Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Masih di Bandung


__ADS_3

Di usia kandungan menginjak enam bulan itu pun Lusi pulang ke Bandung. Menjalani harinya bersama orang tuanya, yakni Ayah dan Ibunya.


Sebagai orang yang pernah mengalami gangguan jiwa, Ayah dan ibu tidak mau jiwa putrinya terguncang karena hal-hal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Mulai kematian suaminya dan kehamilan yang tak pernah ia inginkan.


Mungkin saat ini Lusi tak cerita soal kehamilannya tapi orangtuanya firasat pada anaknya yang menyembunyikan sesuatu.


Dan tepat hari ini, hari ini adalah hari dimana, hari bahagia Lisa yang akan dilamar oleh sang kekasihnya. Selama ini Lisa memang jauh berada di pulau Bali, entah dia datang kesana memang bekerja atau ingin mencari pacar bule. Sempat dia kuliah lanjut S2 tapi ini anak memang tak serius jadinya berhenti.


Dan perihal jodoh ternyata bukan pria bule yang ia dapatkan tapi ternyata teman kuliahnya dulu. Namanya jodoh dicari sampai ketemu yang didapatkan tetep yang diluar dugaan.


Hari itu Lisa pulang kerumah, sebegai anak yang sering sibuk cari kerja, memang Lisa jarang pulang. Lisa bak bocah petualang yang sering gonta ganti pekerjaan. Entah ini anak yang susah mendapatkan pekerjaan atau orangnya memang gampang bosenan kerja paling lama paling bertahan tiga bulan. Namun beruntung akhirnya dia mendapatkan jodoh juga paling tidak, kalau dia tidak bekerja masih ada yang nafkahi. Dan paling tidak dia bisa dewasa dan lebih bertanggung jawab setelah menikah nanti.


Dan dari pria yang dilihat pun selain baik pria itu tampak mengayomi Lisa sang adik. Pria itu lebih banyak mengalah dan tidak perpanjang masalah, tidak seperti Lisa yang temprament dan tidak bisa menerima masalah sedikit saja dan itu nilai plus untuk sang pria yang mampu mengimbangi Lisa.


Hari itu Lisa datang dan tidak tahu kalau ada kakaknya yang ternyata sudah dua Minggu tinggal bersama orang tuanya. Melihat kakaknya yang sedang hamil Lisa pun kaget, bahkan dia tidak tahu jika Rian sudah meninggal. Saking ia cueknya dalam hidup, Lisa juga tidak punya nomer telepon yang jelas suka Gonta ganti. Saking gak jelasnya Lisa.


"Ya ampun ada kakak disini sejak kapan, ya ampun kakak udah turun tahta ya sudah tidak jadi menantu Sultan lagi, jadi balik lagi pulang kerumah orang tua" ucap Lisa ceplas ceplos.


"Hus kamu ngomong apaan sih" celetuk ibu.


"Kenalin namanya Andre, calon suami aku kak" ucap Lisa memperkenalkan calon suaminya. Lalu Lisa pun melihat perut sang kakak yang tampak membesar "Kakak hamil lagi?" tanya Lisa.


"Kelihatanya bagaimana hamil lagi atau nggak?"


"Gak sih, lebih keliatan seperti orang yang sedang cacingan" ucap Lisa lagi. "Kak Rian mana?" Tanya Lisa.


"kamu gak tau ya. Rian sudah meninggal" ucap sang kakak.


"Ya ampun aku kok gak tahu sih" ucap Lisa.


"Iya udah lama sudah lima bulan yang lalu"


"Aku turut berduka ya kak. Semoga Kakak selalu diberi kesabaran" ucap Lisa berbela sungkawa.


"Terimakasih" jawab Lusi.


"Oia kenalin namanya Andre calon suami aku" kata Lisa memperkenalkan Andre.


"Jadi ini kakak kamu yang pernah viral dikampus dulu" tanya Andre.

__ADS_1


"Iya, kamu tahu juga" tanya Lisa.


"Tahu beritany aku tahu tapi gak tahu orangnya yang mana. Yang pernah vakum kuliah karena sory ya karena gangguan jiwa kan" tanya Andre.


"Iya tapi sekarang udah gak kok, udah normal, ya kan kak udah normal udah bisa bedain mana siang malam dulu mah kakak kan takut gelap eh sekarang hobi banget main gelap-gelapan " kata Lisa.


"Apa sih Lisa, ngarang" kata Lusi.


"Oia Kaka, tar malam kan aku mau lamaran"


"Oh syukurlah, kamu sudah menemukan calon yang terbaik" kata Lusi.


