
Perjalanan menuju rumah sakit dilalui. Tanisa tampak senang bisa jalan-jalan keluar merasakan udara segar sambil melihat-lihat. Dalam perjalanan Tanisa pun terheran-heran pada pria yang satu ini. Senyum sendiri namun tanpa sebab. Apakah pria muda seperti itu, apakah pria muda yang banyak uang akan mengalami hal aneh yaitu senyum sendiri. Tanisa pun masih muda tapi Tanisa jarang senyum sendiri, yang ada Tanisa lebih banyak menangis sendiri menghadapi dunia yang tak baik-baik saja.
Tanisa pun memandang Leon sedikit Leon pun menatap Tanisa balik sambil menahan senyumnya seolah Leon tak ingin Tanisa tahu jika dirinya tersenyum sendiri tanpa sebab. Padahal tak perlu ada yang ditutupi Tanisa pun tahu jika daritadi Leon senyum sendiri.
"Kalau senyum udah senyum aja gak usah pake ditutupin segala, aku tahu dari tadi kamu senyum sendiri" sindir Tanisa.
"Kalau orang senyum itu kan artinya aku bahagia, ya aku sedang bahagia" ucap Leon yang fokus menyetir sambil merekah kan senyumnya.
"Bahagia kenapa, kenapa bisa bahagia"
Iya aku bahagia karena bisa jalan berdua sama kamu. Aku sangatlah bahagia Tanisa. Andai aku bisa mengatakan hal ini padamu, batin Leon.
Tanisa pun setelah nya terdiam sambil memandang jalan, Tanisa merasa perjalanan ke rumah sakit sangat terasa jauh. Dan Tanisa juga heran kenapa Leon memilih rumah sakit yang jaraknya jauh dari rumah. Padahal disekitar rumah masih ada rumah sakit yang lebih dekat. Namun Leon lebih memilih yang jauh dari rumah.
"Ini mau kerumah sakit yang mana sih, kita udah lumayan jauh" kata Tanisa yang heran perjalanan nya tak sampai-sampai.
"Iya aku cari rumah sakit yang bagus, dan jaraknya memang lumayan jauh" jawab Leon.
Leon sengaja mencari yang agak jauh supaya Tanisa bisa lebih lama bersama Leon.
Hingga perjalan yang memakan waktu hampir satu jam itu, mereka pun sampai disebuah rumah sakit yang lumayan besar dan bagus. Tapi jauh dari itu sebenarnya ada juga lebih bagus dan dekat tapi memang Leon saja yang mencari rumah sakit yang sengaja jauh.
Tanisa pun turun dari parkiran, tiba-tiba Tanisa merasakan mual lagi.
"Uueekk... Uueek"
"Kamu mual lagi" ucap Leon yang tampak panik melihat Tanisa.
"Ya mual lagi dan pusing, aku heran baru sekarang sekarang kerasanya" ucap Tanisa. Yang menahan untuk tidak muntah.
"Aku tahan aja deh ini gak enak keluarin di parkiran"
"Nih ada air mineral minum saja, biar mualnya hilang. Nih aku juga bawa minyak kayu putih supaya kamu gak mual" lalu Leon pun memberikan kepada Tanisa.
"Pakai juga dikepala kamu biar pusing nya hilang" ucap Leon lagi.
"Sini pegang aja tangan aku, biar kamu gak oleng aku takut kamu jatuh" ucap Leon menarik tangan Tanisa untuk memegang lengannya. Tanisa pun merasakan otot Leon yang sangat berotot itu.
"Tapi gak apa-apa aku pegang" kata Tanisa.
"Gak apa-apa aku takut kamu jatuh nanti kenapa napa juga sama adik aku dalam perut kamu. Pokok nya kalau adik aku kenapa-napa aku juga yang merasa bersalah" ucap Leon pada Tanisa.
Tanisa pun masih tampak tak menaruh curiga apa-apa karena memang Tanisa mengandung adik dari Leon.
Lalu mereka pun masuk kedalam dan mengisi form adminstrasi. kebetulan Leon sudah ada nomer antrian jadi dia hanya perlu memberikan KTP nya saja.
