
BOCIL MINGGIR LU!!!! PULANG AJA LU PULANG. gak disarankan dibawah umur, apalagi belom nikah. intinya dosa ente tanggung sendiri.
saya minta maaf sebesarnya untuk bab ini!!!
Keadaan saat itu masih mencekam bagi Lusi sekalipun Demian sudah mengatakan cinta pada Lusi tapi nyatanya Lusi tidak merasakan cinta yang sebenernya hanya sebuah keegoisan, kekuasan dari tangan Demian, dan kesengsaraan yang tengah ia rasakan. Lusi merasa sedih dirinya harus kembali merasakan lagi, kesedihan dan keperihan batin yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Demian yang terbangun dari tidurnya itu lantas memandang Lusi dengan perasaan bersalah, bersalahnya kenapa melakukan hal tersebut saat keadaan mabuk. Seharusnya melakukan hal tersebut dalam keadaan sadar sehingga ia mampu mengingat tubuh Lusi yang seharusnya ia ingat. Demian pun menengok ke arah Lusi,dengan tatapan tajam ke arah wajah Lusi. Lusi tampak menjatuhkan air matanya bagi Demian itu adalah hal yang wajar pasal wanita akan merasakan sedih jika melakukan hal tersebut tanpa keinginannya. Namun beda pada diri Demian yang penasaran apa saja yang ia sudah lakukan.
Demia pun menengok ke arah Lusi yang menangis dengan ditutup selimut tebal juga. Demian menyadari pasti hal buruk sudah ia lakukan pada Lusi.
"Apa yang sudah aku lakukan pada mu, kenapa aku tidak ingat apakah aku meniduri mu tadi malam"
Lusi hanya menangis dan membuang wajahnya.
"Kalau iya aku minta maaf, hanya saja aku menyesal"
"Sudah seharusnya kamu memang menyesal"
"Aku menyesal kenapa melakukan saat aku mabuk sehingga aku lupa bagaimana rasanya"
"Aku bukan istri mu, jangan kamu berharap lebih dari tubuhku"
"Aku akan menikahi mu setelah anak kita lahir nanti, eh maksudnya anak kamu lahir nanti"
Demian melihat tubuh Lusi yang masih ditutupi selimuti.
"Jangan bilang kamu tidak pakai baju" ucap Demian tersenyum miring.
Lalu dengan cepat Demian memandang wajah Lusi dari dekat, Lusi pun membuang wajahnya dengan jauh.
"Lihatlah wajah mu, merah sekali. Apa kamu memang merindukan belaian" kata Demian.
"Menjauhlah dari ku aku akan teriak" kata Lusi.
"Aku yakin kamu sudah teriak dari semalaman lakukan saja sampai hari ini tidak akan ada yang mendengar, jadi.. apakah benar semalam aku telah menidurimu" tanya Demian dengan tatapan penuh nafsu.
Lusi tidak bergeming mengatakan iya atau pun tidak.
"Tapi kenapa batang ku ini masih mengeras rupanya dia minta nambah. Lusi buka mata mu lebar-lebar kamu lakukan ini dengan pria itu tidak salah" kata Demian.
"Aku tidak butuh ini" ucap Lusi lantang.
"Tapi aku butuh, lagi ya lagi" pinta Demian
"Brngsk!!!!!" Kata Lusi berteriak lalu menangis.
Lusi tidak mampu bergerak karena tangannya masih terikat kebelakang dengan sebuah ikat pinggang ditangannya.
"Aku brngsk iya aku memang brengsk, kamu yang baik, ya kita pas saling melengkapi. Kalau aku tidak brngsk tidak mungkin aku membawa mu kesini. Tadi aku lupa bagaimana rasanya menidurimu, karena aku lupa lakukan lagi ya. Mumpung ada aku dan kamu"
"Aku tidak mau!!!!" Kata Lusi ketus sambil menangis.
