Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Menjadi Pemisah


__ADS_3

Terlihat Marisa yang duduk melihat Rian sedang melamun dan lamunan apa yang sedang ia lamunkan. Mungkinkah istrinya, pekerjaan, atau apa?


Marisa hanya duduk terdiam dan tak banyak suara.


Dan hatinya seperti ingin bertanya namun terasa enggan.


Rian hanya tampak duduk sambil menikmati kopi dihadapan nya. Berkali kali Rian menatap layar ponsel yang ia tak sebutkan apa yang ia tunggu. Ia pun hanya tampak meraup wajah nya dengan kasar hingga berkali-kali.


Kebosanan pun tampak melanda.


Lalu Marisa pun menemui Rian dan meminta ijin untuk keluar rumah.


"Rian, aku mau keluar?" Ucap Marisa.


"Kemana? Perlu aku mengantar"


"Tidak perlu? Aku bisa pakai tongkat. Aku tadi sudah menyuruh supir Disni untuk membelikan nya untukku"


"Okey"


Lalu Marisa pun tampak keluar dari rumah seorang diri. Dengan menaiki taksi. Dirumah rasanya sangat membosankan. Jadi tidak ada salahnya, jika keluar.


Lalu Marisa pun tampak ke sebuah mall dan berhenti di sebuah toko buku. Sambil melihat-lihat menu masakan. Siapa tahu Marisa bisa mengerjakannya diwaktu senggang. Namun tanpa disadari Marisa menjatuhkan sebuah buku itu. Marisa pun tampak kesulitan untuk mengambilnya. Karena ia susah bila menekuk kakinya yang hanya tinggal sebelah Tiba-tiba seorang pria muncul dan itu tampak Juna.


"Nih.." ucap Juna memberikan buku itu.


"Terimakasih" ucap Marisa.


"Hem, sendirian"


"iya..."


"Kenapa gak sama suami orang kamu kesini" ucap Juna lagi.


Marisa pun tampak membuang wajahnya.


"Bagaimana rasanya menjadi selingkuhan" ucap Juna tampak menyindir.


Marisa pun tampak terdiam dan meninggalkan Juna. Ia merasa tidak perlu meladeni Juna.


Lalu Marisa pun meninggal kan tempat itu untuk menghindari Juna.


Marisa tahu mungkin Marisa salah menjadi orang ke tiga dalam kehidupan orang lain. Namun Marisa bukan setan yang terkutuk juga, bila harus dibenci sedemikian rupa. Bahwasannya pelakor juga perlu hidup bahagia.


Lalu Marisa pun hanya duduk disebuah kafe sambil merenung tanpa banyak bicara.


Memang hidup ini adalah perjalanan namun bagaimana caranya menikmati perjalanan itu Marisa tak tahu.


Sampai saatnya ia pun bergegas pulang dan bertemu dengan seorang pria dan dia adalah Revan. Marisa tak sengaja bertemu di depan parkiran.


"Ketemu lagi kita" ucap Revan.


"Apa masalahnya? "


Lalu Revan pun menatap Marisa dari atas hingga bawah. dan memandang Marisa kaget karena kehilangan kakinya.


"Wow, ada yang beda dari penampilan lu. Lu cacat Marisa" ucap Revan lagi.


Marisa pun hanya tampak membuang wajahnya.


"Kasihan hidup lu" ucap Revan.


"Mending, lu pergi sebelum gue usir" ancam Marisa.

__ADS_1


"Santai dulu jangan marah dulu. Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu"ucap Revan memegang tangan Marisa.


"Lu pergi" ucap Marisa.


" Gue pikir lu cacat. Lu udah gak galak kaya dulu. Ternyata masih sama. sama sama galak"


"Pergi" tegas Marisa.


"Lu gak berhak usir gue" ucap Revan meraih tangan Marisa dan menariknya.


Marisa pun tampak menahan tubuhnya dan Revan menarik hingga Marisa terjatuh.


Revan malah tampak sangat senang melihat Marisa tersungkur.


"Yah, sekarang lu bangun bisa gak?, Kasihan mar hidup lu. Jangankan untuk ngelawan gue bangun aja susah" ucap Revan sambil tersenyum jahat.


"Jangan ganggu dia!!!" Ucap seseorang tiba tiba datang dan itu Juna.


"Eh siapa lu, berani lu sama gue" ucap Revan.


"Jelas gue berani. Dan lu gak perlu tahu siapa gue"


Tampak Juna menarik baju Revan.


"Mending lu pergi" ucap Juna kasar.


Lalu tampak Revan ingin memukul Juna. Namun dengan cepat Juna menahan tangan Revan dan langsung memegang tangan Revan dengan keras.


"Tolong lepasin gue" pinta Revan.


"Pergi lu sekarang"ucap Juna.


Revan pun tampak memandang Juna tajam dan pergi.


Lalu tampak Marisa tampak memandang Juna. Sedikit terdiam namun harus mengatakannya. Minimal ucapan terimakasih karena sudah menolong dari seseorang yang sangat mengesalkan itu.


"Sama-sama, btw Dia siapa?" Tanya Juna.


"Dia bukan siapa-siapa cuma preman kampung"


"Terus ngapain deketin lu"


"Gak tahu"


"Kalau lu ada apa-apa kasih tahu gue"


"Makasih"


"Bagaimana kalau gue Anter pulang"


"Gak usah Jun"


"Gak apa-apa. Gue takut dia jahat lagi sama lu"


"Baiklah Jun"


Selama perjalanan.


