
Lusi pun kaget dengan kehadiran wanita yang tak ia duga sebelumnya, ya siapa lagi kalau bukan Erika.
Erika kecewa berat pada pria yang sudah ia berikan segalanya itu, Erika cantik hanya saja sudah berumur dan cukup serakah. Erika kesal karena selama ini hanya Hilman pria yang bisa memenuhi segala keinginannya dengan atas namakan cinta, padahal jauh dari itu Erika hanya ingin menjadi kaya raya dengan cara yang instan.
Kehadiran Lusi yang secara mendadak membuat Erika kesal dan ingin memberikan pelajaran pada Lusi saat itu.
Erika pun dengan kekesalannya tampak ingin menampar Lusi, tapi tiba-tiba tangan kekar milik Hilman langsung menepis tangan Erika dengan cepat.
"Tak ada satu pun wanita yang berani menyakiti Lusi" kata Hilman kesal dengan tatapan tajam ke arah Erika.
"Oh, jadi kamu sekarang berubah, jadi sekarang kamu berubah cuma buat cewek sialan ini"
"Iya kenapa?" Ucap Hilman melotot tajam kepada Erika.
"Sekarang yang aku mau jawab satu pertanyaan, kamu pilih aku atau dia, pilih aku atau wanita sialan ini!!!!" Teriak Erika kesal.
"JELAS AKU MEMILIH LUSI!!!!" ucap Hilman dengan nada yang meninggi.
Semua mata pun tampak tertuju pada keributan yang tengah terjadi saat itu. Lusi pun tampak tertunduk malu melihat semua orang yang kini menatap ketiga orang yang tengah ribut itu. Saat ini Lusi merasa jika dirinya, Hilman dan Erika seperti sebuah tontonan untuk para pengunjung mall.
"Udah yuk pulang" ajak Lusi merasa malu.
"Eh!!!! Enak aja pulang, urusan kita belom selesai!!!" Kata Erika yang masih menantang Lusi dan Hilman.
"Mas dengarkan aku baik-baik dengarkan, aku sudah tidur dengan mu. Kenapa kamu tega pergi sama dia!!! Hah!!! Kenapa?"
"Oh kamu merasa memiliki aku hanya karena kamu sudah tidur dengan ku, kamu merasa hebat hah??? Asal kamu tahu Lusi pun sudah tidur dengan ku, asal kamu tahu!!!"
Seketika mata Lusi pun membulat tajam dengan ucapan Hilman.
__ADS_1
"Bapak isshhh apa-apaan sih pak" ucap Lusi kesal ucap Lusi yang memukul Hilman dengan kedua tangannya pada lengannya.
"Serius kamu sudah tidur dengannya?" Tanya Erika yang seolah tak yakin.
"Jelas sangat jelas bahkan aku punya buktinya"
"Pak cukup ya cukup!!!! Tidak ada, aku dan pak Hilman tak pernah melakukan itu" kata Lusi yang mulai kesal.
"Nih fotonya aku punya nih kamu lihat" ucap Hilman membuka galeri memberikan foto yang ia anggap bukti kepada Erika.
Erika melihat foto wajah Lusi yang dicium dalam atas ranjang dan memperlihatkan tubuh Hilman yang sedang tak memakai baju sementara Lusi hanya ditutupi dengan selimut badanya. Namun buah dadanya tampak menyembul yang seolah mereka sedang melakukan hubungan suami istri.
Lusi pun tampak kesal dan Seketika menjatuhkan air matanya dengan tingkah laku konyol Hilman. Perasaan sakit dan kesal dengan kelakukan Hilman yang sungguh memalukan dirinya di khalayak ramai.
Semua mata pun kini terarah pada Lusi yang dianggap seperti wanita murahan yang memperebutkan satu orang pria.
"Hebat kamu mau juga kamu tidur dengannya, sialan juga kamu!!!!" Ucap Erika yang percaya dengan semuanya.
Hilman yang melihat Lusi pergi lantas mengejarnya, ia tak mau Lusi pergi tanpa dirinya.