"Aku tidak akan kabur dari mu, justru aku akan semakin dekat. Aku akan bertanggung jawab"
"Aku tidak minta tanggung jawab, aku hanya minta dilepaskan"
"Aku tidak suka melepaskan mu, nanti gak seru lagi. Karena aku takut kasar kalau kamu melawan mending seperti ini saja. Tangan terikat,, pasti lebih seru. Biar aku yang kerja kamu yang merasakan, wanita kan memang seperti itu" kata Demian dengan suara lembut.
Lusi pun tampak menangis.
Dengan cepat Demian pun mendekati wajah Lusi dan memegangi wajah Lusi lalu mencium bibirnya.
"Buka mulut mu yang lebar seperti kamu menggosok gigi. A..." Lalu Demian memegang mulut Lusi dan dengan cepat Demian memasukan lidahnya kedalam dengan penuh kehangatan.
"Mmmpppphhhh"
Ciuman hangat dengan durasi cukup lama itu pun mendarat.
Lalu setelah itu Demian pun berdiri, saat itu juga Demian tidak memakai sehelai benang pun dan terpampang jelas barang miliknya masih terlihat sebuah tongkat panjang yang siap memasuki, dan dengan cepat Demian langsung menarik selimut itu dengan cepat dan Demian pun melihat tubuh Lusi polos.
"Kamu tengah megandung ya, boleh aku mendengar dia sedang apa" ucap Demian mendekati tubuh Lusi dan coba mendekat kan telinga ke perut besar Lusi yang tengah mengandung.
"Ini bayi mu, aku mau dengar di bicara apa" ucap Demian,
"Aku akan mencium perut mu Lusi" ucap Demian.
"lepaskan aku!!!" teriak Lusi.
__ADS_1
Demian langsung menutup mulut Lusi dengan sebuah kain.
"Diam lah aku sedang menikmati mu" kata Demian.
Lalu Demian pun mencium perut Lusi yang membesar itu.
Namun setelah ia mencium rupanya Demian akhirnya tertarik kepada bagian bawah Lusi. Demian tersenyum saat dirinya melihat bahwa Lusi yang mempesona dan menarik dirinya untuk segara memasukannya.
"Aku 35 tahun belum merasakan bercinta, aku akan rasakan lagi yang semalam ya" ucap Demian.
Dan lalu memasukannya..
"ahhhhhh" suara Demian.
Demian pun memasukannya dengan perlahan tapi pasti, sementara Lusi hanya menangis dengan perlakuan Demian yang melakukan itu nya kepada Lusi.
Demian tampak menikmati melakukan itu pada wanita dihadapannya.
"Setelah ini kamu boleh menghajar ku, yang penting hari ini aku yang berkuasa atas mu. Lusi enak, ini enak sekali. uuhhhh.. Kenapa bisa senenak ini" kata Demian menikmati.
Benda panjang dan tegang itu memang sedang meraksan dari sebuah lubang yang ukurannya membuat sang pemilik meremas sprei dan terbang ke awan.
"Lusi.. sumpah ini enak sekali" kata Demian menikmatinya.
Akhirnya semuanya pun tumpah pada bagian terdalam yang Lusi miliki.
Demian kembali lemas untuk keduakalinya dan ia pun merasa puas yang begitu mendalam. Dengan segenap jiwa dan raga Demian merasa bahagia, Demian mengecup kening Lusi dengan rasa terimakasih karena sudah memberikan hal hina dalam hidupnya namun adalah keinginannya.
"Ini suatu yang hina untuk diriku, ya mungkin juga dirimu, tapi aku lupa kamu pun juga hina tapi lupa sehina apa, dan ini adalah hal hina namun hal istimewa, anggap seperti itu. seperti diri kamu adalah wanita istimewa meksi didapatkan dengan cara yang hina. Tadi aku terlalu enak sampai lupa melihat wajah mu jelas..Kamu apakah keenakan juga sayang. Dan sepertinya iya, kamu kan juga manusia bukan boneka. Walau lebih mirip boneka sih" ucap Demian bicara pada Lusi yang saat ini penuh derai air mata.
"Aku pikir yang cengeng itu cuma anak perempuan yang masih kecil nyatanya, kamu pun masih suka nangis. Aku hampir lupa menanyakan umur berapa, biar aku melihat nya sendiri" kata Demian yang mengambil dompet Lusi dan melihat identitas Lusi.
