
Perasaan Deon serasa yang tersulut api, dengan kemarahan yang membara menyaksikan kejadian yang tak pernah ia sangka sebelumnya.
Wanita yang memang ia sandera berlandaskan cinta kini terpampang nyata didepan mata dalam pelukan pria lain, yaitu pria yang Tanisa cintai.
Kemarahan yang itu semakin membara mana kala Tanisa tampak memeluk erat pula pria itu.
Jika bukan dirumah sakit rasanya Deon ingin marah sejadinya, namun ia tahan untuk meredam semua mangingat dirinya berada dirumah sakit
Matanya pun membulat saat melihat wanita disentuh oleh pria lain.
"Lepaskan dia" seru Deon kepada dua orang yang saling menumpahkan kerinduan itu didepan matanya.
Keduanya pun tampak kaget dengan kedatangan pria yang tuanya hampir sama seperti kedua orangtua mereka
"Lepaskan dia Gavino!!!" ucap Deon lagi memandang keduanya tajam dengan mata dan kekesalan yang begitu membara, Deon pun menarik tangan Tanisa dan Gavino yang tampak menahannya. Mereka pun langsung berdiri saat melihat Deon yang datang. Yang tadinya sedang duduk berdua dua dibawah.
"Aku minta lepaskan dia, dia adalah milikku bukan milikmu!!!!" seru Deon lagi dengan kekesalan yang teramat dalam.
"Aku tidak akan melepaskan Tanisa dalam hidup ku" ucap Gavino memegang tangan Tanisa dengan erat.
"Tanisa lepaskan tangan mu darinya!" ucap Deon dengan sorot mata tajam.
"Kamu ingat kan bagaimana kamu berjanji untuk ikut dengan ku. Bagaimana kamu berjanji untuk tetap mencintai ku. Ini caramu menghianati ku. Ini cara mu mencintaiku, dengan diam-diam bertemu dengan dia!!!!" ucap Deon memandang Tanisa kesal.
"Ikut dengan ku!!!" ucap Deon menarik tangan Tanisa dengan kasar.
Gavino pun tidak membiarkan begitu saja Tanisa ditarik tangannya oleh pria yang bernama Deon. Gavino tidak mau jika Tanisa kembali pada pria itu, karena Gavino sangatlah mecintai Tanisa.
"Tanisa ikutlah dengan ku jangan dengan dia" ucap Deon memandang wajah Tanisa.
"Jangan paksa dia untuk ikut dengan mu!!!!!" Kata Gavino kesal.
"Tidak bisa, kamu tidak tahu bahwa kami akan segera menikah" ucap Deon memandang Gavino.
"Jangan berharap untuk menikahi Tanisa , karena Tanisa hanya mencintai ku bukan kamu pak Deon!!!"ucap Gavino lantang.
"Tanisa cepat kembali kepadaku. Atau kamu akan menyesal seumur hidupmu.. dan kamu tahu Gavino?" Ucap Deon lagi dengan wajah yang tampak tajam.
__ADS_1
"Aku tidak perlu tahu" sahut Gavino.
Gavino tampak berani dengan Deon dihadapannya kini.
Sedangkan Tanisa tampak ketakutan dan tak bisa berkata apa-apa saat itu.
"Asal kamu tahu Gavino, Tanisa sedang hamil anakku!!!!" ucap Deon dengan suara lantang.
Deg ..
Seketika perasaan Gavino sakit mendengar apa yang baru saja ia dengar.
"Wanita yang berada ditangan mu, dia sedang hamil anakku!!!" Ucap Deon lagi.
Tidak mungkin?
Benarkah itu?
Benarkah begitu? Mengapa bisa, kenapa Tanisa harus hamil anak Deon. Mengapa? Mengapa disaat seperti ini Tanisa hamil anak pria ini, batin Gavino tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Deon.
"Tidak mungkin kamu jangan mengarang untuk mendaptkan dirinya" kata Gavino menatap Deon tak percaya.
Lalu dengan cepat Gavino memadang wajah Tanisa sambil memegang wajahnya dengan lembut.
"Tanisa benar kamu hamil anak dari pria ini, katakan Tanisa"tanya Gavino.
Tanisa terdiam dan menjatuhkan air matanya lagi.
"Katakan!!!!" Ucap Gavino.
"Iya, iya aku hamil anak Deon. Gavino, aku hamil anaknya hiks" ucap Tanisa sambil menangis.
Gavino pun kaget bukan kepalang mendengar pengakuan itu dari bibir Tanisa. Langit seakan runtuh, semua seperti mimpi buruk bagi Gavino. Bagaimana mungkin ini terjadi sungguh ini berita paling buruk yang pernah Gavino dengar bahwa wanita yang Gavino cintai hamil anak pria lain.
"Sekarang ikut dengan ku, bukankah kamu berjanji untuk menikahi dengan ku. Kita pun akan membesarkan anak kita bersama Tanisa, cepat patuhi janji mu!!!" Seru Deon.
