
Lalu Lusi pun pulang ke rumah dengan perasaan lega yang awalnya dia merasa tidak menyangka akan dikeluarkan dari kantor baru. Tapi Alhamdulillah dia masih diberi kesempatan untuk kedua kalinya. Lusi juga tidak menyangka dan lebih tak menyangka lagi mengapa pak Hilman mengukiti dirinya hingga sampai ke dalam bus.
Namun Lusi tetap berfikir secara logis saja mungkin itu kebetulan.
Keesokan harinya, Lusi pun berangkat kerja. Dengan memakai celana panjang hitam dan blouse berwarna ungu Lusi tampil cantik dengan pakaian yang ia kenakan. Lusi pun tampak menaruh senyum dibibirnya yang akan segera berangkat ke kantor.
Sesampainya di kantor Tasya tampak heran melihat Lusi saat itu, Tasya bingung karena yang Tasya tahu Lusi sudah di cut dari perusahaan tapi masih terlihat jelas di kantor. Tasya pun langsung menghampiri Lusi yang baru saja sampai.
"Lusi..." Ucap Tasya menegur Lusi.
"Hey" kata Lusi sembari tersenyum.
"Katanya kamu dikeluarkan dari kantor ini. Kok sekarang ada disini. Kamu nge prank ya" kata Tasya.
"Iya kemarin aku emang dikeluarin, tapi gak tahu tiba-tiba pak Hilman datang dan mengatakan dia masih memberikan kesempatan sekali lagi" kata Lusi.
"Wow rejeki banget sih ini" kata Tasya saat itu. "Sepertinya dia cuma marah saat itu aja"
"Ya sepertinya begitu. Tapi dia bilang kalau aku mengingatkan dia pada anaknya"
"Ouh iya mbak Sarah anaknya pak Hilman"
"Sarah?? Yang cantik itu" tanya Lusi yang memang pernah bertemu Sarah sebelumnya.
"Iya lumayan cantik kamu pernah ketemu"
"Pernah sekali, dia baik banget pernah anter aku pulang"
"Baik sih emang tapi dia kalau sudah gak suka sama orang, kadang suka beringas"
"Oh ya" kata Lusi tak menyangka.
Lalu tak lama terdengar suara handphone milik Tasya berbunyi dan Tasya langsung angkat telepon itu. Ternyata dari sekertaris pribadi Pak Hilman, namanya Lidya.
"Hallo Lidya kenapa?" Tanya Tasya.
"Tasya.. bantu gue dong" ucap Lidya.
"Kenapa Lo?"
"Hari ini gue gak bisa ikut jadwal meetingnya pak Hilman lu gantiin gue dong nemenin dia. Soalnya ibu gue sakit, please ya"
"Kapan, malam ini?"
"Iya"
"Waduh gak bisa, gak bisa.. gue ada acara malam ini. Ada pernikahan sepupu gue, gue gak enak kalau gak datang"
"Ah elu, mikirin amat pernikahan sepupu lu. Gak usah repot deh bantuin gue kenapa sih hari ini doang"
"Eh Romlah, pernikahan sepupu gue juga cuma hari ini"
"Tapi dia kan besok masih nikah kan belum cerei yaudah besok aja datangannya"
"Eh Orang-orangan sawah, lu kalau ngomong enak banget. Jangan karena gue sahabat lu, lu bisa se enaknya"
"Bantuin gue dong pak Hilman gak mau pergi sendiri tar gue di sp atau di pecat lu tega banget sih. Ntar gue kasih lu tiket konser
"Yaudah entar gue pikirin" kata Tasya yang langsung melirik ke arah Lusi saat itu.
"Oke makasih"
Lalu Tasya pun menutup teleponnya dan langsung melihat ke arah Lusi saat itu. Dengan menaruh senyuman diwajah Lusi.
"Hari ini ada acara makan malam dan meeting, sekertaris pak Hilman gak bisa ikut. Kamu bisa kan temenin dia"
"Gak ah, itu kan bukan tugas aku. Lagi juga aku gak ngerti"
"Cuma nemenin doang kok gak ngapa-ngapain. Tolong lah Lusi please.. di kantor ini emang semua job desk itu suka serabutan jadi aku harap kamu mau" kata Tasya.
"Nanti akan ada uang nya, pak Hilman kalau ada acara-acara memang suka ngajak sekertaris pribadinya apalagi ini bertemu clien kan. Pasti dia butuh sekertarisnya, walau cuma temenin makan Kamu bisa kan, nanti ada tipsnya" timpal Tasya lagi.
