Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Datang ke kantor Rian


__ADS_3

Saat itu Lusi pun terbangun dari tidurnya membuka mata dan melihat sekitar ternyata ia tertidur dalam keadaan yang belum selesai mengerjakan tugas negara api yakni menulis nama disetiap surat undangan yang ada. Lusi pun kaget melihat tubuhnya yang terbalut selimut, siapa yang sudah menyelimuti tubuhnya ini. Siapa?


Ah sudahlah....


Lusi tampak tak peduli lalu ia pun melihat secangkir teh dan kue yang berada diatas meja, Lusi yang tampak lapar itu pun langsung memakannya karena memang dirinya lapar.


Lalu Lusi pun tampak menyelesaikan semuanya sampai selsai setelah selesai Lusi pun tampak merapihkan undangan itu, agar tidak tercecer dan tidak ada yang teselip mengingat bahwa yang menikah adalah orang penting punya banyak kepentingan walau sebenarnya bagi Lusi Gery tidak lah penting tapi menghargai calon mempelai yang dari kalangan terhormat.


Lusi pun merapihkan hingga tuntas.


Lalu tak lama Gery pun datang melihat Lusi yang sudah menyelesaikan semuanya.


"Bagaimana tidurnya? Nyenyak? Mimpi apa?" Tanya Gery melihat Lusi yang sudah terbangun itu.


"Udah gak usah basah basih ini udah selesai semua, lagi juga siapa yang tidur"


"Siapa yang tidur ya kamu lah, itu buktinya ada belekan gitu Dimata"


"Ah masa sih" ucap Lusi yang mengucek matanya.


"Serius"


"Bohong"


"Sini aku bersihin, pakai lidah"


"Jorok, gak mau"


"Hahahhaha" Gery pun malah tampak tertawa.


"Btw udah selesai belum lama banget" keluh Gery.


"Hadeh ini orang bisanya perintah doang sama gak sabaran.... Udah selesai!!!" kata Lusi kesal.


"Bagus"


"Aku pulang ya " ujar Lusi.


"Tadi naik apa kesini?" Tanya Gery.


"Onta" jawab Lusi asal.


"serius nanya, Yasudah pulang aku antar ya" ucap Lusi.


"Gak usah" tolak Lusi.


"Gak apa-apa beneran"


"Gak usah aku udah dijemput Rian juga didepan" ucap Lusi yang berbohong padahal dirinya sebenarnya belum dijemput.


"Aku tahu kamu bohong" ucap Gery yang tahu bahwa Lusi hanya berbohong.


Lusi pun hanya diam saat Gery bisa menebak bahwa Lusi berbohong.


"Nih" ucap Gery memberikan jaket kepada Lusi.


"Buat apa?"


"Jaket, buat lindungin kamu dijalan" ucap Gery yang merasa belahan dada Lusi lumayan terlihat kalau dia menunduk. Jadi Gery memang memberikan nya itu.


"Gak usah"


"Aku suka heran sama perempuan, punya kesalahan tapi gak mengerti kesalahan dia dimana? Pakailah" lalu Gery pun memakaikan jaket nya ketubuh Lusi.


"Besok kita fiting baju pengantin ya" Kata Gery lagi.

__ADS_1


"Sama siapa? aku" tanya Lusi tak percaya jika dirinya lah yang harus ikut fiting baju pengantin.


"Iya kamu pikir sama siapa"


"Kan yang nikah kamu masa sama aku" kata Lusi.


"Emang kenapa masalah buat kamu, kan memang dari awal perjanjian aku baru menikahi Liana kalau ada campur tangan dari kamu. Kalau gak ada ya jangan harap pernikahan ini akan ada"


"Ribet banget sih jadi orang yaudah"


"Nah bagus kami menurut jangan banyak protes....." Kata Gery kepada Lusi.


Lalu Lusi pun memakai jaket Gery yang sebenarnya agak kebesaran sebenarnya ditubuhnya, tapi Lusi masih tampak menghargai pemberian Gery itu. Karena kalau ditolak merasa tidak enak saja. Dan pasti banyak adu mulut setelah nya.


