Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Perkara Tas


__ADS_3

Setelah Lusi menangis di dalam pelukan Tasya Lusi pun menyadari bahwa ada yang salah, dirinya tak boleh menangisi orang lain yang telah bahagia. Lusi pun menghapus air mata yang jauh itu.


"Tasya, tak seharusnya aku menangis" kata Lusi.


"Aku gak tahu apa yang kamu tangisi cuma sepertinya kamu sangat sedih jadi aku tidak tega dan memeluk mu. Memangnya dia siapa, sehingga kamu tangisi orang yang berada di foto ini"


"Dia mantan suami aku"


"Mantan? Jadi kamu janda" kata Tasya.


"Iya" jawab Lusi singkat.


"Oh. Baru tahu aku, hemm... Terus kamu masih cinta makanya kamu menangis"


"Entahlah aku hanya sedih dengan kehidupan ku sendiri yang tak pernah bisa bahagia. Sulit untuk aku bersatu dalam keadaan pernikahan yang rumit. Aku tidak mau merebut siapapun Tasya, dulu aku hanya istri kedua. Dan aku memutuskan untuk bercerai" kata Lusi menjelaskan dengan tatapan yang terlibat sedih.


"Entah kenapa aku kalau mengingat semua air mata ku tidak berhenti terjatuh" ucap Lusi menghapus air matanya.


Lusi pun memberikan sebuah foto kedua anaknya. Dan memberikan kepada Tasya.


"Ini kedua anak ku, ini yang paling besar bernama Fabio dan yang kedua namanya Yasmin" ungkap Lusi memberikan foto kedua anaknya pada Tasya.


"Ya ampun lucu banget masih kecil lagi" kata Tasya sambil melihat foto itu.


"Sabar ya Lusi, langkah kamu masih panjang. Hidup kamu masih harus terus berjalan"


"Iya aku kuat kok Tasya ngejalanin ini semua. Terimakasih" kata Lusi sembari tersenyum kepada Tasya.


Lalu saat itu Lusi pun pada saat jam makan siang bertemu lagi dengan pak Hilman di depan ruangannya.


Pria yang Lusi anggap orang tuanya itu, saat bertemu di jalan Lusi tampak memberikan sebuah senyuman manis yang merekah di bibir Lusi.


"Selamat siang pak" ungkap Lusi memberikan senyuman, sapa dan salam yang biasa orang lakukan.


"Ya selamat siang" jawab pak Hilman memandang Lusi dengan lekat.


Lusi pun langsung berjalan dengan langkah kakinya menyusuri setiap jalan yang ada. Tapi tanpa disangka setiap apa yang Lusi lakukan sekecil apapun itu mampu menggetarkan hati pria yang sedang merasakan kembali jatuh cinta.


Hilman mungkin merasa salah mencintai wanita yang umurnya sangat jauh tapi Hilman yakin jika cintanya tak pernah salah.


Lusi wanita yang baik juga cantik, ketulusan dan kelembutan hati yang mampu terpancar membuat hati Hilman bergetar cinta walau hanya dengan melihat senyum mempesonanya.


Saat jam pulang kantor Lusi pun mampir sebentar ke sebuah mini market yang berada di dekat kantor, Lusi membeli beberapa kebutuhan untuk bayi Fabio dan Yasmin.


Lusi tampak membeli diapers dan susu formula untuk Fabio. Lusi membeli dengan menggunakan uang yang ia dapatkan dari pak Hilman kemarin.


Namun saat pembayaran tiba-tiba..


Pak hilman datang dan sudah berada disamping Lusi.


"Bapak" kata Lusi yang kaget melihat pak Hilman berada didekatnya. "Bapak beli apa?"


"Say cuma mau beli minum"


"Oh"


"Kamu beli apa?"


"Wah biasa pak kebutuhan anak"


"Hemm iya" kata pak Hilman dengan tersenyum.


Lusi yang menuju meja kasir itu pun lantas tiba-tiba diikuti oleh pak Hilman.


"Totalnya 410.000" kata kasir itu


"Pakai kartu saya saja mbak"


"Loh pak jangan saya ada uang"


"Lusi biarkan saya yang bayar"


" Tapi pak"


"Sudah, terima saja saya yang bayar"


"Pak ini belanjaan saya banyak pak"


"Terimalah..."