Marisa pun tampak memegang pinggang Juna. Karena tampak Marisa yang naik motor pulang bersama Juna. Rasanya, seperti sudah lama Marisa tidak dibonceng lagi seperti ini.


Marisa pun tampak menikmati perjalan bersama Juna.


Namun selama diperjalanan tiba-tiba saja hujan. Hendak mereka pun berhenti untuk berteduh. Tampak Juna yang membantu Marisa untuk turun dari motor milik nya itu. Dan meneduh disebuah tempat. Terlihat Marisa yang kedinginan karena hujan tampak deras sementara Marisa saat itu hanya mengenakan kaus lengan pendek. Juna pun langsung memberikan jaketnya untuk menghangatkan Marisa yang tampak kedinginan.

__ADS_1


Seketika Marisa pun langsung menatap wajah Juna yang kini berada didepan matanya. Entah mengapa tiba-tiba ada perasaan lain yaitu sebuah debaran yang tak biasa. Wangi jaketnya harum. Dan wanginya terasa sangat kalem seperti karakter Juna yang terlihat kalem juga.


Juna pun tampak tak banyak bicara hanya terdiam sambil menatap langit. Berharap hujan lekas berhenti. Namun tiba-tiba terdengar suara petir menyambar dan membuat Marisa kaget lalu ketakutan dan sedikit menunduk. Sontak Juna pun memeluk Marisa. Semakin membuat ada perasaan lain yang entah Marisa rasakan.


Kedua bola mata itu pun semakin menatap satu sama lain. Melihat dan saling memandang. Seketika mereka pun tampak menunduk setelah itu. Merasakan hal yang tak seharusnya.


"Sory mar, gara-gara gue lu jadi basah gini kan" ucap Juna.


"Ini bukan salah lu, tapi salah hujan" kata Marisa.


"Bukan salah hujan, tapi takdir. Takdir yang kembali membawa kita dibawah rintik hujan"


"Jadi lu nyalahin takdir"


"Gue gak pernah menyalahkan takdir. Karena gue selalu menerima takdir gue. Gue menerima takdir gue. Walau keadaan itu pahit"


"Jadi ketemu gue takdir yang pahit buat Lo"


"Iya, karena pahitnya adalah lu sekarang milik orang yang paling gue benci"


"Siapa?"


"Rian, Rian adalah orang yang paling gue benci"


"Karena dia udah ambil Lusi dari lu"


"Lebih dari itu, Tapi gue lebih benci saat gue tahu lu yang diambil oleh Rian. Saat Lusi diambil Rian gue masih bisa mendoakan agar hidupnya bahagia. Tapi kalau lu Mar, sampai kapan pun gue gak pernah ikhlas"


"Gue cacat. Peduli apa lu sama gue"


"Gue gak pernah peduli sama kecacatan lu, yang gue peduli adalah hati lu buat gue Mar"


Marisa pun tampak memandang Juna. Seketika Marisa langsung mengubah pandangannya dan melihat ke arah motor Juna.


Marisa menghela napasnya karena baginya, semua semakin terasa sulit. Marisa seolah berada dikeadaan yang salah bila bicara tentang cinta dan cita-cita. Cinta dan cita-cita untuk hidup bersama Marisa memang untuk Rian. namun kebaikan Juna mengapa membuat ada getaran yang tak bisa dihindarkan.


Marisa pun tampak mengalihkan suasana dan melihat ke arah motor milik Juna.


"Motor lu ganti lagi" tanya Marisa.


"Motor gue hilang, dan gue belum dapat info terbaru. Ini gue pinjem punya temen gue"


"Mudah-mudah cepet ketemu ya"


"iya, amin. Btw, hujan dah berhenti kita pulang ya" ucap Juna.


Lalu Juna pun tampak mengantar Marisa pulang dengan motornya. Dan memeluk Juna secara tidak langsung karena ia merasa Juna membawa motor agak lebih cepat dari biasanya.


Perasaan Marisa pun masih tampak kaku saat itu.


Mengabaikan Juna adalah kesalahan. Namun apa mau dikata, semua keputusan Marisa sudah terlanjur bulat untuk menikah dengan Rian. Andai Marisa tidak jatuh cinta dengan Rian. Sudah pasti Marisa akan suka dengan Juna.


Sesampainya di rumah, terlihat Rian yang sedang duduk. Rian masih tak bergeming menundukan pandangannya. Tanpa melihat ke kiri dan kanan. Yang ia rasakan saat ini adalah bimbang.


"Kamu kenapa?" Tanya Marisa.


Rian pun hanya tampak cuek dan meninggalkan Marisa.


Saat Marisa mengecek, terlihat Rian yang sedang memandang foto istri bersama putranya, dihandphone miliknya. Itu terlihat dari handphone nya yang masih menyala dan belum sempat terkunci. pada sebuah galeri


Marisa pun tersadar bahwa saat itu Rian sedang merindukan istrinya.


Seketika Marisa merasa menjadi jurang pemisah diantara keduanya. Jika Rian merasakan hal itu, lalu bagaimana dengan keadaan Lusi saat ini, apakah merasakan hal yang sama, atau mungkin lebih parah. ah entahlah. Marisa pun tampak termenung sambil memandang langit dikala malam itu.

__ADS_1


********


gue pundung sama Mimin .. ini bab udh gue up dari td kaga lolos lolos review...


__ADS_2