
Lusi pun meraup wajah kasar meremas kepalanya yang masih terasa basah. Terlihat Lusi yang duduk dengan perasan gelisah sambil memejamkan mata, lalu Lusi berdiri melihat ke arah jendela melihat sekeliling yang terbatas dirinya berada di daerah pegunungan. Suasana yang indah tapi tidak untuk Lusi yang saat ini pikirannya sedang kalut setelah tidur bersama pria tua yang bahkan baru ia kenal seminggu terakhir.
Jangankan untuk cinta, mengenal dirinya adalah suatu hal yang baru.
Lusi tak pernah menyangka jika pria tua yang ia pernah anggap seperti Ayahnya merupakan seorang ba*jingan yang berhati iblis.
Mana ucapan kata yang pernah dulu ia katakan bahwa Lusi seperti anaknya, persetan dengan kebaikan yang hanya sebuah tipuan semata.
Seketika pria yang hanya menggunakan Celana bagian dalam dengan badan yang tidak tinggi, juga tidak gemuk lelaki itu tampak berdiri dan mencoba mendekati Lusi dan melihat ke arah Lusi.
Lusi tampak menghindar dengan rasa takut dan amarah yang sangat dalam. Lusi merasakan jijik teramat dalam dengan pria yang kurang ajar itu.
Lusi pun berjalan cepat dan mencoba membuka pintu tapi pintu itu terkunci.
"Lepaskan saya!!!!" Teriak Lusi yang ingin lepas dari belenggu pria tua itu.
"Kamu tidak perlu takut, saya akan mengantar mu pulang" ucap pria berumur 55 tahun itu mengambil bajunya dan lalu memakainya.
"Meski malam ini kamu menganggap aku orang jahat, tapi aku akan tetap mengantar mu pulang" ucapnya lagi.
"AKU BISA PULANG SENDIRI" teriak Lusi murka dan enggan menerima kebaikan apa saja dari pria itu.
"Baiklah sekarang bagaimana caranya kamu pulang" tanya Hilman.
"Itu bukan urusan mu!!!"
"kamu punya uang untuk pulang aku yakin kamu tidak punya!!! sedangkan ini jauh sekali dari rumah mu. Jika kamu memaksa untuk pulang sendiri, mungkin hal paling buruk bisa saja terjadi bahkan lebih parah dari ini" katanya menatap Lusi namun Lusi masih tetap membuang wajahnya didekat pintu.
"Baiklah kita pulang" kata Lusi pasrah. "Berikan kunci mobil mu"
"Untuk apa?"
"Untuk pulang, lalu apalagi?" Kata Lusi menarik kunci mobil milik Hilman ditangannya, namun Hilman tak memberikannya begitu saja.
Hilman menatap Lusi kesal.
"Jika bapak mengira saya baik, saya pun tidaklah jauh lebih baik dari apa yang bapak kira. Jangan pernah anggap saya wanita baik-baik" kata Lusi kesal teramat dalam.
"Saya yakin kamu baik" kata hilman.
"Saya wanita paling buruk yang pernah bapak kenal" kata Lusi dengan mata membulat.
"Siapa yang mengatakan jika dirimu jahat, kamu hanya bohongi saya" kata Hilman tegas.
__ADS_1
"Tadi malam bapak habis tiduri saya kan" ungkap Lusi.
"Kalau iya kenapa?"
Lusi pun terdiam tak bergeming sedikit pun hanya tertunduk kesal sambil meraup wajah kasarnya. Menelaah setiap yang terjadi lalu ia dengan cepat mengambil kunci mobil ditangan Hilman.
"Berikan pada saya!!!!" Ucap Lusi.
Lusi tampak marah dengan napas yang tampak keluar masuk dengan cepatnya. Kemarahan terdalam yang ia rasakan dan ia redam dengan satu alasan yang paling kuat yang ia miliki yaitu TAKUT KHILAF. Lusi takut khilaf jika dirinya akan membunuh pria tua yang memang sudah bau tanah baginya. Membunuh pria yang sudah bau tanah seperti hal yang mubazir karena nyatanya tidak perlu dibunuh dirinya pasti akan mati. Meski umur manusia tidak ada yang tahu, tapi tua itu sudah pasti dan tidak bisa dihindari. Bukan tandingan Lusi membunuh pria tua sekalipun ia kaya tapi tetap saja dia orang tua.
Lusi pun kembali menarik napas kasarnya.
Pada akhirnya dengan dalih dan rasa kasihan Lusi tak menamparnya bolak balik atau menceburkan pria itu ke kolam sekalipun Lusi melihat di luar sudah ada kolam renang yang cukup dalam saat itu.
"Bapak tidak bisa berenang?" Tanya Lusi.
"Untuk apa kamu menanyakan itu?"
"Untuk memastikan bapak akan mati kalau saya menceburkan bapak kedalam lautan" kata Lusi.
"Kamu gila ya?"
"Coba bapak kenali dulu karyawan bapak yang satu ini, bapak hanya kenal saya tanpa tahu latar belakang hidup saya. Sebelum bapak mempermainkan saya, bapak harusnya lebih tahu siapa saya" Kata Lusi menatap Hilman.
