
Pernikahan yang berjalan baru dua hari itu terlihat tampak tak seperti pasangan pengantin baru pada umumnya, Gery kerap kali terlihat cuek pada Liana walau Liana sudah bersikap baik pada Gery.
Ya, Gery merasa hanya terpaksa saja menikahi Liana karena Gery hanya bertanggung jawab, dan Gery pun tak seharusnya bertanggung jawab pikirnya. Karena Gery pun melakukan nya secara tidak sadar dan bukan keinginannya saat melakukan hubungan badan dengan Liana.
Walau di masa honeymoon Gery tidak peduli dan tidak menunjukkan keromantisan sama sekali.
Liana pun tampak memegang perut nya dan memegang tangan Gery untuk mendapatkan simpatik dari suaminya, dan Liana pun tersadar jika Gery tak memakai jam pemberiannya.
"Gery, jam dari ku kemana?"
Gery pun terdiam karena ia pun lupa taro dimana.
"Padahal aku belinya mahal"
Gery masih tampak terdiam
"Kalau gitu kita lupakan jam tangan peganglah bayi dalam perut ku ini" ucap Liana menarik tangan Gery.
"Gery kenapa kamu seperti ini, padahal ini bayi kamu pegang ini" pinta Liana menyuruh memegang perut Liana.
"Apa betul itu bayiku, seperti nya aku ragu" kata Gery ketus.
"Untuk apa aku berbohong, pegang lah dulu"
Asal kamu tahu Liana aku menikahi kamu karena aku mengira kamu itu Lusi saat malam itu, aku tidak pernah tahu kalau wanita itu adalah kamu. Sumpah demi apapun kalau aku tahu itu adalah kamu orang yang tak ku kenal sama sekali, jangankan aku mau tidur dengan mu. Melihat wajah mu saja aku enggan, batin Gery saat itu.
Lalu Liana pun tampak memegang tangan Gery.
"Mungkin saat ini kamu tidak bisa mencintai ku dan sangat membenci ku. Tak menganggap dan tak bisa ada untukku. Tapi tolong tidak untuk anak yang ku kandung. Kamu tidak perlu menjadi suami, tapi cukuplah menjadi ayah yang baik untuk anak ini" kata Liana tegas.
Gery pun terdiam menatap Liana.
"Seumur hidup aku tidak pernah mengemis cinta, dari dulu aku selalu menjadi nomer satu perihal cinta. Namun karena aku hamil baru kali ini meminta. Jika aku ingin hidup sendiri tanpa mu, aku bisa hidup tanpa dengan mu. Tapi aku ingat nama baik keluarga aku ingat anak ini perlu Ayah. Aku sadar aku salah namun demi anak aku rela tak dicintai. Kamu boleh jahat boleh tak menganggap ku, tapi jangan dengan anak ini"
Seketika Gery pun terdiam dan kesal namun ia masih mau mendengar apa yang Liana katakan.
"Baiklah jadi mau mu apa?"
"Temani aku ke dokter kandungan. Aku ingin kamu ada saat seperti ini"
"Baiklah. Anggap aku lakukan ini demi anak mu..bukan kamu" ucap Gery.
Lalu Gery pun tampak melesatkan mobilnya menuju rumah sakit untuk mengontrol kandungan Liana.
Dirumah sakit...
Sambil menunggu dokter tampak Gery yang sedang sibuk dengan gadget tampak cuek. Dan sambil menatap foto Lusi Gery menunggu dan menemani Liana.
Gery aku tahu kamu mungkin tidak mencintai ku, aku pun tahu kamu melihat wanita lain dan bukan aku. Tapi aku akan sabar sempai kamu benar bisa mencintai ku.
Dan saat nomer antrian di panggil terlihat Gery yang akhirnya masuk ke dalam ruang dokter saat itu Liana pun tampak diperiksa kandungan nya.
Ini adalah pertama kalinya bagi Gery untuk ke dokter kandungan. Gery pun yang tadinya cuek tiba-tiba ada rasa didalam hati yaitu penasaran seperti apa bayi didalam layar monitor. Dan alangkah terkejutnya dia saat dokter mengatakan bahwa jenis kelamin nya sudah keliatan dan anaknya perempuan.
__ADS_1
"Perempuan" kata itulah yang tiba-tiba terucap.
Seketika ia pun teringat dan terdiam jika Liana saja bisa hamil karena perbuatan nya. Apakah Lusi juga akan hamil karenanya?
Gery pun terdiam dan memejamkan matanya hingga beberapa kali. Tenggelam dalam pikirannya yang tiba-tiba merasa bersalah.
.
.
Sementara itu terlihat Lusi yang masih dirumah, Lusi tampaknya harus ikhlas dan siap menunggu suaminya yang pulang mungkin 2 Minggu lagi.
Lusi pun menggendong putranya dan mengajaknya bermain.
Lalu tak lama ada panggilan video masuk dihp Lusi. Dan itu dari Rian.
"Wah dari papa, Fabio" ucap Lusi sambil menggendong putranya sambil mengajaknya bicara.