"Dirimu ternyata masih muda ya, wajar sih masih fresh. Seumuran kamu biasanya suka sama yang om-om tampan seperti aku. Umur ku 35 dan kamu 28.. pas lah kalau diranjang hanya beda 7 tahun. Bisa saling imbang" kata Demian tersenyum.
"Wajah mu cukup ayu dan cantik. Sebagai wanita harus nya kamu bersyukur memiliki itu, kamu gak usah capek dandan yang cantik semua akan suka setiap melihat wanita seperti mu" kata Demian melihat Lusi dengan dekat.
Lalu Demian pun melihat lagi dompet Lusi dan hanya ada uang 20 ribu lantas Demian tertawa melihat isi dompet Lusi. Lusi pun juga tidak memiliki kartu jaminan asuransi jiwa dan kesehatan. Membuat Demian semakin kaget.
"Sedih sekali isi dompet mu Lusi, kering kerontang kaya dipadang pasir. benar-benar kamu hidup hanya modal nekat saja tanpa perencanaan sama sekali. Uang dua puluh ribu gak sanggup juga buat bayar hutang, paling hanya cukup beli bakso. Oia tapi kamu kan punya cek 500 juta. Ya lumayan lah buat kebutuhan kamu ya, walau aku tahu itu pasti hasil pinjam juga" ucap Demian tertawa karena Lusi yang memang hidup pas-pasan.
"Oia aku punya kalung untuk mu, harganya lumayan bentuk juga lumayan, ini adalah bentuk cinta ku padamu. Pakai ini" ucap Demian memakaikan kalung. Lusi saat itu masih belum memakai busana. Hanya terbaring dengan tangan terikat.
setelah itu..
Demian pun akhirnya melepaskan ikatan Lusi yang berada di tangan dan mulutnya.
Hari itu Lusi benar-benar merasa kesal, terhina juga terluka. Bagi Lusi semua pria sama saja, tidak ada baiknya tidak ada rasa iba sama sekali tidak memikirkan perasaannya apa lagi dengan keadaan Lusi yang menyedihkan tanpa suami dan hidup penuh penderitaan hanya hasrat dan keinganan batinnya saja yang ia penuhi.
sakit...
itulah yang paling Lusi rasakan saat ini.
Lusi pun menangis tersedu sambil tertunduk menarik selimut yang ada didepannya.
huhuhuhuhu.. suara tangisan Lusi yang begitu terdengar..
"Kamu jahat!! Kamu jahat!!! Kamu tega" ucap Lusi menarik terisak.
Demian pun mengambil dan memakai handuk kimono setelah ia selesai.
"Aku akan bertanggung jawab!!!" kata Demian bicara didepan wajah Lusi.
Dengan mudah Demian pun mengatakan kata itu.
Lusi pun merasa tidak terima sekalipun Demian ingin bertanggung jawab.
Lusi pun dengan cepat menampar pria dihadapannya kini.
Plaaakkkkkkk...
"Tanggung jawab, aku bukan minta tanggung jawab padamu aku hanya butuh rasa kasihan dan iba mu saja sebagai manusia!!! kamu tahu. Aku seperti orang yang sudah jatuh lalu tertimpa tangga. Belum setahun aku ditinggal suamiku, belum kering pula rasa perih ditinggal suamiku aku harus merasakan hal perih dalam hidupku lagi menjadi pemuas mu" ucap Lusi menceritakan kepahitan batinnya saat ini.
Demian pun malah tidak terima dengan ungkapan Lusi soal Lusi yang menderita. Demian merasa Lusi juga menikmati hal yang sama seperti dirinya.
"Lusi!!!! Lihat aku lihatlah!!! jangan munafik kamu, jadi perempuan jangan munafik!!! Aku juga memuaskan mu, jangan merasa hanya aku yang terpuaskan kamu manusia. Kamu manusia aku pun manusia, aku punya hasrat kamu pun mempunyai hasrat juga kan KITA SAMA!!!!"