Hilman tampak kaget dengan ucapan Lusi yang di anggap wanita biasa ternyata dia lebih liar dari apa yang ia duga.
Lusi mengambil senjata tajam di sebuah laci, senjata tajam itu telah tampak ditangan dan ia pun memainkan di wajah pria tua itu. Lusi tampak memutar senjata tajam itu layaknya sebuah pensil yang tidak ada harga dirinya sama sekali, jika orang lain pernah menganggap diri Lusi gila kali ini Lusi ingin menunjukkan betapa gilanya dia.
"Bapak mau saya congkel yang mana duluan, mata, telinga atau hidung dan juga tenggorokan" kata Lusi terlihat menggoda Hilman dengan sebuah senjata ditangannya.
"Kamu akan masuk penjara!!!! Jika kamu melukai saya"
"Sebelum bapak menjebloskan saya ke penjara mungkin bapak akan tahu, kalau saya akan masuk rumah sakit jiwa lebih dulu dari apa yang bapak kira. Penjara akan jauh dari saya!!!! Bapak tak pernah tahu, kalau saya ini mantan orang gila!!!! Tidak ada istilah orang gila masuk kedalam penjara pak"Kata Lusi dengan tatapan tajam dan setengah berbisik ketelinga Hilman yang tampak keringat dingin.
Lusi pun tersenyum kecut melihat Hilman yang tampak tak garang lagi bahkan kini dia seperti panas dingin.
"Bapak tahu, tentang BDSM dalam sebuah hubungan"
"Apa itu?"
"Suatu penyimpangan dan saya biasa melakukan hal itu, saya akan mencekik membanting dan memukul pria itu hingga babak belur baru kita bermain cinta" kata Lusi.
"Sudah gila kamu!!!"
__ADS_1
"Sudah saya katakan saya memang gila"
"Gak punya otak kamu"
"Oh otak saya gak pernah saya pakai kalau sedang berhubungan badan, Oya darah bapak golongan a, b c atau d" kata Lusi tertawa menyeringai.
"Tidak ada darah c dan d kamu sekolah dimana?" Kata Hilman.
"Tidak penting saya sekolah dimana yang paling penting bapak tidak akan kehabisan darah saat bermain cinta dengan saya" jelas Lusi saat itu.
Lusi pun tampak menaruh sebuah senjata tajam itu dileher Hilman.
Lusi pun menatap Hilman lekat dengan tatapan menggoda, jika Hilman mau bermain cinta lagi dengan Lusi. Lusi pastikan Lusi akan melakukan hal yang paling buruk dalam hidup Hilman yaitu menjemput kematian.
"Mari kita bermain cinta lagi pak" kata Lusi tersenyum menatap Hilman sangat dekat dengan senjata tajam yang masih dileher Hilman.
Dan tiba-tiba sebuah pengakuan pun tercetus dari mulut Hilman yang tampak manis itu.
"Baiklah!!!! Baiklah saya mengaku, saya membuat pengakuan kalau saya tidak meniduri mu" jelas Hilman dengan bibir yang bergetar.
"Apakah bapak yakin?" Tanya Lusi yang menarik senjata tajam itu.
Hilman terdiam..
Lusi pun menggoreskan sedikit luka diwajah Hilman.
Sreeekk... Setetes darah itu tampak jatuh dan mampu membuat Hilman ketakutan.
"Jelaskan saya secara jelas-jelasnya" kata Lusi tersenyum lembut tapi membunuh.
"Saya membuat skenario ini, saya membuat kamu tak berpakaian. Saya buat kamu seolah olah habis saya tiduri, agar saya dapat memiliki kamu seutuhnya dan kamu menyerahkan diri mu pada saya. Saya pun melakukan hal itu hanya untuk mengambil sebuah gambar dari dirimu yang seolah kamu tidur dengan saya, dan gambar itu sudah saya kirimkan"
"Kirimkan kemana?"
"Ke Ibu mu, saya tahu ada nomer Ibu mu yang memanggil mu berulang kali lalu saya mengambil nomernya dan saya mengirimi foto kita seolah tidur bersama... Lalu saya mengirim kepadanya" ungkap Hilman dengan berita paling mengejutkan untuk Lusi.
Deg...
Kini Lusi yang tampak berbalik tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Hilman. Lusi tahu pasti ibunya akan marah besar dengan berita yang paling sulit Lusi terima.
"TEGANYA BAPAK MELAKUKAN ITU!!!!" Kata Lusi dengan mata membulat tajam tak percaya. Lusi pun langsung menjatuhkan senjata tajam itu kakinya terasa lemas mendengar semua yang Hilman katakan.
"Saya merasa hanya ibu mu orang nomer satu yang merestui hubungan kita, jadi saya lakukan itu"
__ADS_1
Seketika Lusi terdiam dan shock. Dia seperti orang yang habis dipukul dan ditikam membuat dirinya seperti orang yang habis kesambar petir.