"Terimakasih pak"


Lalu Lusi pun sangat berterimakasih dengan apa yang ia terima dari pak Hilman. Mungkin dari sekian banyak atasan hanya pak Hilman yang paling baik saat ini. Lusi pun hanya tampak memberi senyum, tak banyak bicara. Karena Lusi takut salah bicara dan hanya ucapan terimakasih yang mampu Lusi utarakan.


Tapi saat Lusi sedang menunggu angkutan umum pak Hilman masih berdiri di samping Lusi didepan mini market. Pak Hilman tampak membuka obrolan saat itu.


"Lusi?"


"Ya pak"


"Kamu, sudah menjanda berapa lama?"


"Baru tiga bulan pak"


"Kenapa? Kenapa jadi janda"


"Sulit untuk dijelaskan"


"Kamu apakah trauma dalam menjalani rumah tangga"


"Tidak pak, saya pun kalau memang bertemu dengan jodoh saya lagi saya mau dinikahi. Jodoh maut rejeki sudah ada yang atur hanya bisa pasrah pak"


"Kalau kamu bertemu dalam waktu dekat bagaimana?"


"Belum tahu"


"Lusi? Kriteria pria kamu seperti apa?"

__ADS_1


"Yang pasti baik, bertanggung jawab dan siap menerima anak-anak saya pak"


"Selain itu?"


"Tidak ada dan tidak tahu lagi"


"Tampan apakah itu termasuk?"


"Tampan itu relatif pak"


"kamu bisa aja"


"Iya tampan itu bonus yang penting terima saya apaadanya"


"Memangnya ada pria yang tidak bisa terima kamu apadanya"


Lusi pun hanya tampak tersenyum.


"Pak permisi ya pak, ternyata sudah ada angkutan umumnya"


"Baiklah hati-hati ya"


Lusi pun seketika terdiam dan merenung dengan kebaikan pak Hilman yang memang menurutnya lain. Lusi hanya bisa berusaha untuk menerimanya saja.


.


.


.


.


.


Keesokan harinya Lusi pun kembali menjalani rutinitas seperti biasanya. Lusi menjalani harinya dan beruntung hari ini ia tidak datang terlambat sehingga tidak harus menghadap siapa-siapa.


Tapi tanpa di duga di meja kerjanya terlihat sebuah tas branded yang begitu bagus dan sepertinya ini milik orang kaya yang punya. Lusi pun hanya memandang tanpa memegang karena takut jika salah.


Lalu tak lama Tasya lewat dari meja kerja Lusi dan Lusi pun memanggil Tasya yang mungkin saja tahu siapa pemilik dari tas yang berada diatas meja kerja.


"Tasya"panggil Lusi kepada Tasya.


"Why???" Jawab Tasya menghampiri Lusi.


"Punya siapa ini, punya kamu bukan tas ini"tanya Lusi.


"Wah kurang tahu, aku baru aja lewat. Mungkin punya kamu atau hadiah buat kamu"


"Tasya jangan ngarang deh, gak ini tas pasti ada yang punya"


"Yaudah tanya aja security siapa tahu dia lebih tahu"


"Oke" jawab Lusi.


Lalu Tasya pun pergi melanjutkan pekerjaan yang memang belum selesai difront office.


Namun...


baru saja ia memagang tas itu tiba-tiba seorang wanita sekitar usia 40 tahun dengan berpenampilan glamor menghampiri Lusi.


"Hey!!!!!" Teriaknya. "Mau kamu kemana kan tas ku" jelasnya terlihat marah.


Lusi pun kaget dengan teriakan kepada dirinya yang tiba-tiba.


Dengan cepat Lusi melepaskan tas itu dari tangannya.


"Maaf aku gak tahu, tas ini berada dimeja kerja ku tanpa jelas siapa pemilik dan meninggalkannya begitu saja" jelas Lusi.


"Oh, jadi kamu mau maling tas aku, karena kamu gak tahu siapa yang punya" ucap wanita itu tak terima.


"Gak begitu, sorry ya saya bukan orang yang seperti itu" kata Lusi yang tidak mau dianggap dirinya seperti maling.