"Yasudah aku pakai, aku pulang"


"Hati-hati dijalan ya" ucap Gery tersenyum manis pada wanita dari istri sahabat nya itu.


Lusi pun hanya tampak mengangguk.


Lalu Lusi pun menunggu didepan rumah keluarga David yang tampak besar dan luas itu, beruntung tak terlalu lama menunggu akhirnya taksi nya datang.


Ya Gery tampak memperhatikan Lusi sampai Lusi naik taksi. Sebenarnya Gery ingin sekali mengantar Lusi sampai ke rumah hanya saja ia tidak ingin memaksa wanita yang ia anggap keras kepala itu. Ya mungkin Lusi menolak karena memang Gery pernah kurang ajar pada nya sehingga Lusi memang harus berhati hati dengan Gery.


Dan selama perjalanan, Lusi tampak memandang jalan dengan perasaan sedih. Ya, ia tampak melamun dengan kehidupannya, entah mengapa Lusi merasa sepi dengan keadaan yang ia hadapi.. Lusi merasa Rian telah mengabaikan dirinya dan mengacuhkan dirinya. Lusi merasa diam tetap marah pun malah akan tetap menjadi.


Dalam perjalanan yang lumayan terasa jauh itu, Lusi pun melamun dan entah mengapa ia ingin ke kantor Rian menanyakan kondisi Rian terkini. Mengingat dirinya juga sudah lama tak pernah ke kantor Rian lagi. Ia pun tak ada salahnya memberika surprise dengan kedatangan yang tiba-tiba Lusi pun tak masalah jika dirinya yang harus menjemput bola yaitu mendatangi suaminya dengan rasa yang menggebu.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 35 menitan Lusi pun sampai di depan kantor Rian, Lusi sengaja mampir dulu sebelum ia kembali kerumah.


Kantor dengan berlantai sembilan itu Lusi pun datang tampan Securiti yang menjaga di depan pintu gerbang kantor Rian.


"Ada keperluan apa datang kesini" tanya Securiti.


"Apa??" Lusi pun langsung kaget dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Securiti itu. Rupanya ia tak mampu mengenal istri dari bosnya sendiri. Mungkin karena Lusi memakai jaket kegedean dan tanpa naik kendaraan yang super mewah.


"Ada perlu apa , nanya lowongan kerja ya. Maaf gak ada lowongan dah penuh"


Sepertinya security ini memang baru sehingga tak mampu mengenali siapa Lusi sebenarnya.


"Oh iya ya kalau ga ada, ya gak apa-apa" jawab Lusi.


"Neng lagi cari lowongan ya, saya lagi buka lowongan juga nih" ucap Securiti itu menatap Lusi dengan pandangan genitnya sambil menatap Lusi senyum-senyum.


"Lowongan apa?" Tanya Lusi.


"Lowongan buat jadi pacar Abang"


"Waduh, Hemmmmm"


Lalu tiba-tiba sultan datang selaku manajer diperusahaan tersebut.


"Selamat siang pak" ucap Securiti tampak hormat pada sultan.


"Ada apa ini?" Tanya sultan yang heran melihat Securiti yang mendekati Lusi. Sultan sudah tahu kalau Lusi adalah istri dari pemilik perusahaan karena sultan sebelumnya sudah kenal Lusi . Namun berbeda dengan Securiti baru.


"Ini loh pak ada yang nanya lowongan kerja disini" ucap Securiti itu.


Lalu sultan pun tampak sadar bahwa itu ada Lusi selaku istri dari pemilik perusahaan.


"Eh ada ibu, selamat siang Bu" sapa sultan kepada Lusi.


"Siang pak" jawab Lusi.


"Loh bapak kenal dia?"

__ADS_1


"Ya jelas kenal kamu bagaimana, ini bos kamu. Istri pak Rian" ucap Sultan menjelaskan.


"Hah, maaf, maaf Bu saya tidak tahu" kata security kaget meminta maaf karena sudah terang-terang menggoda Lusi.


"Ya ngga apa-apa" ucap Lusi.


