
Menangis itu caraku mengungkapkan betapa pedihnya hidup ini. Menangis itu caraku untuk meluapkan setiap amarah dan kesedihan didalam hati ini. Dan menangis itu caraku untuk meluapkan betapa kecewa dan terluka nya hati ini.
Sebagai manusia lemah dan terbelenggu dalam kehidupan Tanisa hanya bisa menangis untuk meluapkan kekesalan dan terlukanya hati. Disaat kehilangan asa arah dan tujuan hanya bisa berteriak dalam diam, menahan pilu dan sakit nya kehidupan.
Ya Leon tampak cemas saat melihat Tanisa yang terbaring tak berdaya. Tanisa terlihat tak bisa membuka matanya disaat Leon mencoba memanggil nama Tanisa berkali-kali, Tanisa tampak tak merespon sama sekali. Ditambah Tanisa demam tinggi, dengan cepat Leon menggendong wanita berusia 19 tahun itu dengan penuh kecemasan. Khawatir kalau Tanisa kenapa-kenapa.
Leon pun membawa nya ke dalam mobilnya dan melesatkan mobilnya dengan cepat untuk segera membawa Tanisa ke rumah sakit, dalam perjalan Leon tampak berharap kalau Tanisa baik-baik saja dan tidak terjadi hal apapun pada dirinya.
Lalu sampailah Leon dirumah sakit yang tak jauh dari kompleknya itu, Leon membawa kerumah sakit ibu dan anak itu. Dengan cepat Leon membawa Tanisa ke ruang IGD, dan Tanisa pun tampak ditangani langsung oleh sang dokter.
Hingga beberapa saat kemudian, Tanisa pun dipindah keruang rawat inap. Tanisa masih tampak belum sadar dan masih memejamkan matanya. Leon terus berharap bahwa diri Tanisa akan baik-baik saja terlebih lagi Tanisa sedang hamil Leon berharap Tanisa dan bayi dalam kandungannya baik-baik saja.
Hingga beberapa saat, Leon pun masuk kedalam ruang rawat VIP itu. Dokter bilang bahwa Tanisa mengalami typus, kurang darah dan dehidrasi. Dan dokter menyarankan agar Tanisa banyak memenuhi asupanya terlebih dia hamil. Kata-kata itulah yang dokter sampaikan kepada pria berumur 22 tahun itu. Ya pria itu bernama Leon.
Leon pun menatap Tanisa yang tubuh nya terlihat lebih kurus dari sebelumnya, wajahnya pun tampak pucat dan masih ada bekas memar itu. Dengan tubuh yang terlihat lemah itu Tanisa tampak di infus dan masih belum sadar.
Leon pun duduk dibangku lalu melihat wajah Tanisa dan tanpa sadar Leon memegang tangan Tanisa dengan lembut. Leon memandang wajah wanita itu, ada kepiluan yang mendalam yang sangat dirasakan saat melihat diri Tanisa. Mata Tanisa masih terpejam dan seolah Tanisa merasakan sakit namun bukan dibadannya saja tapi jiwa dan raganya dan tanpa sadar Leon mencium tangan wanita itu.
Cup
Ya Tuhan apa yang baru saja aku lakukan.
"Tanisa aku mohon kamu segera sadar. Aku tidak mau kalau kamu kenapa-kenapa" ucapnya melihat Tanisa dengan tatapan sayu.
Namun Leon tak peduli Leon kembali memegang tangan Tanisa. Seolah ingin memberikan kekuatan pada Tanisa yang terbaring lemah.
Setiap orang yang melihat Tanisa pasti akan mengira Tanisa dan Leon adalah pasangan kekasih, tanpa mereka tahu yang sebenarnya Leon hanyalah calon anak tiri dari wanita berusia 19 tahun itu.
Beberapa saat kemudian Tanisa tampak membuka matanya perlahan, Tanisa pun tampak mencoba mencerna dirinya dimana. Tanisa pun memandang sekitar seketika Tanisa melihat Leon yang berada disampingnya sedang memegang tangannya. Saat Tanisa tersadar, Leon pun langsung melepas tangan Tanisa dari genggemannya.
"Kamu sudah sadar Tanisa" ucap Leon senang melihat Tanisa sudah sadar.
__ADS_1
Tanisa pun memejamkan matanya Sekali lagi merasakan kepalanya yang sakit.
"Kamu kenapa" tanya Leon.
"Kepala aku sakit"
"Tenanglah dulu"
"Aku dimana?"
"Dirumah sakit"
Tanisa pun terdiam dan langsung melihat ke arah Leon.
"Tadi kamu pingsan aku panik langsung aku bawa ke rumah sakit"
"Terimakasih" jawab Tanisa dengan suara yang masih lemah.