Lalu tak lama saat didepan ruang dokter, mereka pun harus menuggu, karena Tanisa mendapat antrian ke 5 sedangkan antrian masih no.3.
"Kamu tunggu lagi gak apa-apa kan" ucap Leon.
"Gak apa-apa kita memang harus budayakan mengantri kan" kata Tanisa berlapang dada. Ya Tanisa orang yang penuh sabar apalagi hanya menunggu antrian yang cuma sedikit itu.
Mereka pun tampak duduk sambil menunggu panggilan.
"Apa kamu masih mual?" tanya Leon.
"Oh iya masih mual sedikit, tapi tidak terlalu kalau sekarang" ucap Tanisa.
"Sukurlah, perjuangan ya punya anak itu" kata Leon.
"Iya, betul makanya kamu jangan sering melawan orang tua"
"Iya Bu hajah" kata Leon dengan nada candanya.
Lalu mereka pun masuk tak lama saat nomer antrian mereka dipanggil, sebelum masuk Leon pun tampak memandang Tanisa. Leon pun tanpa segan lagi langsung menggandeng tangan Tanisa dengan erat, Tanisa pun membulat kan matanya saat Leon melakukan itu.
Tanisa tak menyangka dengan semua yang dilakukan Leon. Tanisa pun tampak menarik tangannya agar Leon tidak menggandengnya namun Leon sangat kuat menggandeng tangan Tanisa.
__ADS_1
Leon sangat bahagia bisa bersama Tanisa, apalagi di moment penting dalam hidup Tanisa.
Lalu saat sampai diruang dokter mereka pun dipersilahkan duduk oleh dokter Sania. Ya nama dokternya Sania.
"Sore bu, nama ibu Tanisa betul ya" ucap Dokter.
"Iya dokter" jawab Tanisa.
"Lalu ini siapa?" Tanya dokter wanita itu sambil melihat Leon.
"Saya suaminya" jawab Leon tiba-tiba.
Sontak Tanisa membulatkan mata dan memandang ke arah Leon.
Tanisa pun memijit keningnya mendengar apa yang dikatakan oleh Leon.
"Dia bukan suami saya dokter" kata Tanisa.
"Jangan didengar ya dok, istri saya suka bercanda. Ya kan sayang" ucap Leon tersenyum.
Dokter pun hanya tampak tersenyum.
Lalu dokter pun melanjutkan memeriksa kan kondisi kandungan Tanisa.
"Baik kalau gitu kita coba USG ya janinnya" ucap sang dokter.
Lalu Tanisa pun tampak direbahkan dan mulai mengecek janin yang ada diperut Tanisa.
"Bayinya masih kecil usianya baru 10 minggu harus dijaga baik-baik karena ini usianya yang muda jadi masih rentan. Dan ini masih kecil ya Bu tapi Walaupun masih kecil udah keliatan, ada kepalanya dan ini kakinya. Cuma untuk jenis kelamin belum" ucap dokter menerangkan layar yang di USG itu.
Tanisa pun menjatuhkan air matanya, Tanisa tak menyangka dirinya kini benar-benar akan menjadi ibu. Tanisa tak menyangka dirinya benar-benar mengandung anak dari pria yang bernama Deon. Ada perasaan senang ada juga perasan pilu dihati Tanisa. Tanisa senang karena Tanisa kini menjadi ibu, namun satu sisi Tanisa sedih karena Tanisa hamil Tanisa semakin sulit untuk lepas dari Deon pria yang tak pernah ia cintai sama sekali dalam hidupnya. Tanisa pun tampak menjatuhkan air mata yang terlihat sedih itu.
"Kamu sedih kenapa?"tanya Dokter Sania.
"Gak apa-apa" jawab Tanisa berusaha baik-baik saja.
"Bagaimana dokter kandungannya sehat kan" tanya Leon.
"Sehat pak, anaknya sehat. Ibunya juga sehat. Makanan bergizi dan istirahat yang cukup usia kandungan nya masih rentan, jadi harus benar-benar dijaga" kata Dokter Sania.