Sejenak Lusi pun merasa terdiam dan sedikit berfikir dengan apa yang dikatakan oleh Tasya.
"Bagaimana ya?" Ucap Lusi masih bingung.
"Ambil ajalah"
"Kan kamu tahu aku kemarin sudah pernah salah" ungkap Lusi yang takut melakukan kesalahan lagi.
"Salah itu bukan berati kamu bego, kamu salah cuma kebetulan aja.. buktinya sekarang gak ada masalah kan"
"Emang bener ada uang tipsnya" tanya Lusi yang malah penasaran dengan uangnya.
"Iya ada uang tipsnya"
Seketika Lusi pun terdiam sejenak dengan apa yang dikatakan oleh Tasya, Lusi memang sangat butuh uang cash untuk membeli susu Fabio.
"Tapi disana bener kan cuma temenin makan aja, gak lebih kan maaf, seperti misalnya temenin minum atau ya nggak-ngak" tanya Lusi yang memastikan bahwa dirinya akan tetap aman.
"Selama sama aku sih dia fine fine aja gak ada yang aneh-aneh. Cuma makan malam temenin dia ngobrol dengan cliennya abis itu pulang. Selama ini sih gak ada yang aneh tapi gak tahu ya kalau sama yang lain. Tapi... aku yakin dia tau ranahnya, kalau emang dia mau ajakin yang gak bener dan kurang ajar gak mungkin sama karyawan dikantornya. Paling tidak dia punya stok wanita sendiri dan bukan kalangan kita. Hahahaha" kata Tasya.
__ADS_1
"Oke.. oke... mungkin kamu cantik Lusi tapi kayanya gak mungkin sih" kata Tasya lagi.
"Jadi aman nih" tanya Lusi sekali lagi.
"Aman-aman aja"
Lalu setelah itu Tasya pun menemui pak Hilman untuk memberitahukan soal Lusi yang akan menggantikan dirinya untuk menemani pak Hillman saat makan malam bersama clien nanti malam.
Maklum saja di kantor itu memang karyawannya lebih banyak kaum pria jadi sebenernya pihak wanita dibutuhkan dalam hal-hal seperti ini.
Lalu tak lama Tasya datang ke meja kerja Lusi dan memberikan sebuah gaun ditangannya dan memberikan pada Lusi yang saat itu sedang fokus pada pekerjaannya.
"Nih" ucap Tasya menaruh gaun di meja kerja Lusi.
"Apa ini" tanya Lusi.
"Gaun"
"Gaun, untuk apa?"
"Untuk acara nanti malam"
"Kenapa gaun?"
"Lusi ini acara makan malam. Dinner bersama bos bos besar bukan nobar di kafe, please Lusi kamu elite dikit gitu" kata Tasya sambil tersenyum.
"Gak nyangka aja"
"Dandanlah yang cantik" kata Tasya.
Lusi pun hanya iya iya saja dengan apa yang dikatakan Tasya. Lusi merasa dirinya memang butuh uang untuk kebutuhan keluarganya.
Hingga malam hari tiba, Lusi pun akan bertemu dengan Pak Hilman disebuah Restaurant mewah dengan makan malam mewah juga. Dengan gaun berwana ungu, lagi-lagi hari ini Lusi harus dua kali memakai outfit berwarna ungu.
Lusi dijemput oleh supir Pak Hilman dikantornya, Lusi pulang dulu sebentar untuk mandi. Selesai mandi Lusi pun kembali pergi. Lalu kembali lagi ke kantor untuk menunggu jemputan supir pak Hilman.
Tak lama supir pak Hilman datang bernama Adi. Lusi datang dengan wajah cantik, dengan gaun yang terlihat elegan. Dengan rambut yang sedikit coklat itu Lusi tampak menawan. Lusi pun memakai sepatu tinggi yang tambah menunjukkan kaki jenjangnya. Semua yang Lusi kenakan seolah menjadi pendukung dan nilai lebih dari kecantikan dan keanggunan seorang wanita. Lusi datang bukan seperti sekratris yang menemani bossnya makan malam, tapi seperti seorang wanita yang memang benar-benar datang kepesta makan malam.
Saat pak Hilman sudah datang lebih dulu, Lusi tampak baru datang agak terlambat karena dia memang pulang dulu.