"Silahkan masuk Bu" ucap Sultan.


"Ya pak sultan terimakasih"


Lalu Lusi pun masuk ke dalam kantor Rian. Semua memang tak ada yang menyangka jika istri dari bos besar yang datang karena kalau dari penampilan Lusi memakai pakaian tak formal dan hanya memakai celana jeans dan jaket kegedean. Lusi memang tak ada persiapan untuk datang kekantor Rian.


Lalu banyak pasang mata yang masih tak mengenali Lusi karena penampilan nya lalu Lusi tampak biasa saja biarlah orang memandang batin Lusi yang biasa saja saat dirinya tak diberi salam oleh karyawan yang tampak tidak sadar satu persatu.


Lalu Lusi pun langsung naik ke lantai 9 untuk ke ruangan Rian, tiba-tiba ada seorang karyawan wanita menghampiri Lusi.


"Maaf siapa sebelumnya?" Tanya nya.


"Iya saya istrinya pak Rian" jawab Lusi


"Emang ibu gak tahu, kalau pak Rian sudah tiga hari keluar kota"


Hati Lusi pun kaget dengan apa yang baru saja diucapkannya.


"Luar kota kemana?"


"Ke Surabaya Bu"


"Ke Surabaya? Untuk apa?


"Pekerjaan bahkan Sekertaris nya pak Rian ikut bu"


"Oh Viola ya" ucap Lusi yang menebak karena Lusi kenal Viola.


"Oh bukan Viola sudah 3 bulan lalu keluar Bu sekertaris baru bu" jawab nya


"Sekertaris baru" ucap Lusi kaget.


Kenapa Rian gak cerita ya, kalau ada sekertaris baru dikantornya batin Lusi.


Lusi pun tampak terdiam sambil berfikir.


Selama ini memang Lusi hanya mengenal Viola saja yang menjadi sekertaris Rian.


"Emang pak Rian gak cerita sama ibu kalau ada kerjaan di luar kota" tanya nya lagi.


Lusi pun tak menjawab iya. Lusi tak mungkin mengatakan pada karyawannya bahwa Rian sudah tak pulang lebih dari seminggu ke rumah. Lusi pun tampak terdiam sambil sedikit termenung.


Rian kenapa kamu begitu tega tak beri kabar atas kepergian kamu keluar kota apakah aku setidak penting itu sampai kamu melupakan aku, apakah aku tidak penting lagi untuk mu. Aku tahu aku salah tapi kenapa aku merasa apa yang kamu lakukan seolah tak adil, mengapa kamu menutup hatimu sendiri padahal aku ini istrimu. Terlebih lagi kamu pergi dengan wanita lain. Meski aku tahu ini pekerjaan tapi hatiku begitu sakit saat mendengar semuanya.


Lusi pun tampak tersenyum pahit.


"Iya Rian tidak cerita pada saya permisi ya terima kasih atas infonya" pamit Lusi.


Lalu dengan langkah kaki yang gamang Lusi pun pulang. Kali ini bukan memberi surprise Lusi malah dapat surprise yang menyakitkan bahwa kini Rian pergi.


Lalu Lusi pun pulang dengan perasaan sedih, itu terasa menyakitkan hatinya.


Lalu Lusi pun berjalan ke depan memesan taksi online untuk pulang kerumah.


Di dalam perjalanan Lusi tampak menatap ke arah jalanan dengan tatapan kosong. Mengapa perasaannya terasa pilu, bila mengingat semuanya.


Mengapa Rian begitu tega terhadap dirinya, ngga baikanLusi dan membiarkan Lusi begitu saja.


Lalu Lucy pun mengambil handphone di tasnya, Lusi mencoba kembali menelpon suaminya. Namun semua tetap sama Ryan tidak menjawab teleponnya sama sekali, telepon itu tampak aktif. Namun tidak ada jawaban.

__ADS_1


Lusi merenung melihat ke arah jalanan dengan hati yang pilu dan sakit. Ya hanya itu yang dapat ia lakukan saat ia tahu suaminya telah benar benar mengabaikannya.


__ADS_2