"Terus satu lagi, kalau bermain cinta jangan terlalu keras ya bapak kasihan bayi dalam perutnya. Tidak boleh terlalu keras dan sering tapi nanti kalau sudah diatas kandungan 8bulan itu justru bagus sering-sering"
Seketika hati Tanisa pun terasa kaget dengan apa yang dikatakan oleh sang dokter bahwasannya Ayah dari bayi yang Tanisa kandung tak ada dan kenapa harus Leon yang mendengar kata itu dari sang dokter.
Tanisa pun menarik napas beratnya. Ucapan sang dokter seperti cuma kata-kata saja bahwa ayah dari bayi yang Tanisa kandung tak ada hanya ada Leon. Kepiluan tiba-tiba saja melanda hati Tanisa. Mana kala Deon tak ikut andil dalam hal ini.
Bak curi cari kesempatan dalam kesempatan, entah bagaimana Leon memulai. Tampak Leon mengelus lembut perut Tanisa dengan lembut seraya berkata.
"Anak papa sayang, sehat-sehat ya kamu disana. Muuaaccchhh" ucapnya sambil mencium perut Tanisa lembut.
Tanisa pun langsung membulat kan matanya pada Leon yang tampak berlebihan itu.
"Maaf kan aku, aku hanya ingin mengelus nya" bisik Leon, yang sadar bahwa Tanisa tak suka Leon melakukan hal itu.
Jelas apa yang Leon lakukan membuat Tanisa membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang Leon lakukan dan itu sungguh diluar dugaan m.
Lalu sang Dokter pun lantas tersenyum melihat dua insan yang tampak didepan matanya kini yang terlihat bahagia, walau sebenarnya sang dokter tak tahu kebenaran sebenarnya.
"Dokter kenapa ya istri saya kadang mual muntah. apakah lalau terlalu sering akan bahaya, aku takut kenapa napa"ucap Leon.
" orang hamil memang seperti itu. Saya akan buatkan resep vitamin dan obat untuk mualnya" ucap dokter.
"Terimakasih dok"
"Ini resepnya" memberikan resep obat kepada mereka.
Lalu mereka pun keluar dari ruang periksa dan menuju ke apotik, apotik nya juga yang ada didalam rumah sakit itu. Mereka pun berjalan menuju apotik untuk menebus obat yang sudah diresepkan. Selama masih menunggu Tanisa tampak memicing kan mata nya menatap kesal Leon atas kebohongannya barusan.
__ADS_1
"Kenapa kok mukanya kesel gitu" kata Leon.
"Kesel, karena kamu bohongin dokter ngaku jadi suami aku. Terus elus perut aku segela. Kamu kelewatan tau" ucap Tanda.
"Tanisa aku hanya tak ingin, anak dari dalam kandungan mu kehilangan sosok ayah dalam hidupnya. Dari kecil ia sudah terabaikan apakah kamu tidak kasihan. Meski pun hanya kepura-puraan tapi aku tulus ikhlas melakukannya" ucap Leon yang seketika membuat Tanisa terdiam dan sedikit termenung dengan apa yang diucapkan Leon dan memang apa yang diucapkan Leon ada benarnya. Tanisa sudah kehilangan sesosok pria berarti dalam hidupnya.
"Kamu tahu kan arti seorang ayah, kamu pun pernah merasakan hidup bersama ayahmu. Dan kamu merasakan kan bagaimana kamu butuh kan ayah dalam hidupmu. Aku hanya tak ingin ia mengalami hal sepahit itu dari dalam kandungan. Jujur aku tidak tega" ucap Leon menatap Tanisa lekat.
seketika Tanisa pun terdiam dan termenung mengingat ayah dari bayi yang dikandungnya yang tak pernah perhatian dan tak peduli itu.