Saat Lusi turun dari mobil dan memesuki tempat makan malam itu, semua mata pun tampak terpana akan kedatangan Lusi bak princess yang menghipnotis mata siapapun yang melihatnya.
Lusi pun merasa malu sebenernya disaat orang lain memandang dengan tatapan lain, tapi Lusi berusaha untuk profesional dan biasa saja. Hingga Lusi pun melihat pak Hilman dan menegurnya dari belakang.
"Selamat malam pak"
Pak Hilman pun menengok ke belakang dan menengok ke arah Lusi saat itu dan kaget bagaimana tidak, Lusi tampak cantik dengan apa yang ia kenakan kali ini. Terlihat tampak berbeda dan semakin cantik, anggun dan menawan hati dengan gaun yang ia kenakan. Badannya yang bagus dan membuat seorang terpana begitu dalam hembusan napas pak Hilaman memburu tak menyangka bila Lusi bak bidadari yang cantik.
"Maaf pak bapak sudah menunggu saya lama"
Hilman pun diam seribu bahasa.
"Pak" kata lusi menyadarkan Hilam.
"Baiklah tidak jadi masalah" kata pak Hilman.
"Oia kenalkan ini sekertaris saya bernama Lusi" kata Hilman memperkenalkan Lusi kepada rekan bisnisnya yang lain.
Yang lain pun tampak ingin berkenalan dengan wanita yang bernama Lusi saat itu.
Sampai ada yang bersalaman untuk berkenalan tapi ada yang mencium tangan Lusi yang begitu putih lembut dan putih.
Lusi sebenarnya tak suka dengan perlakuan dari pria yang melakukan hal itu padanya, tapi dia berusaha bersikap biasa dan tidak marah karena menjaga nama baik dari pak Hilman yang sudah mengajaknya makan malam ditempat itu.
Lusi pun mendengar beberapa pujian yang ia dengar dari bapak-bapak dengan jabatan yang tinggi itu. Lusi hanya membalasnya dengan senyuman simpul di bibirnya dan cukup membalas dengan ucapan terimakasih.
"Waah pantas saja pak Hilman ini sangat betah di kantor, apakah karena memiliki sekratris kantor yang cantik seperti ini" ucap Pak Haris selaku investor diperusahaan pak Hilman.
"Tidak juga pak"
"Bagaimana kalau kapan-kapan saya juga mau ditemani makan malam oleh Lusi"
"Maaf ini hanya sebatas pekerjaan saja tidak lebih, betul kan Lusi"
"Betul sekali pak" jawab Lusi dengan senyum seolah nyaman.
Dan di akhir makan malam ada beberapa minuman beralkohol, Lusi pun sempat ditawari untuk itu.
"Maaf saya tidak minum alkohol" kata Lusi.
"Oh ya, sedikit saja" kata Pak Rico yang menjadi pengundang makan malam saat itu.
"Tidak mau, sedikit banyak saya tidak mau"
Lusi pun hanya terdiam dan memandang wajah pria yang sudah tampak memerah entah karena mabuk atau apalah. Tapi lagi-lagi Lusi hanya berusaha tidak menaruh wajah cemberut wlaupun Lusi sebenernya merasa tidak nyaman sekali dengan keadaannya.
Makan malam yang dihadirkan oleh para pengusaha kaya raya itu Lusi nikmati dengan senyuman palsu.
Waktu menunjukkan jam 11.00 malam akhirnya pak Hilman pun memutuskan untuk pulang. Lusi bersama pak Hilman pulang bersama dalam satu mobil.
Selama perjalanan Lusi hanya tampak memandang jalan ingin segera pulang, karena Lusi merasa jika Yasmin dan Fabio pastilah sudah menunggunya.
__ADS_1
Tapi tak disangka entah ada angin apa, pak Hilman memegang tangan Lusi yang terasa lembut dan dingin itu. Dengan cepat Lusi menarik tangannya.
"Kenapa kamu menarik tangan mu" ucap Hilman menatap Lusi lekat.
"Tidak suka saja kalau ada pria yang memegang tangan saya"
"Disana kamu mau tangan mu di cium oleh rekan bisnis saya" kata Pak Hilman.
"Saya hanya menjaga reputasi bapak saja, saya tak mungkin marah di makan malam penting"
"Hem baiklah, terimakasih ya kamu sudah mau datang untuk acara yang penting ini. Dan semua menjadi lebih spesial karena mu" kata Pak Hilman.
