
Saat makan malam yang dibilang Deon itu ia akan katakan romantis namun nyatanya tidak seromantis yang Tanisa bayangkan.
Hidangan mewah yang sudah tampak didepan mata itu nyatanya tak sempat Tanisa cicipi. Karena, belum dimulai makan malam itu. Tiba-tiba saja Deon menghampiri Tanisa dan menarik tangan Tanisa yang secara tiba-tiba itu.
Sontak Tanisa kaget akan hal itu.
Ya tadi Deon ijin sebentar untuk pergi. Namun tak lama kepergian nya itu yang kurang lebih 15 menit. Deon menarik tangan Tanisa untuk keluar dari resto mewah tersebut.
Tanisa pun mengikuti apa yang dikehendaki oleh Deon. Untuk segera meninggalkan tempat itu.
Di parkiran resto..
Tanisa tampak heran dengan Deon yang seolah panik akan hal sesuatu, yang entahlah..
Lalu Deon pun mengatakan apa yang membuat dirinya panik.
"Tadi aku melihat putra ku didalam. Aku tidak mau dia melihatku bersama dirimu" ucap Deon pada Tanisa.
"Putra mu?" Tanisa heran.
"Iya, namanya Leon. Tadi aku tak sengaja melihatnya didalam" kata Deon.
Tanisa pun hanya mendengar apa yang dikatakan Deon.
Namun tak sengaja Tanisa melihat sebuah mobil yang terpakir yang Tanisa kenali.
Dan itu adalah mobil milik Gavino.
Gavino ...
Ya ini adalah mobil Gavino. Jika memang ini mobilnya berarti dia ada didalam.
Tanisa memang menghafal plat mobil yang Gavino miliki itu.
Mobil yang pertama kali ia taiki. Saat bersama Gavino. Mobil yang selalu ia tunggu itu yang mendandakan jika Gavino sudah pulang.
Ya tapi itu dulu. Untuk apa Tanisa mengingatnya. Mengingat seseorang yang sudah membuang dan mencampakkan dirinya. Ya untuk apa!!!?
Batin Tanisa meronta antara cinta dan benci merasuk dihati padahal baru melihat mobilnya saja. Namun sudah membuat dirinya berdebar namun juga sakit. Seolah rasa itu sedang bermain dalam batinnya. Ya, cinta namun berusaha untuk benci dan melupakan dia yang sudah pergi.
"Tanisa cepatlah" suara itu kembali terdengar.
Tanisa pun sontak saja mengikuti arahan suara itu untuk mengikutinya. Dan masuk kedalam mobil milik pria yang baru saja memanggil nama Tanisa.
Tanisa pun tampak seketika termenung apalagi kalau bukan karena Gavino.
Namun Tanisa pun tampak memejamkan matanya. Berusaha untuk melupakan kembali tentang cinta dan kenangan saat bersamanya.
Tanisa pun pergi bersama Deon. Meninggalkan tempat itu.
Ya pergi meninggalkan tempat itu. Tanisa pergi bersama Deon
.
.
.
Sementara Gavino.
Bagaimana dengan Gavino???
Gavino tampak mencari Tanisa yang ia yakin bahwa itu memang Tanisa. Ia pun mencari ke sekitar Resto tersebut sampai ia kedepan parkir namun tak menemukan Tanisa sama sekali.
Gavino tampak berlari mencari kemana Tanisa kini.
Tanisa kamu dimana? Tanisa? Tanisa?
Batin Gavino tampak mencari wanita yang pernah ia cintai, namun ia perintah kan untuk pergi. Dan itu adalah kebodohannya.
Ya dia sadar akan hal itu..
Ya namun Gavino telat...
Bahwa apa yang ia cari sudah pergi entah kemana.
Gavino tampak menarik rambut nya kasar. Dan sangat kesal. Kenapa ia bisa kalah cepat. Kini ia kembali gagal menemukan Tanisa.
Tanisa ...
Tanisa ..
Tanisa ..
Suara hatinya memanggil nama wanita itu.
.
.
.
__ADS_1
Sementara itu selama perjalanan..