Lalu tak lama ada petugas rumah sakit yang membawakan makan untuk pasien dirumah sakit tersebut.
"Ya terimakasih" ucap Leon menerima makanan itu.
"Sekarang kamu makan ya aku suapin"kata Leon menatap wajah Tanisa.
"Kamu harus makan demi anak kamu, biar kamu sehat. Aku gak mau kamu sakit Tanisa" kata Leon.
Leon pun membantu Tanisa untuk duduk.
Dan Leon pun tampak menyuapi makanan itu ke mulut Tanisa. Leon pun menyuapi suap demi suap makanan itu, Tanisa pun menerima makanan yang diberikan oleh Leon. Seketika lagi dan lagi Leon merasa ada rasa aneh didalam hati yaitu perasaan sayang atau lebih tepatnya rasa dan getaran cinta.
Sambil menyuapi makanan itu Leon pun tampak berbicara dalam hatinya sambil memandang wanita dihadapannya itu.
__ADS_1
Tanisa, andaikan saja aku bertemu dengan mu lebih dulu dibanding papa ku. Sudah pasti aku akan memilih mu untuk jadi kekasih hati ku. Andaikan saja, kamu tidak sedang hamil anak papa ku. Sudah pasti aku akan menjadikan kamu satu-satunya di dalam hati ku. Tanisa, sungguh aku tak tega melihat mu dalam keadaan penuh dera dan siksa seperti ini. Hatiku sakit bila hatimu sakit, diriku pun sedih jika kamu bersedih. Pertama kali aku melihat mu, aku sangat membenci mu sampai aku hampir ingin membunuhmu namun setelah aku mengenal mu lagi ternyata aku sangat kasihan melihat mu seperti ini. Aku sangat iba dan tak kuasa melihat mu tersiksa. Tapi Tanisa, aku berharap semoga kamu kuat dan mampu bertahan. Aku tidak mau kamu sedih dan terluka. Aku tidak mau kamu menangis. Aku ingin kamu tak merasa kan penderitaan lagi. Andai aku bisa membawa mu pergi. Dan kita bisa hidup bersama, ya itu andaikan saja Tanisa. Batin Leon yang berbicara dalam hati melihat Tanisa.
Tanisa pun memandang Leon dengan tatapan heran kenapa Leon menatap dirinya tanpa berkedip. Dan lagi-lagi Tanisa tak menaruh curiga jika Leon sudah jatuh hati pada dirinya.
Tapi Tanisa benar-benar berterima kasih atas kebaikan Leon pada dirinya.
Tanpa sadar Tanisa memegang tangan Leon karena merasa Leon telah baik, namun Leon malah meraskan debaran didadanya semakin terasa.
Astaga dia memegang tanganku, andaikan kamu tahu bahwa perasaanku sungguh berdebar Tanisa batin Leon.
"Leon, termikasih" Ucap Tanisa yang masih memegang tangan Leon.
"I-iya" jawab Leon tampak gugup.
"Aku ucapkan terimakasih banyak kepadamu sudah sangat baik padaku. Aku ucapkan terimakasih. Aku tidak tahu jika tidak ada kamu, mungkin aku sudah tak tahu lagi. Dirumah itu hanya dirimu dan bibi yang baik" ucap Tanisa.
Namun...
Seketika Tanisa pun tampak menangis mengingat dirinya yang saat ini merasakan kepiluan yang mendalam.
"Sabar Tanisa" ucap Leon memegang bahu Tanisa untuk menguatkan.
"Aku tidak tahu jika tanpa kamu, aku akan jadi apa. papa mu begitu membenci ku dan jahat, aku tahu mungkin aku salah pada papa mu. Aku bertemu dengan Gavino. Tapi itu sungguh diluar dugaan ku" ucap Tanisa tertunduk dan menangis.
"Dan aku jujur sudah menyerah. Aku tak sanggup lagi untuk menghadapi semua ini. Aku tidak mau kembali ke rumah itu. Aku tidak mau hidup dengan papamu. Aku ingin pergi, aku ingin pergi dari dirinya. Huhuhuhu hiks" ucap Tanisa sembari menangis.
Perasaan Leon pun seketika ingin mengatakan agar diri Tanisa agar ikut dengannya.
"Jika kamu tidak bisa hidup dengannya. Kamu bisa hidup dengan ku" jelas Leon.
"Maksud mu?"
__ADS_1
"Hidup lah dengan ku, hidup bersama ku. Aku bisa menghidupi mu dan anak dalam kandungan mu"
Seketika Tanisa pun tampak terperangah dengan ucapan Leon yang mengajak dirinya untuk hidup bersama. Seketika Tanisa memandang wajah Leon tak percaya dengan apa yang baru saja Leon katakan pada dirinya.