. Aku gak yakin dia beneran nikah atau cuma main-main" ucap Marisa asal saja bicara.
"Huuss, kamu gak boleh bicara gitu. Bagaimana pun si jelek itu berulah. Dia tetaplah kakak kamu. Yang harus kamu hormati dan support" ucap Juna yang tampak sedikit membela Gery.
"Wkwkwk mau salto sambil jungkir balik aku, dengar kata hormatin dia. Ya, mending gak punya kakak kalau kakaknya bejat seperti dia" ungkap Marisa.
"Ya manusia siapa tahu bisa berubah kan" lanjut Juna.
"Termasuk kamu yang bisa berubah" sindir Marisa.
"Aku memang bisa berubah tapi tidak untuk cinta aku buat kamu Marisa. Cinta aku akan tetap dan tak pernah berubah, hanya kamulah di hatiku" ucap Juna.
"Yakin?" Tanya Marisa.
"1 persen cinta dan yakin" jawab Juna sambil tersenyum.
"99 persennya?" Tanya Marisa.
"99 persen sangat sangat cinta dan yakin"jelas Juna.
"Ahay... So sweet manis banget sih. Belajar gombal darimana" tanya Marisa.
__ADS_1
"Dari majalah bobo sama komik shincan" jawab Marisa.
"Hehehe bisa aja si Bambang" ledek Marisa.
"Iya dong Maemunah" jawab Juna.
Lalu mereka pun makan bersama. Selesai makan Juna pun tampak pamit dan pergi. Ya Juna sangat bersemangat untuk mencari pekerjaan demi Marisa yang akan ia nikahi. Niat yang sudah diteguhkan dalam hati tak boleh berubah dan tak boleh lekang. Karena hanya Marisa lah yang ada di hatinya kini.
Keesokan harinya, Marisa pun tampak berjalan-jalan keluar dengan kaki palsunya. Semenjak ada kaki palsu yang ia punya ia pun tampak tidak susah lagi untuk pergi kemana-mana.
Lalu selama dimall Marisa tampak mampir ke sebuah mall. Dan melihat baju yang begitu bagus dan indah. Lalu yang ia ingat adalah Lusi. Lalu Marisa pun tampak membeli baju pesta yang terlihat anggun dan sedikit seksi itu. Dia merasa Lusi berhak mendapat hadiah darinya karena sudah memberikan kaki palsu untuknya. Dan ia pun memasukan gaun tanpa lengan dan sedikit ada belahan pada bawahnya itu. Kedalam tote bag. Maksud hati ingin membuat Lusi bahagia dengan gaun yang terkesan seksi. Karena Lusi memang memiliki body yang bagus dan wajah yang cantik. Lalu dengan segenap hati, Marisa pun ke rumah Lusi.
Sesampainya dirumah keluarga Rian.
Marisa pun masuk. Ia datangi sebuah rumah yang pernah ia tinggali itu sebulan lalu itu.
Lalu tampak Lusi yang sedang berada dirumah sambil duduk termenung sambil makan buah naga. Dan minum air kelapa.
"Hey, enak bener makan buah naga sendirian" ucap Marisa yang tampak menganggetkan Lusi yang sedang melamun.
Lusi pun tampak menengok Marisa.
"Waduh datang-datang bukannya kasih salam. Malah nganggetin gitu" ucap Lusi kepada Marisa.
"Eh sorry deh, assalamualaikum"
"Walaikumsalam tuan putri. Duduk deh" perintah Lusi.
"Emang harus nya bagaimana?" Tanya Lusi yang dengan mode becanda.
"Ajak tetangga gitu, apa ajak warga satu RT sekalian. Jangan makan sendirian" kata Marisa.
"Hehe iya tar aku umumin ke masjid. Kalau lagi makan biar pada datang semua" ungkap Lusi dengan nada serius tapi santai.
"Btw, aku abis dari mall loh?"