Mas Deon hanya menganggap ku wanita nya saja, bukan istrinya juga bukan hal berati dalam hidupnya. Bahkan anak dalam kandungan ku ini saja ia tampak tak peduli, disaat kemarin aku meminta dia untuk ke dokter kandungan dan ia tak mau. Dan kenapa harus Leon yang tampak baik kepadaku. Kenapa harus Leon. kenapa kamu begitu Leon, kenapa? kamu membuat ku penasaran. tapi aku juga gak bisa bayangkan jika kamu tahu siapa aku sebenarnya Leon, andaikan kamu tahu, aku hanyalah wanita bayaran yang dibeli oleh Ayahmu. Apakah kamu masih akan baik padaku. Ataukah kamu akan jijik kepadaku dan tak mau mengenalku sama sekali. Apa jadinya jika dirimu tahu kalau ayah mu mau menikahi wanita malam seperti ku ini benak Tanisa.
"Hallo"Leon pun membuyarkan pandangan Tanisa yang melamun.
"Kamu melamun?" Tanya Leon.
"Hemm iya sedikit, btw terimakasih banyak atas perhatian mu. Kamu memang kakak terbaik, pasti saat adikmu lahir dia sangat bangga memiliki kakak sebaik kamu" kata Tanisa.
seketika...
Leon pun tampak sedih dengan ucapan Tanisa yang menganggap kebaikan dirinya semata mata untuk bayi dalam kandungan Tanisa karena Leon adalah kakaknya, padahal lebih dari itu Leon sangat mencintai Tanisa bukan sebagai istri papanya tapi sebagai orang yang sudah mengisi hati Leon saat ini. Wanita yang saat ini sedang mengandung anak dari papanya itu telah membuat Leon mencintai Tanisa begitu dalam, dan mencintai Tanisa segenap jiwa dan raganya.
keduanya pun masih tampak terdiam bicara sendiri dalam hati.
Namun pada saat masih menunggu obat..
Tiba-tiba kepala Tanisa pusing mencium bau obat yang serasa menusuk itu, padahal sudah biasa sebenarnya bau rumah sakit seperti itu. Cuma kali ini Tanisa tampak lain dan tiba-tiba pusing kepalanya.
"Aku gak tahu pusing apa karena bau obat ya. Aku ijin sebentar keluar ya, mau cari minum yang seger-seger es jeruk kali ya enak" ucap Tanisa pada Leon.
"Apa perlu aku yang belikan untuk mu" kata Leon yang sangat peduli terhadap Tanisa.
"Tidak usah aku bisa beli sendiri dan gak akan kesasar kok, tapi ada sesuatu yang aku pinta" ucap Tanisa tersenyum polos.
"Apa?"
"Pinjam uang kamu karena aku gak punya uang"
"Ambilah, tidak usah diganti" ucap Leon memberikan uang senilai 300 ribu.
"Ini terlalu besar"
"Gak apa-apa terimalah"
"Terimakasih, apa kamu mau juga?" Tanya Tanisa.
"Tidak usah"
Ya Tanisa memang tak pernah diberikan uang yang besar kalau pundi kasih itu kalau ingat, dan kalaupun ingat itu pun kadang-kadang dan totalnya tak banyak sekitar 10 ribu atau 20 ribu saja.
Dengan uang 300 ribu rupiah itu lalu Tanisa pun keluar dan mencari minum untuk menyegarkan tenggorokan dan menghilangkan rasa pusing dan mualnya itu. Tanisa pun tampak mencari ke kantin dirumah sakit itu dan beruntung di kantin ada es jeruk yang ia mau. Tanisa pun membeli dua satu untuk Leon dan satu untuk dirinya.
Dan Tanisa pun karena merasa pusing berada didalam Tanisa pun berniat untuk duduk dulu ditaman rumah sakit itu yang tampak sejuk dan asri sambil minum es jeruk.
Karena terlalu bersemangat itu Tanisa pun berjalan dengan langkah kaki yang agak cepat.
Namun tanpa sengaja Tanisa yang tidak terlalu fokus ia menabrak seorang pria dan menumpahkan es jeruk itu pada baju pria dihadapannya.
"Maaf tuan, maaf" ucap Tanisa membersihkan baju pria yang terkena es jeruk itu.
Saat Tanisa melihat ternyata itu adalah Gavino.
Gavino!!!
Deg...
Tanisa pun kaget bukan main saat pria yang bernama Gavino ada didepannya kini.
__ADS_1
Lalu bagaimana kelanjutannya?