"Heh!!!!!! Cewek kampung, mana ada maling yang ngaku!!!!.kalau ada maling ngaku, penjara penuh!!!!"


"Buat apa saya ambil tas anda?" Ucap Lusi menatap wanita dihadapannya.


"Buuat apa? Ini tuh tas mahal dan didalamnya banyak uang. Jadi kemungkinan besar kamu memang mau ambil tas aku"


Lusi pun menarik napas dalam dengan emosi yang seperti ingin meledak tapi ia tahan.


"Ibu yang terhormat, saya mengambil tas anda tanpa bukti. Itu sama saja ibu memfitnah diri saya" kata Lusi memandang wajah wanita itu.


"Dasar maling masih kamu gak ngaku, tadi aku lihat tangan kamu mau ambil tas saya. Didepan mata kepala aku!!!!" Katanya lagi.


"Saya ambil bukan berati mau maling, tapi emang tas anda saya ingin tanya lebih lanjut kepada sekurity dan kalau pun sekurity tidak tahu saya akan tetap menitipkannya disana"


"Jangan banyak memberikan alasan, sekali maling tetap maling"


Lalu dengan cepat wanita itu langsung menarik tangan Lusi kuat dengan genggaman yang sangat erat.


"Kamu tahu saya siapa? Saya adalah calon istri pak Hilman. Dan kamu siap-siap akan saya jebloskan dalam penjara"


"Bu jangan mentang-mentang ibu calon istri dari pak Hilman dengan gampangnya ibu ingin menjebloskan saya ke dalam penjara"


"Aku tidak takut dengan kamu!!!" Kata wanita itu menarik Lusi keras.


"Saya juga tidak takut karena saya tidak salah" ucap Lusi yang tidak mau kalah.


Dan dalam suasana yang tampak rumit itu teman kantor yang ada disitu hanya tampak memandang tanpa melerai karena mereka tidak tahu jalan cerita Sebenernya.


Dan malah ditambah dengan nada ancaman dari wanita itu.


"Siapa saja yang berani menolong wanita ini, sama saja dengan menolong maling!!! Karena dia sudah mengambil tas saya" ancamnya.


"Saya berani bersumpah saya tidak mengambil tas milik anda"


"Jelaskan nanti di kantor polisi" ucapnya menarik Lusi hingga terjatuh.

__ADS_1


Lalu tak lama pak Hilman datang dan bingung dengan keributan yang begitu terasa dikantor itu. Ia pun kaget saat yang menjadi orang yang menjadi sumbernya adalah Lusi.


"Apa-apaan ini" ucap pak Hilman datang.


"Mas Hilman, akhirnya kamu muncul juga. Dia mas sudah mengambil tas milik ku" kata wanita itu yang mengeluh tasnya telah diambil Lusi dan mendekat kepada pak Hilman.


"Pecat saja dia mas!!!" kata wanita itu lagi.


Lusi pun menghela napasnya sebenarnya ingin menjelaskan semua tapi Lusi merasa menjelaskan semua nya pun terasa percuma karena wanita yang dihadapan kini seperti ular berbisa yang kapan saja siap menggigit dan memberikan racunnya.


"saya akan melaporkan mu ke polisi" kata wanita itu lagi.


"Erika kamu tidak boleh menuduh orang lain sembarangan" bela pak Hilman.


"Kamu lebih membela dia" kata wanita itu.


"Mas kamu bela aku dong bukan dia!!!!" Pintanya.


Lalu tak lama Tasya datang dan melihat keributan yang terjadi. Ia pun merasa ikut andil dengan yang terjadi apalagi menyangkut Lusi.


"Wah ada apa ini? Apa karena masalah tas" kata Tasya.


"Iya" jawab Hilman.


"Tasya, kamu bisa jelaskan soal tas ini pemiliknya salah paham aku dikira mau ambil tasnya" kata Lusi.


"Oh maaf, memang tas ini sudah ada sebelum Lusi datang, karena Lusi tidak tahu siapa pemiliknya aku sarankan Lusi untuk memberikan kepada sekurity disini" ucap Tasya menjelaskan kejadian sebenernya.