Tanisa duduk disebelah Deon menatap Deon. Tanisa merasa heran kenapa Deon pergi dan panik meninggalkan Restorant itu saat tak sengaja bertemu putranya.
Ada apa?
"Kalau memang disana ada putra mu, seharusnya bapak jangan kabur gitu aja" kata Tanisa.
"Kamu tidak mengenal putra ku" kata Deon.
"Bukankah bapak berjanji untuk menikahi ku. Lantas harusnya tak ada yang perlu disembunyikan lagi didepan putra mu" kata Tanisa lagi.
"Asal kamu tahu putra ku orangnya nekat. Aku takut dia melihat ku bersama mu. Dan berbuat hal diluar dugaan ku. Aku tahu dia belum siap jika aku mengenal kan wanita lain yang akan aku jadikan istri. Itu sebabnya aku membawa mu pergi" kata Deon sambil menyetir.
Tanisa pun tampak mengangguk paham. Mungkin apa yang Deon lakukan memang perlu dilakukan.
"Tanisa?" Ucap Deon.
"Ya pak"
"Bisakah kamu ganti panggilan untukku. Panggil aku sayang, atau yang lain yang lebih bagus"
"Emang kenapa pak, bukannya bapak emang sudah cocok dengan itu"
"Hanya saja kamu seperti anak saya jika kamu panggil saya bapak. Panggil saya dengan sebutan yang lebih mesra, kan aku sudah bilang panggil aku sayang. Sayang, ayang, yang lebih mesra pokoknya"
"Iya sayang"
"Bagus panggil aku mas jangan bapak"
Tanisa pun mengangguk.
Lalu mereka pun pulang..
.
.
.
Keesokan harinya...
Terlihat Tanisa yang sedang dirumah yang sedang sibuk membereskan rumah yang berdesain minimalis itu. Tanisa membereskan karena itu memang perlu. Di rumah itu ia tidak memiliki pembantu rumah tangga. Jadi Tanisalah yang membedakannya.
Tak lama setelah itu, Deon pun pulang.
Deon pun tersenyum melihat Tanisa yang terlihat sangat cantik itu. Berada dihadapannya kini. Dan ia pun menghampiri Tanisa dengan cepat.
"Besok kita makan malam ya. Aku ingin mengajak mu makan malam bersama teman ku" ajak Deon pada Tanisa.
"Iya kamu"jelas Deon. Lalu Deon pun menarik Tanisa. Dan memeluknya dari belakang. Sambil mengecup lehernya beberapa kali.
"Aku malu sayang" ucap Tanisa yang kini harus terbiasa memanggil Deon sayang.
"Jangan malu, mereka baik semua. Kamu santai saja" kata Deon.
"Baiklah"
"Besok kamu dandan yang cantik dan pakai lah baju yang bagus. Nanti aku akan pilihkan baju" perintah Deon.
"Apa aku terlihat jelek" tanya Tanisa.
"Kamu sudah cantik. Hanya saja aku ingin kamu terlihat lebih cantik"
"Iya sayang. Aku akan pakai gaun yang kamu mau pilihkan untukku, kamu tenang saja" kata Tanisa sembari tersenyum.
"Iya" lalu Deon pun mencium bibir Tanisa, dengan hangat dan mesra.
# flash back on #
Ya sore itu. Sore saat belum pulang kantor.
Tiba-tiba seseorang teringat akan ulang tahun Gavino. Dan langsung satu diantara mereka meminta traktir untuk merayakan ulang tahun Gavino. Yang ke 28 tahun. Sontak Gavino pun tampak mengiyakan teman-temannya itu.
Kebetulan saat itu sekitar ada 4 orang termasuk Deon.
"Bapak sebaiknya ikut juga kita makan bersama untuk merayakan ulang tahun Gavino" kata Alex teman nya.
"Baiklah. Bila saya mengajak seseorang bisakah" ucap Deon.
"Tentu, siapa?" Tanya Alex teman nya.
"Kekasih ku" jawab Deon.
"Jadi bapak sudah go public sekarang" goda Gavino mendengar kata kekasih itu.
"Heheh dia sudah menerima cinta ku" senyum Deon yang tampak senang.
