
Setelah selesai acara lamaran antara Marisa dan Juna. Juna datang menemui Lusi.
"Lusi, seharusnya kamu jangan mau mengiyakan pernikahan mewah itu" ucap Juna.
"Jun, tenang uangnya ada kok, heheh" ucap Lusi sembari tersenyum.
"Iya Jun kamu santai aja" sahut Rian.
"Haduh" keluh Juna merasa tidak enak.
"Tapi ingat, gue bantu lu. Karena istri gue yang memintanya" terang Rian m.
"Terimakasih banyak" ungkap Juna merasa tidak enak.
"Siap" jawab Rian.
Keesokan harinya...
Terlihat Lusi yang sedang duduk dirumah sambil memandang suaminya. Melihat suaminya yang sedang mengerjakan tugas kantornya. Lusi tampak tak mau mengganggunya.
Lalu tak lama setelah itu, Rian tampak memberikan cek sebesar 500.000 juta rupiah.
"Ini untuk pernikahan Juna. Aku gak tahu dengan uang segini apakah bisa membuat pernikahan mewah" ujar Rian memberikan cek itu.
"Sepertinya lumayan mewah dengan uang segini. Walau aku gak tau juga sih" ungkap Lusi sambil memandang Rian. "Aku kira kamu akan memberikan uang satu milyar. Padahal mobil sport kamu ada yang harganya lebih dari satu M loh"
"Hemmzz.. bisnis ku akhir-akhir ini sedang mengalami penurunan. Aku juga gak tahu kenapa ya" ucap Rian sambil memijat keningnya.
"Tapi apa permintaan aku untuk membantu Juna menikah, tidak memberatkan kamu. Kalau sekiranya berat lebih baik jangan" ujar Lusi.
"Gak usah gak apa-apa. Aku ikhlas sayang" Rian pun tampak tersenyum.
"Aku jadi ingat pernikahan kita dulu. Yang jauh dari kata mewah bahkan aku sengaja tidak mau mewah sama sekali. Karena ingat aku gak mau kalau kita terlalu menyombongkan diri. Kita kan manusia paling apadanya dan sederhana" ucap Rian lagi.
"Halah itu sih alasan kamu aja. Padahal sengaja kamu pengen menyembunyikan pernikahan kita dulu kan. Biar gak ada yang tahu. Jangan berasa amnesia ya Rian" Lusi tampak merasa tidak terima dengan apa yang dikatakan Rian.
"Gak juga ah"
"Terus buktinya, aku yang pernah gak dianggap itu apa. Udah nikah tapi malah tunangan sama Zelda" Lusi tampak kesal.
"Hehehe. Iya deh maaf, jangan ngambek. Itu kan yang dulu gak usah dibahas yang penting kan sekarang. Iya nggak?"
__ADS_1
"Hmmm" jawab Lusi singkat.
"Udah selesai belum haid nya" tanya Rian.
"Kenapa?" Lusi malah balik bertanya.
"Udah lama gak dengar suara dessahan kamu"
"Terus"
"Yaudah yuk. Mumpung lagi hujan, jadi dingin gimana gitu"
"Yaudah"
"Tapi pakai baju yang seksi itu ya"pinta Rian.
"Yang mana?" Tanya Lusi.
"Yang sudah aku beliin, satu lemari itu loh"
"Yang itu"
"Sudah dibuang semua sama mama" jelas Lusi masih mode jutek.
"Waduh kok bisa"
"Terus gak mau nih ceritanya" sindir Lusi.
"Eh, eh jangan.. Yaudah ayo. Gak usah pakai baju itu kamu tetap seksi kok"
Lusi pun hanya tampak tersenyum.
Dan dengan cepat Rian langsung menghampiri sang istri dan langsung mencumbu dengan mesra. Mencium seluruh tubuh Lusi tanpa tersisa. Lalu Rian pun tampak membuka baju Lusi dan mencium benda kenyal yang ada didepan dadanya itu. Iya ciumi dan pastinya ia gigit dengan gemas dengan gigitan kecil. Lusi pun tampak menikmatinya.
Lalu dengan cepat Rian membawa Lusi ke kamar sambil menyusu diatas dua buah benda kembar itu.
Sesampainya Rian pun tampak mulai menegang dengan senjata pusakanya. Dan dengan cepat Rian menarik dengan beringas baju dan celana yang Lusi pakai. Ia lepas sampai tak ada yang tersisa.. Dan mulai lah dengan permainan dan dengan gaya yang paling mereka sukai.
Rian sudah lama tidak menikmati tubuh istrinya yang terlahir begitu sempurna tanpa cacat itu. Rian tampak melepaskan hasrat nya dalam-dalam. Hingga ia menyemburkan semuanya kedalam sang pemilik gawang.
Lusi pun tampak merasakan semburan itu. Ia pun tampak mendessah basah saat dipuncaknya.
__ADS_1
Setelah selesai.
Terlihat Rian yang sedang duduk termenung melihat istrinya hanya memakai selimut saja ditubuhnya. Dan ia pun tampak memberikan kecupan. Dan menatap mata Lusi.
"Aku lupa?" Ungkap Rian
"Kenapa?"
"Harusnya aku jangan keluarin itu nya aku didalam"
"Emang kenapa?" Lusi tampak heran.
"Aku gak mau punya anak lagi" jelas Rian.
"Kenapa?"
"Takut pas punya anak lagi. Anak kita perempuan. Kalau Fabio aman dia terlahir laki-laki. Tapi kalau adiknya kan belum tentu" kata Rian yang tampak gundah gulana.
"Lah emang kenapa kalau perempuan" Lusi heran
"Takut aja kalau nanti anak kita perempuan. Khawatir sial terus seperti kehidupan kamu yang selalu sial. Aku gak siap kalau punya anak perempuan dengan kesialan yang sama seperti kamu" ungkap Rian.
"Ish Rian kamu pikir aku pembawa sial"
"Aku gak bilang kamu pembawa sial. Aku cuma takut kesialan kamu. Turun ke anak kamu sendiri. Kamu ingat gak kalau kamu punya riwayat ini dan itu"
"Tau ah.." ucap Lusi berdesis kesal.
"Eh kok malah ngambek" Rian tampak tidak mau Lusi marah.
"Kamu itu ya, aku tetap ingin punya anak lagi Rian. Kamu jangan berfikir jelek dulu kenapa sih"
"Lusi"
"Kalau kamu stop ingin punya anak. Yaudah stop juga bikin anaknya"
"Eh kok gitu" Rian tampak berusaha memeluk Lusi.
"Biarin" Lusi tampak kesal.
"Yaudah iya, kita punya anak lagi" ungkap Rian pasrah.
__ADS_1