"Terus kakak kapan nyusul"


"Ya ampun, gak kepikiran"


"Buruan kak, kasihan anak Kaka butuh sosok ayah"


"Fabio sih sudah lebih baik, gak nangis gak cariin bapaknya"


"Bukan Fabio tapi anak yang ada didalam kandungan kakak"


Lalu sorenya Lusi pun mendadani Lisa. Lisa tampak cantik memakai kebaya pilihan sang kakak.


Lusi pun heran kenapa adiknya memilih kakanya untuk mendandani nya. Entah Lisa yang males ke salon atau apa? Saat itu Lisa meminta untuk kakaknya yang mendandani untuk make up di hari lamaran dia dengan calonnya.


"Kak?" Ucap Lisa.


"Mmmm...."sahut Lusi sambil memakai kan make up untuk Lisa.


"Kakak harus kuat ya"


Lusi pun tampak tersenyum terpaksa.


"Aku tahu kakak berduka dalam hal ini, singgle parent. Single parent itu susah kak, sangat susah"


"Tak memiliki suami namun hamil, kakak harus kuat menghadapi semuanya. Aku dengar Kakak sempat histeris dan seperti orang gila kata ayah sama ibu. Emang itu benar"


"Iya"

__ADS_1


"Iya apa? Iya histeris atau iya gak histeris"


"Pertanyaan kamu peduli atau meledek?"


"Kak, aku tahu dalam hal kebaikan aku jauh lebih jahat, tapi dalam soal kewarasan kakak lebih gak waras di banding aku. Aku kahwatir sama kakak, Iya atau enggak Kakak frustasi"


"Iya nyaris"


"Kak, kakak kalau memang berat dalam hidup ini. Kakak gak bisa menerima kenyataan pahit ini, kakak gak siap single parent, aku akan carikan pria yang baik untuk kakak. apa perlu Andre buat kakak aja biar Kakak gak stres lagi" kata Lisa asal bicara.


"Heh nih anak ya, ngomong sembarang aja. Kakak sih gampang cari calon lagi, secara kakak cantik dan baik hati. Lah kamu kan belum tentu" ucap Lusi.


"Anjrit kakak macam apa ini, di baikin malah ngerendahin"


"Hehe canda, Kakak sudah jauh lebih baik kok, terimakasih atas kepedulian kamu. Tapi beneran deh kakak malah gak siap cari suami lagi. Gak siap membuka hati lagi"


"Terus kehamilan kakakk bagaimana? Siapa yang menghamili" tanya Lisa sambil bercermin.


"Ya suami kakak lah"jawab Lusi yang masih sibuk mengurusi riasan kepala sang adik.


"Mana ada yang percaya kak, janda yang hamil seperti kakak ini mana ada yang percaya, yang ada nih bukannya dikasihani malah dicurigain orang. Tahu gak kak, daritadi. Padahal mah saudara,. Eh malah pada ngomongin Kakak daritadi nanya-nanyain gitu ke aku. Eh kok kakak kamu janda sih?, kok aku baru tahu, eh kok kakak kamu kok bisa hamil sih bisa hamil darimana. bagaimana bisa hamil padahal kan janda ya, suaminya juga lumpuh waktu itu mana bisa menghamili. Terus aku jawab aja gini, kalau cuma mau ngomongin Kakak gue mending pada pulang, ucap aku ketus kak. Sialan amat pada bicara begitu"


"Beneran mereka bicara begitu?" Tanya Lusi.


"Eh iya kak beneran buat apa aku bohong"


"Jadi males"


"Males kenapa?"


"Males ke depan ketemu orang jadi males segan dan malu juga kalau orang pada liat dengan tatapan sinis ke kakak"


"Gak usah malu dan takut kak, kalau ada yang tanya gini gitu kakak cuekin aja buat apa takut. Orang kita gak ada salah ya buat apa takut"


"Iya kamu benar kakak gak perlu takut, tapi cuma risih aja sih" ucap Lusi.


Lusi pun merasakan hal risih pada dirinya pasalnya ditatap dengan tatapan tidak biasa oleh orang memang tidak enak.


Lusi pun pada saat ini membantu mau tidak mau, banyak juga yang menanyakan perihal status Lusi yang ditinggal mati oleh sang suami. Ada yang bertanya karena sekedar kepo ada juga teman ayah yang bertanya dengan tatapan genit. Berharap dapat nomer telepon dan bisa meminang janda cantik tak peduli walau saat itu dalam keadaan hamil. Dan tak peduli juga padahal mereka sudah bersitri.

__ADS_1


__ADS_2