"Weh, ngapain tuh. Numpang ngadem ya"
"Weits, Biasalah horang kaya. Belanja dong"
"Heheh, belanja apaan? Mau pamer ya" ledek Lusi.
"Hadiah, baju ini buat kamu. Aku mau kamu pakai ini saat acara ulang tahun ku nanti"
Lalu Lusi pun melihat dan membukanya. Ia pun kaget karena baju itu tampak seksi, seolah kurang bahan.
Lalu Lusi pun tampak tak enak hati menolaknya seolah tak menghargai. Lalu Lusi pun terima saja sambil tersenyum palsu, seolah senang. Karena Lusi tahu Marisa tipikal orang yang gampang ngambek dan marah kalau kalau hal sepele seperti pemberiannya ditolak.
"Wow ini bagus banget. Terus aku pakai baju ini buat apa ya" ucap Lusi mode senyum palsu.
"Nyanyi"
"Hemz. Bagus sih tar deh aku coba nya nanti"
__ADS_1
"Sekarang aja cobanya aku mau lihat"
"Iya tar aja ya, takut kotor bajunya kena buah naga" jelas Lusi.
"Pasti Rian makin cinta sama kamu kalau pakai baju ini" jelas Marisa.
"Hehe, oke aku taru kamar dulu ya. Nanti aku cobain" ucap Lusi yang beranjak dari duduk dan menaruhnya didalam kamarnya.
Lalu tak lama Renata pun pulang dan melihat siapa yang datang saat itu.
"Wow siapa ini" tanya Renata.
"Ini Marisa ma sahabatnya Rian dan Lusi" ucap Lusi memperkenalkan.
"Oh begitu ya. Kalian ngbrol aja ya. Mama mau temui Fabio"
"Iya ma, Fabio dikamar" ucap Lusi memberitahu Renata.
Lalu Renata pun tampak ke kamar untuk menemui Fabio. Terlihat Fabio yang sedang bermain dengan teeternya alias gigitan untuk bayi. Dan ada juga baby sitter juga yang sedang menjaga Fabio disana.
Lalu Renata pun tampak melihat sebuah kantong diatas kasur dan dia pun melihat dan membukanya. Renata pun kaget karena ternyata isinya gaun yang terlibat seksi.
"Apa-apaan ini. Si Lusi masih aja udah dibilangin jangan pakai yang seperti ini. Pasti dia beli ini di mall" gerutu Renata kesal.
Lalu dengan cepat Renata memberikan pada baby sitter dirumahnya.
"Mba tolong ini dibuang ke tempat sampah, jangan ada disini" ucap Renata kesal. Dan memberikan kantong itu untuk dibuang ke tempat sampah.
Lalu baby sitter itu pun melakukan sesuai yang diperintahkan oleh Renata. Tanpa Renata tahu bahwa gaun itu adalah pemberian dari Marisa. Dan benar saja ia membuangnya ketempat sampah.
Lalu tak lama setelah itu Marisa pun ijin untuk pulang namun ia pun tampak kaget karena melihat baju yang ia berikan pada Lusi ada di tempat sampah.
"Aku gak tahu cari berterimakasih. Tapi paling tidak aku tahu caranya menghargai pemberian orang lain. Lusi bener-bener keterlaluan" ucap Marisa kesal.
Marisa pun pulang dengan rasa yang kesal.
.
.
.
.
.
Setelah itu Lusi pun duduk didepan rumahnya untuk membuang sampah. Dan alangkah kagetnya saat ia melihat, ada gaun pemberian dari Marisa ada tempat sampah.
"Kenapa ini ada disini. Perasaan aku tidak membuangnya. Apa jangan-jangan Marisa melihat ini" ucap Lusi tampak kaget. "Aku yakin ini tidak aku buang, haduh Marisa pasti marah saat ia tahu bahwa aku membuang baju pemberiannya"
Lalu setelah itu pun tampak Lusi yang menelpon Marisa. Namun bukan diterima, malah direject.
Lusi pun bingung harus menjelaskan Marisa apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1