Pllllaakkkkkkk....
__ADS_1
Dengan cepat Lusi pun menampar Demian lagi.
Batin Lusi terasa sesak dengan perkataan Demian yang ternyata tidak punya perasaan sama sekali.
"Aku tidak menginginkan ini!!!! Aku tidak mau dipuaskan oleh siapapun, aku tidak memintanya pada siapapun. Apa yang sudah kamu lakukan padaku, memang buat aku puas, puas mendapat kan penderitaan dari mu. dan kamu puas, kamu udah nyakitin perasaan aku!!!! Puas kamu buat aku tersiksa" ucap Lusi sembari manangis namun Lusi tetap berusaha mengungkapkan apa yang tengah ia rasakan .
"Hiks hiks hiks"
"Aku pikir kamu beda kamu baik, tapi kamu tidak baik, tidak ada orang yang baik padaku, huhuhu SEMUANYA SAN DAN TERMASUK KAMU" ucap Lusi yang semakin menangis.
"Kamu tidak perawan bersikaplah seperti orang yang tidak perawan, jangan menangis seperti orang yang masih gadis" Kata Demian lantang.
"Aku memang bukan gadis aku memang janda dan mungkin memang kamu anggap hina!!!! Tapi, tapi aku masih punya harga diri, aku masih punya perasaan!!!" Kata Lusi dengan emosi jiwa yang membara.
"Lalu kamu mau apa? Semua sudah terlanjur terjadi" ucap Demian marah sambil membulatkan matanya.
Lusi pun terdiam dan menangis tersedu. Sepertinya Lusi sudah merasakan lelah yang teramat dalam hidupnya, akhirnya Lusi pun berdiri dengan langkah kaki yang perlahan mengambil baju dan ia pun langsung kamar mandi.
Di dalam kamar mandi...
Lusi pun mengucurkan shower dikamar mandi itu, air shower itu terjatuh. Lusi pun masih menangis bersama air shower itu. Air shower itu mengalir bersama air mata Lusi yang tidak tertahan. Lusi pun terduduk sambil memukul tubuhnya. Lusi merasakan sedih dan terpuruk pada saat itu.
hiks.. hikss.. hikss tangisan Lusi yang terdengar bersama air.
Rian, kenapa hidupku sesulit ini, kenapa aku harus hidup seperti ini. Aku tidak butuh uang yang banyak aku tidak butuh cinta dari pria manapun. Aku hanya ingin bahagia Rian, aku hanya ingin bahagia. Apa aku salah menjaga kehormatan ku. Rian... aku butuh pelukan mu saat ini, aku butuh kamu saat ini. Aku terhina, aku ternoda dan aku sama sekali tidak berguna. Aku ingin kamu tetap disini, semua pria tidak ada yang baik. batin Lusi terasa perih sambil menangis dibawah shower.
Lalu setelah mandi, Lusi pun memakai baju yang panjang dan celana panjang berwarna hitam dan. Mata Lusi terlihat sembab dan dengan rambut yang basah Lusi bercermin. Lusi melihat dirinya yang mengenakkan kalung dari Demian. Lusi pun dengan cepat melepaskan kalung itu dan Lusi menaruh diatas meja rias.
Lusi pun seperti kehilangan arah, pandangan Lusi terasa kosong. Lusi pun melihat sebuah gunting yang ada diatas meja rias itu. Lusi seperti tertarik menggunakan itu untuk mengakhiri hidupnya.
"Alat tajam ini terlihat lebih manis disaat hidupku yang terasa Lebih pahit" ucap Lusi menatap benda tajam itu dan segera ingin memotong nadinya.
baru saja Lusi ingin memotong.
Namun dengan cepat Demian yang sedang berada disana yang melihat nya langsung mengambil benda tajam itu.
"Apa yang lakukan" kata Demian kaget dan langsung merampas benda tajam itu.
"Berikan gunting itu!!!" Ungkap Lusi yang ingin bunuh diri.
"Kamu ingin mati?"
"Bukan urusan mu!!!!!" tegas Lusi.