"Benarkah? Itu artinya cincin itu sudah dipakainya" Gavino ikut senang.
"Iya dia sangat suka cincin itu. Dan kalungnya juga. Terimakasih Gavino. Kamu sudah memilihkannya" ujar Deon berterima kasih.
__ADS_1
"Sama-sama pak" ujar Gavino.
# Flash back off#
.
.
.
Keesokan harinya...
Gavino teringat jika ini adalah hari dimana ulang tahunnya. Namun dirinya tampak tak peduli. Justru temannya lah yang peduli soal hari dimana ulangtahunnya. Bagaimana tidak, dirinya saat itu sedang galau. Memikirkan atas cintanya dan hatinya yang hampa dan semakin kosong.
Gavino melihat ranjang yang selalu ia tiduri. Namun hatinya semakin sakit. Wanita yang selalu bersama dirinya dulu. Kini entah dimana dan bersama siapa.
Gavino tampak menarik napas beratnya. Gavino tampak mengelus kasur itu dan meratapi nya.
Ia sudah kehilangan wanita itu.
Ya sangat lah kehilangan.
"Tanisa besok adalah hari ulang tahun ku. Harusnya itu hal yang membuatku bahagia. Namun terasa sedih saat tak ada dirimu" seketika air mata Gavino jatuh.
Mungkin baru kali ini Gavino menjatuhkan air matanya untuk seorang wanita.
Ya Gavino rasanya ingin memeluk Tanisa walau sekali saja.
.
.
.
Hari itu..
Ya hari ini adalah ulang tahun Gavino.
Gavino pun bersiap untuk makan malam bersama rekan bisnis dan temannya itu.
Gavino memesan tempat disebuah Restorant hotel mewah untuk acara ulang tahunnya.
Biasanya dulu Gavino jika ulang tahun selalu mengadakan party.
Tapi sekarang karena hatinya sedang sedih. Hanya makan malam saja. Itu pun karena temanya yang meminta jika bukan karena temannya Gavino malas dan seperti enggan. Beda dengan dirinya dulu.
Malam itu..
Terlihat dari mereka menghadiri pesta makan malam itu dan mereka membawa kekasih mereka. Mungkin hanya Gavino yang datang sendirian. Meski itu adalah hari ulang tahunnya. I
a tampak tak bersemangat dengan ulang tahunnya sendiri.
Gavino pun duduk dimeja yang sudah disediakan. Sambil tersenyum menyambut temannya yang sudah berdatangan. Gavino tampak tersenyum menyambut semua yang datang kala itu.
Seketika hatinya sakit.
Lalu tak lama tampak Deon datang dan memberi ucapan selamat pada Gavino.
"Selamat ulang tahun Gavino.. semoga sehat dan selalu sukses" ucap Deon pada Gavino.
"Bapak datang sendiri?" Tanya Gavino.
"Tidak saya datang berdua" jawab Deon.
"Oh.."
Lalu tak lama Tanisa tampak muncul. Ya karena Tanisa ijin ke toilet.
"Nah ini dia" ucap Tanisa muncul dihapan Gavino kini.
Seketika Gavino pun tampak kaget melihat siapa wanita yang dihadapannya.
Tanisa batin Gavino.
"Ini kenalkan dia, dia adalah Tanisa" ucap Deon pada Gavino.
Seketika Gavino tampak kaget dan tak percaya dengan wanita dihadapannya.
Mata Gavino pun tampak tak mengedipkan mata saat Tanisa melihat Gavino dihadapannya kini.
Seketika keduanya pun tampak terdiam saling memandang satu sama lain.
Gavino tampak terpaku memandang wanita yang selama ini ia cari dan berada dihadapan nya kini.
Deon pun heran dengan keduanya. Yang tiba-tiba saja terdiam itu.
"Apakah kalian saling kenal?" Tanya Deon.
"Tidak kita tidak saling kenal. Bahkan aku baru melihatnya" ucap Tanisa.
Tanisa... batin Gavino.
__ADS_1
Tanisa dengan rambut barunya yang berwarna coklat.
tampak sangat begitu cantik dan elegan bagi siapa saja yang memandang.