"Bagaimana bisa Tanisa bagaimana bisa"
__ADS_1
"Saat diriku ditinggalkan oleh mu, disaat aku kehilangan asa. Disaat aku hampir mati, disaat aku tidak bisa hidup. Deon datang dan membawa ku pergi" ucap Tanisa.
"Kenapa Tanisa kenapa?" Ucap Gavino sedih.
"Hiks hiks hiks Aku tak sanggup menjadi wanita bayaran, aku tidak sanggup disaat aku harus melayani pria berbeda setiap harinya, batin ku sungguh tersiksa. Aku putuskan untuk ikut dengan mas Deon. Dan saat itulah"
"Dan saat itulah Tanisa berjanji, mau untuk aku nikahi" sahut Deon.
"Betul begitu Tanisa" lirih Gavino.
Tanisa pun mengangguk, ya dengan perasaan akan sebuah rasa. Tanisa tampak mengangguk kan kepalanya sambil menjatuhkan air matanya.
"Tanisa?"
Tanisa hanya terdiam, dan tak menjawab. Hati Tanisa bimbang dan ragu, kepada siapa dia harus memilih. Batin terdalam Tanisa ia memilih Gavino tapi ia tampak tak mampu untuk memilih mengingat dirinya tengah hamil anak dari Deon. Dan itu lah yang menjadi pemberat Tanisa untuk tidak memilih Gavino.
Tanisa pun ditarik dengan paksa dan kuat sehingga tangan Tanisa telepas dari genggaman pria yang Tanisa cinta.
"Ikutlah dengan ku, ikutlah denganku. Demi bayi kita" ucap Deon menarik tangan Tanisa.
"Maafkan aku Gavino, maafkan aku"
Lalu Tanisa pun ditarik paksa. dan dibawa pulang oleh Deon.
Tanisa pun perlahan melepaskan tangan Gavino yang masih ingin menggenggamnya. Namun Tanisa tampak tak bisa, mengingat Tanisa sudah berjanji untuk tetap mencintai Deon dan mau untuk dinikahi oleh pria itu
Maafkan aku Gavino maafkan aku, aku tak bisa. Aku hamil anak Deon aku tak bisa memilihmu, langkah ku tak seperti dulu. Hidupku sudah menjadi hidupnya. Aku tidak semudah itu dimiliki oleh mu, mengingat pria ini lah yang mengambil seluruh apa yang aku miliki. Mengingat pria ini yang hadir dalam sebuah keterpurukan dan keputusaan dalam hidupku. Mengingat pria ini yang hadir dalam hidupku yang kelam. Sedangkan kehadiran mu dengan kata cinta, namun datang juga dengan sebuah keterlambatan yang membuat hati ku semakin sakit dan sedih.
Aku kembali kapada tempat ku berasal. Bukan karena aku mencintai nya, namun aku memilih nya karena Deon adalah ayah dari bayi yang ku kandung, ku harap kamu mengerti, ku harap kamu bisa memahami. Maafkan aku Gavino, Maafkan...aku sangat mencintamu ucap Tanisa didalam batinya yang meronta namun tanpa teriakan hanya air mata yang mengalir diwajahnya, sambil tangannya ditarik paksa oleh pria yang bernama Deon.
Saat Tanisa pergi dengan genggaman pria itu Gavino pun seketika menjatuhkan air matanya dengan penuh penyesalan. Ya penyesalan membiarkan Tanisa selama ini sendirian sehingga kehidupannya kini diambil orang.
Dengan air mata tanpa mengalir Gavino pun sedih.
Tanisa.. aku pikir aku tak terlambat untuk mencintaimu, aku pikir selama ini kamu akan selalu ada untukku. Namun aku salah, tersadar ternyata dirimu sulit untuk ku, sulit untuk ku gapai.
Tanisa aku pikir diriku belum terlambat untuk datang dan mencintai mu, nyatanya aku salah aku sangatlah terlambat. Aku tidak bisa merubah takdir dan keadaan, aku tak bisa memaksakan takdir keterlambatan ku menarik dari pria itu. Tanisa aku pikir aku masih bisa mengejar , tapi aku salah besar sekuat apapun mengejar nyatanya aku adalah orang yang paling gagal mengejar karena kamu hamil anak pria itu. Maafkan aku Tanisa membiarkan dirimu sendiri dengan keadaan keadaan seperti ini. Sehingga kamu hamil anaknya.
__ADS_1
Seharusnya dalam hidupku, aku tak membiarkan mu pergi. Aku tak membiarkan dirimu disentuh oleh pria manapun. Seharunya aku dapat menjaga cintamu. Sehingga aku tak terlambat dan menyesal seperti ini. Tanisa aku sangat mencintaimu... Batin Gavino yang tertatih melihat kepergian Tanisa.