"Lusi, aku tahu aku salah aku tahu aku salah. Tapi kamu tidak boleh mati karena bunuh diri" kata Demian.
"Tidak ada gunanya aku hidup, tidak ada gunanya" ucap Lusi menangis.
Demian pun menghela napas dengan panjang melihat ke arah Lusi yang sedang menangis.
"Kamu tidak boleh melakukan hal aneh apapun pada dirimu" ucap Demian yang pada akhirnya mengambil tali dan mengikat Lusi kaki dan tangannya.
"apa yang kamu lakukan" kata Lusi yang tidak terima.
"Maaf aku lakukan ini, aku hanya tidak mau kamu mau bunuh diri lagi.." ucap Demian mengikat tangan Lusi dan kaki Lusi.
"Otak mu sedang tidak waras, aku sengaja melakukan ini" kata Demian lagi.
Lusi pun masih tampak menangis duduk dilantai bawah dengan ingatan ditangan dan kakinya.
Demian menatap Lusi secara seksama dan melihat wajah Lusi yang tengah menangis. Namun bukannya rasa iba, dengan cepat Demian malah meraskan getaran cinta dan ingin mencium bibir Lusi lagi. Air mata Lusi seolah tidak pedulikan saat itu oleh Demian, yang Demian rasakan adalah rasa candu bisa mencium bibir Lusi yang menggoda. Mereka pun melakukan ciuman itu dilantai dengan panas dan sangat dalam. Demian saat itu masih memakai handuk kimono dan Lusi sudah bersih kembali harus mendapat ciuman panas dari Demian yang kali ini seperti tidak kalah nya seperti yang sebelumnya, bak singa yang kelaparan. Bukan hanya mencium namun juga mengigit dengan gigitan penuh hasrat.
Perih sangatlah perih Lusi merasakan itu semua.
Ciuman itu pun kembali lagi dibenamkan, tangan kekar Demian dengan mudah terus memegang gunung kembar Lusi yang besar dan menggairahkan.
Maafkan aku Lusi maafkan aku batin Demian yang terus merasakan peraduan dua bibir yang saling menyatu.
Sampai pada akhirnya, Demian pun ingin kembali memegang dan kembali melakukan hal tersebut.
Demian pun kembali meraba semua yang Lusi miliki sebagai seorang perempuan. Lusi tidak tahu otak mesum apalagi yang akan Demian lakukan pada Lusi. seperti nya Demian punya hasrat yang dalam yang memang ia miliki namun ia menahannya. Dan menumpahkan semua yang ia miliki pada seorang wanita yang bernama Lusi.
Demian menggendong Lusi dan kini melanjutkan permainan nya diatas nakas.
Demian pun merobek baju Lusi dengan gunting yang ia pegang tanpa melepask ikatan. Gunung kembar itu terlihat jelas dan bagian bawah juga ia gunung dan kini terlihat karang bawah laut yang siap mendapatkan serangan lagi.
Kali ini Lusi merasa benar-benar dirinya berada ditangan dan gengaman Demian tak bisa kemana mana. Ingin mati pun dirinya terasa tak mampu. Hati Lusi hancur berkeping-keping dan tak dapat menyatu. Saat Demian melakukan itu untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Lusi pun tidak mengerti mengapa Demian begitu tega terhadap diri Lusi. Apakah karena Lusi lemah, apakah karena Lusi punya hutang, semua yang Lusi alami terasa menyedihkan dan sakit yang begitu dalam. Lusi jijik pada dirinya sendiri, yang tidak bisa menjaga kehormatan seorang perempuan. sekalipun Lusi memang kesepian dan hanyalah seorang janda namun ini bukan lah keinginan dirinya untuk menjadi pemuas orang lain sekalipun berlandaskan cinta. Demian memang melakukannya tidak kasar dan lembut namun tetap saja Lusi merasa hina dan sakit.
Lusi tidak bisa bergerak tangan kaki diikat dan hari itu adalah hari buruk untuk Lusi karena harus merasakan kegetiran yang diberikan dari hasrat terpendam seorang pria bernama Demian.