"Sama-sama pak.. hitung-hitungan untuk menebus kesalahan saya yang kemarin pak" kata Lusi.
Lalu pak Hilman pun memberikan uang kepada Lusi didalam amplop.
"Ini untuk mu" kata pak Hilman.
"Terimakasih pak" jawab Lusi sambil tersenyum.
"Boleh kita mengbrol sedikit" kata pak Hilman.
"Ya silahkan" jawab Lusi singkat
"Lusi kamu sudah menikah atau belum?" Tanya pak Hilman.
Lusi pun yang sedang menatap jalan pun sontak saja menengok ke arah pak Hilman. Kali ini pak Hilman menatapnya dengan mata serius dan seolah tak mau lepas dari wajah Lusi. Lusi pun langsung menarik napas.
"Katakan kamu sudah menikah atau belum?" Tanya Hilman.
"Saya... saya seorang single Parent pak" ucap Lusi dengan tatapan yang tak berani menatap Hilman.
Seketika pak Hilman malah lansung tak berkedip saat menatap Lusi dan tak percaya dengan ucapan Lusi yang mengatakan dirinya adalah seorang janda.
"Kamu janda" tanya Hilman lagi.
"Iya, iya saya janda dengan dua orang anak yang masih kecil itu sebabnya saya ada disini untuk bekerja, untuk diri saya dan kedua anak saya" jelas Lusi.
Pak Hilman pun sedikit menganga kaget dengan ucapan Lusi saat itu.
"Kalau begitu kita sama. saya juga duda"
"Hemmm" jawab Lus.
"Saya pun seorang duda dengan dua anak yang sudah besar"
Lusi pun mengangguk paham.
"Kamu janda dan aku duda apakah itu bukan suatu kebetulan" kata pak Hilman sekali lagi.
"Iya, suatu kebetulan"
"Bisakah kamu menceritakan kehidupan mu, soal bagaimana rasanya menjadi seorang janda yang harus hidup dengan dua anak mu" tanya Pak Hilman.
Lusi pun seketika memijat keningnya.
"Menjadi janda itu bukan sebuah keinginan dan juga bukan sebuah prestasi. Sulit.... Itulah yang paling di rasa. Dimana saya harus menjadi Ayah dan juga ibu untuk kedua anak saya. Tapi saya ikhlas setiap apa yang menjadi perjalanan hidup saya. Saya terima apapun itu apa yang menjadi takdir" ucap Lusi.
"Suami kamu kemana?" Tanya Pria dengan rambut yang sudah memulai putih itu.
"Suami pertama saya sudah meninggal, lalu yang kedua saya sudah bercerai"
"Umur kamu berapa?" Tanya pak Hilman.
"28 tahun" jawab Lusi.
Lalu seketika Pak Hilman kaget dengan ucapan Lusi yang menjadi janda dua kali di umur yang masih muda.
"Apa?"
"Kenapa, bapak kaget? Saya harap bapak tidak memberi cap jelek kepada saya, karena saya yang sudah menjadi janda untuk kedua kali" kata Lusi.
"Kamu jangan salah paham"
Lusi pun langsung tersenyum kaku.
"setiap orang itu punya kehidupan berbeda. Saya tidak menganggap dirimu jelek atau buruk" kata Hilman lagi.
Lusi pun seketika terdiam dan kembali menatap jalan.
Jelang beberapa saat kemudian, Lusi sampai di depan rumahnya, pak Hilman pun membukakan pintu kepada Lusi untuk turun dari mobilnya. Dan saat membukakan pintu Hilman menatap Lusi lagi dengan lekat.
"Permisi pak" ucap Lusi yang melihat Hilman tak memberi jalan padanya karena memandangnya lama.
"maaf, Silahkan"
Lalu Lusi pun keluar mobil dan masuk ke dalam rumahnya.
Jika Lusi merasa sangat tidak nyaman.
Lain dengan diri Hilman yang merasa bahagia dapat bertemu Lusi dan makan malam bersamanya.
__ADS_1
Aku tidak menyangka dirinya janda. Aku tidak menyangka dirinya begitu luar biasa cantik dan sangat mempesona. Aku sangat menginginkan wanita itu, terelebih dia adalah seorang janda, bukankah itu lebih mudah untuk aku mendapatkannya. Aku sadar mungkin umur ku terlalu tua untuk dirinya, tapi aku punya uang untuk membahagiakan dirinya dan aku harus mendapatkannya tidak peduli dengan cara seperti apa.