"Nah jelaskan Erika, bahwa tas ini sudah ada sebelum Lusi datang justru Lusi baik ingin memberikan tas ini pada pihak sekurity, kamu jangan fitnah orang sembarangan" kata Hilman.


"Tapi mas aku lihat dia bawa tas aku" jelasnya lagi


"Sudah cukup Erika, saya yang bertanggung jawab jika kamu memang kehilangan isi tas kamu" tegas Pak Hilman langsung pergi.


"Awas kamu ya!!!!" Kata Erika marah pada Lusi


Erika pun mengikuti Hilman yang pergi meninggalkan suasana itu dan langsung mengikuti Hilman ke dalam ruangannya.


Erika tampak memandang Hilman dari atas hingga bawah seperti wanita yang memang ingin menggoda.


"Kenapa kamu sangat membelanya" tanya Erika yang duduk dipangkuan Hilman dsn menciumnya. Namun Hilman tampak membuang wajahnya.


"Mas...." Kata Erika lagi.


"Jangan sentuh aku" Hilman membuang wajah dan tak suka atas perlakuan manja Erika


"Mas Hilman kamu kenapa? Kamu kenapa seperti ini, aku ini pacar kamu mas" kata Erika membelai pipi Hilman.


"Untuk hari ini, ya mulai saat ini kita sudah tak ada lagi hubungan"


"Lalu yang kemarin-kemarin kita merajut kisah itu namanya apa?" Kata Erika manja.


"Itu hanya sekedar hubungan tanpa cinta dan status, aku tidak cinta pada mu Erika kamu jangan paksa aku untuk cinta dengan mu" kata Hilman.


''Mas, kamu tidak boleh seperti itu, kita pernah tidur bersama, kamu anggap apa?"


"Mau kita sudah tidur atau pun belum, tetap saja kita tak bisa bersama karena aku tak cinta dengan mu. Kamu jangan paksa aku, karena aku tak akan mau dengan orang yang tidak aku cinta" jelas Hilman


"Jangan katakan itu, apa kamu sudah punya wanita lain?" Tanya Erika.


"Iya, aku mencintai wanita lain dan itu bukan kamu!!!! Kamu boleh pergi"


"Aku tidak mau pergi dari mu" ucap Erika tak terima.


"Tapi aku yang akan memaksamu pergi dari ku!" Jelas Hilman.


"Mas....." Kata Erika lirih.


"Security bawa wanita ini pergi dari ruangan saya" ucap Hilman menelpon security.


"Dan ini uang untuk mu, kamu bisa pergi dengan cek ini" kata Hilman memberikan uang senilai 30 juta rupiah agar Erika bisa pergi dari hidupnya.


"Mas kamu jahat kita sudah tidur bersama"


"Itu keinginan mu bukan keinginan ku. Kamu yang memintanya" jelas Hilman.


Tak lama dua orang pria datang dan itu adalah security perusahaan milik Hilman yang siap menari Erika keluar dari kantornya.


Erika pun keluar dari kantor Hilman dengan perasaan kesal.


"Gak usah usir saya, saya bisa keluar sendiri" seru Erika.


Dasar kamu Hilman pria tua kurang ajar, aku tidak mau cek ini yang aku mau harta mu, batin Erika kesal.


Lalu sementara itu......


Lusi pun kembali melanjutkan karjanya, melakukan aktivitas seperti biasa. Hal yang tak terduga seperti tadi memang membuat Lusi kesal tapi Lusi berusaha untuk tidak memikirkannya.


Tiba-tiba ada seorang OB memberikan sebuah amplop untuk Lusi.


P


"Permisi mbak ini ada surat untuk mba" ucapnya memberikan sebuah amplop berwarna putih.


"Buat saya, dari siapa?" Tanya Lusi heran.


"Katanya buka aja mba"


"Oh baiklah" jawab Lusi.


Lalu Lusi pun membuka amplop itu dan ternyata berisi surat.


Lusi.. Malam ini jam 7.00 malam aku tunggu disebuah resto Pelangi. Saya minta kamu harus datang dan jangan sampai telat.


(Hilman)


Undangan makan malam..... Untuk apa dia mengundang ku untuk makan malam...

__ADS_1


__ADS_2