"Hallo sayang" ucap Rian dipanggilan video.
"Iya, hallo apa kabar kamu disana?" Tanya Lusi.
"Ya Alhamdulillah sehat"
"Syukurlah. Kalau kamu sendiri Lusi?" Tanya Rian dipanggilan telepon.
"Aku? Sehat sayang cuma agak capek aja sih habis dari acara nikahan Gery kemarin"
"Lusi?"
"Ada sesuatu yang aku ingin tanya padamu. Aku kan memajang poto mu disini, di meja kerja ku"
"Terus?"
"Kemarin tiba-tiba foto itu jatuh dan pecah. Aku langsung khawatir dan teringat kamu. Kamu baik-baik saja kan. Aku takut ada pertanda buruk padamu. Entah mengapa ada perasan tak enak yang aku rasakan.. apa kamu baik-baik saja"
Seketika Lusi pun menarik napas berat nya, ia pun merasa baik-baik saja namun batin nya memang terasa tak baik-baik saja.
"Kamu kenapa terdiam?" Tanya Rian.
"Ah gak apa-apa, aku baik" kata Lusi.
"Sykurlah.. Aku belum bisa pulang, karena ternyata waktu aku masih diperpanjang kerja disini" kata Rian.
"Berapa lama, aku sudah rindu"
"Kamu yang sabar disana ya sayang. Aku belum tahu tapi yang pasti kurang lebih tiga bulan"
Lusi pun entah mengapa ada perasaan sedih yang teramat dalam pada Rian yang nan jauh disana. Perasaan nya terasa berat manakala ditinggalkan oleh suami walau sebenarnya untuk bekerja.
Lusi merasa dirinya kehilangan bila tak ada Rian dirumah. Rasanya ia ingin selalu didalam dekapan suaminya.
Kini waktu berganti menjadi malam.
__ADS_1
Lusi pun tampak tertidur namun dalam tidur. Lusi memimpikan sesuatu yang membuatnya dirinya gelisah.
Tampak didalam mimpi Lusi dikejar oleh seorang pria yang tak ia kenal sama sekali dia siapa. Pria itu tampak mengejar Lusi hingga Lusi terjatuh.
Dan pria itu tampak dengan kasar menarik tubuh Lusi dan mencoba menodai sekaligus membunuh nya saat itu
"Lepaskan aku dari pelukan mu.. aku mohon" tangis Lusi didalam mimpi.
"Tidak akan bisa, sekali tergenggam tak akan mungkin aku lepaskan"
"Aku mohon lepaskan aku" isak tangis Lusi berusaha mencoba untuk terlepas dari pria itu. Namun nyatanya tak bisa.
Di dalam mimpi ada sesosok laki-laki yang mencoba menidurinya dengan paksa dan menodongkan senjata tajam ke arah leher Lusi, Lusi pun berusaha lepas darinya namun terasa sulit pada akhir Lusi pun terbangun..
"Hah.. hah.. hah..." Deru napas Lusi yang terasa berat itu ia tumpahkan.
Ya Allah pertanda buruk apa ini. Kenapa aku bermimpi seperti ini. Mengapa bisa? Apa maksudnya ini. Batin Lusi.
Seketika Renata pun terbangun dan melihat menantunya yang terlihat shock itu.
"Kamu kenapa?" Tanya Renata.
"Aku takut ma.. aku takut"
"Kamu takut kenapa?"
"Aku mimpi ada orang yang berusaha membunuh dan meniduri ku, dia jahat dan aku tidak mengenal nya"
"Apakah kamu masih trauma pada Rian yang pernah berbuat seperti itu"
"Bukan, di mimpi ku bukan Rian dia orang lain. Dan aku tidak tahu siapa dia." Ucap Lusi.
Renata pun memeluk sang menantu untuk menangkannya. Lusi merasa di mimpi itu meksipun hanya mimpi namun semua terasa sulit untuk dianggap mimpi seolah itu adalah nyata.
Lusi pun tampak menenangkan diri dengan berusaha menarik napas panjang nya secara perlahan.
Namun tiba-tiba suara teleponnya berdering.
Krrriiingg...
"Sebentar ma ada telepon" ucap Lusi ditelepon dan langsung mengangkatnya.
"Apa benar ini keluarga dari Rian Chandra" ucapnya ditelepon.
"Iya betul saya istrinya"
"Saya ingin mengabarkan bahwa suami Ibu berada di rumah sakit. Kondisinya koma karena kecelakaan. Dan kini berada dirumah sakit"
"Apa?"
Seketika hati Lusi pun hancur saat mendengar itu semua dunia seakan runtuh. Semua nya begitu berat dan sulit. Suaminya yang baru saja memulai karier namun sudah mendapat cobaan yang begitu berat.
Lusi pun tampak menangis sambil memegang gagang telepon ditangan.
__ADS_1
Rian, kamu mengira bahwa diriku yang tak baik-baik saja, namun nyatanya dirimu yang tak baik-baik saja. Rian jangan buat aku menderita seperti ini dengan berita buruk tentang mu. Sungguh ku tak sanggup.