Lusi pun berjalan cepat ia benci dengan kelakuan Hilman yang bilang dirinya sudah tidur dengan Hilman. Sungguh itu suatu penghinaan untuk dirinya, kenyataan yang sebenernya mungkin Lusi tidak tiduri. Tapi tetap kenyaatan orang seperti percaya dengan bukti foto yang ada. Dan itu sungguh menyakitkan Lusi dan menjatuhkan harga diri sebagai wanita.
"Lusi jangan pergi!!! Jangan pergi!!!" Kata Hilman mengejar Lusi saat itu.
Namun Lusi tampak berjalan pergi dan tak peduli dengan Hilman yang memanggilnya. Lusi merasa jijik pada dirinya yanh seolah tak ada harga dirinya. Apalagi dengan kelakuan Hilman yang sungguh sangat memalukan dirinya.
Akhirnya tangan Lusi pun ditarik Hilman kuat.
"Dengar kan aku, dengar!!!" Ucap Hilman menatap Lusi dengan tatapan dalam.
__ADS_1
Lusi terlihat marah..
"Apalagi yang harus aku dengar apalagi? Tega bapak mengatakan itu dan mengumbar aib saya. walaupun dalam keadaan sebenernya bapak tidak melakukan itu, tapi bapak dengan mudahnya memeberi sebuah foto yang mengatakan seolah itu benar nyata!!! Dan orang pasti akan berfikiran lain pada saya. Berfikir negatif tentang saya dan membuat saya buruk dimata orang lain. Puas bapak dengan perlakuan bapak yang seperti ini, saya gak tahu lagi dengan sifat bapak yang seperti ini. Sungguh membuat saya kecewa dan kesal!!!!" Kata Lusi yang terlihat emosi.
"Lusi.. Lusi..." Panggil Hilman.
Tapi Lusi tetap tampak tak peduli.
Hilman pun menarik Lusi kasar hingga meninggalkan bekas tangan. Lalu Hilman membawa masuk ke dalam mobilnya, Hilman tak mau jika Lusi pergi begitu saja apalagi dalam keadaan marah.
"Jangan pergi begitu saja, aku tak mau kamu pergi selangkah saja dari ku" ungkap Hilman menatap Lusi meski Lusi hanya membuang wajahnya.
"Jalan pak kita ke kantor" perintah Hilman pada supirnya.
"Baiklah saya salah, saya minta maaf" ungkap Hilman kepada Lusi. "Tapi nasi sudah menjadi bubur semua sudah tak bisa di ubah, kita tetap menjadi pasangan saya hanya tak mau diantara kita tidak ada ikatan baik hanya karena iai. Buatlah hubungan baik antara kamu dan aku"
"Bapak sadar ga sih? Saya menjadi pasangan bapak pun karena kelakuan licik bapak yang mengirim foto itu pada ibu saya. Dan sekarang bapak gembar gembor sama kekasih bapak kalau bapak sudah tidur dengan saya. Mau taro dimana muka saya pak!!! Saya sudah malu didepan ibu saya sekarang saya harus kembali malu dengan orang lain yang bahkan saya gak kenal" kata Lusi emosi.
"Malu untuk apa malu, nyatanya nanti kita akan menjadi pasangan suami istri dan itu akan menjadi hal biasa bermesraan antara kamu dan aku"
Seketika mata Lusi pun menyipit seolah jijik dan tak siap jika harus bermseraan dengan pria yang ahh dirinya sendiri pun tak ada rasa sama sekali. Mungkin Lusi ada rasa, rasa baik antara atasan dan bawahan hanya itu dan tak lebih. Jika bicara jauh dari lubuk hati Lusi, tak ada cinta untuk Hilman saat ini. Hati Lusi pun seolah tak bisa dipaksakan sekalipun duit yang berbicara tetap saja hati tak bisa dibeli dengan uang.
Lusi pun menghela napasnya panjang...
"Semua tak harus seperti ini pak, saya masih ada nama baik. Nama baik saya yang dipertaruhkan setelah ini" ucap Lusi yang tampak membuang wajah sambil memandang jalan dan terlihat mobil yang berlalu lalang.
"Tapi kan saya sudah minta maaf kamu tak seharusnya marah terus seperti ini kan"
Lusi pun hanya terdiam dan tak banyak bicara setelah itu.
__ADS_1
Dan benar saja sesampainya dikantor Lusi, disorot mata dengan tatapan tajam setelah itu.